Menikahi Bocil Tengil

Menikahi Bocil Tengil
Chapter 18


__ADS_3

Mobil pun terus berjalan membelah jalan, jessica memandangi ke kanan dan kiri melihat para pedagang yang sedang mencari uang disana.


Melihat hal itu, ia teringat dengan kehidupan nya dahulu kala, yang mana ia harus menunggu barang dagangan laku dulu agar ia bisa membeli makanan, Jessica tersenyum, sekarang ia tidak lagi susah seperti dulu, bahkan ia sekarang menyuruh bapaknya untuk berhenti bekerja, karena sekarang ia bisa memenuhi kebutuhan bapaknya.


Jadi keinget sama Ibu, "andaikan dia masih hidup, pasti dia udah bangga melihat Jessica seperti ini," air mata bening pun menetes tanpa izin melewati pipinya yang lembut.


Melihat mobil sudah berbelok masuk ke kawasan caffe, Jessica pun mengusap air matanya, dan bercermin dengan ponsel nya, untuk memastikan wajahnya tampak baik baik saja, sama lah kayak kalian, meski di dalam hati sedang hancur, masih maksa banget buat tersenyum, hehe.


tapi itu baik juga sih, karena bagaimana pun kita harus tetap menyembunyikan kesedihan kita, agar orang lain beranggapan kalau kita selalu bahagia, kan keren tuh, hehe, dahlah.


Dan akhirnya sampai lah dia di caffe itu, "berapa pak?" jessica bertanya kepada Pak Sopir, "seratus ribu mbak," jawab Sopir itu.


"Hah?" pupil mata Jessica membesar seketika, "kok mahal amat? orang jaraknya aja juga deket" Jessica tak percaya.


"kalau mau murah pakai ojek aja mbak," kata Sopir itu ketus.


"yaudah nih, nih," Jessica mengambil uang di dompetnya dan memberikan nya kepada sopir itu, "daripada gaduh'" gumam Jessica, "eh, emang harganya segitu ya?" Jessica bertanya tanya seakan akan tak percaya.


Ia pun berjalan meninggalkan mobil itu, dan bejalan masuk ke caffe itu, ia menoleh ke kanan dan kiri memilih tempat mana ia duduk, karena bagaimana pun tempat ini luas sekali.


"Jes, Jes." Sepertinya terdengar suara orang yang memanggil nya, Jessica pun mencari sumber suara itu, dan ternyata itu adalah Nita, sahabat kecilnya yang mengayunkan tangannya memangil Jessica.


Dan Jessica pun menghampirinya, "udah lama disini?" tanya Jessica sembari duduk samping Nita, karena tempat nya didekat jendela, dan hanya ada satu meja dan satu sofa yang menghadap ke jendela.


"Baru kok, pesanan aku aja belum dateng"


"oh gitu," jawab Jessica cuek sembari membuka ponselnya untuk memberi pesan kepada Bagus kalau dia lagi pergi ke caffe sama Nita, cieee ada yang takut ngambek nih kayaknya, makanya minta ijin, hehe.


Tak lama kemudian datanglah pesanan Nita, sekalian deh, Jessica pesen juga, "mbak aku pesen sama ya kayak ini," kata Jessica menunjuk makanan dan minuman milik Nita, "baik, mohon tunggu sebentar."


"Ngikut aja lu," Nita sedikit mendorong bahu Jessica.


"Biarin, wleee," Jessica mengeluarkan lidahnya.


"Kenapa gak dimakan?" tanya Jessica yang melihat Nita malah memainkan ponsel nya.


"Nanti aja nunggu kamu, ntar kamu ngiler lagi liat aku makan," kata Nita becanda.


Mereka pun bercanda dengan asyiknya, saling mengingatkan kejadian dulu waktu mereka masih SMA.


Hingga datanglah seorang pelayan yang membawakan pesanan Jessica, yang membuat canda tawa mereka pun mau tidak mau harus terhenti.


"Ini pesanan nya," Pelayan itu meletakkan pesanan Jessica di atas meja, "iya makasih,"


Jessica pun langung menyantap makanan itu, "eh, main makan aja nih bocah," kata Nita.


