
Indra muncul dengan wajah yang terlihat kacau tapi tidak mengurangi ketampanannya.
Dia pria itu saling pandang hingga pergulatan tidak bisa terelakkan. Indra beri pelajaran kepada William karena telat lima menit.
"Kenapa kau lama sekali datang? Calon istriku nyaris di sentuh hakim itu?" bentak Indra.
"Hei, aku sudah menolongmu lagian telat sedikit tidak ada yang terjadi apa-apa," balas William santai.
"Diam kau!" Indra beri pelajaran lagi kepada William hingga pria itu meringis kesakitan.
"Stop! Apa yang kalian lakukan?!" teriak Amora hingga pria tampan itu tercengang.
"Adu kekuatan, memang ya tidak bisa sayang?" tanya Indra merasa tidak bersalah.
"Aku bukan sayangmu, kalian semua menyebalkan," dengus Amora sambil memijit pelipisnya.
"Apa kau bilang barusan menyebalkan?" tanya Indra tidak suka.
"Ia, karena kau semua ini tidak akan terjadi," balas Amora.
"Kalau aku tidak datang kau sudah menjadi wanita pria itu!" tunjuk Indra ke arah Lam yang sudah tidak berdaya.
"Lam?!" pekik Amora sambil menutup mulutnya.
"Pergilah Amora kalau bisa jangan kembali ke desa ini," ucap Lam lemah.
"Apa yang kalian kepdanya?" tanya Amora gugup.
__ADS_1
"Sayang, kami hanya beri dia pelajaran agar tidak semena-mena kepada kalian semuanya," tambah Indra.
Warga desa setuju apa yang dikatakan Indra bahkan mereka mengucapkan terima kasih.
"Sekarang, apa yang kau kepada si hakim?" bisik William.
"Ada deh, kau akan tahu kalau calon istriku ini bisa aku nikahi sekarang," ucap Indra.
"Mami yang akan mengurus semuanya," potong mami.
"Mami yang terbaik," balas Indra dan William bersamaan.
Setelah suasana sudah kondusif, Lam dan kelompoknya sudah diamankan oleh anak buah Indra.
Saat ini mereka adalah tamu spesial di desa itu bahkan kedua orang tua Amora saat ini gugup hadapi Indra dan keluarganya.
"Ayah, kita sudah keluarga saling menolong sesama kan itu hal yang biasa kecuali putri anda," ucapnya terkekeh.
Ayah dan ibu Amora tersenyum tahu maksud perkataan Indra barusan.
"Kami tidak tahu apakah Amora mau, sebagai orang tua berharap anaknya hidup bahagia," lirihnya.
"Indra, William mami tidak bisa bernapas!" pekiknya sambil mengeluarkan lidahnya.
"Mami kenapa?!" tanya Indra dan William bersamaan.
Mami malah main mata agar akting ya bisa berjalan dengan mulus.
__ADS_1
"Mami?!" tangis mereka berdua histeris hingga Amora tadinya mengurung diri di kamar bangun lalu keluar.
"Siapa aja tolong mami!" teriak William panik.
"Tuan, dokter sudah tiba di klinik sebaiknya Nyonya di bawa ke sana!" ucap ayah Amora panik.
Amora tetap gugup karena orang yang dia kenal ternyata anak konglomerat.
Dokter langsung memeriksa keadaan mami lagian mereka ada di dalam sana hanya bercanda.
"Kalian harus ikut drama ini mengerti!" perintah mami tegas.
"Baik Nyonya," jawab mereka serempak.
Beda di luar Amora cemas karena dia mami jadi seperti ini, ia melihat Indra lemah dan tidak berdaya.
Rasa bersalah ya pun kian tambah karena sosok Indra begitu bertanggung jawab.
Amora mendekati Indra namun terhalang oleh dokter hingga ia mundur beberapa langkah.
"Bagaimana keadaan mami saya dokter?" tanya Indra cemas.
Namun suara teriakkan terjadi dalam ruangan itu hingga mereka tersentak dengar suara mami.
"Apa yang terjadi?" tanya William dan Indra bersamaan.
Amora menutup mulut karena sudah tidak yakin hasil pemeriksaan.
__ADS_1
"Mami, bangunlah aku dan Indra akan menikah tolong jangan pergi!" ucapnya tanpa sadar.