
Setelah selesai berolahraga malam William tidur pulas di samping Leonore. Wanita rapuh itu menangis sesenggukan bayangkan ia baru saja melakukan hubungan tidak pantas.
Secara perlahan ia menuju ke kamar mandi membersihkan tubuhnya yang lengket. Ia meratapi nasibnya yang malang hingga tatapannya yang kosong menatap perutnya yang masih datar.
"Apa kau di sana baik-baik saja? Maafkan aku ya tidak bisa melindungi mu di sana?" batinnya.
"Sedang apa kau di sana?" Leonore terkejut melihat William di belakangnya.
Ia menundukkan kepalanya tidak berani melihat William yang menatapnya dengan tajam. Secara paksa tangan kekar itu menarik Leonore kuat sampai keluar dari kamar mandi.
"Sakit," lirihnya.
"Jangan pernah meninggalkan tempat tidur selama aku belum bangun!" sentaknya.
"Tadi aku mau ke kamar mandi membersihkan ini," tunjuknya ke bawah.
William langsung melepaskan tangan Leonore dan memaksa naik ke atas tempat tidur.
"Jangan turun sebelum aku turun terlebih dahulu." Leonore hanya bisa mengangguk ia melihat William mengambil pakaian ganti untuknya.
"Pakai ini!" tambah William.
__ADS_1
Leonore tidak menjawab ia menerima pakaian William yang kebesaran kalau digunakan.
"Aku tenggelam memakainya," gerutunya.
William kembali naik ke atas tempat tidur lalu menarik selimut karena tidurnya begitu tanggung. Namun berbeda dengan Leonore begitu sulit untuk tidur karena pikirannya pergi kepada calon buah hati yang saat ini telah tumbuh dalan perutnya.
Waktu terus berputar sesuai keinginan William, Leonore tidak bangun justru kebablasan tidur. William membuka kedua bola matanya karena sinar matahari mengenai dirinya.
Dia geleng-geleng kepala melihat Leonore tidur bagaikan kebo tidak disadari senyuman tipis menghiasi wajah pria tampan itu.
"Kalau seperti ini baru kan adem," gumamnya.
William turun dari tempat tidur menuju ke kamar mandi membersihkan dirinya. Pagi ini dia dan Indra melaksanakan rapat bersama dengan perusahaan asing. Sementara itu di lantai dasar Rachel ternyata bermalam di rumah William sampai sepengetahuannya.
"Masak ya jangan banyak pakai minyak nanti kulitku bermasalah," protesnya.
"Baik Bu," jawab salah satu maid.
"Apa kau bilang, Bu?" sentaknya tidak terima dipanggil dengan ibu-ibu sementara dia masih muda.
"Maaf, saya tidak tahu harus menyebut anda sebagai apa," balasnya.
__ADS_1
Rachel melongo begitu jelas kalau dia di sini adalah calon Nona muda mereka.
"Dengar baik-baik ya, sebentar lagi aku akan menjadi menantu di rumah ini kalian semuanya ingat itu!" ucapnya begitu sombong.
Mereka semuanya tidak terkejut karena Nona muda yang sebenarnya adalah Leonore.
Rachel menaikkan alis melihat ekspresi wajah para pelayan sama sekali tidak terkejut. Hingga tatapan mereka semuanya tertuju kepada anak tangga.
"Nona muda selamat pagi," sapa mereka serentak.
"Pagi Mbak," balasnya tersenyum.
Rachel mengeram kesal melihat wajah Leonore terlihat begitu cantik pagi ini padahal ia sama sekali tidak memakai bedak.
"Kau masih di sini?" tanya Rachel penuh penekanan.
"Seperti yang anda lihat," balas Leonore.
"Sudah kukatakan tinggalkan rumah ini tapi kau malah balik," tekannya.
"Kalau anda ingin aku meninggalkan rumah ini lebih baik bicara terlebih dahulu kepada William." Rachel mengeram Leonore menyebut nama William.
__ADS_1
"Apa mereka sudah dekat sampai wanita ini berani menyebut nama William?" batin Rachel.
Leonore melangkah menuju ke dapur karena tenggorokannya haus karena ulah William. Ia tidak memperdulikan siapapun berada di sana karena di sini pun tidak ada yang peduli dengan dirinya.