
"huh! Dasar!" Gumam Jessica melepas paksa ikat rambut yang mengikat rambutnya sembari berjalan menuju lemari besar dan mengambil handuknya.
Dengan wajah yang bete, ia berjalan ke kamar mandi dengan kaki yang ia hentak hentak kan di lantai, 'brakk' Jessica membanting pintu kamar mandi.
Ia pun menghadap cermin besar di sana, kedua tangan nya memegang wastafel itu dengan keras nya, memandangi wajah nya sendiri, "Jessica! Kamu harus sabar!" Gumamnya memberi semangat pada dirinya sendiri.
Tak mau memikirkan hal hal yang aneh, Jessica pun segera mandi dan menghilangkan kotoran dan kuman kuman yang melekat di tubuhnya.
Setelah selesai mandi, Jessica pun keluar dari kamar mandi, ia membuka pintu dan menggaruk garuk rambutnya dengan handuk, dan tampak Jelas di mata Jessica seorang laki laki tengil yang sedang merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Bagus langsung terduduk ketika melihat Jessica yang baru saja keluar dari kamar mandi, ia pun langsung berdiri mendekat ke arah Jessica yang masih berada di ambang pintu kamar mandi, "loh loh, mau ngapain bocil ini?!" Gumam Jessica sedikit menggerakkan kaki nya ke belakang, sementara Bagus ia terus berjalan mendekat ke arah Jessica dengan wajah datarnya.
Tubuh Jessica terus mundur, hingga tanpa ia sadari ia tepat berada di tengah tengah pintu masuk kamar mandi, melihat Bagus yang semakin mendekat kearahnya, ia pun memejamkan matanya dan sedikit memalingkan muka nya ke bawah.
"Minggir! Gua mau lewat!" Kata Bagus seperti anak kecil yang lagi ngambek.
Nafas Jessica terhenti sejenak, ia pun menggeser tubuhnya dan memberi ruang kepada bagus untuk masuk ke kamar mandi, tentu dengan wajah linglung nya, "huh! Kirain mau ngapain," Jessica menarik dalam dalam nafas nya, dan kemudian pergi untuk berganti baju, lalu duduk di meja rias untuk merias wajahnya, ia memandangi wajahnya sendiri, yang tampak bersinar di dalam cermin itu, ia pun teringat kata kata Bagus waktu itu, yang mana Bagus tidak suka jika Jessica terlalu berdandan ketika hendak pergi keluar rumah.
Senyuman tipis pun merekah di wajahnya ketika mengingat ucapan Bagus waktu itu, karena Bagus tidak mau jika kecantikan Jessica istrinya itu di nikmati oleh banyak orang, lalu ia memutuskan untuk tidak terlalu berdandan kali ini.
Tepat pada saat itu Bagus keluar dari kamar mandi, dan melihat Jessica yang sedang berdandan di meja rias miliknya, "kamu mau kemana?" Tanya Bagus yang tiba tiba berdiri di belakangnya, yamg terlihat jelas di cermin yang berada tepat di depan Jessica.
Jessica pun berhenti sejenak, dan mereka pun saling tatap satu sama lain dari dalam cermin itu, "woy! Budek lu?!" Bagus sedikit mendorong kepala Jessica dari belakang.
"Enak aja!" Jessica menjauhkan kepalanya dari Bagus, merasa senang? Jelas! Karena Bagus sudah mau berbicara dengan Jessica, apa dia sudah merelakan jam tangan itu? Atau cuma lupa? Kalau jam tangan nya hilang?
__ADS_1
"Aku mau pergi sama temen aku," jawab Jessica yang sok jaga image.
"Emang kamu udah sholat subuh?" Bagus bertanya memiringkan kepalanya dan terlihat jelas pada cermin itu.
"Ya ampun! Aku lupa!" Jessica menepuk jidatnya sendiri, dan ia langsung bergegas untuk melaksanan sholat subuh, karena bagaimana pun solat itu wajib di laksanakan meskipun diluar waktunya, alias qodlo.
Ia bergegas melaksanakan sholat, sementara Bagus mengganti pakaian nya lalu pergi keluar dari kamar ini.
