
Mereka berdua pun masuk kedalam rumah, Jessica menggandeng tangan Nita, mengajaknya kearah ruang keluarga barangkali Barangkali pria yang ia cari itu ada disana.
Betapa kaget nya Jessica, setelah mengetahui Bagus ternyata memanglah disana, nafasnya pun terhenti sejenak entah karena apa, rasanya benar benar gugup sekali setelah memandang Bagus, bulu tangannya pun berdiri seketika setelah Bagus juga memandang Jessica, rasanya bagaikan baru pertama kali bertemu dengan pujaan hatinya.
Bola matanya pun tampak bersinar dan sedikit berair, "kenapa aku gugup gini ya?"
Bagus memandang sejenak ke arah Jessica kemudian kembali melanjutkan kegiatan dia, yaitu memahami cara memasang play station agar bisa di fungsikan.
"Maaf mas, tadi aku pergi sama Nita tapi gak pamit kamu dulu, soalnya..."
"Iya gak papa." Bagus memotong perkataan Jessica, Nita yang saat itu berada disamping Jessica sedikit merasa tidak enak, sepertinya hubungan mereka berdua memang sedang tidak baik baik saja, ia pun memandang wajah Jessica kemudian pamit pulang, "sepertinya nggak enak kalau aku berlama lama disini," gumamnya.
" Eee, Jes! aku pamit pulang dulu ya," kata Nita, "loh kok buru buru banget sih, kan belum aku buatin apa apa," balas Jessica.
"udah kapan kapan lagi aja aku kesini," Nita pun pamit pergi dan tak lupa juga pamit dengan Bagus, "saya pamit pulang dulu pak!" "Loh, kok buru buru," kata Bagus.
"kapan kapan lagi aja main kesini," Nita cengengesan kemudian beranjak pergi dari rumah ini, sementara Jessica mengantar kan nya hingga keluar rumah, setelah itu pergi kembali menemui Bagus.
"Mas habis beli play station? emang Mas Bagus pegang uang,"
"pegang, sisa dari pernikahan kemarin," Bagus cuek sembari memasangkan play station itu di televisi, tak mau mengganggu Bagus Jessica pun lebih memilih untuk meninggalkan nya, "mungkin Mas Bagus butuh waktu sendiri," ia pun meninggalkan nya an masuk ke kamar nya.
Setelah sampai di kamar, ia pun teringat dengan persoalan yang terjadi di caffe nya tadi, "huh! Banyak banget masalh hidupku," gumam Jessica merenung menghadap jendela, memandangi burung burung yang berkicau diluar sana.
"tampak bahagia banget burung burung itu, apa mereka nggak punya masalah ya?" Jessica senyum senyum sendiri.
__ADS_1
Otaknya pun seakan akan dipacu untuk memikirkan dua masalah sekaligus, hilangnya jam tangan, dan usaha yang baru ia rintis yang sudah kena tipu dan mengalami kerugian.
Tak mau ribet dengan pikiran nya ia pun merebahkan tubuhnya, dan tak lama ia pun terlelap.
Sementara di sisi lain terdapat lah Dian yang sedang dengan bahagia nya menghitung uang hasil penjualan property itu, ya! ternyata dia lah dalang yang menggelapkan uang uang itu, dan memainkan sandiwara seolah olah ia terkena tipu, "seneng banget punya bos baru yang bego," Dian tertawa terbahak bahak.
"kalau terus terusan begini bisa cepet kaya gue."
Begitulah yang sering terjadi, setinggi apapun titel seseorang, jika urusan nya dengan uang bagaikan sekor kucing yang melihat ikan asin, ya! karena di negeri ini tidak pernah kekurangan orang orang cerdas, tapi kekurangan orang orang jujur dan berkualitas, maka dari itu bangunlah kejujuran mulai pada diri anda sendiri wahai penerus bangsa, demi kesehatan negeri kita di hari tua, anjaz ngomong apaan sih, sok bijak banget, hehe.
***
hari menginjak malam, kini saatnya bagi Jessica untuk melancarkan rencana nya yang telah disusun bersama Nita tadi, namun karena ia seorang wanita, yang bagaimanapun selalu menggunakan hati nurani nya di setiap langkahnya, ia pun merasa kasihan dan tidak tega, jika Bi Darsih ketahuan mencuri dan diketahui oleh seluruh orang di rumah ini, "aku bisa merasakan jika aku diposisi Bi Darsih, pasti dia bakalan malu banget," gumamnya termenung, pandangan matanya kosong menatap taman yang ada di depan rumah.
