
"Cari agenda yuk! Pergi pergi kemana gitu," ajak Nita.
Jessica diam sejenak memikirkan tawaran dari sahabatnya itu, "di situasi kayak gini?" Jessica mengangkat kedua alisnya karena ia khawatir jika keluar akan bertemu lagi dengan pria tengil itu.
"Udah lah, nanti aku bawa kamu ke tempat yang jauh dari sini, kamu tinggal nyamar aja," Nita beranjak duduk.
"Gimana?" Nita mengangkat kedua alis nya menggoda Jessica agar ia tertarik dengan tawaran itu.
"Mau ya pliisss," Nita menarik narik lengan Jessica yang masih tiduran.
Jessica masih diam, bola matanya ke kiri bawah yang mengandung arti sedang berpikir keras jika menurut ilmu psikologi, ia terus menimang pikirannya.
"Yaudahlah ayok!" Kata Jessica beranjak duduk, "daripada cuma bengong aja disini jadi keinget dia terus," gumamnya.
"Yeeeeyyy," Nita begitu senang karena oa berhasil membujuk sahabatnya.
Mereka pun beranjak dari sana, dan bersiap untuk keluar, sementara Jessica masih bingung untuk menyamar, kemudian ia memakai jaket dan menutupi bagian kepalanya, serta menutupi wajahnya dengan masker, widdih niat bener nyamarnya.
Mereka keluar dari rumah itu, dan masuk ke mobil, seperti biasa, Nita lah yamg menyetir mobil itu sendiri, kenapa buka. jessica? Ya karena dia nggak bisa nyetir lah, masa gitu aja nggak tau.
Mobil berjalan di bawah panasnya sinaran mentari, mereka berjalan jauh dari tempat biasa mereka nongkrong.
"Nit!" Jessica membuka obrolan.
"Apa!" Jawab Nita ketus sebagai tanda keakraban sebuah persahabatan.
Jessica pun memandang ke arah nya, "serius gua nggak megang uang," katanya.
Nita menggaruk lehernya mendengar hal itu, "ya anggep aja ini sebagai utang," kata Nita bercanda, namun Jessica hanya mengangguk mengiyakan, "sepertinya dia benar benar lagi galau, nggak biasanya dia seperti ini," gumam nya.
"Yaelah gitu aja, udah, kali ini biar aku yang traktir," Nite menepuk dadanya, yang membuat Jessica sedikit bisa bernafas lega.
Tak lama kemudian sampai lah mereka pada caffe yang mereka tuju, ya! Sebuah caffe yang benar benar jauh dari rumah mereka berdua, kayaknya sih Bagus nggak bakalan bisa tau kalau mereka sedang disini.
Namun naas nya Bagus yang saat itu mondar mandir untuk mencari Jessica itu juga sedang ber istirahat untuk sarapan di caffe itu, waduuh gimana ini!
Mereka berdua masih belum tahu kalau ternyata berada di satu caffe, hingga setelah begitu lama, Bagus melihat Jessica yang hendak keluar dari caffe ini.
Melihat Jessica, pupil mata Bagus pun membesar seketika, sendok yang ada di tangan nya pun sontak ia lepaskan seketika, ia pun meninggalkan makanan itu dan membuntuti Jessica tanpa sepengetahuannya.
"Pak! Pak! Buruan pak! Itu Jessica!" Kata Bagus begitu paniknya menarik lengan Pak Amir yang baru saja hendak memasukkan makanan ke mulutnya.
"Tapi Den!" Kata pak Amir masih sayang jika makanan itu tidak dimakan, karena jarang jarang ia bisa memakan makanan seperti itu.
"Udah, buruan!" Bagus menarik lengan Pak Amir.
Bagus terus membuntuti kemana arah mobil yang di naiki Jessica itu berhenti, hingga akhirnya mobil itu berhenti pada rumah Nita, ya! Jarak rumah Bagus dan Nita pun juga tidak terlalu jauh.
