
Setelah beberapa menit bermain Hendrik pun harus kembali kalah, dan uang seratus ribu miliknya pun hangus.
"Sini sini uangnya," kata lawan Hendrik sembari mengambil tumpukan uang di meja dengan tertawa bahagia, masih berani kagak lo?" Dia menantang Hendrik lagi, namun Hendrik menolaknya, "udahlah, mainnya curang, mendingan aku makan." Alibi Hendri.
Dan Hendrik pun masuk ke warung itu untuk memesan makanan, namun naas nya pemilik warung itu tidak mau melayaninya, "eh, hutang kamu di sini aja sudah 500 ribu lebih masih belum kamu bayar, masa mau ngutang lagi? Judi mampu tapi bayar hutang nggak mampu." Kata penjaga warung ketus.
"Yaelah, ntar juga saya bayar, uang saya masih di ATM."
"Alah dari kemarin gitu mulu," kata penjaga warung.
"Aduh mana laper banget lagi," gumam Hendrik sembari membuka ponselnya, sembari berjalan keluar dari warung itu.
Kemudian dia menelpon Jessica putri nya satu satunya yang telah menjadi orang kaya dadakan itu, dan pada saat itu Jessica masih di dalam mobil kebingungan dan khawatir dengan keadaan suaminya Bagus.
Betapa kagetnya dia ketika mendengar ponselnya berbunyi 'kriiiinggg'
Ia pun langsung mengangkatnya "maaf mas, tadi waktu mas telpon aku, aku lagi meeting." Kata Jessica yang mengira telpon itu dari suaminya.
"Ini ayah Jessica."
Jessica bingung dan melihat ponselnya, dan ternyata yang menelpon dia bukanlah mas Bagus melainkan ayahnya, "oh ayah ternyata, kirain mas Bagus," kata Jessica sedikit kecewa.
"Transfer uang ke ayah satu juta sekarang!" Kata Hendrik sedikit membentak Jessica kemudian langsung menutup panggilannya.
"Tadi pagi kan udah."
"Yah."
"Yah."
"Halo." Jessica melihat ponselnya dan ternyata Hendrik sudah menutup panggilannya.
Jessica pun sedikit kebingungan, namun pikirannya yang kacau itu membuat dia tidak berpikir panjang dan langsung mentransfer uang permintaan ayahnya itu.
Karena pikirannya masih terfokus dengan Bagus, yang sejak tadi tidak bisa dia hubungi, "pak, agak cepet pak, jalannya!" Sembari mengetuk ngetuk kursi pak Amir yang ada di depannya.
Tak lama kemudian sampai lah Jessica di rumah nya, ia pun langsung lari kerumah dan masuk ke kamar nya, betapa kaget nya ia melihat kondisi kamarnya yang berantakan, dan tampak disana mas Bagus sedang mencari sesuatu mengobrak abrik semua baju yang ada di lemari, "yaampun mas, kok berantakan gini."
__ADS_1
Melihat kedatangan Jessica Bagus pun langsung menengok kearahnya, "kamu lihat nggak jam tangan kesayangan aku?"
"Jam tangan apa?" Jessica sedikit bingung mengerucutkan muka nya.
"Jam tangan aku, terakhir aku taruh di laci sana," Bagus menunjuk laci yang ada di samping tempat tidur, "kok bisa hilang sih," Bagus menutupi wajahnya menahan emosi.
"Yaudah sini biar Jessica bantu nyari, warna nya apa?"
"Warna nya putih." Jessica pun langsung membantu Bagus mencari jam tangan itu, yaaa meski badannya capek baru pulang kerja.
___________
Sementara disisi lain Hendrik langsunh pergi ke ATM untuk mengambil uang itu, setelah itu pergi ke warung tadi.
'Bruk'
Hendrik membanting uang senilai 600 ribu ke meja yang ada di depan pak Joko penjaga warung itu, "nih! Saya bayar hutang saya, berapa? 500 ribu lebih? Saya bayar 600, sekarang ambilin saya makan yang paling enak di sini.
Pak Joko pun mengambil uang itu dan membolak balikkan nya untuk memastikan apakah uang itu uang asli atau bukan.
Kemudian pak Joko berdiri dan mengambilkan makanan untuk Hendrik, dan Hendrik pun memakannya dengan lahap, karena sudah sejak tadi ia menahan lapar itu.
Setelah selesai menyantap makanan itu Hendrik pun kembali ke tempat billiyard itu, "saya mau main lagi!" Kata Hendrik sedikit banyak gaya.
"Emang masih punya uang lo?" Ejek salah seorang temannya.
Hendrik menepuk nepuk domoet yang ada di saku nya, "tenang aja."
Dan Hendrik pun kembali taruhan disana.
***
"aduuuh kok bisa hilang sih," bagus terus terusan ngedumel, yang membuat Jessica pun sedikit kesal, seberharga itukah jam itu?
