
Pak sopir pun bergegas melepas ban mobil itu dan lebih memilih untuk membawanya ke bengkel terdekat.
Kini tinggal lah mereka berdua di dalam mobil itu.
Bagus masih sibuk dengan game nya, sementara Jessica kebingungan hendak berbuat apa, karena percuma jika dia mengajak bicara Bagus yang sedang khusyuk itu.
Kemudian ia teringat dengan kartu ATM dan tabungan yang di berikan oleh mertuanya tadi, ia pun segera mendownload aplikasi m banking dan memasukkan username dan password yang tertera di buku tabungan itu.
Betapa kagetnya ia setelah berhasil memasukkan akun itu ke ponselnya, bagaimana tidak kaget? Bahwasannya di dalam buku tabungan itu terdapat uang sebesar sembilan miliar, wow! Sembilan miliyar?!
Pupil matanya pun membesar memandangi ponsel itu, "wow! Sembilan miliyar?" Jessica masih tak percaya.
"Mau di apakan uang sebanyak ini!" Sambungnya.
Merasa tidak enak? Tentu! Karena posisi dia adalah menantu, sedangkan mendapat kepercayaan yang begitu besar dari mertuanya, melebihi anaknya sendiri dalam mengelola keuangan.
Mungkin sedikit beda ya sama mereka yang jadi budak harta, mungkin udah kabur aja ngelihat uang sebesar itu, ups, ya maaf.
Jessica segera menutup ponselnya ketika Bagus melihat ke arahnya, bukan maksud menyembunyikan nya dari Bagus, tapi lebih ke khawatir jika Bagus menggunakannya hanya untuk keperluan game nya, kan kebutuhan rumah tangga masih banyak.
"Aku harus mengelola uang ini dengan baik!" Jessica begitu semangat.
"Besok kita pergi ke rumah orang tua kamu ya!" Kata Bagus menutup ponselnya.
Mungkin ini kesempatan yang baik bagi Jessica untuk ngobrol dengan suaminya.
"Iya," Jessica mengangguk.
"Sudah mas buat akun baru nya?" Sambung Jessica.
"Udah, nanti lagi di lanjutin, capek juga main handphone melulu."
"Kamu capek? Aku lebih capek mas, nggak kamu ajak bicara dari tadi," gumam Jessica.
"Eh! Iya mas! Dulu kamu menempuh pendidikan di mana sih? Kok kelihatannya pemikiran kamu bijaksana banget?" Tanya Jessica yang menghadapkan tubuhnya kepada Bagus.
"Meski lebih banyak bego nya sih," gumam Jessica.
"Oh, dulu aku sejak kecil memang belajar di pesantren, dan di sana itu nggak boleh bawa handphone, pokok nya sengsara deh, tapi aku seneng karena benar benar banyak ilmu di sana, mungkin di luar sana juga banyak tempat pendidikan pendidikan, tapi kebanyakan mereka belajar untuk lulus dan bekerja, sementara di pesantren mereka belajar untuk paham dan di amalkan." Kata Bagus panjang lebar.
Jessica hanya diam terkagum mendengar ucapan Bagus itu.
"Pantes, pemikirannya benar benar terbuka, oh, jadi aku tahu, mungkin kesukaan nya pada game itu bentuk pelampiasan dari dia yang dulu, yang nggak main handphone sama sekali." Gumam Jessica mengangguk angguk.
"Terus gimana lagi kehidupan di pesantren?" Jessica penasaran.
"Di sana itu makannya ada porsi nya masing masing, jadi kita nggak bisa makan banyak, tapi justru itu, kita menjadi orang yang peduli dengan sesama dan kuat menahan lapar dan cobaan," jawab Bagus yang benar terlihat dewasa di mata Jessica, meski tingkahnya masih kaya bocah, hehe.
"Kalau kamu dulu pendidikannya di mana?" tanya Bagus menghadap Jessica yang membuat nya sangat senang sekali.
"Akhirnya ada momen seperti ini juga," gumamnya.
"Kalau aku dulu terakhir di SMA, setelah itu di suruh ayah membantunya jualan."
"Oh, gitu, jadi kamu punya banyak pengalaman jualan dong?" Tanya Bagus.
"Ya sedikit sih," jawabnya cengengesan.
"Dulu kamu punya pacar apa enggak?" Tanya Bagus.
"Enggak punya sih," jawab Jessica.
"Kalau kamu?" Jessica bertanya balik.
"Pacaran? Lihat cewek aja susah di pesantren," Bagus sedikit tertawa.
