Menikahi Bocil Tengil

Menikahi Bocil Tengil
Chapter 7


__ADS_3

Jessica pun meninggalkan Bagus di ruang tamu, mungkin dia kecapekan jadi biarkan aja lah, lagipula nggak enak juga jika Jessica membangunkannya.


Ia menuju kamarnya untuk ganti baju, kemudian mencari baju baju kotornya untuk di cuci.


Dan tak lupa juga mencucikan baju suaminya.


Lelah sih, tapi semuanya kan demi suaminya.


Ia pun membawa baju baju itu ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya, di situ pun juga sudah ada mesin cuci nya.


Meski di luar kamarnya pun juga ada kamar mandi, ya maklum lah orang kaya biasanya memang gitu, sedikit berlebihan dalam membangun rumah.


Lagipula malu juga jika mencucinya di kamar mandi luar kamar yang belum ada mesin cuci nya, gengsi dong sebagai majikan, hehe.


Ia masuk ke kamar mandi membawa baju baju itu, Jessica terus memandangi mesin cuci, "oh, ini to mesin cuci?"


Jessica terus memandanginya dari berbagai sudut, "gimana cara gunakan nya ya?"


Lama Jessica memandangi mesin cuci itu, dan tak kunjung juga menemukan cara untuk menggunakan nya.


Jessica hanya bisa menggaruk rambutnya yang tak kunjung juga menemukan cara untuk menyalakan nya.


"Gimana ya? Aduh! Pusing!"


Kemudian Jessica melihat timba di dekat mesin cuci itu, "udah lah, pakai timba ini aja." Jessica mengambil timba itu dan memasukkan baju baju nya kemudian merendamnya selama beberapa saat, ya! Jessica mandi dulu sambil menunggu baju rendaman nya itu.


Baru aja ia selesai mandi, sudah ada gedoran Bagus dari luar, "woy! gantian woy! Udah jam dua nih!"


"Hah? Udah jam dua?"


Akhirnya ia bergegas keluar dari kamar mandi, "ya ampun! Aku lupa bawa baju," Jessica memandangi seluruh penjuru kamar mandi.


"Aduh gimana ini? Masa aku keluar kamar mandi cuma pakai ini?" Jessica memandangi handuk yang ada di tangan nya.


"Woy! Gua belum mandi nih!" Teriak bagus.


"Iya iya bawel!" Teriak Jessica.


"Ya ampun gimana ini?" Jessica meloncat loncat kebingungan.


"Woy!" Lagi lagi Bagus meneriaki nya.


"Iya!"


Akhirnya terpaksa Jessica menggunakan handuk itu, yang hanya bisa menutupi dada hingga betis nya.


'GLEK' Jessica membuka pintu kamar mandi, dan tampak Bagus yang berdiri tepat di depan kamar mandi.


Pupil mata Bagus langsung membesar memandangi Jessica dari kaki hingga kepalanya.


"Apa lihat lihat?!" Jessica melototi Bagus, dan langsung pergi mengambil baju nya, "Minggir minggir,"


"Galak amat," sahut Bagus.

__ADS_1


"Biarin!"


Jessica segera memakai baju nya dengan sangat terburu buru, khawatir Bagus sudah keluar mandi duluan.


Sementara Bagus sedang mandi.


"Woy! Apaan ini?!"


"Ada apa lagi sih?!" Jessica masih belum memakai baju nya.


"Coba kamu kesini dulu bentar!" Pinta Bagus dari dalam kamar mandi.


Jessica pun kembali masuk ke kamar mandi dengan masih menggunakan handuk "ada apa?!"


"Kenapa pakai timba sih nyuci bajunya? Kan ada mesin cuci?" Kata Bagus.


"Hehe, aku nggak tahu cara nyalain nya," Jessica cengengesan.


"Ya ampun gini loh caranya," Bagus mengajarkan Jessica cara menyalakan nya.


"Oh cuma gitu doang toh," kata Jessica menahan malu nya.


"Coba sekarang kamu coba nyalain!" Perintah Bagus.


Jessica pun menyalakan mesin cuci itu, dan ia pun akhirnya bisa melakukan nya.


"Sekarang coba kamu matikan!" Kata Bagus.


Dan Jessica pun juga bisa mematikan nya.


"Biarin," kata Jessica beranjak pergi.


