Mengejar Surga

Mengejar Surga
Perawat Amora


__ADS_3

Indra tidak peduli dengan kendaraan lain hampir kena dengannya. Pikirannya fokus kepada si perawat yang baru dia kenal.


"Wanita itu harus mendapatkan pelajaran dariku. Beraninya dia mengerjai ku masuk ke kamar?" Indra bergidik ngeri apalagi saat ini dia sendirian menyetir.


Sepanjang jalan dirinya dikelilingi pohon Pinus apalagi terbayang dia tadi masuk ke kamar orang tidak.


"Tidak?!" teriak ya lalu banting setir mobil masuk ke sebuah desa.


Masyarakat desa heran melihat kedatangan Indra apalagi dengan mobil mewah belum pernah mereka lihat sekalipun.


"Halo, saya sedang mencari kediaman perawat dari kota Pak. Rumah ya ada di mana ya kalau boleh tahu?" tanya Indra sopan.


"Di atas sana anak muda tapi lewat kuburan dulu!" Indra terbelalak mendengar jawaban sang bapak.


"Tidak ada jalan lain, Pak?" tanya Indra takut.


"Ada, dari sungai tapi sudah malam takutnya ada hewan berenang," lanjutnya.


"Apes sekali aku ini," batin Indra.


Mobil Indra di kerumuni anak-anak mereka kagum melihat ya.


"Om, dapat dari mana banteng ini?" tanya anak tersebut namanya adalah Dani.


"Hei, bukan banteng tapi mobil nama ya adalah ner belakangnya," jawab Indra kesal.


"Oh ia, lalu Om mau ke mana?" tanya Dani lagi.

__ADS_1


"Jangan sebut Om tapi kak Indra usiaku baru jalan tiga puluh tahun," gerutunya.


"Maaf kak, abisnya wajah kakak tua." Mereka ada sebanyak empat orang tertawa melihat wajah kesal Indra.


"Si perawat dan anak-anak sama saja," ucapnya sambil minum.


"Kakak baru sebut nama perawat ya?" tanya Dani.


"Ya," balas Indra tidak terlalu open.


"Itu rumahnya, namanya bukan perawat tapi mbak Amora," tunjuk ya.


"Kalian salah, kata si bapak rumah ya di atas sana!" tunjuk Indra arah bukit.


"Itu tempat istrinya sudah istirahat kak, setiap orang bicara dengannya bakal itu jawabannya." Indra menyemburkan minuman itu ke wajah Dani.


"Kakak janji kan?" tanya Dani sabar.


"Janji tapi habis pekerjaan kakak selesai dengan si perawat," sahut Indra.


"Kak Amora," ralat Dani.


"Maaf saya salah," ucap Indra.


"Kakak mau apa dengan kak Amora? Besok dia mau nikah dengan Tuan takur? Jangan macam-macam di sini nanti kakak tidak bisa pulang bersama banteng!" Indra terpengarah mendengar ucapan Dani.


"Warisan nikah masih berlaku di desa rupanya," kekeh Indra.

__ADS_1


"Bisa bantu kakak?" bisik Indra.


"Apa itu kak?" Indra berbisik lalu kembali masuk ke dalam mobil.


Dani melakukan apa yang di katakan Indra hingga Amora keluar dengan wajah yang lelah.


"Ada apa Dani? Sudah malam nanti ayah dan Ibu marah sama Amora?" bisik ya.


"Kak, kami mendapatkan informasi warga mengalami kecelakaan di sana!" tunjuk Dani.


"Aduh kakak mana bisa ke sana kan besok mau nikah Dani!" balasnya cemas.


"Kakak penting nikah atau nyawa?" Amora melihat mata Dani berkaca-kaca hatinya terenyuh lalu diam-diam keluar dari rumah.


"Yes berhasil. Bisa naik banteng aku besok dan kawan-kawan," ucapnya dalam hati.


"Di mana Dani? Kita hampir dekat bukit lho?" tanya Amora takut.


"Itu kak!" tunjuk ya.


"Mobil mewah siapa itu Dani?" tanya Amora heran.


"Mobilku!" Amora berbalik terkejut melihat Indra berdiri tepat di hadapannya.


"Ka-kau?!" pekiknya.


"Maaf kak Amora demi naik banteng ini Dani terpaksa berbohong," ucapnya tanpa merasa bersalah.

__ADS_1


 


__ADS_2