
Perlahan Jessica memasuki ruangan itu, dengan baju putih dan rok hitam yang ia kemakan, dengan paras cantik berbalut jilbab hitam ia berjalan melewati para pegawai yang sedang baris berdiri di dalam sebuah ruangan, ya! Ruangan khusus manajer di caffe itu.
Dan tampak disitu sudah siap dan rapi, di meja pribadi Jessica juga sudah terdapat satu cangkir kopi, dan satu porsi stik lengkap dengan saus nya.
"Oke, semuanya silahkan duduk," kata Jessica penuh wibawa, dan semua karyawan pun duduk, tapi tak seorang pun dari mereka yang berani menatap Jessica langsung kecuali zaki, yaaaa emang orang nya agak sedikit blokon sih, hehe. Namun Jessica tidak terlalu menganggap nya sebagai masalah.
"Baik, perkenalkan nama saya Jessica, istri dari mas Bagus, saya manajer baru di caffe ini, dan saya memiliki hak atas caffe ini." Katanya tegas dan jelas.
"Baiklah silahkan kalian memperkenalkan diri satu persatu beserta pendidikan terakhirnya apa, silahkan mulai dari kamu." Jessica menunjuk ke arah Dian, yang duduknya paling dekat dengan Jessica.
Dian pun mengangkat wajah nya melihat Jessica, "nama saya Dian bu, saya lulusan s1 jurusan ekonomi." Jessica mengangguk "mmm iya iya, terus kamu?" Jessica menunjuk perempuan yang di samping Dian, dan perempuan itu pun perlahan menoleh kearah Jessica, betapa kagetnya dia setelah tau bahwa manajer nya adalah orang yang ia suruh pergi tadi, "aduh gimana ini," gumamnya sedikit memalingkan mukanya bingung sembari menggigit bibirnya, "eeee nama saya widia bu," jawabnya terbata bata.
"Kamu terakhir pendidikannya apa?" Kata Jessica sembari memakan stik yang di hidangkan di meja nya, "hmm enak juga makanan ini, namanya apa ya," gumam Jessica memandangi stik itu, maklum belum pernah makan stik, "pendidikan terkahir saya sma bu," jawabnya menunduk kan kepala.
"Oh gitu, kalo kamu?" Jessica menunjuk perempuan di samping widia, "nama saya sari bu, pendidikan terakhir saya sama dengan widia bu, sma," sari sedikit menunjuk kepada widia dengan jempolnya.
"Oh gituu, sekarang giliran kamu," Jessica menunjuk kepada zaki yang sejak tadi tidak menunduk, malah justru terus memandangi Jessica ketika dia berbicara, "kan ibu kemarin sudah kenalan sama saya," jawabnya sedikit lancang, namun tidak membuat Jessica marah, karena bagi dia harga diri itu tidaklah begitu penting, mungkin karena sejak awal memang ia adalah wanita dari keluarga sederhana yang sudah biasa di anggap sepele oleh orang lain.
"Siapa kemarin namanya? Jessica sedikit memejamkan matanya, "zaki ya?"
"Benar bu,"
"Kamu terakhir pendidikan nya apa?"
"Saya temen nya Bagus dari kecil bu,"
Jessica sedikit kaget, namun ia berhasil menutupinya dengan memutar bola mata malas, "saya tanya kamu pendidikan terakhir nya apa zaki," jelas Jessica.
__ADS_1
"Kalo saya mah, nggak sekolah bu,"
Jessica sedikit kaget, "kenapa kamu gak sekolah?" Tanya Jessica.
"Gak dibolehin bu sama orang tua, sayang uang nya, daripada buat sekolah mendingan buat makan sehari hari." Jawabnya pede.
Jessica sedikit terenyuh dan teringat bahwa dia dulu waktu tamat sma ingin melanjutkan kuliah saja nggak bisa karena terhalang masalah ekonomi, ternyata masih ada orang yang hidup nya lebih susah dari nya.
"Oh yaudah," Jessica menutup sesi perkenalan.
