
"sambil nunggu pesanan kita datang, lebih baik kita solat dulu!" Ajak papa Deni, dan mereka pun segera beranjak menuju musholla yang ada di caffe ini, otak Jessica pun langsung teringat momen di mana Bagus selalu mencium kening nya ketika selesai sholat, kira kira apakah Bagus masih mau melakukan nya ketika di sedang ngambek seperti ini? Jessica bertanya tanya, namun Jessica pun sedikit berpikir bahwa mungkin pada kesempatan kali ini, Bagus tidak melakukan itu, karena mereka sedang bersama dengan orang tua, malu juga sih kalo sampai mereka melihat.
Mereka pun saling berwudhu masing masing, dan kali ini papa Deni yang menjadi imam.
Dan tak lama kemudian selesai lah mereka melakukan sholat, detak jantung Jessica pun sedikit berderak lebih kencang, hingga seolah olah terdengar di kupingnya, apakah Bagus melakukan hal itu? Mencium keningnya? Semoga saja, karena itulah harapan Jessica.
Setelah selesai sholat mereka pun membaca wirid yang biasa di baca setelah sholat, setelah itu papa Deni berdoa.
Dan kini tibalah momen yang di tunggu tunggu Jessica itu, mereka saling berjabat tangan satu sama lain, Jessica pun mengawalinya dengan mencium tangan mama Anggi mertuanya yang berada tepat di samping nya, kemudian mencium tangan papa Deni, dan tibalah saatnya bagi Jessica mencium tangan suaminya yang tengil itu, ia pun sedikit melirik kearah Bagus, yang kini berada tepat di depannya.
Bagus pun juga sedikit melirik kearah Jessica, dan Jessica mulai membungkukkan tubuhnya perlahan, menjabat tangan Bagus, dan kemudian mencium nya.
Namun tak disangka oleh nya, bahwa setelah Jessica mencium tangan Bagus, Bagus melepas tangan itu tanpa mencium kening Jessica, hal itu membuat nafas nya terhenti sejenak, pupil matanya membesar seketika, 'jleb' rasanya bagaikan tertusuk duri yang sangat tajam.
Hal itu membuat Jessica badmood seketika, bahkan kini, ia seolah olah tak lagi mau bicara dengan siapapun, raut mukanya yang kecewa itu nampak jelas menghiasi wajahnya, ia hanya bisa diam tanpa kata.
Terbukti ketika papa Deni mengajak mereka untuk kembali ke kursi nya tadi, ia hanya diam dan mengangguk, pandangan nya terus tertunduk ke bawah, bahkan ia tak mau memandang Bagus yang notabene adalah suaminya, "rasanya pengen nangis," gumam Jessica kecewa.
Mereka pun kembali ke tempat duduk nya masing masing, seperti biasa, mama Anggi dan papa Deni mengobrol dengan asyiknya, sementara Jessica ia hanya diam seribu bahasa memandangi ponsel nya meskipun sepi tak ada notifikasi, sama lah kayak kalian yang lagi jomblo, kegiatannya kalo main ponsel cuma buka sandi hp, tutup lagi, buka lagi, tutup lagi, hehe, udah ngaku aja bambang.
__ADS_1
Tak lama kemudian sampai lah makanan pesanan mereka, dan mereka pun langsung menyantap makanan itu dengan lahapnya, "selamat makan," kata papa Deni.
Jessica pun tetap diam, seolah olah nafsu makan nya sudah hilang, ia hanya mengambil sedikit makanan itu, beda dari yang lainnya yang dengan lahapnya menyantap makanan itu, apalagi Bagus, ia menyantap makanan itu dengan ponsel di tangan kiri nya yang terus menerus ia pandangi tanpa memperdulikan Jessica istrinya, sementara Jessica hanya memakannya sedikit demi sedikit.
Fikiran nya benar benar kacau saat ini, pandangan matanya pun tampak kosong tanpa penghuni, ia terus memikirkan kenapa Bagus tidak mencium keningnya setelah selesai sholat tadi, apa dia sampai segitunya ya ngambek gara gara jam tangan? Jessica bertanya tanya pada dirinya sendiri.
