Menikahi Bocil Tengil

Menikahi Bocil Tengil
Chapter 19


__ADS_3

"Jes, Jes, mau kemana?" teriak Nita yang keluar dari mobil dan menyusul Jessica yang berlari.


"Mas Bagus man?" tanya Jessica kepada Pak Amir dengan nafas yang terengah engah dan disusul oleh Nita yang tiba tiba datang dengan nafasnya yang juga terengah engah karena berlari menyusul Jessica.


"Waduh ini ada apa ya?" Pak Amir kebingungan menggaruk rambutnya dengan wajahnya yang kebingungan.


"Mas bagus kemana?" tegas Jessica kepada Pak Amir.


"Eeee, anu," Pak Amir belum bisa berbicara dengan lancar.


"Dimana Pak Amir...?!"


"Tenang Jes..., jangan tergesa gesa dong.'" Nita menepuk lembut pundak Jessica.


"Eee, Den Bagus nya di dalam, lagi cari barang," jawab Pak Amir dengan jari jempolnya menunjuk toko elektronik dengan santunnya, meski wajahnya agak bingung sih.


Jessica pun bergegas masuk ke toko elektronik itu, disusul Nita yang mengekor di belakangnya, Jessica berlari bagaikan orang yang kemasukan setan, benar benar tidak memperhatikan etika nya sama sekali, sepertinya rasa rindu telah meresap ke seluruh penjuru urat nadinya, cieee.


"Maaf ya," Nita memohonkan maaf untuk Jessica kepada orang orang yang ia lewati tanpa sopan, bahkan ada orang yang ia tabrak, "jalan pakai mata mbak," kata orang itu, namun Jessica tidak memperdulikannya, "maafin temen saya ya pak," kata Nita kepada orang itu.


Jessica pun langsung masuk ke toko itu, pandangan nya menyapu seluruh sudut ruangan tanpa ada yang terlewat, mencari pria tengil yang notabene adalah suaminya itu.


Jessica berjalan mengelilingi toko itu, mencucinya di setiap sudut toko ini.


'kring-kring' ponsel Jessica berbunyi tanda ada telepon masuk, ia pun langsung mengangkatnya tanpa mengecek siapa yang menelponnya "kamu dimana sih Mas..?" kata Jessica tampak seperti orang yang benar benar lelah dengan sikap Bagus.


"Maaf Bu, saya Dian." suara orang dalam ponsel itu membuat wajahnya bosan seketika, sementara Nita ia sangat kepo dengan siapa yang menelpon nya itu, "siapa?" kata Nita dengan nada pelan bagaikan sedang berbisik.


Namun Jessica tidak menanggapinya, "iya ada apa?" Tanya Jessica kepada Dian.


"Mohon maaf Bu sebelumnya," Dian tampak bingung ketakutan.


"Iya ada apa ngomong aja," kata Jessica dengan tangan kirinya yang memegang siku kanan nya.

__ADS_1


"Tapi mohon maaf banget buk sebelumnya," Dian masih tidak jelas, jantung nya pun tampak berdebar lebih kencang dari biasanya.


"udah kamu ngomong aja, jangan buat saya emosi gitu deh!" kata Jessica sok galak, padahal dalam lubuk hatinya yang dalam ia tidak tega melontarkan kata kata itu, mungkin karena ia sedang berposisi sebagai bos kali ya, jadi harus menjaga kewibawaan di depan anak buahnya.


Tapi emang seharusnya gitu sih, kita tau dimana kita harus berperan sebagai atasan, dan dimana kita berperan sebagai seorang teman, sebagai kakak, maupun sebagai orang tua, itulah yang kayaknya sulit terjadi diantara kita, dahlah ngomong apaan sih, gak jelas banget, hehe.


Dian menarik dalam dalam nafasnya yang terdengar jelas dari dalam ponsel, "jadi gini Bu, semua properti yang ibu nyuruh kita jual itu semuanya sudah terjual Bu,"


"Ya bagus kalau gitu," Jessica menyela perkataan Dian.


"Tapi masalah nya bukan itu Bu."


"Terus?"Jessica menggaruk hidungnya.


"Semua barang sudah di bawa oleh si Pembeli, tapi uang nya belum di kasihkan kepada kami, lalu..." Dian terhenti sejenak.


Kemudian meneruskan perkataan nya, "nomor orang itu tidak bisa lagi dihubungi, kontak kami di blokir," Dian terbata bata.


"oh," jawab Jessica biasa bisa aja, sementara Dian masih diam bersiap untuk mendengarkan setiap perkataan yang akan dilontarkan oleh Jessica.


"Ada apa?" Nita kepo.


"Itu, karyawan aku jual barang kena tipu, barangnya dibawa kabur tapi uangnya belum di bayarkan," jelas Jessica.


"Terus?" Nita memandang tajam wajah Jessica matanya melotot tajam, ia benar benar penasaran dengan apa yang di lakukan Jessica.


"Udahlah biarin aja gausah dibahas," kata Jessica cuek sembari berjalan untuk mencari pria tengil itu, "Jes, Jes, tunggu," Nita menyusulnya, dan mereka pun kembali berjalan mencari Bagus di toko ini, Seluruh sudut toko seolah olah sudah ia lewati, "kemana sih mas Bagus," kata Jessica seolah olah ingin mengeluarkan air mata, ia pun duduk di sebuah sofa di dekat Jendela.