Ia pun duduk disana memikirkan kira kira dia harus bertingkah seperti apa, "gimana ya?"
Ia pun menelpon Nita, "gimana ni? aku ga tega pakai cara itu," kata Jessica pelan sembari menengok ke kanan dan kiri memastikan tidak ada yang mendengarnya.
"Salam dulu kek, apa kek," kata Nita.
"Iya iya, assalamualaikum ustadzah bawel,"
"Nah gitu dong, gimana ya?" Nita terdiam sejenak.
"Nah pakai cara ini aja," kata Nita, kemudian ia memberitahu Jessica tentang rencana baru nya itu, pupil mata Jessica pun membesar seketika, senyuman pun merekah manis di wajah nya, sepertinya ini ide yang Bagus.
__ADS_1
Ia pun langsung beranjak dan memberi tau Pak Amir di kamarnya di depan sana, "Pak Amir!" teriaknya dari luar kamar Pak Amir sembari mengayun ayunkan tangan nya, dan Pak Amir pun datang seketika, "ia Non,"
"Tolong kamu beritahu semua pekerja di rumah ini, untuk berkumpul, nanti saya panggil satu persatu," kata Jessica dengan penuh wibawa.
"Sekarang Non?" Pak Amir bertanya.
"Nggak, kemarin!" jawab Jessica dengan muka datarnya.
"Ya sekarang Pak Amir," sambungnya, dan ia pun pergi meninggalkan Amir dan masuk kembali kedalam rumah, ia pun mencari Bagus untuk meminta ijin mengumpulkan semua pekerja malam ini, ia pun masuk ke kamar, dan ternyata pria tengil itu sudah tidur dengan pulas nya.
Ia pun mendekatinya memandangi wajahnya yang tertidur, "meski kamu masih bocah, tapi aku sayang banget sama kamu Mas," gumamnya memandangi Bagus, kemudian ia menyelimutinya dengan penuh kasih sayang, "apaan sih! gerah tau!" kata Bagus yang tiba tiba terbangun dan menyingkirkan selimut yang menyelimuti tubuh nya.
Jessica pun kaget karenanya "apaan sih, siapa juga yang nyelimutin kamu, orang aku tadi cuma..." Jessica terdiam tidak bisa melanjutkan kata katanya.
"Udah lah jujur aja! pake malu malu segala, orang aku tadi gak pakai selimut,"
"Ishhh siapa juga yang mau nyelimutin kamu, pe-de banget," Jessica pun menghentakkan kaki kelantai dan pergi keluar dari kamar ini.
ia pun menghampiri Bi Darsih dan meminta tolong kepada nya, "Bi! tolong ambilin termos, air galon, sama dua baskom ya!" kata Jessica, ia pun memandangi terus memandangi Bi Darsih, "apa benar Bi Darsih yang ngambil jam tangan itu, kayak nya nggak mungkin deh, orang sepolos Bi Darsih melakukan hal semacam itu," gumamnya.
"baik Non," jawab Bi Darsih santun.
***
"Semuanya sudah siap Non!" Kata Bi Darsih kepada Jessica yang sedang duduk memandangi ponselnya, "Iya! Saya akan segera kesana," katanya, dan Bi Darsih pun beranjak pergi meninggalkan Jessica.
__ADS_1
Sementara Jessica, ia sedikit mengulur waktu untuk tidak segera kesana, maklum lah orang penting selalu bertingkah seperti itu, apalagi kalau sudah menjadi orang besar, pasti lama banget dateng nya, bisa satu jam kita harus nunggu, tapi yaa mau di apa apa kan juga sudah mengakar di benak orang orang sekitar kita, itu cukup jadi pelajaran sih buat kita, kalau kita suah menjadi orang sukses dan besar nanti tetaplah menghargai orang lain, tapi setidaknya kita tetap berbaik sangka aja pada orang orang yang suka membuat orang lain menunggu lama, mungkin karena masih antri toilet, ups, hehe becanda bambang, intinya tetaplah berbaik sangka, gaada untungnya juga kan berburuk sangka, dahlah.