"Sekarang projek baru saya adalah merombak total caffe dan butik itu, rubah namanya jangan 'b butik' lah 'b caffe' lah, saya ingin satu nama yang baku tertera di depan gang masuk sana," Jessica memberi isyarat dengan telunjuk nya, dan yang di maksud dia adalah di dekat jalan sebelum masuk ke kawasan ini.
"Zaki!"
"Iya bu,"
"Sari! Tugas kamu adalah menjual semua isi butik itu, .meskipun dengan harga yang murah nggak papa untuk menambah modal kita untuk membuat swalayan di sebelah sana, saya ingin merubah nya menjadi swalayan."
Sari hanya mengangguk.
"Sementara widia, kosongkan lantai dua, dan renovasi semuanya, saya ingin membuat nya menjadi rental PS dan computer untuk game online." Jessica menunjuk kearah widia.
"Dan tugas kamu dian, kamu menjadi direktur di bisnis ini, kamu yang bertanggung jawab dan mengontrol semuanya."
"Baik bu," kata Dian santai.
"Untuk caffe, rubah suasananya menjadi lebih moderen dan terkesan kebarat baratan," jelas Jessica lagi.
__ADS_1
'kriiiingggg' ponsel Jessica berbunyi tanda ada telepon masuk, tapi dia justru mematikan nya.
"Saya ingin selesai dalam waktu satu minggu, Dian! Kamu bertanggung jawab penuh atas hal ini, kalau ada apa apa hubungi saya," jessica menyodorkan kertas bersisi nomor telponnya.
"Baik bu, akan saya usahakan semaksimal mungkin." Kata Dian tegas.
"Bagus kalo begitu, oke! Sudah cukup meeting pada kali ini, tolong kerjakan dengan semaksimal mungkin, kalau ada apa apa silahkan bertanya Dian," Jessica menutup meeting itu kemudian berdiri dan beranjak pergi meninggalkan ruangan itu dan keluar dari caffe ini menuju mobil yang masih terparkir di depan butik sana.
Melihat kedatangan Jessica, pak Amir pun langsung bergergas membukakan pintuobil untuk Jessica, dan Jessica pun masuk dengan pede nya layak nya bos besar ke dalam mobil itu, "makasih pak."
Pak Amir pun segera masuk mobil dan menjalankan mobil itu.
Mobil pun berjalan di bawah panasnya mentari, ya! Panas sekali, dan Jessica pun membuka ponselnya, bertanya tanya siapa kah yang menelpon nya tadi, begitu kagetnya dia setelah mengetahui bahwa Bagus lah yang menelpon nya tadi, begitu merasa salahnya dia kepada Bagus, ia pun langsung menelpon suaminya itu.
Berapa kali Jessica menghubungi Bagus namun tak kunjung diangkat oleh Bagus, rasa gelisah pun mulai hadir di hati Jessica, ia tampak kebingungan sendiri menggigiti jari telunjuk nya, "ada apa ya dengan mas Bagus." Gumamnya khawatir.
"Pak! Tolong agak lebih cepat dong jalannya," perintah Jessica.
"Iya bu, tapi jalanan nya agak macet ini." Jelas pak Amir.
Jessica masih sangat kebingungan dan tampak jelas sekali bahwa dia kebingungan, bahkan duduknya saja pun tidak jenak, "maafkan aku mas, tadi aku matiin karena aku masih meeting," gimam Jessica merasa bersalah dengan sesekali melihat ponsel nya menunggu Bagus menelpon nya balik.
Sementara itu disisi lain terdapatlah Hendrik ayah Jessica yang sedang nongkrong di warung yang biasa ia kumpul, lengkap dengan billiyard nya, ia sangat menyukai permainan itu, akan tetapi sayang nya ia sering menghamburkan uang nya untuk judi dengan billiyard itu.
"Yah kalah lagi," kata Hendrik setelah memainkan billiyard namun sayang nya harus kalah.
"Masih berani kagak lo?" Ujar salah seorang teman nya.
__ADS_1
"Loh, siapa takut, saya taruhan seratus ribu lagi," kata Hendrik setelah kalah dari taruhan seratus ribu juga.