Menikahi Bocil Tengil

Menikahi Bocil Tengil
Chapter 11


__ADS_3

"enak nya ngapain ya abis ini?" Gumam Jessica sembari mengaduk kopi untuk suaminya.


"Oh, iya aku masak aja abis ini, terus abis subuh nge teh, mandi," Jessica panjang lebar.


_________________


"Ini mas kopi nya," Jessica meletakkan kopi di atas meja teras, dan Bagus di situ tampak diam merenung, tumben nggak sama ponselnya, Jessica pun duduk di kursi sebelahnya, dan ada meja di tengah mereka berdua, "mmmm emang mas kalo pagi biasanya duduk disini?" Tanya Jessica menyandarkan kepala pada tangannya yang menyiku ke meja, memandangi Bagus, sementara Bagus melihat kearah taman kecil yang berada di depan rumah.


"Ya nggak sering sih, tapi sering juga." Jawaban Bagus membuat jessica bingung, "hah?" "Udah lah terserah." Gumamnya.


"Oh gituu," Jessica mengangguk berpura pura paham.


"Eh iya, aku lupa mas," Jessica menepuk jidatnya, lupa kalau dia mau masak.


"Lupa apa?" Bagus penasaran.


"Nggak, nggak papa kok," Jessica berjalan meninggalkan Bagus dan Menuju dapur.


"Aduh, udah jam Berapa ini, cukup nggak ya buat masak?" Jessica melihat kearah jam tangannya dan sedikit meloncat loncat kebingungan mencari peralatan masak.


Dapur pun seolah olah menjadi seperti konser, ya! rame sekali, hingga membangunkan Bi Darsih yang kamar nya berdekatan dengan dapur, "ada apa non,?" Tanya Bi Narsih Sembari membenarkan sarungnya, dengan matanya yang berkedip kedip ngantuk.


"Ini Bi, aku mau masak, wajan nya di mana ya?" Jessica menghadapkan tubuh nya.


"Itu non," Bi Darsih memberi isyarat dengan jempolnya, kalo wajan itu ada di bawah meja.


Jessica pun mencoba melihatnya, "oh itu, " Jessica cengengesan.


"Udah biar saya aja non, yang masak."


"Nggak papa Bi, aku pengen masak, apalagi masakan buat suami aku sendiri, udah mendingan Bi Darsih sholat tahajjud aja sana, mumpung bangun,"


"Oh iya juga ya non," Bi Darsih mengangguk.


"Iya." Jawab Jessica, kemudian Bi Darsih pergi ke kamar mandi, tampak nya ucapan Jessica itu di dengarkan oleh Bi Darsih, udah kayak guru aja nih, padahal tadi aja yang bangunin juga mas bagus, hehe, kalo ga di bangunin paling jam segini juga masih molor.


Jessica pun memasak nasi goreng, yang ada saat itu hanya nasi, karena Bi Darsih biasanya belanja di pagi hari, dan tak lama kemudian datanglah bi Darsih untuk membantu.


Setelah beberapa lama kemudian terdengarlah suara adzan masuk ke gendang telinga Jessica, ia pun bergegas untuk ke kamar "tolong bibi terusin dulu ya, aku mau solat dulu." Perintah Jessica sembari mencuci kedua tangannya.


Setelah sampai kamar, ia pun bergegas mengganti pakaian nya, takut Bagus tidak nyaman dengan bau nya, yaaa maklum lah abis masak, masih bau bawang merah, hehe.


'ceklek' suara pintu yang di buka, dan ternyata itu Bagus, "udah sholat?"


"Belum."


"Yaudah ayo solat dulu," dan mereka pun melaksanakan solat seperti biasanya.

__ADS_1


"Ayo mas sarapan dulu," kata Jessica.


"Yaudah ayok." Mereka pun berjalan menuju meja makan, dan ternyata nasi goreng tadi sudah di siapkan di meja oleh Bi Darsih.


