
Mama Anggi begitu terburu buru untuk bertemu dengan Jessica, "ayo buruan Pa!" Mama Anggi menarik narik tangan Papa Deni.
"Sabar dulu Ma!" Papa Deni melepaskan tangan Mama Anggi dari lengan nya, sementara Bi Darsih ia hanya bisa pasrah menunggu keputusan mereka berdua.
Papa Deni pun kembali angkat bicara, "Jessica pada saat ini pasti masih belum mau bertemu dengan kita!" Semua orang pun mendengarkan baik baik setiap kata yang keluar dari mulut Papa Deni.
"Kita harus menyusun rencana, untuk bisa bertemu dengan dia." Sambungnya.
"Pemikiran Papa tampak nya sama dengan pikiran saya," gumam Bagus mengernyitkan keningnya memandang tajam kearah Papa Deni.
Keheningan pun mulai menyelimuti ruangan itu, ya! Semuanya diam memikirkan sebuah rencana.
Hingga akhirnya papa Deni pun menemukan sebuah rencana, semua orang pun mendekat ke arahnya, dan papa Deni pun memberitahukan rencana itu.
Hmmm tampak nya rencana yang tidak begitu jenius, "kok Papa nggak seperti biasanya ya?" Gumam Bagus, mengernyitkan kening nya pandangan nya pun tajam ke bawah, ia memandangi lantai rumah itu, entah apa yang ia lihat, sepertinya ia sedang berpikir keras.
***
Malam telah di lewati, mentari pun kembali menampak kan dirinya perlahan dari arah timur, sinarnya yang semu itu membuat burung burung di luar sana terbangun dan bernyanyi dengan merdunya, embun pagi yang turun entah dari mana itu kini telah membasahi dedaunan pohon pohon yang menjulang tinggi disana.
'klontang-klontang' terdengar suara keributan di dapur Nita, Nita pun menghampiri sumber suara itu.
"Yaampun, kamu ngapain?" Pupil mata Nita membesar setelah memasuki dapurnya.
"Masak," Jawab Jessica cuek, ternyata dia lah yang berisik sendiri di dapur.
Nita pun mendekatinya dan berdiri tepat di belakang Jessica yang sedang memasak di depan kompor, bahkan seolah olah dada Nita dan punggung Jessica seperti menempel karena saking dekatnya, "masak apa? Emang kamu bisa?" Nita mengejek.
__ADS_1
Jessica pun menoleh ke padanya dan tersenyum, "buktiin aja!" Kata Jessica mengangkat kedua alisnya dengan pede nya.
"Ok," Nita Mengangguk anggukkan kepalanya.
"Aroma apa ini?" Kata Nenek yang tiba tiba masuk ke dapur entah dari mana asalnya, Nita dan Jessica pun langsung menoleh kearahnya, "ini Nek! Ada yang lagi masak," Nita mengarahkan kedua bola matanya mengarah tepat pada Jessica yang berdiri disampingnya, Jessica hanya bisa tersenyum dan tersipu malu karena nya.
Nenek pun kemudian duduk di kursi makan yang ada di dapur, "sudah lama banget Nenek nggak pernah lihat ada yang masak di rumah ini," kata Nenek.
Jessica langsung memandang sinis kearah Nita sahabatnya, wah! Nemu bahan buat ngejek selama sebulan nih, hore.
"Emang cucu Nenek satu ini nggak pernah masak?" Kata Jessica melirik Nita dengan sebuah senyuman yang mengejek.
Nenek pun tertawa melihat tingkah mereka berdua, bahkan lebih parahnya, Nenek justru ikut mengejek Nita, "setiap hari kerjaan nya beli makanan terus, boro boro mau masak, masak aja nggak bisa."
Mereka pun tertawa bersama sementara Nita hanya bisa tersipu malu, sungguh pembalasan yang telak dan berbobot dari Jessica.
Namun disaat merekahnya kebahagian diantara mereka, tiba tiba Nenek pun mengalirkan air mata, "jadi keinget dulu." Nita dan Jessica pun langsung saling pandang mendengar perkataan Nenek itu.