"Yaampun, aku gaboleh berburuk sangka," gumam Jessica menggeleng geleng kan kepalanya.
"Mungkin mas Bagus melakukan itu semua karena ada papa Deni dan mama Anggi disini, aku harus dewasa! Gaboleh kaya anak kecil!" Alibi nya mencoba untuk menenangkan pikirannya yang kacau.
Tak lama kemudian selesai lah mereka mengisi lambung mereka yang memberontak meminta makan, papa Deni pun beranjak berdiri dengan maksud untuk membayar makanan tadi, namun benak Jessica mengisyaratkan untuk menyuruh dia membayar semua makanan tadi, "biar saya aja pa yang bayar," pinta Jessica dengan bayangannya yang ingin menunjukkan bahwa dia adalah menantu yang baik.
"Udah biar Jessica aja," jessica menolak, ia beranjak berdiri dan berjalan menuju kasir untuk membayar makanan tadi.
Tak lama kemudian kembali lah Jessica dari kasir untuk membayar makanan tadi, kemudian pergilah mereka menuju mobil untuk segera pulang, karena hari sudah menginjak sore.
Mobil pun berjalan membelah jalanan, sinar matahari pun terasa hangat menyentuh tubuh Jessica, tampak jelas bahasa tubuhnya bahwa dia sedang kebingungan untuk bertingkah seperti apa, rasa canggung pun terus menerus hadir di lubuk hati terdalam Jessica, karena suami nya sejak tadi masih ngambek dan menuduh Jessica lah yang mengambil jam tangan itu.
Tak lama kemudian tampak lah rumah sederhana berwarna putih tampak bersinar di tepi jalan, ya! Itu adalah rumah Bagus dan Jessica, mobil pun berhenti tepat di depan pintu gerbang rumah itu, "papa sama mama ngga mampir dulu?" Tanya Jessica, sementara Bagus ia langsung keluar dari mobil begitu saja.
__ADS_1
"Nggak, kapan kapan lagi aja papa main kesini." Papa Deni menghadap ke belakang.
"Oh, yaudah kalo gitu, Jessica masuk dulu," Jessica menjabat tangan papa Deni dan mama Anggi bergantian, kemudian ia keluar dari mobil itu, dan ia dapati Bagus sudah tidak ada disana, ia sudah masuk ke dalam rumah begitu saja.
Jessica pun menunggu papa Deni dan mama Anggi untuk pulang dulu, baru ia mau masuk ke rumah, karena itu adalah etika, papa Deni pun menurunkan kaca mobil itu perlahan, "yaudah kami pamit dulu ya! Kalian yang baik baik disini."
"Titip Bagus ya!" Teriak mama Anggi dari dalam mobil sedikit mengejutkan Jessica.
"Ee ee iya ma!" Jessica menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal dan sedikit cengengesan.
Kemudian pergilah papa Deni dan mama Anggi, lalu masuk lah Jessica ke dalam rumah, "kemana ya? Pergi nya bocil itu?" Jessica bertanya tanya pandangan nya menyapu seluruh sudut di rumah ini, mencari pria tengil yang ngambek itu.
Ia berjalan perlahan menuju kamarnya, dan membuka pintu kamar itu dengan hati hati, 'glek' apakah Bagus ada di sana? Jessica bertanya tanya penasaran.
Ia pun masuk ke kamar itu, dan pandangan nya pun langsung tertuju pada seorang laki laki yang merebahkan dirinya di kasur putih besar yang ada di kamar itu, namun Bagus pun tidak memperdulikan Jessica, ia tetap memejamkan matanya, apakah ia sudah tidur?
Namun setidaknya Jessica sedikit lega melihat suami nya yang masih mau masuk ke kamar ini.
Melihatnya yang seolah olah terlihat capek itu, Jessica tidak tega jika dia harus terbangun karena kedatangan nya, ia pun memelankan langkah nya mengambil handuk dan kemudian pergi ke kamar mandi, rasanya tubuh ini sudah lengket karena keringat.
__ADS_1