
Mereka berdua pun tak ada komunikasi satu sama lain, ya! Mereka berdua sibuk dengan ponsel nya masing masing
Bukan maksud Jessica untuk tidak memperdulikan Bagus yang duduk di depannya, tapi ini semua Jessica lakukan agar Bagus sadar, dan bisa bertingkah selayaknya seorang suami, yaaahh meski umurnya jauh di bawah Jessica sih.
Tak lama kemudian datanglah pelayan tadi membawakan makanan pesanan mereka, "silahkan, selamat menikmati," pelayan itu menaruh makanan nya di atas meja, "iya, makasih," kata Jessica sembari melirik ke arah bagus yang sibuk memandangi ponselnya, yang seolah olah tidak menghargai pelayan itu.
"Ini mas, makanannya udah datang," jessica membuka obrolan, menyodorkan piring berisi nasi goreng itu ke hadapan Bagus.
Bagus pun menaruh ponsel nya, mengambil sendok di piring itu, dan memakan nasi goreng itu dengan lahapnya, sementara Jessica hanya memandangi nya dengan sinis.
"Loh, ngga makan?" Tanya Bagus melihat kearah jessica.
"Iya," Jessica memakan makanan itu.
"Emang kamu biasanya makan di sini mas?" Tanya Jessica sembari memasukkan makanan ke mulutnya.
"Iya, ini kan resto mama yang di serahkan ke aku."
"Uhuk uhuk," Jessica tersedak karena kaget mendengar kata kata Bagus tadi, "pantesan sepi," gumamnya.
"Nih minum dulu," Bagus menyodorkan lemon tea milik nya kepada Jessica, dan Jessica pun langsung meminumnya.
Jessica mengambil tisu yang ada di meja dan membersihkan mulutnya, "kok sepi banget mas?"
"Ya nggak tau lah," Jawab Bagus cuek.
"Jujur, aku nggak bisa mengelolanya, jadi mulai sekarang, kamu aja yang mengelola," sambung Bagus.
"Hah!" Jessica kembali kaget.
"Kok aku sih," sambungnya, melototi Bagus.
"Nggak ah, nggak mau," Jessica memalingkan muka nya.
Bagus pun mengambil ponsel nya, entah apa yang dia lakukan, sepertinya sedang mengetik sesuatu, tapi Jessica tidak memperdulikan nya, ia terus menggerutu.
"Kamu aja nggak bisa, apalagi aku," kata Jessica, namun Bagus hanya cuek menyantap makanan itu.
'Ting' ponsel Jessica berbunyi tanda ada pesan masuk, dan jessica pun membuka nya.
"Jessica, saya Anggi, saya dapat nomor kamu dari Bagus."
Pupil mata jessica pun sontak melebar seketika, ternyata itu mama Anggi, mama Bagus, atau mertuanya.
"Tolong kamu kelola B butik, sama B resto nya, karena Bagus belum bisa mengelolanya," isi pesan itu.
Jessica pun langsung memandang wajah Bagus, "kamu ngadu?!"
"Nggak, orang aku cuman ngasih saran ke mama, dan mama setuju." Jawab Bagus cuek.
Jessica pun segera membalas chat itu, "iya ma," mau gimana lagi, itukan perintah mertuanya, yang status nya sama dengan ibu kandung.
Mama anggi pun kembali memberi pesan, "pokok nya terserah mau kamu model gimana butik dan resto itu, dulu nama B butik dan B resto and caffe itu itu Bagus yang buat, katanya biar sesuai sama nama depan Bagus, yaitu B, hehe."
"Iya ma, hehe." Balas Jessica.
Jessica pun mulai berpikir, "gimana ya caranya, biar butik dan caffe ini menjadi maju?"
Jessica sedikit termenung, hingga tanpa sadar, Bagus sudah selesai menyantap makanan nya, dan mengambil lemon tea milik jessica dan meminumnya.
"Loh, itukan punya ku mas," kata Jessica memandangi Bagus yang mengambil lemon tea miliknya.
"Punya aku tadi kan kamu yang minum, jadi yang ini biar aku yang minum, tukeran," jawab Bagus, Jessica hanya menggaruk keningnya.
"Yaudah di habisin dulu makanan nya," kata Bagus berdiri dan beranjak dari meja.
"Loh, kamu mau kemana mas?" Sahut Jessica.
"Aku tunggu di mobil."
Jessica hanya menghembuskan nafas dan mengangkat kedua alis matanya, yang menandakan seolah olah, ia sudah pasrah kepada tuhan yang memberi jodoh seperti dia.
Ia segera menghabiskan makanan itu, kemudian beranjak menuju kasir untuk membayar makanan tadi, "berapa mbak total semuanya?"
"Tidak usah membayar Bu," jawab kasir itu sopan.
__ADS_1
"Mmm emang mas Bagus kalau makan disini nggak pernah bayar?"
