Mengejar Surga

Mengejar Surga
Kelakuan Indra


__ADS_3

Leonore justru tertawa terbahak-bahak melihat wajah cemas William hingga membuat pria tampan itu kesal.


''Kenapa membuat lelucon seperti itu?" kesalnya.


''Maaf, habisnya suasana terlihat begitu tegang aku tidak suka.'' William langsung membawa Leonore masuk ke dalam pelukannya tidak mau lagi mendengar lelucon itu.


''Jangan coba coba melakukannya lagi mengerti!" Leonore mengerti lalu mereka berdua masuk ke dalam pelukan hangat sambil memejamkan kedua bola mata.


Waktu begitu cepat berlalu Leonore dan William turun secara bersamaan. Kesehatannya sudah pulih pasca operasi kini William menyuruh pelayan untuk memindahkan kamar mereka di bawah.


Tidak mau sesuatu terjadi kepada istrinya itu karena kesehatannya yang turun beberapa hari ini.


''Ayo kita sarapan bersama!'' ajak ibu.


''Maaf Bu. Leonore tidak membantu memasak,'' lirihnya.


''Sudahlah, ibu mengerti dengan situasi mu sekarang ini mengurus anak dan suami,'' balas ibu sambil memasukkan nasi ke dalam piringnya.


''Sayang, apa yang dikatakan ibu memang benar jangan banyak melakukan aktivitas fokus kepadaku dan anak,'' tambah william.


''Ya,'' angguk Leonore.


William terus memperhatikan Leonore karena tidak mau wanitanya itu kekurangan apapun.


Sampai sekarang belum ada keterangan dokter mengenai kondisinya.


''Apa yang harus saya lakukan doctor?" tanya William.


''Kita banyak berdoa Tuan, semoga dengan pengobatan kemoterapi yang dijalani Nona berbuah manis. Kami sudah melakukan semuanya mudah-mudahan ada mukjizat terhadap beliau,'' terang dokter tersebut.


''Sampai kapan saya menunggunya dok, sementara keluarga lambat laun akan mengetahui kondisi Leonore?" tanya William lagi.


''Minggu ini hasilnya akan keluar Tuan.'' William merasa jantungan apa yang dikatakan dokter mudah-mudahan benar.


Leonore menyadari tatapan William lalu menoleh ke samping namun pria tampan itu langsung membuang wajahnya ke depan.


''Kenapa William melihatku seperti itu ya?" batin Leonore.


Setelah acara sarapan pagi selesai Leonore membantu pelayan membersihkan meja.


''Apa yang kau lakukan sayang? Hentikan itu kalau tidak aku akan marah?!" pekik William tidak suka melihat Leonore melakukan pekerjaan rumah karena kondisinya sangat ini sedang tidak baik.


''Hanya mengantar piring ini ke dapur Will,'' ucapnya.


''Tapi aku tidak suka.'' Leonore terbelalak melihat sikap William yang begitu posesif kepadanya.


''Will, kau menyakitiku,'' lirihnya.


William langsung melepaskan tangannya kaget karena sudah menyakiti istrinya itu.


''Maaf sayang aku tidak sengaja,'' ucap William cepat.


Leonore justru memeluk William dari belakang iya mengetahui kecemasan suaminya itu terhadap dirinya.


''Aku salah, kamu mau maafkan aku kan?" William tidak kuat mendengar kata maaf itu keluar dari mulut Leonore.


Dia benar-benar sudah bersalah terhadapnya dahulu dan sekarang ingin membahagiakan sang istri.


William berbalik langsung membawanya ke dalam pelukan berharap wanitanya itu secepatnya sembuh.


Kebahagiaan yang sudah hampir di depan mata namun terhalang karena sakit yang diderita oleh Leonore.


''Lupakan! Kau mau ikut denganku kan?" Leonore mengangguk cepat.


''Ya,'' jawabnya.


''Baiklah, kita menemui baby Ali ya baru kita pergi.'' Di kamar baby Ali sang putra yang sudah tumbuh dengan baik melihat kedatangan kedua orang tuanya langsung menangis.


''Ali menangis, Will?" pekik Leonore.


''Tenanglah! Dia itu hanya berakting aja agar ayahnya pergi, ya kan Al?" tanya William sambil memberikan pelukan hangat kepada putranya itu.


Sang putra malah tertawa tahu apa yang dikatakan William namun detik itu juga tangannya mencari sesuatu dari diri Leonore.


