
Hendrik masih saja diam seribu bahasa, ia berusaha keras untuk mengambil nafas nya dalam dalam, namun seolah olah dadanya bagaikan terikat oleh benang, ya! Mendadak sesak entah kenapa.
Jessica masih melihat nya dengan tajam, ia menantikan jawaban yang keluar dari mulut Hendrik sang ayah, "kemana perginya uang uang itu Pa!" Jessica memegang bahu Hendrik, dan lebih mendekatkan lagi tubuhnya.
Hendrik pun memandang nya, kemudian ia pura pura menangis untuk menutupi semuanya.
Pupil mata Jessica membesar melihat bapaknya itu merengek menangis, "loh! Kenapa Bapak menangis?" Jessica kebingungan merasa bersalah.
"Maafin Jessica Pa! Jessica nggak bermaksud apa apa, Jessica cuma pengen tau aja, Jessi ca nggak..." Hendrik memotong pembicaraan Jessica, ia merangkul kan tangan nya, "maafin Bapak, Bapak bukan Bapak yang berguna bagi kamu," kata Hendrik memainkan drama nya.
Perempuan mana yang tega melihat ayah nya menangis? Tentu tidak ada, Jessica langsung mengalirkan air mata melihat Bapak nya seperti itu, ia pun langsung memeluk erat tubuhnya, "maafin Jessica Pa! Jessica nggak bisa jadi anak yang berbakti!" Jessica menangis terisak isak.
Hendrik pun membalas rangkulannya, namun di balik Jessica? Ia seperti Tertawa kecil, karena drama nya telah sukses memperdaya Jessica.
Jessica yang tadi nya marah besar dan berpikir buruk pada Hendrik, kini berubah bagaikan seorang malaikat tanpa sayap, berkat manipulasi Hendrik yang berhasil memperdayai nya.
Hendrik pun melepaskan rangkulan itu, karena manipulasinya berhasil membuat Jessica terperdaya, kini ia semakin nyaman dengan sandiwaranya.
"Jadi dulu...", Hendrik mengusap matanya, dan Jessica pun menyimak nya dengan penuh rasa kasihan.
Hendrik terdiam sejenak, ia sengaja melakukan nya agar suasananya lebih terlihat sedih di mata Jessica, "dulu waktu ibu kamu di rumah sakit, bapak nggak punya uang sepeserpun, dan terpaksa bapak hutang kesana kesini," jelasnya panjang lebar, bahkan bisa membuat Jessica mengangguk angguk mendengarnya, sepertinya ia benar benar percaya.
"Dan untuk biaya rumah sakit kamu pasti tau sendiri," pandangan Hendrik menoleh kearah Jessica yang duduk di sampingnya, Jessica pun menyahut perkataan Hendrik, "pasti mahal," dengan tatapan kosongnya membayangkan jika ia diposisi ayahnya.
"Itu kamu tau..!"
"Belum lagi buat acara kirim doa buat ibu kamu selama tujuh hari, dapet uang dari mana bapak kalau nggak hutang?" Sambung Hendrik.
Jessica mengangguk, "iya juga ya!"
Padahal pada waktu itu Hendrik menggunakan tabungan Mia atau istrinya itu untuk mencukupi kebutuhan kebutuhan tadi, sebenarnya sih, semua orang gak mau berbohong, kecuali kepepet, ya kan! Haha.
__ADS_1
"Yaudah, ayok sarapan dulu!" Ajak Hendrik.
"Udah, tadi Jessica udah makan," kata Jessica menyelipkan rambut di kupingnya, karena tadi jilbab nya sedikit longgar.
"Jessica mau ke kamar aja, ngantuk,hehe." Kata Jessica cengengesan meninggalkan bapaknya dan masuk ke kamarnya.
Sesampai nya di kamar, ia pun langsung merebahkan dirinya, ia termenung disana menatap barisan genteng yang tertata rapi di atas sana, ya! Beberapa genteng sudah tidak layak, dan beberapa kayu pun juga sudah rapuh.
Ia merasa kasihan dengan ayah nya mengingat kesusahan nya dulu, tanpa sadar ia mengalirkan air mata, disisi lain ia sempat sedikit bahagia karena ia berhasil menjadi orang kaya dadakan, dan bisa mencukupi kebutuhan ayahnya yang hidup seorang diri di kampung, namun ketika ia mulai mengingat perlakuan keluarga itu yang mama Jessica pun juga malas untuk menyebut namanya, ia pun menjadi bingung, kini harus berbuat seperti apa untuk mencukupi ayahnya, kembali ke keluarga itu? Sama sekali tidak terpikir di benak Jessica.
