
Kedua bola mata William terbelalak melihat kedua kaki Leonore penuh dengan cairan berwarna merah.
''Leonore, bangunlah kau kenapa?" tanyanya begitu panik.
Nama tiba-tiba seorang pria langsung berdiri di belakangnya membawa beberapa orang.
''Kau pria payah William menjaga seorang wanita saja sama sulit untukmu.'' Indra tiba-tiba muncul di belakangnya bersama dengan orang-orang yang sengaja dia panggil agar bisa melindungi diri dari orang-orang Rachel.
''Leonore pingsan Indra?!" pekiknya.
''Lebih tepatnya kakak ipar sedang.'' Indra tidak melanjutkan ucapannya karena William mengerti apa yang dikatakan sahabatnya itu.
Mobil sudah disiapkan Indra jauh-jauh hari langsung membawa Leonore menuju rumah sakit.
Semua itu langsung disaksikan oleh Rachel rencananya akhirnya gagal tidak berhasil membawa Leonore.
''Awas kau Leonore untuk saat ini masih bisa lolos dari tanganku,'' gumamnya.
William tidak kuasa menahan tangis melihat keadaan Leonore, penyesalannya telah menyelimuti perasaannya.
''Leonore, aku minta maaf sudah membuatmu seperti ini. Bangunlah dan hukum aku sesuka hatimu!" ucapnya sambil memeluk Leonore.
''Sabar Will, aku tahu kakak ipar adalah wanita kuat,'' potong Indra.
__ADS_1
''Bisa lebih cepat Indra!" pinta William.
Indra langsung mengangguk mengerti tidak lama kemudian akhirnya mereka langsung tiba di rumah sakit.
Petugas medis udah di sana menunggu kedatangan mereka karena ibu William beberapa menit dan lalu sudah tiba.
''Leonore?!" pekik ibu William melihat keadaan menantunya itu.
''Mamah aku takut sesuatu terjadi kepada Leonore,'' ucap William.
''Kita harus kuat William terlebih kamu saat ini tegar jangan lemah karena Leonore membutuhkanmu.'' Ibu William memeluk putranya itu yang benar-benar rapuh.
Indra meninggalkan rumah sakit karena masih ada sesuatu yang harus dikerjakan di luar sana. Tanpa menunggu perintah William dia mengerjakannya sendirian bersama dengan beberapa anggotanya.
''Leonore kumohon jangan tinggalkan aku karena kesalahanku belum aku tebus,'' pinta William.
''Nak, boleh mamah mengatakan sesuatu kepadamu?" William mengangguk mengerti karena dari tadi mereka berdua belum bicara.
''Apa itu mah?" tanya William pelan.
''Leonore saat ini mengandung apakah tahu selama ini?" tanya mamah.
''Tidak Mah,'' jawabnya.
__ADS_1
''Jadi, Leonore mengandung dengan siapa?" William jantungan mendengar pertanyaan mamah ya itu.
Dia benar-benar sama sekali tidak mengetahui hal ini bahkan malam kelam itu juga tidak diingat nya.
Obrolan mereka berdua berhenti karena seorang dokter keluar dengan wajah yang penuh dengan keringat.
''Tuan William?" panggilnya.
''Saya dokter, bagaimana keadaan istriku?" tanya William panik.
''Operasi berhasil Tuan dan selamat baby boy telah lahir dengan selamat bersama dengan ibunya sudah melewati masa kritis.'' William tidak tahu bagaimana perasaannya sekarang antara bahagia atau sedih.
Mamah langsung memeluk putranya itu memberikan kekuatan. Mereka saat ini butuh penjelasan mengenai lahirnya seorang baby boy.
''Dokter, bisa anda melakukan sesuatu kepada baby?" Mama langsung memberikan penjelasan dan dokter langsung mengerti.
''Dengan ini kita akan mengetahui baby anak kamu atau milik orang lain William.'' William gemetar kalau sesuatu yang tidak diinginkan terjadi hidupnya akan benar-benar hancur.
''William takut mah,'' ucapnya.
''Jangan takut, selama ini Leonore oh astaga nak kenapa kita tidak memikirkan ini sebelumnya, Leonore meninggalkan rumah ketika dia belum berisi namun kandungannya saat ini sudah menginjak usia sembilan bulan.'' William geleng-geleng kepala mendengar ucapan ibunya.
''Itu hanya dugaan Bu. Bisa jadi Leonore memiliki seorang anak dari orang lain walaupun tanggal dan bulan sama.'' Ibu William kembali lemas mereka hanya bisa menunggu hasil tes dari dokter hanya itu harapan mereka saat ini.
__ADS_1