
Keesokan harinya seluruh warga desa berkumpul di alun-alun menunggu keputusan sang juragan mengenai kedatangan Indra tiba-tiba membuat onar.
Pernikahan akhirnya di hentikan untuk sementara karena kekacauan ini.
Lam duduk bagaikan seorang penguasa di desa itu melihat wajah Indra tidak suka.
''Aku akan memberimu pilihan tinggalkan desa ini atau sesuatu yang tidak enak akan terjadi kepada dirimu!" ancam Lam.
''Jangan berikan aku pilihan seperti itu kalau tidak kau yang akan menyesalinya,'' decih Indra.
''Diam kau?! Beraninya kau menjauh seperti itu sementara kau hanya sendirian di sini,'' tambah Lam.
''Jangan sombong seperti itu Tuan Muda,'' ledek Indra.
Lam semakin kesal terhadap Indra langsung memberikan instruksi untuk memberikan ke pelajaran terhadap pria itu.
''Berikan dia pelajaran yang setimpal agar mengerti hukum desa ini!" perintahnya.
''Stop! Memangnya kau hakim seenaknya memberikan hukuman kepada orang yang tidak bersalah!" ulur Indra sambil melihat arloji di tangan ya menunjukkan waktu setengah jam lagi bantuan akan datang.
''Kau memang pria banyak bicara selalu menjawab apa yang ku katakan. Kau sudah menyentuh calon istriku kemaren dan hukumannya adalah kau tidak akan pernah bisa kembali lagi kota!" Indra menghembuskan nafas ya semakin kesal mendengar ucapan Lam.
''Sudah kukatakan dari kemarin kalau kami berdua adalah sepasang kekasih di kota. Hubungan kami bahkan sudah lebih dari seperti yang kalian lihat kemarin malam.'' Warga desa langsung riuh tidak menyangka kalau Amora sanggup melakukan itu sementara kedua orang tuanya di sini sakit-sakitan.
''Bawa Amora ke sini aku ingin mendengar penjelasannya?!" bentak Lam.
__ADS_1
''Baik Tuan,'' jawa pengawal dengan cepat.
Indra bernafas lega karena waktu masih ada menunggu bantuan.
''William kenapa lama sekali datang kaki ku di sini sudah sakit sekali,'' gerutunya.
Hanya beberapa menit Amora sudah tiba dengan wajah yang terlihat sembab. Kedua orang tuanya juga ikut dari belakang ketakutan melihat wajah Lam.
''Oh, ibu dan ayah mertua bagaimana kabar kalian?" tanya Indra merasa tidak bersalah dan sok akrab.
Amora semakin marah kepada Indra sopan santunnya sama sekali tidak ada.
''Ayah, ibu jangan menjawab pertanyaan pria ini dia bodoh,'' potong Amora.
''Jangan bicara seperti itu Amora seharusnya kau bahagia kita semua berkumpul dan dipertemukan seperti ini. Dan pria di depan sana akhirnya mengetahui hubungan kita yang sudah lama terjalin,'' tambah Indra.
''Lam, hukum aku jangan kedua orang tuaku,'' pinta Amora.
''Apa yang kau katakan Amora? Di sini tidak ada siapapun yang akan kena hukum percaya dengan ku!" potong Indra.
''Kau tidak tahu situasi ya jadi jangan banyak bicara,'' tekan Amora.
''Memangnya ada masalah apa sebenarnya sampai pria bodoh itu seperti hakim padahal jubahnya tidak ada,'' ledek Indra.
''Apa yang kau katakan barusan?'' Lam sudah tidak tahan lagi mendengar ocehan Indra langsung menarik kerah pakaiannya.
__ADS_1
''Apa? Kau pria yang berlaga seperti hakim tidak pantas menghukum orang tua seperti ini. Kalau memang kau seorang pria seharusnya bertindak adil jangan menang sepihak!" balas Indra.
''Kau orang luar tidak mengerti apa yang terjadi di desa ini dari jangan banyak bicara kalau tidak-'' Indra memotong ucapan Lam dengan cepat.
''Kalau tidak apa?" ucap Indra tanpa ada rasa takut.
''Amora akan aku kirim ke luar negeri untuk melunasi hutang keluarganya,'' balas Lam.
Amora memejamkan kedua bola matanya hal itu tidak kuat dia dengar. Ketakutan melanda dirinya membayangkan dia berada di luar negeri untuk bekerja.
''Berapa hutang keluarga Amora?" tanya Indra.
''Apa pria sepertimu memangnya sanggup membayarnya? Dari pakaian yang kau gunakan tidak akan sanggup untuk melunasi hutang ya,'' balas Lam.
''Jangan terlalu merendahkan seseorang yang belum tentu yang seperti kau lihat,'' decih Indra.
''Aku baru ingat kalau kau menggunakan mobil ke sini, kalian semuanya periksa apakah itu memang mobilnya atau tidak?" perintah Lam.
''Baik Tuan!" jawab pengawal Lam cepat.
''Astaga aku melupakan surat-surat mobil itu tertinggal di rumah. Identitas ku juga ketinggalan di meja tengah,'' gerutu Indra.
''Kau kenapa seperti itu?" tanya Amora tidak sengaja melihat wajah panik Indra.
''Amora, kau mempercayaiku kan? Aku benar-benar tulus mencintaimu walaupun pertemuan kita pertama kali tidak enak.'' Amora tidak mengerti apa dikatakan Indra hingga anak buah Lam datang sambil tertawa.
__ADS_1
''Pria ini pembohong Tuan. Mobil yang dia bawa ternyata milik ini!" Lam menerima identitas supir pribadi Indra.