"Salah sendiri main ponsel," jawab Jessica.


memang seperti itulah persahabatan mereka selalu penuh dengan canda tawa, ya memang seperi itulah persahabatan yang sudah erat, meskipun kata kata saling menusuk dan tajam, tapi gak ada yang pernah ngambek satu sama lain, bedas halnya dengan persahabatan yang umurnya masih sebesar jagung, baru ngomong kasar dikit aja udah kena mental.


"Eh ngomong ngomong gimana pernikahan kamu? bahagia?" Nita membuka obrolan setelah hening beberapa saat.


"Gimana ya?" Jessica terhenti sejenak dengan mulutnya yang masih mengunyah makanan' "aku aja masih sering bingung sama perasaan aku."

__ADS_1


"Bingung kenapa?" Nita mengerinyitkan mukanya penasaran.


"Ya gimana ya, masa aku harus jatuh cinta sama Bocil tengil itu? tapi disisi lain dia udah jadi suami aku."


"Kamu gak boleh gitu Jes, mau nggak mau dia itu adalah suami kamu, nih aku ceritain ya."


"Cerita apa?" Jessica penasaran memotong perkataan Nita.


"Yaelah dengerin dulu Bambang," Kata Nita sedikit geram.


"Nama gua Jessica Maimunah," kata Jessica.


"Jadi kaga nih ceritanya?" Nita menghembuskan nafasnya kesal.


"Jadi jadi, asyiiiik ada denger cerita," kata Jessica menadahkan dagunya ke kedua telapak tangannya, wajahnya pun sedikit lebih mendekat kepada Nita.


"Nggak usah begitu juga Bambang," kata Nita yang melihat Jessica seperti anak kecil.


"Udah buruan cerita bawel," kata Jessica.


"Jadi gini," Nita menoleh kearah Jessica, "di dengerin gak nih?"


"Yaelah lama amat tinggal cerita doang."


Nita pun menyambung ceritanya, "ada seseorang yang datang kepada gurunya untuk mengadukan permasalahan nya, yang mana, ia merasa bahwa istri nya sekarang sudah tidak menarik lagi seperti dulu ketika mereka belum menikah, bahkan alih alih mengatakan ia ingin menceraikan nya dan mencari istri baru,"


Pupil mata Jessica membesar seketika, ia begitu penasaran karena ceritanya hampir sama dengan yang ia rasakan, "terus terus?"


"Yang perlu dihilangkan Bukan istrinya, tapi sifat rakus yang ada dalam dirimu," sambung sang Guru dalam cerita Nita itu.


Mendengar cerita Nita itu membuat hati Jessica adem bagaikan disiram air kehidupan, "wah pinter banget kamu sekarang, ternyata gak rugi kamu mondok," pupil mata Jessica membesar terkagum.


"yahhhh malah ngeledek nih bocah," kata Nita bercanda.


***


Mereka pun terus berbincang bincang degan asyiknya, dan sesekali Jessica mengecek ponsel nya menunggu balasan pesan dari Bagus, "kok belum di bales juga sih," gumamnya panik, bahkan duduknya pun seolah olah tak tenang.


"Kamu kenapa sih kok kayak lagi bingung gitu?" Nita bertanya.


"Gimana ya" Jessica menggaruk jidatnya kebingungan.


"Sebenarnya gini, aku sama Mas Bagus tuh lagi marahan." Sambungnya.


'Uhuk-uhuk' Nita nyaris memuntahkan minuman yang ada di mulutnya, pupil matanya membesar karena kaget, masa masih pengantin baru aja udah berantem?


"Hah?" Nita benar benar kaget tak menyangka.


"Jadi ceritanya gini," Jessica menyeruput minuman nya.


"Kemarin itu jam tangan Mas Bagus itu hilang, dan dia nuduh aku yang ngambil."


"Hah," Nita mengernyitkan kepalanya benar benar kaget mendengar perkataan sahabatnya itu, "jangan ngomong kalo elu emang yan ngambil jam tangan itu," Nita melotot kearah Jessica, jari telunjuknya mengarah tepat ke wajah sahabatnya itu.

__ADS_1


"Mana ada," Jessica menyingkirkan jari telunjuk Nita dari depan wajahnya.


"Justru aku itu curiga sama pembantu aku, soalnya dulu aku pernah liat dia bersihin laci tempat Mas Bagus menaruh jam tangan itu, terus ketika aku masuk ke kamar, kayaknya dia gugup gitu, tangan nya aja langsung menyembunyikan sesuatu di belakang punggungnya," kata Jessica dengan dihiasi lambaian lambaian tangan bagaikan sang Dosen yang sedang menjelaskan pelajaran kepada murid nya, sementara Nita menyimak kata demi kata dari yang diucapkan Jessica.