"Nggak Bu, soalnya resto ini milik beliau,"
"Oh gitu, Jessica mengangguk.
"Saya istri nya, besok saya akan kesini, untuk melihat laporan resto ini dan butik itu, oh iya, tolong kasih tau juga siapa tadi yang jaga butik?"
"Zaki Bu?"
"Iya zaki, terserahlah siapa namanya, tolong kasih tau dia juga untuk menyiapkan laporan nya."
"Iya Bu, nanti akan saya sampaikan,"
"Makasih," kata jessica, dan ia pun segera menyusul Bagus yang sudah berada di mobil.
"Udah selesai makan nya?" Tanya Bagus ketika Jessica baru saja masuk ke mobil.
"Sudah," Jessica melontarkan senyum manis nya ke arah Bagus, kemudian memalingkan mukanya geram.
"Jalan pak."
"Iya non,"
Mobil pun berjalan melintasi jalanan kota, lampu kuning jalan begitu terang hingga masuk kedalam mobil dan menyinari wajah jessica yang termenung menghadap jendela, dan Bagus pun tampak menyadarinya, kalau istri nya sedang tidak memikirkan sesuatu.
"Kamu kenapa? Kok keliatannya susah?" Tanya Bagus memandangi Jessica.
"Susah? Enggak ah," jawab Jessica dengan nada yang sedikit tinggi.
"Susah di lupain maksutnya," kata Bagus cengengesan.
"Ihh, udah pinter gombal ya," Jessica sedikit membuka senyum nya.
"Hehehe."
Mobil terus berjalan, dan mendung hitam mulai terlihat dari langit yang tampak tak bertepi, suasana gerimis menemani perjanan ini.
"Oh iya mas, besok aku mau dateng lagi ke butik itu," kata Jessica memandang Bagus.
"Kamu kenapa mas? Kok keliatannya susah?" Jessica bertanya.
"Susah di lupain maksutnya?" kata Bagus ngeledek.
"Ih enggak mas, aku serius ini," Jessica meyakinkan Bagus.
Bagus terdiam sejenak, "sebenarnya.."
"Sebenarnya apa mas," Jessica benar benar penasaran menghadapkan tubuhnya kearah Bagus.
Bagus masih diam.
"Cerita dong maaass, aku tuh pengen kamu tau kalo aku itu nerima kamu apa adanya dan aku mau nemenin kamu dari nol," hati Jessica menggerutu.
Tanpa disadari oleh nya, ia sudah dua jam duduk disitu, jarum jam saat itu sudah menunjuk kan pukul 21:00, mata merah pertanda mengantuk pun sudah ia terlihat dari wajahnya, Jessica pun meninggalkan dapur, dan menuju ke kamar.
'ceklek' Jessica membuka pintu kamar.
"Astaga..." Gumam nya saat melihat Bagus yang sedang tidur tengkurap dengan ponsel nya, ya! Apalagi kalo bukan main game online kesukaan nya, "nggak tidur mas?" Jessica menggaruk kepalanya, namun Bagus tidak mendengarnya, mungkin saking khusyuknya.
Jessica pun pergi mengambil baju kemudian ke kamar mandi untuk mencuci muka dan berganti baju, dan sedikit membasahi rambutnya.
Setelah dari kamar mandi, ia menyisir rambutnya di depan cermin.
"Minggir, aku mau tidur," Jessica duduk di samping Bagus yang masih tengkurap dengan ponsel nya.
"Yaudah tidur aja,"
"Agak sana dikiiiit," Jessica sedikit mendorong tubuh Bagus agar ia mau sedikit geser, karena posisi tengkurap dia tidak beraturan.
"Iya iya," Bagus memberi ruang, untuk Jessica.
Jessica pun akhirnya bisa merebahkan tubuh nya, "Apa liat liat?!" Jessica melihat Bagus yang sedang melirik nya.
"Siapa juga yang liatin kamu, wlee," Bagus mengeluarkan lidahnya.
__ADS_1
"Eee dasar," Tamparan halus menyasar pipi Bagus yang tengah Memainkan Game nya.
"Ihh, gausah ganggu!" Bagus menghindar.
Menjahili Bagus pun muncul di pikiran Jessica, ia terus memberi tamparan halus ke pipi Bagus, dan mengarahkan tangannya ke ponsel Bagus untuk mengganggu nya, "cieee yang lagi ngambekkkk." Namun Bagus justru malah memalingkan seluruh tubuh nya, dan membelakangi Jessica.
Namun Jessica masih terus mengarahkan tangan nya ke ponsel Bagus, hingga tanpa sadar seolah olah tidak ada jarak pada kedua wajah mereka, "dibilangin gausah," Bagus menengok kearah jessica namun tanpa sengaja Bagus telah mencium pipi Jessica yang lembut itu.