Momen berduaan seperti ini lah yang sangat diinginkan oleh Jessica, ia benar benar menikmati momen ini, momen yang mungkin sangat langka ia temui.
Jessica benar benar sangat bahagia, senyuman pun terus merekah dari wajahnya, dan obrolan mereka pun terjadi begitu lama, hingga terlihatlah pak sopir dari depan sedang membawa ban mobil itu.
__ADS_1
"Akhirnya Selesai juga pak sopir itu," kata Bagus.
"Ngapain cepat banget sih datang nya sopir itu, merusak momen aja," gumam Jessica cemberut.
Bagus pun keluar untuk membantu sopir itu, mungkin dia kasihan.
Sementara Jessica masih senyum senyum sendiri mengingat ingat momen tadi.
Rasa nya benar benar bahagia banget, sepertinya Bagus yang seperti itu lah yang ia inginkan, bukan Bagus yang sibuk dengan game online nya, tapi mungkin itu mustahil sih, ya semoga saja bisa tercapai.
Tak lama menunggu, selesai lah pak sopir memasangkan ban itu, mereka pun melanjutkan perjalanan, hingga sampai lah di rumah mereka, ya! Rumah yang membuat dua insan yang berbeda itu bertemu.
Hari menginjak siang, semoga saja para pelayan itu sudah menghidangkan makanan untuk di santap, lapar juga sih, sejak tadi belum makan, apalagi jantung yang terus menerus berdegup kencang dari tadi, mungkin karena baru kali ini Jessica ngobrol dengan keluarga bagus.
Meski cukup aneh sih keluarga nya, tapi dari situ Jessica bisa mengambil pelajaran, bahwa ayah dan ibu Bagus pun juga memiliki karakter dan pola pikir yang berbeda, tapi mereka juga bisa hidup bahagia, apa benar ya kata orang orang kalau sepasang suami istri itu saling melengkapi?, Dan satu lagi yang lebih penting, yaitu kita tidak akan pernah menemukan kesempurnaan kecuali hanya pada rokok sampurna, hehe.
Mereka pun masuk ke dalam rumah, dan akhirnya keinginan Jessica pun terpenuhi, yaitu ada makanan yang bisa di santap.
"Lapar apa nggak mas?" Tanya Jessica memandang Bagus dengan penuh harap agar ia juga lapar, mungkin lagi kecanduan momen kali ya?
"Iya lapar juga nih," kata Bagus, yang membuat Jessica sangat bahagia.
"Tapi aku mau ke kamar dulu bentar ya," pinta Jessica.
"Tungguin aku lih!" Sambungnya.
"Iya," kata Bagus cuek.
Jessica segera bergegas menuju ke kamar, dan di dalam sana sudah ada satu pelayan yang sedang membersihkan kamar.
'DAK' Suara sebuah laci yang sedang di tutup oleh pelayan itu, dan entah kenapa seolah olah pelayan itu seperti terkejut ketika melihat kedatangan Jessica.
Jessica pun langsung masuk ke kamar mandi, mungkin karena saking kebelet nya.
Tak lama kemudian, ia pun keluar, dan masih ada pelayan itu di kamar nya.
Jessica pun bergegas untuk segera menuju ke ruang makan, khawatir Bagus makan duluan tanpa Jessica.
Sepertinya pengalaman sebelumnya memang benar benar telah menyerang alam bawah sadar Jessica, hehe.
Tapi bisa juga sih, dari naluri istri yang selalu ingin di perlakukan baik oleh suaminya.
Udah lah nggak penting juga di bahas.
Akhirnya ia pun sampai juga di ruang makan, meski jaraknya nggak begitu jauh sih, yaitu berada tepat di depan kamar nya.
Begitu kagetnya Jessica yang melihat Bagus suaminya itu sedang duduk menunggu nya.
Hati Jessica pun bagaikan layang layang yang terbang di udara, "kesambet apaan nih orang?" Gumamnya.
Namun ia tak memperdulikan nya, karena bagi dia sekarang adalah memanfaatkan momen ini dengan sebaik baik nya.
Ia pun langsung duduk di depan Bagus.
"Udah makan belum mas?" Tanya Jessica.
"Belum."
"Kok tumben nggak makan duluan?" Mata Jessica melirik ke arah Bagus.
"Tadi kata nya suruh nungguin kamu,"
Jessica hanya tersenyum menahan ledakan kebahagiaan nya.
Bagus pun menjulurkan tangannya untuk mengambil piring, melihat itu Jessica langsung menyerobotnya, "biar aku aja," kata nya.
"Kaya anak kecil aja," sahut bagus.