"Terus kenapa gak lo sidang aja tuh pembantu?" Nita penasaran.


"Aku gak punya bukti Nita," Jessica pasrah kebingungan.


Nita pun terdiam, tampaknya dia sedang berpikir, sementara Jessica kembali mengecek ponselnya dengan wajah masamnya.


Jessica sebenarnya bingung bukan karena jam tangan itu, tapi karena khawatir dengan bagus yang sejak tadi belum membalas pesannya.


"nah, aku punya ide," Nita menepuk tangannya dan wajahnya pun sedikit tersenyum, sepertinya dia menemukan ide cemerlang nih kayaknya, ya semoga aja.


Jessica menoleh kearahnya, sepertinya dia tidak mood dengan obrolan ini, karena mood nya yang lagi kacau, dan kondisi hatinya yang khawatir dengan bagus.


"Dulu waktu aku di pesantren pernah juga ada kasus pencurian, terus semua orang di kumpulkan dan para pengurus cuma pakai sugesti gini," Nita sedikit merubah posisi duduknya lebih maju, tampaknya ia akan mengatakan hal yang besar kali ini.


"Semua orang di berikan lidi masing masing dengan ukuran yang sama, dan disana juga diumumkan bahwasannya lidi orang yang mencuri itu akan bertambah panjang dalam satu malam, dan keesokan hari nya lidi itu harus dikumpulkan," sambung Nita, sementara Jessica masih belum bisa menikmati obrolan itu.


Dan Nita pun kembali menyambung perkataan nya, "nah, si pencuri itu pastinya kan takut dengan ancaman seperti itu, kemudian si pencuri itu memotong sedikit lidi miliknya."


Pupil mata Jessica pun membesar seketika mendengarnya, ia semakin penasaran dengan hasil akhirnya.


"Nah, keesokan harinya semua santriwan pun berkumpul untuk menyetorkan lidinya masing masing, dan akhirnya semua lidi milik santriwan ukurannya sama, kecuali milik si pencuri itu,"


"Setelah itu kembali diumumkan bahwasannya apa yang diumumkan kemarin itu tidak lah benar, itu hanyalah jebakan, dan barangsiapa yang lidi nya berkurang panjang nya maka dia lah pencurinya," sambung Nita.


'Dan akhirnya bisa tertangkap lah pencuri itu." Nita mengakhiri ceritanya.


jessica sedikit bisa bernafas lega, "ide bagus Nit," Jessica semakin kagum dengan sahabatnya satu ini.


"Ya kamu coba aja pakai cara itu," kata Nita sembari meminum minuman nya, sementara Jessica, ia pun langsung terbayang bagaiman Bagus nanti menilainya karena bisa menemukan jam tangan nya.


"makasih ya Nita, kamu memang benar benar sahabat, pinter lagi," kaa Jessica memegangi pundak Nita sahabatnya.


"Ih, biasa aja kali, jijik gua dengernya," kata Nita melepaskan tangan Jessica dari pundaknya.


'ting' ponsel Jessica pun berbunyi, tanda ada pesan masuk, dan Jessica pun langsung mengeceknya, semoga aja pesan dari Mas Bagus.


Wajah Jessica pun langsung bete seketika, ternyata itu pesan dari ayahnya, yang kembali meminta uang kepadanya, sebenarnya Jessica pun sedikit berpikir kenapa uang ayah nya begitu cepat habis, namun karena ia teringat dengan susah payahnya dulu dengan ayahnya, ia pun merasa kasihan dan langsung mentransfer uang permintaan ayahnya itu, lagipula ia kan juga hidup seorang diri di desa.


"Udah yuk pulang, udah lama banget kita disini," kata Nita mengajak Jessica pulang.


"Kali ini biar aku aja yang bayar," Jessica menepuk dadanya.


"Widih lagi banyak duit nih ceritanya," kata Nita.


"Hehe, tapi aku pulangnya nebeng ya," kata Jessica mengangkat kedua alisnya.


"Hmmm, ternyata ada maunya," kata Nita bercanda.


"Isshhh."

__ADS_1


__ADS_2