Menikahi Bocil Tengil

Menikahi Bocil Tengil
Chapter 24


__ADS_3

Disisi lain, Jessica masih tertidur pulas di kursi yang ada di depan teras Nita sahabatnya, sinar mentari perlahan menyinari wajahnya yang cantik.


Suasana pagi pun begitu indah, udara begitu sejuk, rumput rumput yang berhias air embun diatasnya, ditambah dengan suara burung burung kecil yang bernyanyi di atas pohon membuat tidur Jessica semakin nyenyak.


"Bangun! Bangun!" Satpam itu menarik paksa lengan Jessica untuk membangunkan nya.


Karena satpam itu membangunkan nya dengan cara paksa, ia pun langsung pusing seketika, karena bagaimana pun jika masih tidur dan di paksa untuk bangun secara langsung tanpa ada jeda sebentar, maka akan mengakibatkan kepala menjadi pusing, "aduh.." Jessica merintih kesakitan memegangi kepalanya.


Indah nya suasana pagi itu pun menjadi hilang karena kegaduhan itu, burung burung yang ada di depan pohon menjadi pergi karena hal itu, satpam itu terus memaksa Jessica untuk keluar dari rumah ini.


Namun disaat yang sama Nita keluar dari rumah karena kegaduhan itu, "ada pak?!"


"Ini Bu! Ada maling!" Satpam itu menunjuk ke arah Jessica.


"Hah?!" Nita seolah olah tak percaya, ia pun mendekati wanita itu, begitu kagetnya ia setelah mengetahui bahwa perempuan yang di maksud adalah Jessica sahabatnya.


Jessica pun memandang sayup kepadanya, mulutnya tidak lagi berwarna merah, matanya begitu sayup karena terlalu banyak air mata yang ia keluarkan, belum lagi hidung nya yang merah itu membuat nya semakin bertanya tanya tentang ada apa sebenarnya yang terjadi pada sahabatnya yang satu ini.


"Yaampun Jes!" Nita melepaskan paksa cengkeraman tangan pak satpam yang memegang erat lengan Jessica, "gimana sih pak! Ini itu Jessica sahabat saya!"


Satpam itu pun menunduk, "maafkan saya Non, saya tidak tau."

__ADS_1


"Makanya di tanya dulu!"


Satpam itu melihat kearah Jessica dengan penuh penyesalan, "maafkan saya Non, saya tidak tau," dan Jessica pun hanya mengangguk mengiyakan permintaan maaf dari satpam itu, "iya," katanya yang belum mood untuk mengatakan apa apa, hatinya kosong bagaikan rumah tak berpenghuni, karena orang sebelumnya menghuni hati itu telah menyayat nya, yang kini hanya menyisakan rasa sakit.


Meski Jessica sedikit bingung dengan satpam itu, bukan kah dia juga yang membukakan pintu gerbang semalem?


Nita pun memegang kedua tangan Jessica, melihat wajah nya yang tampak beda dari biasanya, "kamu kenapa Jes?" Kata Nita kasihan melihat sahabatnya seperti itu ia pun sontak ingin mengalirkan air mata karenanya.


"Nit.." kata Jessica kembali mengeluarkan air matanya, namun ia masih belum sanggup untuk berbicara.


Nita pun merangkul erat sahabatnya, bagi dia Jessica itu sudah bagaikan bagian dari tubuhnya sendiri, ia selalu berpedoman bahwasannya setiap orang muslim itu adalah sahabat bagi orang muslim, wajar jika dia juga merasa sedih jika sahabatnya itu juga sedih, sungguh persahabatan yang begitu indah, nggak kayak persahabatan jaman sekarang yamg tega nikung gebetan milik sahabatnya sendiri, ups, hehe.


Nita pun terus merangkul Jessica dan mengajaknya untuk masuk, kemudian menyuruhnya untuk duduk dulu di sofa empuk yang ada di dalam sana, "kamu istirahat aja dulu di sini."