"kenapa gak nyuruh Pak Amir buat nganterin sih?" kata Dian yang ada di belakangnya mencoba menawarkan opsi kepada sahabatnya itu.


Jessica pun langsung menoleh kearahnya, "bener juga kamu Nit,"


Nita hanya memutar bola mata malas, "kamu aja yang kayak kerasukan setan, otakmu jadi gak bisa berpikir deh," batinnya cengengesan."

__ADS_1


Jessica pun beranjak berdiri dan hendak berjalan keluar menghampiri Pak Amir, namun Nita menarik lengan bajunya, "eh! eh! itu mobil Pak Amir udah pergi!"


Pupil mata Jessica pun membesar seketika setelah mengetahui bahwa Bagus dan Pak Amir sudah pergi meninggalkan toko ini, ia pun langsung berlari sembari menarik lengan Nita dan bergegas untuk menyusul Pak Amir dan Bagus itu, "mau kemana sih mereka sebenernya?" Jessica bertanya tanya.


Nita pun dengan sigapnya langung menyalakan mobilnya dan segera menyusul Mobil Bagus itu, ia pun mulai mengegas mobilnya perlahan, 'dok-dok-dok' terdengar suara body luar mobilnya yang di gedor dari belakang, "Nit! Nit!" ia pun langsung menoleh kebelakang untuk memastikan ada apa.


Pupil mata nya pun membesar seketika setelah mengetahui kalau itu adalah Jessica yang ternyata belum masuk ke dalam mobil, "gimana sih, orang aku belum masuk juga, main jalan aja," Jessica ngomel ngomel sembari masuk kedalam mobil, Nita hanya cengengesan melihat nya, kok bisa ya ia gak memperhatikan Jessica yang belum masuk, ia bertanya tanya cengengesan.


"Ayo jalan! kenapa diem coba," kata Jessica masih sedikit kesal, yang melihat Nita yang malah memandanginya dan tak kunjung menjalankan mobilnya.


"Udah siap? entar ketinggalan lagi," kata Dian tertawa sedikit berusaha menghibur sahabatnya itu, kemudian menjalankan mobilnya untuk mencari Bagus yang mana bangkai mobilnya sudah tidak dapat lagi di jangkau oleh indra penglihatan mereka berdua.


mobil pun berjalan menyisir keramaian kota ini, dengan kecepatan yang tinggi Dian memacu mobilnya, yaaa meskipun Jessica agak takut sih kalau jalannya ngebut, tapi semua itu ia lewati demi Bagus semata, ya! pria tengil itu benar benar telah memenuhi pikiran Jessica, ia hanya bisa memejamkan mata, kedua tangan nya memeras erat kursi mobil itu karena saking takutnya, wah, kayaknya Nita harus mengganti kursi mobil nya nih habis ini, ups, hehe.


mereka pun terus berjalan, dan sepertinya Bagus sudah pulang ke rumah, menimbang rute jalan yang mereka lewati kali ini, "kayaknya suami lo itu udah pulang ke rumah deh," kata DIan sembari melihat kearah sahabatnya yang masih murung itu.


"Yaudah kita pulang aja," kata Jessica pasrah.


Dan tak lama kemudian sampai lah mereka di rumah Jessica, pupil mata keduanya pun membesar seketika, "nah! itu mas Bagus udah pulang," teriak Jessica sembari menunjuk mobil yang terparkir di depan rumahnya.


Dan Nita pun memasukkan mobil nya ke area rumah Jessica, tampak di depan teras, Pak Amir yang sedang menyeruput kopi dengan nikmatnya.


Setelah mobil terparkir rapi, Jessica pun bergegas keluar dari dalam mobil dan langsung menghampiri Pak Amir di sana, melihat kedatangannya, Pak Amir langsung berdiri dan membungkukkan kepalanya, wah, bakal kena semprot nih.


"Pak Amir! kenapa tadi pergi gak bilang ke saya dulu," Jessica ngomel ngomel, di susul oleh Nita yang berlari dibelakang nya "udah Jes, sabar," Nita mengelus pundak Jessica dengan lembutnya, dan Jessica pun menarik panjang nafasnya.


"Maaf Non! tadi Den Bagus yang nyuruh untuk segera pulang, katanya udah laper banget," Pak Amir terbata bata ketakutan.


Jessica menarik dalam dalam nafasnya mengatur emosinya, "emang tadi mas Bagus pergi kemana?" tanya nya.


"Tadi seharian muter muter cari play station," jawa Pak Amir.


"Ha!" Nita kaget mendengarnya, masa udah nikah masih main game, mungkin itu yang ada di otaknya kali ini.

__ADS_1


"Yaudah, sekarang Mas Bagus nya dimana?" Jessica kembali bertanya.


"Ada di dalam Non," kata Pak Amir sembari mengarahkan jempolnya kedalam rumah, dan Jessica pun segera masuk kedalam rumah dengan menggandeng tangan Nita sahabatnya, "ayo masuk!"


__ADS_2