Menikahi Bocil Tengil

Menikahi Bocil Tengil
Chapter 28


__ADS_3

'tok-tok-tok' ada orang yang mengetuk pintu.


Hendrik pun penasaran dan mendatanginya, ia membuka pintu rumah nya, "loh! Jessica!"


Jessica cengengesan, "Assalamualaikum pak!" Ia mencoba untuk menyembunyikan semua yang sudah terjadi pada dirinya.


Hendrik menengok ke kanan dan kiri, "loh! Bagus nggak ikut?" Tanya Hendrik Jessica pun langsung salang tingkah seketika, bola matanya melirik ke kanan dan kiri memikirkan jawaban yang tepat untuk pertanyaan itu.


"Eee," Jessica menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal, "Mas Bagus lagi sibuk, ya masih sibuk!" Jessica mengangguk angguk kan kepalanya.


Mata Hendrik pun tertuju pada koper yang di bawa oleh Jessica, "kamu mau nginep sini?" Hendrik bertanya.


"Eee, liburan! Ya, liburan," jawab Jessica.


"Kok Bagus nggak ikut?" Hendrik masih menyidangnya, hal itu membuat Jessica benar benar kebingungan, bahkan untuk menelan lidahnya sendiri pun tampak susah baginya, seolah olah, urat nadi lehernya mengeras dan kaku karena saking gugup nya.


"Lagi sibuk Pa!" Kata Jessica berpura pura santai, padahal detak jantungnya berdegup dengan kencangnya.


"Yaudah Jessica masuk dulu," Jessica pun langsung masuk ke dalam rumah, khawatir jika ada yang mengetahui nya.


Ia langsung masuk ke kamar nya, merebahkan diri disana, ia masih belum berani menyalakan ponsel nya, karena takut jika ia di lacak keberadaan nya.


"Jes! Ada uang gak?" Teriak Hendrik dari luar kamarnya.


Jessica langsung terduduk mendengarnya, "aduh, gimana ini? Mana aku nggak bawa uang lagi!" Gumamnya kebingungan.


'glek'


Hendrik pun masuk ke dalam kamarnya.


Jessica cengengesan, "maaf pak! Jessica lagi nggak bawa uang."


"Loh! Bagus nggak ngasih kamu uang?" Jessica keringat dingin kebingungan, "eee, udah habis, hehe," jawabnya cengengesan.


Hendrik masih terus melihatnya, "yaudah tolong kamu cariin makanan di warung pak Joko!" Hendrik menyodorkan sejumlah uang.

__ADS_1


"Tapi Jessica sudah sarapan Pak!"


"Bapak kan belum, ya pokok nya cari aja buat makan hari ini, tadi udah masak nasi, tinggal lauknya aja," kata Hendrik.


Jessica mengangguk mengiyakan, lagipula sudah lama juga aku nggak melihat desa ini, yaa itung itung refresing lah sama ngenang masa lalau.


Jessica beranjak dari kamarnya dan berjalan pergi ke warung pak joko, ia berjalan melewati jalanan yang sudah rusak itu, ya! Jalan yang banyak berlobang, dan sudah rusak.


Ia berjalan santai melewati rumah rumah yang ada di desanya, wajah cantik nya benar benar mempesona, pandangan semua orang pun tertuju pada nya, ya! Bagaikan bidadari yang turun ke desa.


"Jalan kaki Neng?! Udah kaya kok jalan kaki sih?!" Tanya salah satu ibu ibu yang berada di depan rumah.


Jessica hanya diam mengernyitkan kening nya, "ha?!" Gumam nya, namun ia hanya tersenyum menyapa nya, dan terus melanjutkan perjalanan nya, ia teringat dengan cerita lukman hakim, ya! Ada yang pernah denger?


Lukman hakim itu mengajak anak nya untuk ke pasar dan mereka membawa keledai, ya! Keledai, bentuknya kayak kuda tapi berukuran lebih kecil.


Mula mula nya lukman hakim lah yang menaiki keledai itu, sementara anak nya berjalan kaki, mereka berdua berjalan di tengah pasar, dan tiba tiba ada yang berkomentar, "orang tua tega! Masak anak nya disuruh jalan kaki sementara ia enak enakan naik keledai!"


Kemudian turunlah lukman hakim dari keledai nya, dan menyuruh anak nya untuk menaiki keledainya, sementara ia yang gantian berjalan kaki, kemudian berjalan lagi di tengah pasar, ada lagi orang yang melihat dan berkomentar, "anak yang kurang ajar! Masak ayah nya disuruh berjalan kaki, sementara ia menaiki keledai?"


Kemudian lukman hakim pun berhenti dan ikut juga menaiki keledai itu, kini mereka berdua menaiki keledainya, kemudian kembali lagi melanjutkan perjalanan mereka di tengah pasar, dan ada lagi orang yang berkomentar, "Gimana sih mereka itu!kok nggak punya belas kasihan sama sekali, keledai yang kecil itu di naiki dua orang?!"