Jessica pun mengambilkan makanan untuk suaminya, sementara Bagus menahan kantuknya dengan berkedip kedip, dan sesekali menggosok matanya dengan telunjuknya, "segini cukup mas?" Jessica melihatkan piring di tangan nya, "udah segitu aja," kata Bagus.


Dan mereka pun menyantap makanan itu, Jessica terus menanti nanti bagaimana pendapat Bagus masakan nya itu.


Dan Bagus tampak sedikit memiringkan kepalanya, seperti layaknya chef yang sedang menilai makanan, "tumben bi Narsih enak masakan nya." Kata Bagus.


"Itu bukan bi Narsih mas yang masak, tapi Jessica," kata Jessica dengan bangga nya.


"Masak? Pantes rasanya beda." Bagus terheran, membuat hati Jessica berbunga bunga.


"Oh iya mas, nanti aku jadi ke caffe nya," kata Jessica.


"Yaudahlah pergi aja," Bagus menggaruk garuk rambutnya, tampaknya rasa ngantuk telah menguasai dirinya, maklum sih, karena semalem nggak tidur demi game nya.


"Mas ngantuk? Yaudah aku ke sananya nanti sendirian aja,"


Namun Bagus hanya diam, memandangi sedikit nasi goreng sisa yang masih ada di baskom, "sini biar aku habisin," Bagus memberi petunjuk kepada Jessica untuk mengambilkan baskom itu.


"Mas suka?" Jessica menjulurkan baskom itu, Bagus mengangguk, "pinter kamu masaknya."


Pujian itu membuat hati Jessica meleleh bagaikan es batu yang di bakar, hehe.


"Udah mas?"


Bagus tampaknya sudah menghabiskan makanan itu tanpa sisa, "yaudah sini aku beresin." Jessica mengambil piring Bagus, "makasih ya." Kata Bagus sembari pergi meninggalkan meja makan dan menuju ke kamar, sementara Jessica membereskan meja itu dan membawa piring piring itu ke dapur, dan kemudian pergi ke kamar untuk mengambil pakaian nya, lalu mandi untuk siap siap pergi ke caffe dan butik itu, wah manajer baru nih.


***


"baju udah, sepatu udah, tas juga udah serasi, bagus deh," Jessica membolak balik kan tubuhnya di depan cermin besar di kamarnya, untuk memastikan celah mana yang masih belum rapih.


"Udah, waktunya pergi," Jessica bersemangat, "yaampun tampak nya capek banget suami ku ini, hihi" gumamnya yang melihat Bagus sedang tidur di kasur putih empuk dengan pulasnya.


Dia pun berjalan keluar menuju teras dan memerintahkan pak Amir sang sopir yang tengah mengelapi mobil hitam mercedes benz dengan kilaunya, "pak! Tolong anterin saya ke butik," perintah Jessica "oh, baik non."


Pak Amir segera membukakan pintu untuk Jessica, dan kemudian mulai menyalakan mobilnya, yok kita berangkat.


Mobil pun berangkat, dibawah terik mentari di pagi hari, yang sinarnya menyentuh pori pori Jessica dengan hangatnya, ya! Cuaca yang sangat bersahabat dengan kondisi hati Jessica yang sedang bersemangat.


Tak lama kemudian sampai lah mereka pada tempat tujuan, sebuah butik kuno dan caffe yang seolah olah tak terurus, "yah kok masih sepi." Jessica bingung.


Dan mobil pun berhenti tepat di depan caffe itu, lalu turunlah Jessica dari mobil itu dengan anggun nya, maklum lah manajer baru harus jaga image, hehe.


"Kok pada belum berangkat yah, emang biasanya buka jam berapa nih caffe," gumam nya sembari duduk di kursi yang ada di depan caffe itu.

