Mengejar Surga

Mengejar Surga
Stadium Empat


__ADS_3

Leonore memperhatikan sekeliling rumah William yang tidak ada berubah sedikit pun. William membantu Leonore masuk ke dalam kamar begitu namun baby Ali dibawa oleh ibu ke ruangannya.


''Will, kenapa tidak ada yang berubah?" tanya Leonore pelan.


''Dengan ini aku bisa mengingatmu sayang,'' jawab William halus.


''Tapi tidak seperti ini juga Will.'' William langsung membawa Leonore masuk ke dalam pelukannya berharap kebahagiaan ini tidak hilang lagi.


''Aku tidak mau membahas itu karena saat ini yang ku butuhkan adalah kamu,'' bisik William.


''Kau belum menjawab pertanyaanku,'' tambah Leonore.


''Haruskah?" goda William.


''Ya.'' William tertawa kecil melihat wajah Leonore yang begitu menggemaskan.


''Boleh aku merasakan ini,'' tunjuk William.


''Napasku bau,'' elak Leonore agar tidak jadi dirasakan William.


''Aku tidak peduli mau bau atau wangi yang penting.'' Kedua bola mata Leonore terbuka lebar kedua kalinya dia merasakan hal itu.


Kedua kali ini merupakan yang paling lembut berbeda sebelumnya. William tidak mau melepaskan kesempatan ini langsung membawa Leonore ke atas tempat tidur.


Leonore semakin tidak karuan merasakan tangan William sudah bekerja di mana-mana. Ia teringat baru selesai melahirkan hal itu tidak boleh dilakukan sampai selesai masa nipas.


''Will tahan, kita tidak boleh melakukan itu,'' ucap Leonore cepat sambil menahan tubuh William yang berat.


''Kenapa? Apa aku tidak diperbolehkannya bersama dengan istriku ya?" tanya William kesal.


''Bukan seperti itu tapi aku baru saja selesai melahirkan dokter mengatakan tidak bisa.'' William baru mengingat hal itu wajahnya begitu frustasi padahal hal ini sudah ditunggu dari dulu.


''Baiklah tapi berapa lama aku harus menunggunya?" tanya William pelan.


''Satu bulan bahkan lebih,'' balas Leonore sambil menahan ketawa.


''Kau memang menyebalkan tapi menggemaskan.'' Mereka berdua tertawa sambil berpelukan berharap kebahagiaan ini tidak akan pernah hilang lagi.


''Apa ada yang kau rasakan sesuatu?" tanya William.


''Tidak ada, hanya bekas operasiku sedikit nyeri,'' ucapnya.


''Apa sesakit itu ya?'' Leonore mengangguk namun dia tidak mau William cemas mengenai kondisinya.

__ADS_1


''Baiklah. Kalau ada yang sakit katakan kepadakunya,'' tambah William.


''Ya.'' Setelah itu Leonore mulai memejamkan kedua bola mata ya sambil bersandar ke bahu William.


Namun bukan William namanya begitu saja mempercayai ucapan Leonore. Dia tidak mau sesuatu terjadi kepada Leonore lagi langsung menghubungi dokter yang pernah memeriksa dirinya.


''Apa yang kalian temukan mengenai kondisi kesehatan istriku?" tanya William setelah menjauh dari Leonore.


''Tuan, kami tidak bisa memberitahukan dari telepon lebih baik anda datang kemari!" William langsung bergegas menuju rumah sakit malam itu karena tidak mau menunggu sampai esok hari.


Leonore tidak sengaja melihat kepergian William dirinya hanya bisa menghembuskan napas kuat.


''Dari dulu William memang tidak pernah berubah selalu pergi tanpa pamit ya,'' gumam Leonore.


Pintu kamar terbuka ibu masuk kedalam membawa beberapa makanan serta buah-buahan.


''Kau sedang apa sayang? Ibu membawa sesuatu untukmu!" Leonore merasa tidak enak ibu mertuanya selalu memperhatikan dirinya dari dulu sampai sekarang.


''Ibu, aku bisa turun ke bawah mengambilnya,'' balas Leonore sambil menerima.


''Kondisi kesehatanmu belum pulih sayang, bukankah dokter mengatakan kamu harus istirahat lebih banyak.'' Leonore tidak enak hati dia tiba-tiba menitikkan air mata.


''Maaf Bu,'' ucapnya pelan.