Pandangan Jessica menyapu ruangan itu, ia melihat sebuah foto disana, kemudian i a berdiri untuk melihatnya, di dalam foto itu terdapat ayah, ibu, Nita, dan adiknya, "pasti enak jadi Nita, punya keluarga yang masih utuh," Gumamnya lama memandangi foto itu, dan tanpa ia sadari air bening pun kembali keluar dari matanya melewati kedua pipinya yang lembut, ia teringat dengan kondisi keluarga nya sendiri, ia merasa kehidupannya begitu hancur, ia sudah tidak mempunyai ibu, dan kini ia telah berhasil di permainkan orang oleh orang kaya itu, itulah yang kini ada di benak nya.


"Jes..!" Kata Nita lembut sembari berjalan membawakan teh hangat untuk sahabatnya.


Jessica bergegas mengusap kedua matanya yang basah karena air bening yang keluar dari matanya, ia pun membalikkan tubuh nya menghadap ke arah Nita, "iya."


"Nih di minum dulu, teh nya, lo pasti haus kan," kata Nita sembari menaruh teh hangat itu di meja.

__ADS_1


Jessica pun mendekat kemudian duduk disamping Nita sahabatnya, sementara Nita membuka ponsel nya, untuk mencari tau apa yang sebenarnya terjadi kepada Jessica tanpa sepengetahuan nya, dan ternyata benar dugaan nya, ada sesuatu yang telah terjadi tadi malam, Jessica berulangkali menelponnya tanpa ia ketahui.


Ia pun memandang Jessica yang sedang menyeruput teh hangat itu, "kira kira ada apa ya?" Gumam nya bertanya tanya, karena ia nggak tega untuk menanyakan hal itu, yaa setidaknya biarkan dia tenang dulu dan mengatakan hal yang sebenarnya terjadi.


Lama ia memandang wajah Jessica dengan pandangan Jessica yang tampak begitu kosong, sepertinya ia memang sedang menghadapi masalah yang besar.


'Ting' ponsel Nita berbunyi, bola mata Jessica pun langsung melirik tajam ke arahnya, yang membuat Nita mengalihkan pandangan matanya dari Jessica.


Jessica pun langsung mengambil paksa ponsel itu dari Nita, Nita pun kaget melihat tingkah Jessica yang menjadi seperti ini, namun ia hanya bisa diam melihatnya, dan memahami psikis nya saat ini.


Jessica mengecek dari siapa pesan itu, namun ketika ia mengeceknya ternyata itu adalah pesan dari ibu Nita, ia pun mengembalikan ponsel milik Nita, dan Nita hanya diam kebingungan, kemudian melihat ponselnya.


"Nit! Kalau ada nomor nggak di kenal yang hubungin kamu, jangan pernah ku balas!" Kata Jessica mengancam Nita, sepertinya fikiran nya benar benar sedang kacau, dan mungkin ia tidak ingin posisi dia di ketahui oleh keluarga itu, karena ia tau kalau mereka pasti akan mencarinya.


'kring-kring-kring' ponsel Jessica berbunyi tanda ada panggilan masuk.


Ia pun melihatnya, siapa yang menelponnya, dan ternyata itu adalah Bagus yang status nya masih suaminya, karena bagaimana pun belum ada kata talak yang keluar dari mulut Bagus, karena bagaimana pun yang bisa memutus hubungan pernikahan adalah seorang suami saja, tidak ada kekuasaan dalam istri untuk mencerai suami.


Ia pun langsung mematikan telpon itu, bahkan tak tanggung tanggung, ia mematikan handphone nya supaya tidak ada lagi yang bisa menghubungi nya lagi.


Nita yang sembari tadi memperhatikan nya pun hanya bisa diam melihat sahabatnya itu.

__ADS_1


Nita pun memutuskan untuk mengajak sahabatnya itu istirahat di kamarnya, "Yaudah kamu istirahat dulu aja ya! Di kamar ku.'


Nita pun menggandeng tangan Jessica dan mengajaknya untuk masuk ke kamar nya, sementara Jessica hanya pasrah dan diam ketika Nita menggandengnya, tatapan matanya pun masih kosong dan seolah olah tak berpenghuni.


__ADS_2