Bagus terus memperhatikan siapakah yang akan keluar dari mobil itu, ia benar benar terus memandangnya bahkan ibaratnya tanpa berkedip sekalipun.
Sementara Pak Amir masih melamun membayangkan makanan tadi.
Dan akhirnya keluar lah dua orang cewek cantik yang keluar dari mobil itu, bagus semakin mengernyitkan keningnya, memastikan bahwa itu benar benar Jessica, istri yang selama ini ia cari.
Yap! Setelah sekian detik Bagus memandang perempuan itu, ternyata Itu memanglah Jessica, istrinya.
Bagus pun berpikir sejenak, apakah ia langsung menghampiri nya atau menunggu waktu yang tepat, namun pikirannya itu mengarahkan untuk dia menunggu waktu yang tepat untuk menghampiri Jessica, membiarkan dia lebih tenang dulu dan mau bertemu dengan nya.
__ADS_1
Setelah puas bagus mengetahui keberadaan istrinya, ia pun mengajak Pak Amir untuk kembali pulang, karena misi telah selesai, kini ia bisa sedikit bernafas lebih lega, "yaudah Pak! Ayo kita pulang!"
"Pulang Den?" Kata Pak Amir seolah olah tak ingin diajak pulang oleh Bagus.
"Lha iya Pak! Mau kemana lagi coba."
"Yaudah Den," kata Pak Amir dengan penuh kekecewaan.
Melihat wajah Pak Amir yang sepertinya begitu kecewa itu membuat Bagus teringat bahwasannya Pam Amir begitu ingin merasakan makanan tadi.
"Oh, Pak Amir pengen kembali ke caffe itu?" Tanya Bagus sedikit menggoda pak Amir, dan pak Amir pun langsung menoleh kearahnya, dengan pupil matanya yang sedikit melebar, "iya Den," jawab Pak Amir mengangguk girang.
"Yaudah kita balik aja ke caffe tadi."
"Baik Den," pak Amir bersemangat.
Yaa itung itung nyenengin orang tua lah, sebagai wujud syukur karena Jessica telah di temukan keberadaan nya.
Mereka pun akhirnya kembali ke caffe tadi untuk memenuhi keinginan Pak Amir.
Setelah selesai, mereka pun langsung pulang, Bagus sudah tidak sabar ingin memberitahukan hal ini kepada Papa nya, dan menunggu strategi apa yang akan ia jalankan.
Tak lama perjalanan sampai lah Bagus di rumahnya, dan disana sudah ada kedua orang tua nya yang masih duduk termenung di ruang tamu, ya! Kedua nya saling diam tanpa ada pembicaraan.
"Ma! Pa! Bagus sudah tau keberadaan Jessica" kata Bagus yang baru saja masuk kedalam rumah itu membuat pupil mata mereka berdua melebar, bahkan posisi duduk mereka tang awalnya setengah berbaring itu berubah seketika menjadi duduk dengan begitu tegap nya.
"Dimana?" Kata mereka serempak.
Mereka pun berdiri dan mendekat kearah Bagus, dengan raut muka yang benar benar penasaran.
Bi Darsih yang mendengarnya pun juga sontak muncul entah dari mana asal nya, "dimana Den?!" Tanya Bi Darsih sembari berlari menyincingkan dasternya.
Mama Anggi begitu terburu buru untuk bertemu dengan Jessica, "ayo buruan Pa!" Mama Anggi menarik narik tangan Papa Deni.
"Sabar dulu Ma!" Papa Deni melepaskan tangan Mama Anggi dari lengan nya, sementara Bi Darsih ia hanya bisa pasrah menunggu keputusan mereka berdua.
Papa Deni pun kembali angkat bicara, "Jessica pada saat ini pasti masih belum mau bertemu dengan kita!" Semua orang pun mendengarkan baik baik setiap kata yang keluar dari mulut Papa Deni.