"Dulu, setiap kalau ada papa dan mamanya Nita pasti setiap hari ngumpul kayak gini," sambung Nenek, Jessica pun hanya bisa diam, sementara Nita ia mengelus elus pundak Nenek, "yaudah ayok dimakan dulu, ntar keburu dingin nggak enak," Nita mencoba menenangkan Nenek.
"Eh! Salah! Emang masakan nya udah nggak enak ya?!" Nita tertawa mengejek Jessica mencoba untuk mencairkan suasana, dan Nenek pun kini bisa kembali tersenyum.
Mereka pun menyantap makanan itu dengan lahapnya, "enak masakan kamu," Nenek memuji masakan Jessica, dan mata Jessica langsung melirik tajam kearah Nita dan mengejek nya dengan menggunakan mulutnya.
Hingga akhirnya terdengarlah suara bel berbunyi yang bertanda ada tamu yang datang ke rumah ini, sepagi ini? Nita pun langsung beranjak untuk melihatnya, ia melihat dari jendela terlebih dahulu, sebelum ia membukakan pintu rumahnya.
Begitu kagetnya ia, nafas nya terhenti sejenak, urat urat di tubuhnya bagaikan tak bergerak seketika, kaki kaki yang menopang tubuhnya seolah tak berdaya, ya! Ternyata itu adalah Bagus, yang datang ke rumah ini, "bagaimana dia bisa tau rumah ku?" Gumam nya kebingungan.
__ADS_1
Ia langsung berlari menuju ke dapur kembali, "Jes! Jes!" Nita masih belum bisa berkata kata, nafasnya terengah engah saat itu, bahkan untuk menelan ludahnya sendiri pun terasa sulit baginya.
"Ada apa?" Jessica masih tenang tenang saja.
"Bagus..!"
"Bagus datang kesini!" Kata Nita sembari menghembuskan perkataan nya.
Pupil mata Jessica pun langsung membesar mendengarnya, dengan refleks yang cepat ia langsung berlari meninggalkan dapur itu entah kemana, sementara Nita meloncat loncat kebingungan, namun nenek hanya bisa melihat mereka berdua, tampak nya ia bingung.
Udah lah Nek! Gausah bingung! Ini urusan anak muda, haha, oke lanjut.
Nita pun kembali ke ruang tamu, karena dari tadi Bagus terus menerus memencet bel rumah ini, ia pun mengatur ulang nafas nya sebelum membuka pintu rumahnya.
'Glek' ia membuka pintu rumahnya, jantungnya berdegup dengan kencang nya, meski ia tidak punya masalah apapun dengan Bagus, tapi seolah olah ia bisa merasakan jantung Jessica yang pastinya berdegup lebih kencang darinya.
"Oh, ada apa mas?!' kata Nita cengengesan menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
Bagus sedikit meninggikan tubuhnya melirik kedalam rumah untuk mencari Jessica, "istri saya ada di sini?" Tanya Bagus.
Nita kebingungan memberi jawaban dari pertanyaan Bagus itu, matanya melirik ke kanan dan kiri memikirkan jawaban yang tepat dalam waktu yang singkat, "eeee emang Jessica nggak ada di rumah?" Kata Nita mengernyitkan keningnya memainkan drama nya.
Bagus terdiam memandangnya, "sepertinya dia tidak ingin memberitahukan nya kepada saya."
Bagus pun tidak ingin memaksa Nita untuk mengatakannya kepada Bagus, karena bagi dia yang penting Jessica berada di tempat aman saja itu sudah cukup baginya, "oh yaudah kalau gitu, tolong kamu bantu cari ya! Soalnya dia belum pulang."
"Iya," jawab Nita dengan senyum palsunya dan masih saja memegangi tengkuk nya.
__ADS_1
Nita pun bisa bernafas lega, ia masuk kembali kedalam rumah untuk memberitahukan kepada Jessica bahwa Bagus sudah pergi meninggalkan rumah ini, namun apa yang terjadi? Jessica pergi entah kemana, satu rumah sudah ia kelilingi namun Jessica tak kunjung ia temukan di seluruh ruangan yang ada di rumah ini, berulangkali ia mencoba menghubungi nya namun tak kunjung bisa ia menelpon Jessica.