
Hendrik masih diam di sana, ia diam termenung memandang jalanan yang ada di depan rumahnya, ia terus memutar otak nya agar bisa mengembalikan anak nya kepada keluarga itu.
Lama ia termenung, hingga akhirnya ia mempunyai ide yang cukup bagus, ya! Yaitu memberitahukan keberadaan Jessica kepada Pak Deni besannya.
Ia pun menelponnya, "assalamualaikum," katanya membuka obrolan di balik telepon.
"Waalaikumsalam," jawab Hendrik.
"Bagaimana pak?" Sambung Deni memancing agar Hendrik berbicara.
Tanpa basa basi dan bingung memulai dari mana, ia langsung bertanya to the point karena saking rakusnya dengan harta, "Ada apa ya? Dengan Jessica anak saya? Kok tiba tiba ia pulang tanpa Bagus?"
Pak Deni pun lega mendengar perkataan itu, "oh, itu, anu pak! Lagi ada masalah sedikit di keluarga nya, cuma salah paham kecil aja."
"Sekarang Jessica nya ada di rumah bapak?" Kini Hendrik bertanya.
"Iya pak! Jessica ada di sini, silahkan kesini, yaa agar masalahnya segera selesai lah pak!" Hendrik cengengesan.
"Iya pak! Nanti saya dan keluarga akan kesana!" Kata Hendrik, kemudian mereka pun menutup ponselnya.
"Asiikk, bakal dapet oleh oleh enak nih!" Gumam Hendrik senang, karena pasti pak Debi datang kesini membawa sesuatu.
Ia pun masuk ke dalam rumah.
***
Hari menginjak malam, Jessica benar benar lapar, ia pun pergi ke dapur untuk mencari makanan apa yang sekiranya bisa ia santap.
__ADS_1
Namun tiba tiba di saat Jessica enak menyantap makanan nya, Hendrik datang menghampirinya, "Jes! Ada tamu yang ingin ketemu," kata Hendrik di depan pintu dapur.
Jessica yang saat itu masih kelaparan tidak begitu memperdulikan siapa tamu yang datang ingin menjumpainya, ia pun masih melanjutkan makan nya hingga batas suapan akhir.
Setelah rampung makan, ia pun bergegas untuk menemui tamu tadi, ia berjalan perlahan menghampiri ruang tamu, ia berjalan sembari menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal, " siapa sih malem malem bertamu," gumamnya.
Betapa kagetnya ia, setelah memasuki ruang tamu, pupil matanya pun membesar seketika, ternyata itu Bagus dan keluarganya, ia sontak ingin membalikkan badan dan kembali namun Hendrik menggagalkan nya, "sini Jes!" Kata Hendrik tepat setelah Jessica ingin membalikkan badannya karena ingin pergi menghindar.
Jessica cengengesan menggaruk tengkuk lehernya, kali ini benar benar gatal, ia pun membalikkan tubuhnya dan duduk di samping Hendrik ayahnya.
Jessica hanya menunduk, ia tak mau memandang keluarga itu, apalagi pria tengil yang satu itu, memandangnya? Bisa bisa Jessica muntah mengingat perlakuan nya, "kok bisa tau sih kalau aku di sini? Pasti Bapak yang ngasih tau!" Jessica melirik sinis Hendrik yang ada di sampingnya.
Namun karena wejangan dari bapaknya, dan teringat bahwa ibu nya sudah tiada, ia pun mencoba untuk membuka hatinya dan bersikap dewasa.
"Jadi maksud keluarga pak Deni kemari itu.." Hendrik membuka obrolan dan berkata kepada Jessica, semua orang pun memandangnya termasuk juga Jessica.
Hendrik melanjutkan perkataan nya, "mereka kesini, mau minta maaf sama kamu," Hendrik memegang bahu Jessica.
"Semua itu salah paham," sambung Hendrik.
Jessica hanya bisa diam, malu dong jika cewek langsung mengiyakan.
