Menikahi Bocil Tengil

Menikahi Bocil Tengil
Chapter 22


__ADS_3

Bi Darsih menarik panjang panjang nafasnya, dia pun masih tak kunjung mengatakannya hingga beberapa saat, hingga akhirnya, ia pun mulai berbicara, "tapi Non jangan bilang siapa siapa," Bi Darsih kembali memandang wajah Jessica.


"Iya," Jessica mengangguk.


Setelah beberapa saat, Bi Darsih pun berbicara tentang apa yang terjadi, "sebenarnya saya disuruh sama bapak dan ibuk Non," kata Bi Darsih membungkukkan kepalanya.


"Hah?!" Jessica mengernyitkan keningnya tak percaya, "mama sama papa mertua aku?!" Jessica benar benar tidak menyangka.


"Jangan ngaco deh Bi!" Jessica masih tak percaya.


Bi Darsih pun kembali menjelaskan apa yang terjadi, "jadi semua ini sebenarnya hanya settingan Non,"


"Hah?! Settingan?! Maksutnya?!" Jessica semakin penasaran, dan Bi Darsih pun menarik panjang panjang nafasnya, dan Jessica membuka lebar lebar pendengarannya.


"Iya Non, Jadi bapak dan ibuk itu nyuruh saya buat ngambil jam tangan Den Bagus, katanya sih untuk mengetes Non Jessica," kata Bi Darsih sangat hati hati agar tidak terjadi kesalahan dalam menjelaskan.


"Ngetes untuk apa Bi?!" Jawab!" Emosi Jessica pun sedikit tersulut karena perkataan Bi Darsih tadi benar benar membuatnya tidak karuan.


"Eee itu Non..."


Belum sampai selesai berkata Jessica pun langsung memotong perkataan Bi Darsih, "Mas Bagus tau semua ini?!" Kata Jessica, dan Bi Darsih pun semakin menunduk, "jawab Bi!"

__ADS_1


Dan Bi Darsih pun mengangguk, yang mengartikan bahwasannya pertanyaan Jessica tadi di benarkan oleh Bi Darsih, bahwa Bagus sang suami terlibat dalam masalah ini.


"Non, Jessica jangan marah ya Non," Bi Darsih merintih memohon kepada Jessica.


Namun tidak bagi Jessica, ia justru merasa di permainkan di rumah ini, ia beranggapan bahwa untuk apa dia diangkat menjadi menantu kalau dia sendiri tidak di percaya di rumah ini, bahkan masih harus menghadapi tes yang seolah olah mempermainkan Jessica.


Namun Jessica menutupi kesedihan dan kekecewaan nya itu di depan Bi Darsih, "iya Bi," namun dalam relung hatinya yang paling dalam ia benar benar sudah kecewa dengan keluarga ini, dan ia memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah ini tanpa sepengetahuan siapapun yang ada di rumah ini.


Tangisan pun semakin sulit ia bendung, ia memutuskan untuk segera meninggalkan kamar ini, ia tidak ingin melihat Bi Darsih menangis karena mengetahui ia sedang marah besar, karena bagaimana pun Bi Darsih adalah korban dari keserakahan dan kesewenang wenangan keluarga ini, "yaudah Bi, saya ke kamar dulu." Jessica pun pergi meninggalkan kamar ini.


Hari sudah larut malam, bunyi kendaraan di depan rumah pun juga sudah tidak terlalu terdengar ramai lagi, yang tersisa hanyalah suara suara jangkrik dan suara televisi yang masih menyala di ruang keluarga yang ada di depan sana, Jessica pun keluar dari kamar itu, ia sedikit berlari menuju ke kamar nya, karena air bening matanya sudah benar benar sulit untuk ia bendung lagi.


Ia pun masuk ke kamarnya, dan kondisi kamarnya saat itu sepi, entah kemana pergi nya pria tengil itu, mungkin main game atau ketiduran lagi di depan televisi, Jessica sudah masa bodoh tidak mau mengenal pria tengil yang bernama Bagus itu.


Semua barang barang nya telah ia masukkan ke dalam koper itu, ia pun berulangkali menelpon Nita sahabatnya, namun tak kunjung ia mengangkat telepon, maklum sih, karena ini sudah larut malam, mungkin dia juga tertidur pulas.


Jessica akhirnya memilih untuk mengorder taksi online untuk membawanya pergi meninggalkan rumah ini.


Dan tak lupa Jessica pun meninggalkan kartu Atm yang di berikan oleh mertuanya itu kepadanya, ia membanting kartu itu di meja rias nya, "aku nggak butuh itu!" Kata Jessica dengan kondisi hati yang masih tersulut emosi.


Ia pun pergi meninggalkan kamar itu dan berjalan menuju keluar rumah, dan saat Jessica melewati ruang keluarga, disitu ia melihat Bagus yang sedang ketiduran di depan televisi, entah kenapa saat melihat Bagus mata Jessica langsung berpaling dari melihatnya, rasanya ia tak mau lagi melihat atau bahkan kenal lagi dengan pria tengil itu.

__ADS_1


Ia berjalan meninggalkan rumah ini, dan tampaknya taksi online itu sudah ada di depan rumah nya, tau aja nih taksi online kalau yang order cewek cantik, pasti cepet tuh dateng nya, coba kalau yang order gua, paling setengah jam baru sampe, haha, becanda dikit lah, biar nggak tegang, ntar nangis lagi lo, oke lanjut.


Ia pun langsung masuk kedalam mobil itu, "mau kemana mbak?" Tanya sopir itu.


"Udah yang penting jalan aja," kata Jessica, ia benar benar sudah tak kuat berada di rumah ini.


Mobil pun berjalan membelah gelapnya malam, namun Jessica tak kunjung juga menentukan ia akan pergi kemana, hingga akhirnya sopir itu kembali bertanya, "maaf tujuan nya kemana?"


Jessica pun diam sejenak sembari mengusap kedua matanya, ia sendiri bingung harus pergi kemana, mau pulang ke kampung halaman nya tapi takut jika bapak nya kaget dan kenapa napa karena ulahnya.


Setelah sekian menit berpikir ia memutuskan untuk pergi ke rumah Nita sahabatnya, dan sopir taksi itu memutar balik mobilnya, karena alamat yang di tuju Jessica itu bukan lewat sini.


Mobil pun berjalan berbalik arah, dan kembali melewati rumahnya, namun ketika mobil itu lewat di depan rumahnya, Jessica sama sekali tidak mau memandang sedikit pun ke rumah itu sepertinya emosi nya sudah benar benar menyatu dengan tubuhnya.


Setelah beberapa menit perjalanan, sampai lah mereka pada alamat yang dituju, ya! Rumah Nita sahabatnya.


Lalu masuk lah Jessica ke halaman rumah Nita dengan menyeret koper tempat ia menaruh baju baju dan barangnya.


Ia meminta ijin kepada satpam untuk masuk kedalam rumah itu, karena ia adalah teman dari pemilik rumah ini, mungkin karena saking ngantuk nya, satpam itu mengijinkan nya masuk, padahal ia tidak punya bukti apa apa kalau dia adalah sahabat pemilik rumah ini, atau majikannya.


Jessica pun masuk dan membunyikan bel rumah itu, namun tak kunjung ada jawaban dari dalam, sekali lagi wajar sih, soalnya hari sudah larut malam.

__ADS_1


Tubuhnya yang capek pun tak bisa lagi bohongi, ia pun duduk di kursi yang ada di sana, memberikan hak pada tubuhnya untuk beristirahat, namun karena saking capek nya, tanpa sadar ia pun tertidur di kursi itu.


__ADS_2