''Maaf Bu selama ini aku tidak becus menjadi seorang menantu. Sekarang aku kembali dalam keadaan seperti ini rasanya tidak pantas.'' Ibu William tidak menyukai Leonore mengatakan itu.


''Ibu akan marah kalau kau mengatakan itu lagi mengerti!" Leonore mengangguk mengerti namun tidak bisa dipungkiri lagi mengenai dirinya saat ini yang kurang sehat.


Setelah menghabiskan beberapa buah, Leonore dan ibu menuju ke ruang baby Ali karena sudah beberapa jam yang lalu tidak mengunjunginya.


''Apa dia rewel?" tanya Leonore kepada pengasuhnya.


''Tidak Nona, Tuan muda dari tadi nyenyak tidur.'' Leonore tersenyum hangat dia menatap wajah putranya itu yang benar-benar mirip William.


''Jadilah anak yang baik dan penurut ya sayang.'' Leonore rapuh melihat putranya itu yang masih berusia beberapa hari.


''Kau menangis sayang?" tanya ibu heran melihat dari tadi Leonore menangis.


''Air mata kebahagiaan Bu. Aku tidak menyangka bisa melahirkan seorang putra yang begitu tampan dan sehat,'' ucapnya halus.


''Tentu, kedua orang tuanya bahkan lebih tampan dan cantik,'' tawa ibu.


Leonore tersenyum lebar dia mengusap wajah baby Ali hingga membuatnya menggeliat.

__ADS_1


Di rumah sakit milik keluarga William, dia baru saja menerima sebuah kertas hitam putih.


Tangan itu berkeringat sambil bergetar mengetahui fakta kesehatan Leonore.


''Stadium akhir?" tanya William tidak percaya.


''Ya Tuan, kami juga tidak mempercayai hasil tes ini berulang kali kami terus memeriksa hasilnya namun tetap saja.'' William tergeletak lantai rumah sakit perasaannya begitu sesak menerima fakta ini.


''Sejak kapan Leonore mengalami ini?" tanyanya.


''Maaf Tuan, beberapa yang bulan lalu Nona datang kemari berkunjung bersama dengan seorang pria. Kondisinya tidak baik sehingga kami menyatakan beliau sakit. Kebetulan saat itu kami belum mengetahui Nona adalah istri Tuan, kami minta maaf Tuan seharusnya mencegah lebih awal,'' ucap dokter itu.


''Pria itu ini?" tanya William menunjukkan wajah Danur.


''Ya Tuan,'' jawab dokter tersebut begitu cepat.


William memejamkan kedua bola matanya kenapa dari dulu dirinya tidak menemukan Leonore lebih awal.


''Kalau boleh tahu istriku terluka karena apa?" tanya William.


Dokter menceritakan kronologi yang sebenarnya mengenai Leonore malam kecelakaan di jalan raya. Benturan tidak terelakkan lagi hingga banyak mengeluarkan cairan berwarna merah.


''Apa pelakunya sudah ditangkap?" tanya William.


''Pihak berwajib melepaskan wanita yang melakukan itu kepada Nona.'' William kembali menunjukkan foto Rachel dan dokter itu kembali mengangguk.


''Rachel, dia memang wanita yang tidak mempunyai perasaan.'' Kedua bola mata William memerah tidak bisa lagi ditahan amarah sehingga apa yang sekelilingnya berbalik.


William menyusuri lorong rumah sakit meninggalkan tempat itu dengan tatapan yang kosong.


Hal yang pertama dilakukannya adalah untuk menolong Leonore dari sakit yang dialaminya.


''Apa masih bisa dicegah sakit istriku?" tanya William sebelum meninggalkan rumah sakit tadi.


''Kalau kemoterapi rutin bisa mengurangi sakit dan nyeri Tuan tapi kami tidak bisa menjaminnya.'' William semakin sesak mendengar ucapan dokter itu.


Setibanya di rumah wajah tampan itu langsung berubah cerah. Dia tidak mau mencampur adukkan masalah bersama dengan keluarganya yang baru saja bahagia.


''Dari mana kau William?" tanya ibu.


''Oh, sesuatu yang mendesak di perusahaan harus aku urus ibu,'' jawabnya.


''Oh begitu, Leonore udah menunggumu dari tadi di atas.'' William mengangguk langsung naik ke atas karena sudah tidak sabar lagi melihat wanita yang sudah membuatnya frustasi selama ini.

__ADS_1


__ADS_2