Menikahi Bocil Tengil

Menikahi Bocil Tengil
Chapter 9


__ADS_3

'B butik'


Sebuah nama yang berada di atas pintu masuk toko itu.


Mereka pun berjalan masuk ke toko itu, jessica menengok ke kanan dan kiri, "sepi amat nih toko." Gumam jessica.


Kemudian tampak lah seorang penjaga yang berdiri di belakang kasir, bagus pun tiba tiba menggandeng tangan jessica, yang membuat pupil matanya membesar seketika, dan bagus pun dengan pede nya memamerkan jessica di depan penjaga kasir itu, "kenalin, ini jessica istri saya."


'Aw' Bagus menjerit karena di cubit oleh jessica, "ngapain sihhhh, jangan bikin malu!" Wajah jessica tampak geram memandang wajah bagus.


"Loh kenapa harus malu?, Kamu malu jadi istri aku." Kata Bagus, mendekatkan wajah nya ke wajah jessica.


"Ssssstttt," Jessica memberi isyarat untuk Bagus agar ia mengecilkan suaranya, dan Jessica pun memandang cengengesan ke kasir itu.


"Ngapain sihhh, ngenalin aku ke orang yang ga di kenal?!, Jangan bego lo!" Suara jessica geram membisik di dekat telinga kanan Bagus.


Dan kasir itu pun diam diam menahan tawanya melihat keunikan mereka berdua.


"Hah?! Orang yang ga di kenal?!" Bagus semakin mengeraskan suaranya, dan Jessica pun kembali mencubit nya.


"Hahaha," Bagus tertawa melihat Jessica istrinya.


"Dia itu Zaky, penjaga kasir di butik ini," Bagus memberi penjelasan yang membuat jessica sedikit malu dan sedikit memalingkan wajahnya.


"Oh, temen kamu," kata Jessica menahan malunya.


"Iya, dia ini kerja di sini, ini kan butik mama yang di serahkan ke aku untuk mengelolanya."


'Jleb' nafas jessica tertahan sejenak mendengar pernyataan bagus tadi, ia hanya bisa diam, "emang iya mas?."


"Jack! Kenalin, ini istri aku Jessica," Bagus mendorong pundak kanan Jessica yang membuat Jessica tersandar di bahu nya "eh!" Jessica sedikit kaget.


"Gimana? Cantik nggak menurut kamu?" Sambung bagus.


"Iya pak," Jawabnya mengangguk tertegun tegun.


Sementara jessica masih terdiam di pundak Bagus, mungkin dia masih syok, atau mungkin juga masih ling lung, hehe.

__ADS_1


"Yaudah sekarang ayo kita sholat dulu, udah masuk waktu maghrib!" Bagus pun mengajak jessica untuk ke musholla yang ada di butik ini, "Yaudah kamu ambil wudlu dulu sana," perintah Bagus, jessica hanya mengangguk, "Masa sih mama dia ngasih kepercayaan seperti ini ke anak nya yang tengil ini?" Pertanyaan itulah yang ada di benak Jessica kali ini.


Tak lama kemudian keluarlah Jessica dari kamar mandi, ia pun menunggu Bagus sembari menata kan sajadah untuk mereka berdua.


'Ceklek' suara pintu toilet yang sedang di buka oleh Bagus.


Pupil mata Jessica pun membesar seketika ketika melihat ketampanan bagus setelah wudlu itu, wajah nya memang benar benar ganteng apalagi di tambah air bekas wudlu yang menetes satu persatu dari wajahnya, yang membuat Jessica seperti hanyut dalam kegantengan nya, yang membuat dia terus menerus memandangi wajah suami nya itu.


"Jes!" Sahut Bagus sembari melambaikan tangannya di depan muka Jessica, yang membuat Jessica terkaget, dan tidak bisa lagi berkata kata, "eh, iya maaf."


Mereka mulai melaksanakan sholat maghrib.


"Allahu akbar." Suara besar bagus terdengar merdu di telinga jessica, seorang pria gagah besar berada di depan nya.


Entah apa yang di rasakan jessica, ia bagaikan melayang keatas awan menyaksikan suaminya tampak gagah dan berwibawa ketika mengimami shalat.


Tak lama kemudian selesai lah ritual ibadah sholat yang mereka lakukan.


Bagus pun menjulurkan tangannya tepat ke arah jessica, dan Jessica pun dengan rendah hati mencium tangan suami nya itu, sungguh romantis sekali mereka di hadapan tuhan.


Jessica pun mengangkat pelan pelan kepalanya menghadap ke arah wajah Bagus yang begitu dekat dari wajahnya, dan kedua tangan bagus menyentuh pelan pelan pipi Jessica, "hah! Kenapa aku mendadak gugup gini sih." Badan Jessica tiba tiba bergetar, detak jantungnya pun ikut berdebar.


