
William tidak segan-segan menyeret Rachel keluar dari kediamannya. Tidak peduli ada mami di sana menyaksikan perbuatannya kepada wanita yang pernah bersemayam di hatinya.
"William, apa yang kau lakukan?" pekik Rachel.
"Jangan pernah ke sini lagi aku sudah tidak menyukaimu Rachel," sentak William.
"Tapi aku masih menyukaimu William," elak Rachel.
"Hanya Leonore seorang yang menyukaiku, ingat itu!" William mendorong Rachel menjauh nyaris jatuh ke tanah.
"Ingat Will, sebelum kedatangan wanita itu kita berdua adalah sepasang kekasih favorite orang-orang di luar sana," ucap Rachel kesal.
"Tapi masalahnya aku tidak menyukaimu lagi karena kelakuanmu yang sudah diluar batas Rachel." Kedua bola mata Rachel terbuka lebar dia membayangkan kelakuannya ketika di luar negeri selama ini.
"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan Will?" balasnya berpura-pura sedih.
"Perlu aku tunjukkan bukti supaya kau percaya." William langsung mengambil ponselnya untuk menunjukkan sebuah bukti.
"Lihat ponselmu!" ujar William.
__ADS_1
"Apa yang kau kirim Will?" tanya Rachel takut.
"Baca chat ku itu!" tambah William.
Rachel langsung menjatuhkan ponselnya lalu retak dia tidak menyangka yang diduga ternyata benar.
"Mami mengira kau adalah calon menantu idaman ternyata tidak. Untung saya sudah menikah kan William dan Leonore jadi wanita seperti mu tidak akan pernah bisa masuk lagi ke keluarga kami," potong mami.
"Kalian salah besar sudah memperlakukan ku seperti ini. Suatu saat kalian akan menyesal termaksud kau William." Setelah mengatakan itu Rachel maksud meninggalkan kediaman William dengan perasaan yang begitu kesal.
"Mami, William minta maaf sudah bodoh selama ini," lirihnya.
"Aku akan kembali mami." William bergegas meninggalkan kediamannya tidak mengindahkan panggilan mami.
"Dasar anak bodoh tapi untung lah wanita itu sudah pergi kini tinggal menunggu kepulangan Leonore," batinnya.
William tidak memperdulikan kendaraan lain mencoba untuk membuat dia terjebak dalam kemacetan. Tidak ada yang mengalah karena ingin lebih dulu melaju.
"Indra aku berharap kau mau bekerja sama masih mencari keberadaan Leonore," ucapnya lalu potong laju kendaraan yang ada di hadapannya.
__ADS_1
Setibanya di apartemen Indra, William langsung main masuk ke dalam karena dia tahu kode password. Namun jadwal bola matanya terbuka lebar di sana wanita yang selama ini dia cari bersama dengan sahabatnya.
"Indra, Leonore?!" ucapnya terbata-bata.
"William, aku akan menjelaskan semua ini bukan seperti yang kau pikirkan," ucap Indra gugup.
"Kak, aku takut," bisik Leonore lalu bersembunyi belakang Indra.
"Jangan takut, William tidak akan pernah melakukan hal-hal ini tidak mudah inginkan. Will, kita bisa bicara dengan mata dan Leonore biarkan ia istirahat karena tadi seseorang telah mengejar lalu aku membawanya ke sini," terang Indra gugup
William diam namun tatapannya tertuju ke arah perut Leonore yang sudah kelihatan membesar.
"Leonore!" ucap William pelan nyaris tidak terdengar.
"Dia baru saja memanggil namaku, itu tidak mungkin?!" pekik Leonore dalam hati.
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu Leonore!" mohon William,
Leonore semakin ketakutan tangannya bahkan erat menarik pakaian Indra sampai lusuh.
__ADS_1