"Kamu mau kan? Maafin mereka dan kembali?" Tanya Hendrik.
Jessica diam sejenak, ia menimang pikirannya, bola matanya mengarah tepat ke kiri bawah, kalian sudah tau kan maknanya? Ya! Tepat sekali! Makna nya adalah sedang berpikir keras.
Disisi lain ia malu jika mengucapkan nya secara langsung, tapi di lubuk hatinya yang terdalam, ia masih sangat menyayangi Bagus, rasanya tidak tega membuat Bagus seperti itu.
__ADS_1
Merasa risih dengan pikirannya, ia pun menggaruk tengkuk lehernya, "yaudah iya!" Jawab nya cuek.
"Yaudah sekarang kau kemasi barang barang kamu, dan kembali bersama mereka!" Perintah Hendrik, Jessica langsung menoleh kearahnya dengan pandangan yang tajam, seolah olah tak setuju dengan perkataan ayahnya itu, namun Hendrik hanya mengangguk memberi isyarat seolah olah sudah lah turuti saja permintaan Bapak.
Jessica tidak bisa berbuat apa apa selain mengiyakan permintaan bapaknya itu, ia memutar bola mata malas kemudian pergi masuk ke kamarnya, dan mengemasi barang barang nya.
Tak lama kemudian selesailah ia mengemasi barang barang nya, kemudian ia kembali ke ruang tamu, melihat Jessica yang sudah siap dengan kopernya, semua pandangan pun tertuju padanya, termasuk Bagus yang tampak sangat bahagia karena Jessica kembali kepadanya, senyuman tipis merekah di wajah Bagus dengan disertai pupil matanya yang membesar.
Melihat Jessica yang sudah siap, Deni pun pamit pulang, "yaudah, kami pulang dulu!"
"Iya," kata Hendrik sembari melirik lirik kantung plastik besar yang ada di dekat pintu, "apa ya? Yang di bawa merek?" Gumamnya tamak.
Mereka pun keluar dari rumah dan masuk kedalam mobil, Jessica menjauhkan posisi duduknya dengan Bagus yang sama sama duduk di belakang, ia sepertinya masih malu mali kucing.
Mobil pun berjalan membelah jalanan desa yang gelap tanpa lampu, karena uang yang seharusnya di gunakan untuk lampu jalan di makan oleh tikus tikus kantor yang kelaparan, belum lagi jalanan yang sulit dan bergelombang.
Suasana hening lah yang kini menghiasi perjalanan mereka, ya! Setelah kejadian permasalahan itu, mereka masih canggung satu sama lain.
Hingga akhirnya mobil pun tiba tiba berhenti di sebuah rumah makan, Deni sengaja ingin membicarakan nya disini.
Mereka pun keluar dari mobil, dan Jessica masih melihat tas nya, ia lupa lupa ingat apa dia membawa handphone nya atau tidak, namun akhirnya hp itu ketemu di dalam tasnya, dan di saat yang bersamaan Bagus sudah membukakan pintu mobil untuk nya.
Nafas Jessica terhentak, "tumben tumbenan orang ini waras," gumamnya, namun karena rasa malu dan canggung yang masih menyelimuti tubuhnya, ia pun memutuskan untuk keluar dari pintu mobil yang lain.
Bagus hanya bisa menarik dalam dalam nafasnya, "kayaknya istriku masih marah," gumamnya dengan raut muka kecewa, membanting pintu mobil itu, Jessica yang mendengar bantingan pintu itu langsung memandang sinis kearahnya, Bagus yang melihat Jessica sedang sinis memandang nya langsung membuang mukanya dan berpura pura bersiul sembari sedikit meliriknya.
Melihat tingkah mereka, Deni dan Anggi pun hanya bisa tertawa namun mereka mencoba untuk menutupinya, "ngenes banget Bagus," gumam Anggi mama nya.
__ADS_1
Mereka pun masuk ke rumah makan itu dan memesan makanan, suasana masih hening hingga makanan pesanan mereka itu telah tiba.