"Kita harus menyusun rencana, untuk bisa bertemu dengan dia." Sambungnya.
"Pemikiran Papa tampak nya sama dengan pikiran saya," gumam Bagus mengernyitkan keningnya memandang tajam kearah Papa Deni.
Keheningan pun mulai menyelimuti ruangan itu, ya! Semuanya diam memikirkan sebuah rencana.
Hingga akhirnya papa Deni pun menemukan sebuah rencana, semua orang pun mendekat ke arahnya, dan papa Deni pun memberitahukan rencana itu.
Hmmm tampak nya rencana yang tidak begitu jenius, "kok Papa nggak seperti biasanya ya?" Gumam Bagus, mengernyitkan kening nya pandangan nya pun tajam ke bawah, ia memandangi lantai rumah itu, entah apa yang ia lihat, sepertinya ia sedang berpikir keras.
***
Malam telah di lewati, mentari pun kembali menampak kan dirinya perlahan dari arah timur, sinarnya yang semu itu membuat burung burung di luar sana terbangun dan bernyanyi dengan merdunya, embun pagi yang turun entah dari mana itu kini telah membasahi dedaunan pohon pohon yang menjulang tinggi disana.
'klontang-klontang' terdengar suara keributan di dapur Nita, Nita pun menghampiri sumber suara itu.
"Yaampun, kamu ngapain?" Pupil mata Nita membesar setelah memasuki dapurnya.
"Masak," Jawab Jessica cuek, ternyata dia lah yang berisik sendiri di dapur.
__ADS_1
Nita pun mendekatinya dan berdiri tepat di belakang Jessica yang sedang memasak di depan kompor, bahkan seolah olah dada Nita dan punggung Jessica seperti menempel karena saking dekatnya, "masak apa? Emang kamu bisa?" Nita mengejek.
Jessica pun menoleh ke padanya dan tersenyum, "buktiin aja!" Kata Jessica mengangkat kedua alisnya dengan pede nya.
"Ok," Nita Mengangguk anggukkan kepalanya.
"Aroma apa ini?" Kata Nenek yang tiba tiba masuk ke dapur entah dari mana asalnya, Nita dan Jessica pun langsung menoleh kearahnya, "ini Nek! Ada yang lagi masak," Nita mengarahkan kedua bola matanya mengarah tepat pada Jessica yang berdiri disampingnya, Jessica hanya bisa tersenyum dan tersipu malu karena nya.
Nenek pun kemudian duduk di kursi makan yang ada di dapur, "sudah lama banget Nenek nggak pernah lihat ada yang masak di rumah ini," kata Nenek.
Jessica langsung memandang sinis kearah Nita sahabatnya, wah! Nemu bahan buat ngejek selama sebulan nih, hore.
"Emang cucu Nenek satu ini nggak pernah masak?" Kata Jessica melirik Nita dengan sebuah senyuman yang mengejek.
Nenek pun tertawa melihat tingkah mereka berdua, bahkan lebih parahnya, Nenek justru ikut mengejek Nita, "setiap hari kerjaan nya beli makanan terus, boro boro mau masak, masak aja nggak bisa."
Mereka pun tertawa bersama sementara Nita hanya bisa tersipu malu, sungguh pembalasan yang telak dan berbobot dari Jessica.
Tak lama kemudian selesai lah makanan masakan Jessica, ia pun menghidangkan nya di meja makan itu, dan mereka pun sudah siap untuk menyantapnya.
Namun disaat merekahnya kebahagian diantara mereka, tiba tiba Nenek pun mengalirkan air mata, "jadi keinget dulu." Nita dan Jessica pun langsung saling pandang mendengar perkataan Nenek itu.
"Dulu, setiap kalau ada papa dan mamanya Nita pasti setiap hari ngumpul kayak gini," sambung Nenek, Jessica pun hanya bisa diam, sementara Nita ia mengelus elus pundak Nenek, "yaudah ayok dimakan dulu, ntar keburu dingin nggak enak," Nita mencoba menenangkan Nenek.