Namun tiba tiba Jessica terpeleset dan jatuh di pelukan Bagus, mereka pun saling memandang satu sama lain, bahkan detak jantung mereka pun saling terdengar satu sama lain.


Lama mereka saling pandang, hingga akhirnya, baru kali ini Jessica bisa memandang wajah Bagus sedekat itu.


'Kring kring kring' handphone Jessica berbunyi di luar sana, dan membuat Jessica tersadar.


"Eh! Ada telpon!" Jessica salah tingkah bangun dari pelukan Bagus.


Kemudian pergi meninggalkan kamar mandi.


"Halo," Jessica mengangkat telepon.


"Kapan kamu kesini? Aku mau ngomong penting!" kata ayah Jessica.


"Iya! Ini mau berangkat bentar lagi," kata Jessica.


Ayah Jessica langsung menutup telpon nya.


Jessica pun segera berganti baju.


Tak lama kemudian selesai lah Bagus dengan mandi nya, sementara Jessica masih sedang make up.

__ADS_1


"Nih! Mau nggak mau harus Pakai baju ini!" Kata Jessica beranjak mengambilkan baju untuk suaminya.


Bagus hanya menggaruk jidatnya.


Setelah beberapa lama selesai lah Bagus memakai pakaian nya.


"Ayo berangkat!" Kata Bagus yang melihat Jessica masih di depan cermin.


"Iya bentar lagi selesai."


"Ya udah aku tunggu di luar," kata Bagus beranjak meninggalkan kamar.


Sudah cukup lama sekali Jessica berdandan yang membuat Bagus tidak tahan menunggu lama nya, dan akhirnya mendatangi Jessica di kamar, "ya ampun! Lama banget sih."


"Bentar dong!"


"Kamu ngapain sih dandan lama banget?"


"Ya biar terlihat cantik lah!" Kata jessica


"Justru kamu harus nya dandan itu saat ada di depan ku, bukan nya saat akan di hadapan banyak orang," kata Bagus sembari duduk di ranjang menunggu istrinya dengan sabar.


"Loh! Emang kamu suka lihat orang bilang kalau istri kamu jelek, nggak dandan? Gitu?" Kata Jessica.


"Emang kamu nggak tahu? Kalau kamu dandan cantik, kecantikan mu akan di nikmati orang lain selain suami kamu?" Kata Bagus.


"Emang kamu nggak mikirin perasaan suami mu yang cemburu melihat kamu di lirik banyak orang?" Sambungnya.


Nafas Jessica pun terhenti sejenak, kaget mendengar perkataan suaminya itu, bahagia? Pasti lah! Cewek mana yang enggak bahagia.


"Emang kamu cemburu sama orang orang yang melototi aku?" Jessica benar benar penasaran, dengan sedikit senyuman yang merekah di wajahnya.


"Enggak juga sih," Bagus menggaruk rambutnya.


"Pak kyai yang bilang gitu," sambungnya cuek.


'JLEB' hati Jessica bagaikan tertancap pedang, begitu sakit sekali, rasanya ingin nangis sekencang kencang nya, dan ia pun langsung berhenti berdandan.


"Tuh kan! Ngapain juga aku terlalu berharap sama bocil ini!" Jessica marah marah dalam hatinya.


Tapi mau di apa apakan juga karakter nya memang seperti itu, "mungkin aku harus bersabar dulu menghadapinya," gumam Jessica menghela nafas panjang nya.


"Ya udah! Yuk! Berangkat," kata Jessica beranjak berdiri, meski sebenarnya juga berat sih, tapi mau gimana lagi coba? Serba bingung.


Bagus pun juga berdiri seolah olah tidak menyadari bahwa perkataan nya tadi benar benar menyinggung istrinya.


Mereka pergi menuju mobil yang sudah terparkir rapi di depan sana.


Dan mereka akhirnya pergi menuju rumah Jessica.


Jessica hanya diam saja selama perjalanan, mungkin karena masih kesal dengan suaminya.


Dan parahnya lagi, Bagus pun juga diam dengan ponselnya, kejadian ini benar benar merusak suasana hati Jessica, rasanya benar benar tidak mood untuk melakukan apa apa, ia hanya merenung menghadap jendela.

__ADS_1


Namun saat itu juga Jessica teringat dengan perkataan ayah Bagus, bahwa ia menitipkan anaknya kepada Jessica yang tingkahnya belum bisa di katakan dewasa.


__ADS_2