Saling pandang pun terjadi antara mereka berdua, kayak di sinetron aja, namun memang benar, Jessica benar benar salting kali ini, cewe mana sih yang ga salting kalo di cium cowo nya, apalagi cowo seganteng Bagus.
"Udah lah aku mau tidur," alibi Jessica memalingkan tubuh nya, senyuman pun merekah dari wajahnya yang tidak di ketahui oleh Bagus, sepertinya tidur nyenyak dan mimpi indah nih kali ini, sementara Bagus yang sedang Berpura pura bocil ini pun juga diam diam tersenyum kecil, dan sedikit menjilat jilat bibirnya, horeee menang banyaak.
Senyuman pun masih merekah di bibir Jessica, yang sesekali ia tetap melirik kearah Bagus yang juga sedang membelakangi Jessica, dan Jessica mulai menghayal di otaknya, biasa cewe mah emang suka banget halu, hehe ya maap.
Tak lama kemudian berlabuh lah dia ke pulau kapas alias tidur, saat itu jam 22:00.
"Heh bangun," Bagus menepuk tubuh Jessica berkali kali, "ada apa sih?" Jessica mengucek matanya dengan jari telunjuk.
"Bangun," tegas Bagus.
Jessica pun mencari ponselnya untuk melihat jam, "ya ampun,"
Jessica menunjuk kan ponselnya kewajah Bagus, "ini masih jam 3 pagi masss," kata Jessica manja.
"Eeehhh, Bangun dulu, belum solat isya," jelas Bagus, sedikit menarik lengan Jessica.
Pupil matanya pun langsung membesar dan rasa ngantuk pun hilang seketika, ia pun langsung bangun dan duduk, "oh, iya aku lupa, " Jessica menepuk jidatnya.
"Yaudah ayo sholat dulu,"
"Loh, mas juga belum sholat?"
"Belum," kata Bagus cengengesan menggaruk kepalanya berjalan menuju kamar mandi.
Jessica pun mengambil ponsel nya, dan mencari tau tentang kabar hendrik ayahnya, sembari menunggu Bagus yang masih di kamar mandi.
Jessica pun mengirim pesan kepada ayahnya.
"Assalamualaikum.."
"Gimana kabar ayah? Sehat kan?"
Namun saat itu masih centang satu, ya maklum aja sih, jam segitu sialnya.
Tak lama kemudian keluarlah Bagus dari kamar mandi, dan kini giliran Jessica yang masuk ke kamar mandi, maklum lah, di kamar ini kamar mandi nya hanya satu, ada sih di luar, tapi gengsi dong jadi majikan, hehe.
Setelah selesai dari kamar mandi, Jessica pun segera memakai mukenanya sementara Bagus sudah menunggu nya, dengan dua sajadah yang telah dia siapkan, "tumben nih anak."
"Nanti sekalian solat tahajud yah," kata Bagus sembari mengangkat kedua alis matanya yang membuat dia keliatan lebih cool, dan dibalas dengan anggukan oleh Jessica, "iya."
Tak lama kemudian selesai lah ritual peribadatan itu, dan kini hati Jessica sontak berdebar lebih kencang, menantikan saat saat dimana Bagus mencium ,kening Jessica, karena pada saat itu lah, ia merasakan benar benar menjadi istri yang sangat bahagia seperti kebanyakan istri pada umumnya.
Bagus masih membaca wirid yang biasa di bacakan selesai solat, dan kemudian berdoa bersama, ya! Sungguh mesra nya mereka di hadapan tuhan, sama sama meminta kepada tuhan agar di berikan berkah dalam berumah tangga, dan mempunyai keturunan yang sholeh sholehah.
Dan akhirnya, harapan besar Jessica itu terwujud, yaitu di cium keningnya oleh Bagus, setelah ia mencium tangannya, sungguh bahagia sekali.
"Mas Bagus belum tidur?" Tanya Jessica.
"Belum."
"Loh, tapi tadi mas Bagus kok sholat tahajud? Emang boleh?" Jessica heran.
"Boleh, cuma lebih afdhol nya setelah tidur, ada juga kok sahabat nabi yang sholat tahajjud nya malah sebelum tidur, karena buat jaga jaga, kalo malemnya gak bangun," jawab Bagus panjang lebar.
"Oh gitu," Jessica mengangguk.
"Loh, mas mau kemana?" Tanya Jessica melihat Bagus beranjak keluar kamar.
"Mau bikin kopi." Bagus menghadapkan tubuhnya kearah Jessica yang masih duduk, di sajadah.
"Udah, biar aku aja yang bikin,"
"Oh yaudah, aku tunggu di teras yah," Bagus memberi isyarat dengan telunjuk nya.
"Iya."
__ADS_1
Jessica pun segera bergegas merapikan alat alat sholat nya, kemudian menuju dapur untuk membuatkan kopi suaminya itu.