Beberapa menit mereka mencari, kemudian mereka berdua duduk di ranjang yang ada di kamar itu, "kok gak ada ya," bagus mengingat ingat kapan terakhir ia meletakkan jam itu, dan Jessica pun terus memandangi nya, tubuh Jessica yang lelah pun menguasai dirinya, yang membuat dia seolah olah risih dengan tingkah Bagus suaminya itu, "udah lah mas, beli jam baru aja kenapa sih?" Jessica sedikit nyolot, mungkin karena dirinya benar benar lelah.
Namun tak disangkanya oleh nya, Bagus langsung menatap tajam wajah Jessica yang sedang duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Apa katamu? Beli lagi? Kamu tau nggak? Itu adalah jam kesayangan aku, jam itu satu satu nya peninggalan kakek ku." Bagus mendekatkan wajahnya ke wajah Jessica, dengan nada bicara yang sedikit ngegas, mungkin emosi telah menguasai dirinya yang membuat Jessica sedikit mengundurkan wajahnya.
Hening pun menghiasi ruangan mereka, ya!mereka hanya bisa saling diam satu dama lain, dan Jessica pun sedikit menyadari kalau ucapannya tadi memang salah dan membuat Bagus tersinggung.
Hingga akhirnya Bagus pun menoleh lagi kearah Jessica dengan tajamnya, yang membuat Jessica sedikit takut, dengan wajah marahnya itu ia menuduh jika Jessica lah yang mengambil jam tangan itu, "atau jangan jangan kamu yang ngambil jam tangan itu?!"
'jleb' tuduhan itu membuat hati Jessica hancur seketika, nafasnya pun terhenti sejenak mendengar ucapan Bagus seperti itu, pupil matanya pun membesar, dan otot otot di seluruh tubuhnya pun mendadak kaku, "apa mas? Kamu nuduh aku yang ngambil jam tangan itu? Jessica memiringkan kepalanya, mengarahkan jari telunjuk nya kearah dia sendiri yang seolah olah tak percaya dengan tuduhan Bagus itu.
Air bening pun tiba tiba menetes dari mata Jessica tanpa izin, "mas, aku ini emang orang miskin mas, tapi aku juga nggak mungkin mas ngelakuin hal yang seperti itu." Katanya terisak isak.
'brak' Jessica membanting pintu kamar.
Dan dia pun langsung pergi meninggalkan Bagus, dan keluar dari kamar itu, sementara Bagus masih terdiam tersulut emosi.
Tangisan pun tak bisa lagi Jessica bendung, ia hanya bisa duduk termenung di sofa ruang keluarga, kok bisa bisa nya mas Bagus berpikir seperti itu.
Kegaduhan pun sempat terdengar di kuping bi Darsih, yang membuat dia berlari ke depan, dan melihat Jessica yang duduk termenung di sofa.
Ia hanya bisa melihatnya di balik tembok, merasa bersalah? Ya mungkin juga sih, tapi mau bagaimana lagi? Jika rencana ini memang sudah di setting oleh orang tua Bagus, yang menyuruh bi Darsih untuk mengambil jam tangan kesayangan Bagus itu tanpa sepengetahuan nya.
Bi Darsih hanya bisa terdiam di balik tembok, dengan kedua tangannya yang menutupi dadanya, ia benar benar tidak tega melihat semua kejadian ini, bahkan dia pun tidak bisa membantu apa apa, air mata pun tak bisa lagi ia bendung, "maafkan saya non.." gumamnya.
Sementara Jessica masih termenung di sofa itu, hingga akhirnya nafasnya terhenti sejenak, ia teringat bahwasannya bi Darsih pernah masuk ke kamarnya dan bertingkah agak aneh, belum lagi ia pernah melihat bi Darsih sedang menyembunyikan sesuatu di tangannya ketika ia menjumpai nya di dapur.
Hal itu membuat Jessica curiga dengan bi Darsih, akan karakternya yang baik hati itu membuatnya sedikit tidak menyangka kalau bi Darsih berani melakukan hak seperti itu, ia pun mengusap air matanya dengan tangan dan menghirup keras cairan asin yang ada memenuhi hidungnya yang merah karena tangisan.
"Nggak, aku nggak boleh langsung menuduh bi Darsih seperti itu." Jessica menggelengkan kepalanya.
"Lagipula kan juga belum ada bukti nyata," sambungnya.
"Huuuuhhhh, tenang Jessica," Jessica menarik nafasnya dalam dalam, "kamu harus bisa menguasai diri kamu, jangan sampai salah paham ini membuatmu terpuruk."
Tubuh yang lelah pun tidak bisa Jessica bohongi lagi, rasanya benar benar ingin merebahkan tubuhnya, ia pun beranjak dari sofa itu menuju kembali ke kamar nya, bi Darsih yang berada di balik tembok pun langsung menyembunyikan tubuhnya ketika melihat Jessica yang beranjak dari sofa.
Jessica berjalan perlahan masuk ke kamarnya, melihat kedatangan Jessica Bagus pun sedikit melirik kearahnya dan langsung membuang muka berpaling dari Jessica, suasana canggung pun menghiasi mereka, apalagi Bagus yang tampak nya masih duduk termenung di kasur.
Jessica hanya terdiam mengambil bajunya di lemari, kemudian masuk ke kamar mandi untuk berganti baju.
__ADS_1