"Untung di ingetin sama mas Bagus," Gumam Jessica setelah selesai sholat, dan ia pun lanjut mempersiapkan dirinya, karena sebentar lagi ia akan keluar, tapi kali ini ia tidak terlalu me make up wajahnya, karena nurut dengan kata kata Bagus suaminya, yang membuat dia benar benar berbunga bunga, yaaah meski endingnya Bagus mengatakan kalau kata kata itu ia dapat dari pak kyai gurunya, tapi setidaknya ia pertama kali mendengar kata kata itu dari Bagus.
Ia memandangi tubuhnya sendiri dari cermin itu, membolak balik kan tubuhnya ke kanan dan kiri memastikan tiada satu pun ketidak rapian nampak dari dalam tubuhnya, ia merapikan ulang hijabnya, meniup niup bagian atas kerudungnya.
Setelah dirasa olehnya semua telah rapi, ia pun mengambil tasnya di meja itu, kemudian mengecek barang barang apakah yang akan ia bawa kali ini.
Ia pun berjalan keluar dari kamar ini dan keluar rumah dengan senyuman tipis yang terus merekah di wajah nya.
"Loh, non Jessica mau kemana? Kok wajahnya agak pucat gitu?" Tanya Bi Darsih yang melihat Jessica keluar dari kamarnya ketika Bi Darsih sedang merapikan meja makan.
"Mau pergi bentar Bi!" Kata Jessica dengan senyuman nya.
"Non Jessica sakit? Kok wajah nya pucat gitu?"
Jessica diam sejenak, "mmmmm jawab nggak ya?" Gumamnya cengengesan bahagia, "nggak papa kok Bi" Jessica langsung pergi meninggalkan Bi Darsih.
Ia pun berjalan ke teras, namun tak ia jumpai dimana keberadaan mobil hitam itu, wajahnya pun menengok ke kanan dan kiri menyapu seluruh area parkir dan teras ini, namun tak ia dapati juga keberadaan mobil itu, bahkan sepertinya, Pak Amir pun juga tak ada di kamarnya.
__ADS_1
Melihat hal ini, Jessica pun langsung bergegas mencari Bi Darsih "Bi Darsih-Bi Darsih!" Jessica sedikit teriak, dan tiba tiba Bi Darsih muncul dari arah pintu dapur, "ada apa Non?!" Bi Darsih sedikit panik, nafasnya pun ter engah engah.
"Pak Amir kok nggak ada ya Bi?" Tanya Jessica.
Bi Darsih bisa sedikit bernafas lega, "kirain apaan Non."
"Tadi di ajak sama Den Bagus pergi," sambungnya.
"Hah!' pupil mata Jessica pun membesar seketika, nafasnya pun ter engah engah tersulut emosi, "gimana sih! Udah tau aku mau pergi!" Jessica ngomel ngomel dalam hati.
Ia pun membuka ponsel nya dan memesan taksi online untuk ia pergi, karena ia sudah terlanjur membuat janji akan nongkrong bareng dengan teman Nisa teman lamanya, dan menunggu nya di depan pintu gerbang, yaah meski agak panas sih, tapi ya gapapa lah.
Dan tak lama kemudian datang lah taksi online itu di hadapannya, "mbak Jessica?" Tanya sopir itu, "iya," Jessica mengangguk kemudian masuk kedalam mobil.
"Mau ke rumah sakit mbak?" Sopir itu menghadapkan wajahnya kebelakang.
"Nggak! Ngapain ke rumah sakit?" Jawab Jessica ketus.
"Terus mau kemana?" Sopir itu kembali bertanya.
"Ke Green Caffe aja!"
"Oh, kirain mau ke rumah sakit, soalnya wajah mbak nya pucat gitu," kata Pak sopir itu sedikit cengengesan.
"Jessica langsung membuka ponsel nya dan menyalakan kamera depan nya untuk memastikan apa benar sih wajah nya pucat, "emang wajah ku pucat ya?" Jessica bertanya tanya melihat setiap sudut wajahnya.
__ADS_1