"Eh! Salah! Emang masakan nya udah nggak enak ya?!" Nita tertawa mengejek Jessica mencoba untuk mencairkan suasana, dan Nenek pun kini bisa kembali tersenyum.
Mereka pun menyantap makanan itu dengan lahapnya, "enak masakan kamu," Nenek memuji masakan Jessica, dan mata Jessica langsung melirik tajam kearah Nita dan mengejek nya dengan menggunakan mulutnya.
Hingga akhirnya terdengarlah suara bel berbunyi yang bertanda ada tamu yang datang ke rumah ini, sepagi ini? Nita pun langsung beranjak untuk melihatnya, ia melihat dari jendela terlebih dahulu, sebelum ia membukakan pintu rumahnya.
Begitu kagetnya ia, nafas nya terhenti sejenak, urat urat di tubuhnya bagaikan tak bergerak seketika, kaki kaki yang menopang tubuhnya seolah tak berdaya, ya! Ternyata itu adalah Bagus, yang datang ke rumah ini, "bagaimana dia bisa tau rumah ku?" Gumam nya kebingungan.
Ia langsung berlari menuju ke dapur kembali, "Jes! Jes!" Nita masih belum bisa berkata kata, nafasnya terengah engah saat itu, bahkan untuk menelan ludahnya sendiri pun terasa sulit baginya.
"Ada apa?" Jessica masih tenang tenang saja.
"Bagus..!"
"Bagus datang kesini!" Kata Nita sembari menghembuskan perkataan nya.
Pupil mata Jessica pun langsung membesar mendengarnya, dengan refleks yang cepat ia langsung berlari meninggalkan dapur itu entah kemana, sementara Nita meloncat loncat kebingungan, namun nenek hanya bisa melihat mereka berdua, tampak nya ia bingung.
Udah lah Nek! Gausah bingung! Ini urusan anak muda, haha, oke lanjut.
Nita pun kembali ke ruang tamu, karena dari tadi Bagus terus menerus memencet bel rumah ini, ia pun mengatur ulang nafas nya sebelum membuka pintu rumahnya.
'Glek' ia membuka pintu rumahnya, jantungnya berdegup dengan kencang nya, meski ia tidak punya masalah apapun dengan Bagus, tapi seolah olah ia bisa merasakan jantung Jessica yang pastinya berdegup lebih kencang darinya.
"Oh, ada apa mas?!' kata Nita cengengesan menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
Bagus sedikit meninggikan tubuhnya melirik kedalam rumah untuk mencari Jessica, "istri saya ada di sini?" Tanya Bagus.
Nita kebingungan memberi jawaban dari pertanyaan Bagus itu, matanya melirik ke kanan dan kiri memikirkan jawaban yang tepat dalam waktu yang singkat, "eeee emang Jessica nggak ada di rumah?" Kata Nita mengernyitkan keningnya memainkan drama nya.
Bagus terdiam memandangnya, "sepertinya dia tidak ingin memberitahukan nya kepada saya."
Bagus pun tidak ingin memaksa Nita untuk mengatakannya kepada Bagus, karena bagi dia yang penting Jessica berada di tempat aman saja itu sudah cukup baginya, "oh yaudah kalau gitu, tolong kamu bantu cari ya! Soalnya dia belum pulang."
__ADS_1
"Iya," jawab Nita dengan senyum palsunya dan masih saja memegangi tengkuk nya.
Nita pun bisa bernafas lega, ia masuk kembali kedalam rumah untuk memberitahukan kepada Jessica bahwa Bagus sudah pergi meninggalkan rumah ini, namun apa yang terjadi? Jessica pergi entah kemana, satu rumah sudah ia kelilingi namun Jessica tak kunjung ia temukan di seluruh ruangan yang ada di rumah ini, berulangkali ia mencoba menghubungi nya namun tak kunjung bisa ia menelpon Jessica.