Wajah Bagus pun perlahan mendekat ke wajah Jessica, Jessica tidak Bisa berbuat apa apa, ia hanya bisa memejamkan kedua matanya, karena rasa gugup yang benar benar telah menguasai seluruh tubuh nya, wajar saja, karena dia belum pernah sedekat ini dengan laki laki selain ayahnya.


Aroma parfum bacarat yang mulai tercium oleh hidung Jessica, namun ia tidak berani membuka matanya.


'Cup' Bagus mencium kening Jessica dengan lembutnya.


'Darrr' meledaklah rasa bahagia di hatinya, bagaimana mungkin seorang bocil bisa seromantis ini? Tapi entahlah, Jessica benar benar merasa sangat bahagia, andaikan seluruh tubuh ini tau rasa bahagia ini, pastilah seluruh jasad ini ingin menjadi hati.


Bagus pun mulai melepas kan perlahan tangannya dari kedua pipi Jessica dan mengajaknya untuk beranjak dari musholla tersebut, "ayo! Kita makan dulu," kata Bagus yang di balas dengan anggukan oleh Jessica.


Bagus pun beranjak pergi meninggalkan Jessica, sementara senyum tipis terus merekah dari wajah jessica, ia segera melepas mukena nya dan menyusul suami nya, rasa nya benar benar tidak mau jauh sedetik pun dari suaminya.


"Kalian sudah solat?" Tampak Bagus sedang bertanya kepada jack satu satu nya pekerja di butik ini, lalu Jessica segera mendatangi nya.


"Belum pak," jawab pegawai butik dan pak sopir di sampingnya, mereka sedang duduk santai dengan kopi di atas meja.

__ADS_1


"Sholat dulu!, Nanti ngopi lagi!" Perintah Bagus tegas di jawab dengan anggukan oleh mereka berdua, dan mereka segera beranjak untuk sholat.


"Ayo kita makan dulu, aku bener benr laper banget," kata Bagus menengok ke belakang ke arah Jessica sambil menyentuh perutnya.


"Iya," jessica masih gugup.


Bagus langsung berjalan begitu saja tanpa menggandeng tangan jessica, "huh! Kumat!," Gumam Jessica dengan senyum tipis di bibirnya, ia pun langsung menyusul Bagus, "kita nggak nunggu pak sopir sama jack sekalian?" Tanya Jessica.


"Nggak," jawab Bagus cuek memandangi Hp nya.


"Oh yaudah," Jessica mengangguk.


Mereka berjalan menuju toko yang ada di sebelah butik ini, ya! Memang di halaman ini cuma ada dua toko, yaitu B butik, dan B resto and caffe, semuanya inisial B, hehe.


Yahhh, seperti biasa, sesampainya di resto itu Bagus langsung duduk begitu saja, dan memainkan ponsel nya, tanpa memperdulikan jessica, atau yahhh minimal mempersilahkan duduk lah.


Namun jessica memaklumi suami nya itu, bahkan senyum tipis pun masih merekah di wajahnya, "rasanya kayak nikah beneran, hehe," gumam Jessica masih terbayang bayang Bagus mencium keningnya tadi.


Pelayan pun datang dan menyodorkan menu untuk mereka berdua, "silahkan ini menunya."


Jessica menjulurkan tangannya mengambil menu itu, namun tiba tiba Bagus tanpa sadar menyahut menu itu sebelum jessica mengambilnya, kejadian itu membuat jessica sedikit malu kepada pelayan itu.


"Aku pesen nasi goreng aja, sama lemon tea," kata Bagus.


"Kamu pesen apa?" Bagus memandang Jessica.


"Terserah," jessica memalingkan muka nya dengan wajah cemberut kesal dengan perlakuan Bagus tadi.


"Oh yaudah sama aja," kata Bagus kepada pelayan.


"Ihhh gimana sih nih orang! Istrinya ngambek bukan malah di bujuk atau gimana kek, ini malah cuek," Gumam jessica kesal.


"Mohon di tunggu sebentar." Pelayan itu beranjak pergi, dan Bagus kembali memainkan ponsel nya tanpa memperdulikan Jessica.


Jessica pun juga memainkan ponsel nya, berpura pura tidak memperdulikan Bagus, dengan harapan agar Bagus bisa sadar dan bisa menghargainya sebagai seorang istri.


Padahal di lubuk hatinya yang sangat dalam ia benar benar sedang bahagia, bahkan kecupan Bagus di kening Jessica tadi benar benar terus membayang bayangi pikiran Jessica, semoga aja kejadian seperti itu bisa terulang kembali.

__ADS_1


__ADS_2