"Kamu ini loh mas mas, tingkah kayak anak kecil gitu kok masih ngerasa dewasa," gumam Jessica cengengesan.
__ADS_1
Jessica pun segera mengambilkan makanan untuk suaminya, bahagia? Oh! Jelas! Karena baru kali ini ia bisa melayani suaminya, yang mana adalah sebuah impian bagi semua istri, eh! Untuk istri yang mencintai suaminya kali ya?
Tapi nggak papa juga sih, kalau kalian punya pasangan yang membuat anda sering marah marah dan kesal, minimal kan kalian masih punya status berpasangan, daripada udah tua nggak punya pasangan? Kan malah kena mental nanti, hehe.
Becanda becanda, nggak usah di masukkan kedalam hati ya, biarlah masuk masuk sendiri, hehe.
Udah lah, ngomong apaan sih Bambang! Hehe.
Oke lanjut.
"Mas Bambang mau makan apa?"
Eh kok mas Bambang sih, kok jadi grogi gini ya? Hehe.
"Mas Bagus mau makan apa?" Tanya Jessica.
"Nasi, tempe sama sambal aja."
"Kok cuma itu aja? Nggak doyan ayam?" Jessica kembali bertanya.
"Doyan sih, cuma masih enak tempe sama sambal."
Jessica pun segera mengambilkannya dan memberikan nya kepada Bagus dengan bangga nya, "ini mas."
Dan Bagus pun segera menyantap nya.
Hingga tiba lah momen di mana sepasang kekasih ini makan bersama, tak henti henti mata Jessica melirik ke arah suaminya, begitu bahagia nya dia, tuhan! Sering sering lah membuat momen seperti ini.
"Gimana kalau kita pergi ke rumah orang tua kamu nya nanti sore?" Tanya bagus dengan mulutnya yang masih penuh dengan makanan.
"Gimana ya?" Jessica memiringkan kepalanya.
Agak sok imut sih, mungkin lagi caper.
"Ya udah deh, terserah kamu aja," kata Jessica.
"Nanti aja jam setengah tiga sore, soalnya akun game ku masih baru, jadi masih butuh perjuangan yang keras," Kata Bagus.
"Ya ampun, masih ingat aja ama game nya," gumam Jessica.
Tak lama kemudian selesai lah mereka menyantap makanan itu, dan Bagus pun langsung pergi begitu saja meninggalkan Jessica menuju ke ruang keluarga.
Namun Jessica lagi lagi sudah mulai paham dengan karakter suaminya itu, ia pun membuntuti nya dari belakang, ternyata benar dugaan nya, Bagus lagi lagi memainkan game nya.
Tapi tak masalah bagi Jessica, yang penting ia benar benar puas dengan momen tadi.
Ia pun kembali ke ruang makan tadi, dan dilihatnya piring piring kotor itu masih ada di sana.
Jessica ini orang nya memanglah orang yang suka dengan kebersihan, dana mata nya tidak tahan melihat kotoran yang ada di meja itu, ia pun segera mengambilnya dan membawa nya menuju dapur, dan di sana lagi lagi ia dapati pelayan tadi, ya! Pelayan yang membersihkan kamar nya tadi.
Pelayan itu sedang memandangi sesuatu yang ada di tangannya.
'DAK' tong sampah yang tidak sengaja Ter tendang oleh Jessica, yang membuat pelayan itu benar benar panik, dan menyembunyikan sesuatu yang ada di tangan nya.
Sebenarnya Jessica sedikit penasaran sih, dengan apa yang ada di tangan pelayan itu, namanya juga perempuan, suka nya kepo dengan segala hal, hehe.
Tapi Jessica bisa mengontrol dirinya, mungkin itu sebuah privasi, yang mana setiap orang punya hak untuk merahasiakan nya.
Dan ia pun menaruh piring piring itu di meja yang ada di dapur, dan segera menuju kamarnya untuk mandi, gerah juga sih, panas panas enak nya kan mandi.
Ia berjalan meninggalkan dapur, tiba tiba teringat lah dalam otaknya suaminya yang tengil itu, yang membuat Jessica tidak jadi masuk kamar dan memilih untuk melihat suaminya yang ada di ruang keluarga.
Cie baru juga di tinggal bentar, masak udah rindu aja.
Sesampainya di sana, Bagus sudah tertidur dengan handphone yang masih berada di tangannya.
"Huh! Dasar bocah!" Jessica menggaruk jidatnya.
Kasihan melihat suaminya itu, Jessica kemudian mengambil ponsel itu dari tangannya dan menaruhnya di meja, kemudian membenarkan posisi Bagus yang tertidur dengan posisi duduk.
__ADS_1