Terus menerus melamun, tanpa sadar ia pun terlelap berlabuh ke pulau kapas.
***
Hari menginjak sore, ia pun terbangun dari tidurnya dan bergegas untuk mandi, dan setelah mandi ia pun berdandan rapi kemudian mencari dimana keberadaan ayahnya, san ternyata ia sedang di teras dan duduk duduk disana, ia pun menghampirinya dan duduk di sampingnya, "eh, Jes!" Sapa bapaknya di balas dengan senyuman oleh nya, "iya pak!."
Ia pun duduk disana, rasanya teringat masa lalu dengan situasi seperti ini, "huh! Rasanya kangen banget sama situasi ini," gumamnya.
"Bagus nggak kesini?" Tanya Hendrik.
Kini yang ia tanamkan di hati dan pikiran nya adalah melupakan Bagus, dan tanpa sadar ia pun keceplosan, "udah lah gausah sebut sebut nama itu lagi!" Kata Jessica ketus.
Hendrik yang mendengarnya pun kaget seketika, pupil matanya membesar seketika, "ada apa sebenarnya?" Gumamnya
"Kenapa? Ada apa dengan Bagus? Kamu marahan?" Tanya Hendrik bagaikan sedang interview kerja.
Pupil mata Jessica pun kini membesar, detak jantungnya berdegup lebih kencang, "yaampun! Aki keceplosan lagi!", Gumamnya, nafasnya terasa sesak seketika, aku harus jawab apa?
Jessica kebingungan seketika, bahkan untuk duduk pun ia terasa tidak tenang, "eee," ia masih belum bisa menjawab pertanyaan itu, "aduuuh kok bisa jadi gini sih!" Gumamnya menyalahkan dirinya sendiri.
Jessica pun hanya diam berpikir sejenak, "jika aku berbohong, mungkin situasi akan aman saat ini, tapi berdampak buruk jika ketahuan suatu saat nanti," gumamnya berpikir.
__ADS_1
"Tapi itu kan kalau ketahuan? Kalau enggak?" Seolah olah bertarung antara malaikat dan setan.
"Tapi nggak enak juga hidup dalam sebuah sandiwara."
"Apa ngaku aja ya? Mungkin memang Bapak akan marah, tapi setidaknya nisa berdampak baik buat kedepannya," Jessica terus berpikir, ia berperang sendiri dengan pikirannya.
"Kok diem?" Hendrik mendesak Jessica yang sejak tadi hanya diam aja tidak segera menjawab.
Jessica menarik panjang panjang nafasnya, ia pun memutuskan untuk bercerita apa yang sebenarnya terjadi, dan ia pun membongkar semua nya kepada Hendrik ayahnya.
Hendrik langsung terkejut mendengar pengakuan Jessica, bukan khawatir dengan hubungan nya dengan Bagus, akan tetapi ia khawatir jika Jessica tidak bisa lagi memberi uang kepadanya.
Ia pun memutar otak nya agar ia bisa mengembalikan Jessica ke keluarga itu.
"Apa bener Pak Deni memperlakukan kamu seperti itu?" Kata Hendrik memancing Jessica agar ia berpendapat kalau Hendrik berada di pihaknya.
"Iya," Jessica pun menangis.
"Apa nggak lebih baik kamu dengerin dulu penjelasan dari Bagus dan keluarganya?" Tanya Hendrik menyentuh pundak putrinya dan mendekatkan wajahnya
"Udah lah nggak usah di bahas!" Jessica meninggikan suaranya.
Hendrik pun mengarahkan pandangan nya ke tempat lain, memikirkan cara apa yang akan ia gunakan, "Nak!," Hendrik kembali melihat Jessica.
"Nggak baik sifat kayak gitu, semuanya itu harus di pikirkan dengan matang, kamu nggak boleh mengambil keputusan dengan kondisi kamu masih marah," kata Hendrik sok ngajarin.
Jessica mengusap air matanya, memandang ke wajah Hendrik, nafasnya pun tertarik panjang tanjang tanpa keinginan nya.
"Lebih kamu kembali dan dengarkan alasan mereka, nanti kalau sudah punya kesimpulan, baru mengambil keputusan."
"Apa kamu nggak kasihan dengan ibu yang ada di alam sana?" Hendrik terus menerus menasehati nya.
__ADS_1
Bagaimana pun posisi Jessica adalah seorang anak, yang pasti akan selalu beranggapan bahwa ayahnya adalah orang paling nomer satu di dunia ini.
"Udah lah pak! Jessica males bahasnya," ia pun pergi masuk ke kamarnya.