Kemudian lukman hakim pun berhenti, dan berkata kepada anak nya, "Nak! Itulah yang terjadi jika engkau berbuat sesuatu dan mendengarkan komentar orang lain, tidak akan pernah ada benar nya bagi mereka, maka dari itu berbuatlah sesuatu karena tuhanmu, jangan hiraukan komentar manusia." Kata lukman hakim, seseorang yang sholeh.


Berkat Jessica pernah membaca cerita itu di sosmed, kini iya tidak lagi begitu mendengarkan komentar orang lain, karena bagaimana pun sudut pandang mereka oun juga berbeda satu sama lain, jika ia menuruti pendapat satu orang, pasti ada juga orang yang tidak sependapat dengan nya, yaa setidak nya kita juga mengambil pelajaran lah dari cerita itu.


Jessica terus berjalan melewati desa, ia menghirup dalam dalam nafas nya, mata nya pun terpejam menikmati suasana yang tenang dan damai di desa.


"Tampak nya desa ini gak ada berubah berubah nya, sejak dulu masih aja kayak gini, orang orang nya pun juga sama,xixi," gumam Jessica cengengesan.


Tak lama kemudian sampai lah dia ke warung pak Joko, semua pandangan pun tertuju padanya, ia berjalan mendekati warung itu, orang orang yang tadi nya bermain billiyard di samping warung pak Joko pun terhenti seketika memandangi kecantikan Jessica, bagaikan seorang bidadari yang nyasar ke kampung, karena bagaimana pun ia sudah jarang terlihat di desanya.


"permisi Pak!" Jessica masuk ke warung Pak Joko.


"Maaf! Ini Jessica?" pak Joko mengernyitkan keningnya mengingat ingat identitas wanita yang ada di depannya.

__ADS_1


"Iya," Jessica memiringkan kepalanya.


Pak Joko pun berdiri kaget mendengarnya, 'Yaampun! udah gede ya!"


Jessica tersipu malu, kemudian ia memberitahukan maksud dan tujuannya kesini, "maaf Pak! saya kesini mau beli lauk!"


"Oh iya, mau lauk apa?" pak Joko menganggukkan kepalanya, dan Jessica pun langsung memesan beberapa lauk disana, dan tak lupa untuk membayarnya.


namun setelah tiba saat nya untuk Jessica pulang, tiba tiba Pak Joko menahannya dan mengatakan sesuatu, "maaf Neng! sebelumnya,"


"HA?!"Jessica kebingungan.


Pak Joko pun menahan sejenak nafasnya tampaknya ia kebingungan mau memulainya dari mana, "tolong ya Neng! bilangin ke bapak nya agar segera melunasi hutang hutangnya.


Pupil mata Jessica pun membesar seketika, ia mengernyitkan keningnya, pandangan tajam nya pun mengarah tepat ke wajah Pak Joko, ia seolah olah tak percaya jika bapaknya mempunyai hutang, "hutang?!" Jessica memiringkan kepalanya tak percaya.


"Kok bisa sih? bapak punya hutang? bukankah setiap bapak meminta uang aku selalu kasih?" gumam nya tak percaya.


"Bapak punya hutang berapa Pak?" kata Jessica.


"Mungkin nggak banyak kok kalo bagi kamu, cuma 300 ribu aja," kata Pak Joko.


"Tapi kalo bagi saya mah banyak, soalnya buat belanja kebutuhan warung juga," Pak Joko cengengesan.


Jessica pun malu dan kebingungan, mana dia gak punya uang sepeser pun lagi, "ia Pak nanti saya kasih tau bapak," Kata Jessica tersenyum menahan malunya.


Ia berjalan bergegas menuju rumahnya, ia berjalan dengan begitu cepatnya hingga nikmatnya suasana desa pun tak lagi bisa ia rasakan, bayangan yang ada di otaknya hanyalah menanyakan kepada Bapak, kemana perginya semua uang yang Jessica kasih itu, karena bagaimana pun jumlah nya juga tidak sedikit.


Tak lama kemudian sampailah ia di rumahnya, ia pun langsung mencari dimana keberadaan Bapak nya itu, ia pun menjumpainya sedang duduk minum kopi di dapur, "Pak! aku mau tanya!" Kata Jessica dengan nafasnya yang terengah engah, lalu ia duduk di samping Bapak nya, dan meletakkan lauk yang ia beli tadi dengan kasar nya di meja, tampak nya ia tersulut emosi.


Namun Hendrik menghadapi nya dengan enteng saja, "Tanya apa?"


Jessica pun menghadapkan tubuhnya dan lebih mendekat kepada Hendrik ayahnya, "Bapak punya hutang? di warung pak Joko?" Jessica tanpa basa basi mendesak ayahnya.


"Kok bisa sih? Bapak punya hutang? bukankah setiap Bapak minta uang aku selalu kasih?" Jessica melanjutkan omelannya.

__ADS_1


Hendrik pun hanya bisa terdiam, nafasnya seolah olah sesak mendengar pertanyaan pertanyaan itu, bahkan untuk menelan lidahnya sendiri pun terasa sulit baginya.


Jessica terus memandang Bapaknya dengan tatapan yang tajam, sementara Hendrik ia sebisa mungkin menghindari kontak mata dengan Jessica, karena menurut ilmu psikologi pun juga mengatakan seperti itu.


__ADS_2