''Sepertinya Ali mau minum susu Will?" ucap Leonore.


''Baik, tunggu sebentar di sini aku akan membuat susu kepadanya.'' Leonore melihat kepergian pria tampan itu dengan gerak cepat membuat susu formula.


Sebagai seorang ibu, Leonore merasa tidak sempurna untuk putranya. Seharusnya dia memberikan langsung dari sumber namun karena sakit yang telah dideritanya, susu tersebut telah berhenti dengan sendirinya.


''Maafkan ibu ya sayang,'' bisik Leonore.


''Sayang, aku sudah membawa ya!" ucap William.


Leonore mengangguk lalu menerima botol tersebut memberikan kepada baby Ali.


''Minum pelan sayang, ibu tidak akan merebutnya darimu,'' kekeh Leonore.


William mengusap wajahnya tiba-tiba basah tanpa sepengetahuan Leonore.


Melihat sang istri begitu dekat dengan putranya perasaannya semakin sakit. Apa jadinya kalau Leonore meninggalkan mereka berdua dalam keadaan seperti ini? Sebagai seorang pria yang benar-benar mencintai tidak mau kehilangan untuk kedua kalinya.


''Will?" panggil Leonore berulang kali karena William melamun.

__ADS_1


''Kurang ya susunya?'' tanya William.


''Bukan, bantu aku membawa baby Ali memasukkan dia ke dalam box.'' Leonore geleng-geleng kepala melihat suaminya itu yang tidak fokus.


''Maaf,'' ucap William.


Leonore tahu apa yang dalam pikiran William makanya dia tidak mau membuat pria tampan itu banyak berpikir.


Pengasuh kembali masuk ke dalam untuk menjaga baby Ali sementara mereka berdua pamit kepada ibu.


''Kalian cepat pulang karena cuaca sedang tidak baik,'' pesan ibu.


''Ya Bu,'' jawab Leonore dan William bersamaan.


Sepanjang perjalanan tidak ada yang membuka suara fokus terhadap pikiran masing-masing. Cuaca terlihat mendung Leonore terlihat menggigil namun tidak disadari William.


Leonore bersandar ke jendela sambil memeluk tubuhnya hingga William menyadari itu langsung menghentikan mobil.


''Kau kenapa, Leonore?" tanya William panik.


''Aku kedinginan Will,'' ucapnya namun tidak membuka kedua bola matanya.


William dengan cepat cepat langsung mengambil pakaian hangatnya dari belakang kebetulan supir tidak mengeluarkan mantelnya itu.


''Kita sebentar lagi sampai ke rumah sakit sayang, bertahan lah!" ucap William langsung melanjutkan perjalanan mereka berdua.


Indra sahabatnya menunggu di rumah sakit karena mendengar kabar Leonore beberapa hari yang lalu.


Pria yang tidak kalah tampan itu juga kesal karena sahabatnya tidak mau memberitahukan keadaan Leonore.


Setibanya di rumah sakit kedua bola mata Indra terbelalak melihat keadaan Leonore yang memprihatinkan.


''Apa yang terjadi dengan kakak ipar?" tanya Indra panik.


''Bantu aku membawanya masuk ke dalam nanti ku ceritakan.'' Indra mengangguk mengerti dan langsung menyediakan seluruh fasilitas rumah sakit terhadap Leonore.


''Kalian lakukan pengobatan yang terbaik untuk istriku!" ucap William panik.


''Baik Tuan,'' jawab mereka semuanya bersamaan.


William terlihat kusut tidak sanggup melihat keadaan Leonore tadi.


''Kau masih berhutang penjelasan mengenai kondisi kakak ipar Will?" tanya Indra.


''Leonore sakit.'' William menceritakan semuanya kepada Indra hingga pria dewasa itu terkejut bukan main.


''Trus, dokter mengatakan apa kepadanya?" tanya Indra begitu panik.


''Jangan berpikiran seperti itu Will, kakak ipar orangnya kuat dan tidak lemah. Ada baby Ali penopang hidupnya selama ini,'' balas Indra.


''Bagaimana kalau Leonore benar-benar pergi meninggalkan kami, Indra?" tanya William.


''Diam kau William, kakak ipar tidak akan pernah meninggalkan kita. Seharusnya kau kuat di sini jangan lemah!" sentak Indra.