__ADS_1


Lama ia menunggu para karyawan datang, dan ia memilih untuk membuka ponsel nya, dan ternyata sudah ada balasan pesan dari ayahnya "waalaikum salam, alhamdulillah ayah sehat sehat aja, tapi tolong kamu kirimin uang buat ayah makan hati ini." Isi pesan itu, yang membuat Jessica sedikit bingung masa kemarin minta uang satu juta udah abis aja, namun Jessica merasa kasihan dengan ayahnya, bagaimanapun juga ia adalah ayahnya, dan kasihan juga karena ia hidup seorang diri di kampung.


Tanpa berpikir panjang, Jessica pun membuka m banking nya dan mengirim uang 200 ribu kepada ayahnya.


"Maaf buk! Caffe nya masih belum buka," ada pegawai caffe yang menegurnya yang membuat Jessica sedikit kaget, "oh iya mbak, gak papa, saya tunggu," jawab Jessica sopan, ia tidak mau menonjolkan dirinya bahwa dia lah manajer baru caffe ini, mungkin pegawai ini masih belum kenal, lagipula juga bukan pegawai kasir saat itu, yang sudah pernah melihatnya.


"Maaf buk, tapi terasnya mau saya bersihkan dulu, soalnya nanti ada manajer baru yang akan datang ke sini."


"Oh yaudah gapapa, saya cari tempat duduk yang lain saja." Jawab Jessica sedikit cengengesan.


Jessica berjalan menuju butik yang berada tepat di sebelah caffe ini, dan tampak nya disana juga ada pak Amir yang sedang duduk duduk santai di depan butik itu, melihat kedatangan Jessica pak Amir pun sedikit kaget dan langsung berdiri, Jessica pun menghampiri nya dan duduk duduk juga disana, "udah nyantai aja pak, silahkan duduk lagi aja gak papa kok." Kata Jessica.


"Iya non," pak Amir terbata bata sembari duduk lagi di kursinya.


"Mmmm pak Amir emang udah lama jadi sopir nya mas Bagus?" Jessica membuka obrolan.


"Ya kurang lebih satu tahun non, setelah den Bagus pulang dari pesantren nya." Jawab pak Amir sedikit tersenyum.


"Oh gituu." Jessica mengangguk.


"Emang mas Bagus itu emang dari dulu kayak gitu ya orang nya? Tingkahnya maksutnya?"


"Kalo dulu waktu pertama pulang sih nggak gitu non, tapi setahu saya sih emang orang nya agak pendiem, tapi sekali bicara udah kayak mufti, bijaksana banget." Jelas pak Amir panjang lebar.


"Emang iya?"


"Setahu saya sih gitu non."


Mereka pun terus mengobrol dengan asyiknya, hingga tampak pada pupil mata Jessica para karyawan sudah berdatangan masuk ke caffe itu, dan tampaknya petugas kasir dan zaki juga ada disana.


Tak lama menunggu melihat keberadaan Jessica di situ penjaga kasir langsung menghampiri nya dan menyuruh Jessica untuk masuk ke cafe, karena para karyawan sudah berkumpul.


"Mari bu, saya antar,"


"Bentar, nama kamu siapa?" Jessica bertanya.


"Nama saya dian bu," jawabnya santun.


"Oh, dian.." Jessica sedikit mengangguk, "kamu terakhir pendidikan nya apa?" Jessica penasaran.


"Saya sarjana ekonomi."


"Hah!" Pupil mata Jessica membesar karena kaget kok bisa gitu seorang s1 ekonomi kerjaannya jadi kasir.


"Kok kamu jadi kasir?" Jessica bingung sedikit mengerucutkan muka nya.


"Pak Bagus yang menyuruh nya," jawabnya, dan Jessica hanya mengangguk dan bingung kenapa seorang s1 malah disuruh mas Bagus buat jaga kasir? "Yaudah ayo kita kesana!" Jessica beranjak berdiri.

__ADS_1


"Mari."


__ADS_2