Obrolan mereka berdua langsung berhenti karena melihat dokter keluar.


''Bagaimana keadaan istriku?" tanya William langsung berdiri.


''Sebaiknya kita bicara di ruangan saya Tuan!" ajak doctor.


William dan Indra langsung mengangguk cepat mengikuti langkah dokter tidak jauh ruangannya dari Leonore.


''Apa yang kalian temukan mengenai kesehatannya?" tanya William tergesa-gesa dan tidak sabar menunggu hasil ya.


''Anda bisa membuka dan membaca ini Tuan!" William langsung merobek kertas tipis itu dalam membacanya dengan seksama.


''Tidak mungkin?!" pekiknya dan kertas hitam putih langsung jatuh ke lantai.


''Apa isinya, Will?" tanya Indra langsung mengambil kertas itu.


''Selamat Tuan, Nona kami nyatakan sudah sehat namun aktivitasnya tolong dibatasi untuk sementara ini.'' Indra juga tidak kalah terkejut langsung menjatuhkan kembali kertas itu tanpa dibaca terlebih dahulu.


''Apa pendengaran ku tidak salah Will?" tanya Indra.


''Indra, Leonore sudah sembuh aku tidak menyangka ternyata pengobatan yang kami jalani berhasil!" ucapnya langsung bersyukur.


''Benarkah itu doctor?" tanya Indra.


''Benar Tuan, Nona Leonore tinggal melakukan pemulihan.'' Kedua pria tampan itu langsung berpelukan terharu mendengar ucapan dokter.


Dokter menjadi saksi kisah cinta William yang benar-benar tulus terhadap Leonore.


Orang-orang yang berpikiran di luar sana mengenai sikap dan pribadi yang begitu arogan ternyata berbeda dengan kenyataan.


''Leonore harus mendengar kabar ini Will,'' seru Indra.


''Tunggu! Kenapa Leonore jatuh pingsan tadi dok?" tanya William baru menyadari hal itu.


Dokter kembali mengambil kertas hasil pemeriksaan ya lalu memberikan kepada William.


''Saya sudah mengatakan kepada anda berulang kali Tuan, kalau Nona jangan sampai merasakan lelah kalau tidak seperti ini hasilnya!" William merasa bersalah dia langsung berjanji tidak akan pernah membuat Leonore kelelahan lagi.


''Kami bisa menemuinya sekarang Dok?" tanya William tidak sabar.

__ADS_1


''Silahkan Tuan dan sekali lagi selamat perjuangan anda benar-benar tulus dan berbuah kan hasil!" ucap dokter tersebut.


''Terima kasih juga,'' balas William.


Indra terkejut melihat sahabatnya itu seketika langsung lunak dari balik mulut itu senyumannya terlihat.


''Aku baru tahu mengenai kondisi kesehatan kakak ipar tiba-tiba langsung sehat,'' keluh Indra.


''Maaf, saat itu aku tidak bisa berpikir positif Indra,'' lirihnya.


''Baiklah! Walaupun terlambat mengetahuinya namun aku senang saat ini apa yang kau impikan akan terwujud.'' William langsung memeluk sahabatnya itu hanya Indra yang mengerti dengan diri ya.


Pintu terbuka terlihat wajah wanita yang sudah berubah drastis sehat jauh sebelumnya.


Senyuman sepasang suami istri itu tidak pernah lepas dan kehangatan dalam diri mereka berdua menambah haru.


Indra mengusap air mata ya lolos melihat rumah tangga sahabatnya itu akhirnya kembali.


''Kapan aku menikah? Seperti ini aku juga butuh kehangatan?" keluhnya.


Indra keluar dengan wajah yang terlihat murung namun tiba-tiba seorang perawat menabraknya dari depan.


''Maaf Tuan, saya tidak sengaja menabrak anda?" ucapnya begitu panik sambil memungut alat medis yang cecer di lantai.


''Tidak apa-apa namanya juga manusia kadang ceroboh,'' balas Indra tanpa sadar mengatakan itu namun sudah menyakiti perasaan sang perawat.


''Pria menyebalkan,'' dengus ya sambil melihat punggung Indra sudah bilang di balik pintu.


Berbeda dengan sepasang suami istri yang sedang merayakan kembalinya Leonore dalam hidupnya. William tidak bau melepaskan tangan itu terus dipegang sampai menuju ke mobil.


''Will, aku bisa jalan,'' keluhnya.


''Diamlah! Mulai sekarang jangan melawan lagi ya ingat apa yang kata dokter tadi. Kalau sampai kelelahan aku akan menghukumu!" Leonore tertawa melihat wajah serius William.


''Kau memang suamiku yang begitu tampan namun menyebalkan.'' William tertawa lalu mereka masuk ke dalam mobil.


Namun pandangan mereka berdua langsung tertuju kepada mobil Indra tidak mau keluar dari gerbang.


''Apa yang dilakukan si bodoh itu di sana?" kesal William.


''Tunggu! Coba lihat di sana!" tunjuk Leonore.


''Apa?" Namun kedua bola mata William langsung terbuka lebar karena tiba-tiba sahabatnya itu memasukkan seorang wanita ke dalam mobil hitamnya.


''Wanita? Sejak kapan Indra mau memasukkan seorang wanita ke dalam mobilnya?" tawa William.


''Memangnya kenapa kalau dia memasukkan wanita ke dalam mobilnya?" tanya Leonore heran.


''Indra sama sepertiku sayang, wanita tidak akan pernah kami masukkan ke dalam mobil sebelum melakukan pernikahan?" Leonore melotot mendengar ucapan William.


''Tradisi dari mana itu?" William menaikkan alisnya mendengar pertanyaan Leonore.


''Bukan tradisi sayang? Namun itu sudah kewajiban kami berdua tidak boleh menyentuh seorang wanita sebelum melakukan pernikahan. Mami yang melakukan peraturan seperti itu.'' Leonore terharu mendengar ucapan William dia benar-benar sangat beruntung memiliki seorang pria seperti di hadapannya ini.


''Karena itu mantanmu melakukan penyimpangan?" Wajah William langsung berubah dingin dia teringat dengan Rachel kabarnya sampai saat ini tidak tahu bagaimana.


''Jangan mengulang masa lalu di waktu hari bahagia kita ini sayang,'' dengus William.


''Aku kan hanya bertanya ada yang salah?" William langsung geleng-geleng kepala apa yang dikatakan Leonore memang tidak salah.


Mobil mereka langsung keluar dari rumah sakit namun tidak dengan Indra masih bergelut dengan seorang wanita di dalam mobil ya.


''Apa yang anda lakukan Tuan? Jangan melakukan ini kepadaku?'' pekiknya.


''Jadilah istri dadakan ku ya. Jangan khawatir mengenai masa depan karena aku adalah seorang CEO. Mami sudah mendesak ku untuk menikah secepatnya!" Wanita itu terbelalak mendengar ucapan Indra yang begitu konyol.


''Anda salah mencari jodoh Tuan, sebaiknya anda menuju ke sana begitu banyak wanita yang tidak kalah menarik!" tunjuknya ke arah pintu samping rumah sakit.


''Kau serius?" tanya Indra percaya begitu saja.


''Ya Tuan, kalau anda membawa saya mungkin tidak cocok karena perbedaan status kita berbeda!" tambahnya.


''Baiklah! Kau lebih baik keluar aku ke sana.'' Senang hati wanita yang memakai pakaian serba putih itu keluar cepat-cepat tidak mau mendapatkan masalah terhadap pria yang baru saja dia kenal itu.


''Rasakan! Makanya sebagai orang yang berkuasa jangan arogan!" tawanya terbahak-bahak lalu kembali masuk ke dalam rumah sakit.


Indra menyusuri jalan tersebut namun pandangannya tidak menemukan satu pun wanita yang dikatakan perawat tersebut.


''Apa aku salah jalan?" gumamnya.


Hanya ada satu pintu di sana namun kedua bola mata pria tampan itu terbuka melebar. Dia tidak menyangka baru saja dikerjai seorang wanita yang baru saja dikenal.


''Kamar?!" teriaknya minta ampun langsung dari terbirit-birit menuju mobil ya.


Pengunjung yang melihat kelakuannya tertawa terbahak-bahak padahal mereka tidak mengetahui rumah sakit ini adalah miliknya.


''Awas kau ya wanita?!'' teriaknya.


Perawat itu tertawa melihat kelakuan Indra lalu kembali bekerja seperti semula.


Banyak mengenai gosip miring mengenai kehadiran Indra di rumah sakit ini namun wanita itu sama sekali tidak peduli.


''Dia kan pria menyebalkan dan arogan?" tawanya .

__ADS_1


__ADS_2