Menikahi Bocil Tengil

Menikahi Bocil Tengil
Chapter 8


__ADS_3

Jessica terus menerus memandangi Bagus tanpa sepengetahuan nya, bagaimana bisa tahu? Orang orangnya aja selalu sibuk dengan ponsel nya.


"Gimana ya? Aku harus bertahan apa menggugat cerai?" Jessica kebingungan.


"Tapi nggak tega juga jika aku tinggalkan mas Bagus sendirian," Jessica masih belum bisa mengambil keputusan berat ini.


Tak lama kemudian datang lah mereka di rumah Jessica, rumah kecil di pinggir desa.


Tampak di sana ayahnya sudah menunggu kedatangan mereka di teras rumah.


Melihat kedatangan putri dan menantunya itu ia langsung berdiri memberi sambutan terbaiknya.


"Ayo silahkan masuk!" Kata ayah Jessica.


Bagus pun langsung mencium tangan mertua nya.


Mereka berdua pun masuk.


"Silahkan duduk!"


Bagus pun duduk, sementara Jessica langsung masuk ke kamar nya, dan merebahkan diri di sana, mungkin karena saking rindu nya.


"Gimana kabarnya nak Bagus?" Tanya ayah Jessica yang terdengar dari kamar nya.


"Alhamdulillah baik, kabar om sendiri gimana?"


"Alhamdulillah juga baik, panggilnya ya jangan om dong! Panggil ayah aja."


Mereka berdua pun ngobrol dengan asyik nya, dan Jessica pun teringat, apakah sudah ada yang di hidangkan di sana, Jessica pun keluar dari kamarnya dan menuju dapur membuatkan minuman untuk mereka berdua.


Namun tak lama kemudian tiba tiba datang lah ayahnya, "ngapain?"


"Oh, buatkan minuman pak," jawab Jessica.


"Udah bapak di sana aja, nemenin mas Bagus," sambungnya.


"Aku mau ngomong bentar sama kamu," bapak Jessica memandang tajam ke arahnya.


"Ya tinggal ngomong aja lah pak,"


"Aku minta uang 1 juta," kata bapak.


"Loh! Kok banyak banget pak? Emang buat apaan sih?" Jawab Jessica.


"Udah pokoknya kasih aja! Jangan membantah!" Kata bapak Jessica yang sedikit keras kepadanya.


"Aku nggak bawa uang cash pak!" Kata Jessica.


"Ya udah pakai kartu ATM ini," bapak Jessica menjulurkan nomer rekening kepadanya, kemudian pergi.


Jessica pun tidak bisa berbuat apa apa, ia pun membuka aplikasi dompet digital nya dan mengirim ke rekening tersebut apa yang di minta oleh bapak nya tadi.


Setelah beberapa lama, selesai lah ia membuatkan dua cangkir kopi untuk suami dan bapak nya, kemudian mengantarkan nya ke sana.

__ADS_1


"Ini minuman nya," Jessica menaruh dua kopi itu di meja, kemudian duduk di samping bagus.


"Sepertinya kalian bahagia banget," kata bapak nya.


"Bahagia apa nya pak," gumam Jessica.


"Iya kami bahagia kok," kata Bagus dengan pede nya.


Jessica pun langsung melirik sinis ke arah suaminya itu, "kayak tahu artinya bahagia aja kamu mas," gumam Jessica yang sedikit kesal, mungkin karena masih terbawa emosi.


Mereka berdua pun ngobrol dengan begitu asyik nya, sementara Jessica tidak menyimak obrolan itu sama sekali, ia hanya memainkan ponsel nya pasti karena mood nya lagi kacau.


"Nak Bagus! Titip anak saya ini ya, tolong bimbing dia dengan baik," kata bapak Jessica kepada Bagus.


"Boro boro mau bimbing aku pak, ngatur hidupnya sendiri aja nggak bisa," gumam Jessica.


"Iya pak, doain aja."


"Ngomong ngomong kok dari tadi nggak ketemu ibu nya Jessica ya?" Tanya Bagus yang membuat Jessica dan ayahnya terhenti sejenak.


Namun Bagus pun seketika menyadarinya bahwa ibu Jessica telah tiada, "maaf! Kalau pertanyaan saya menyinggung kalian."


"Enggak papa kok, memang ibu Jessica itu sudah lama meninggal Korban tabrak lari, dan kami pun juga tidak tahu siapa pelaku nya." Kata bapak Jessica.


"Emang tidak lapor ke polisi?" Sahut Bagus penasaran.


"Sebenarnya sudah, tapi tidak juga di temukan." Kata bapak Jessica sementara Jessica hanya terdiam.


"Kalau boleh tahu mobil apa yang menabraknya dan berapa nomor plat nya, barangkali saya bisa membantu untuk mencari pelaku nya."


"Jessica yang benar benar tahu kejadian itu, soalnya pada waktu itu aku tidak bersama mereka," kata bapak Jessica.


Bagus pun memandang ke arah Jessica, "apa merk mobilnya dan berapa nomor plat nya?"


"Udah lah nggak usah di bahas lagi, semua pasti ada hikmahnya," jawab Jessica menahan rasa sedihnya.


Setelah beberapa lama mereka ngobrol ngobrol, akhirnya mereka pun pamit pulang.


Bagus melihat ke arah Jessica memberi isyarat kepada nya untuk di ajak pulang, karena waktu sudah hampir gelap.


"Ya udah pak, kami pamit pulang dulu," kata Bagus.


"Loh! Enggak nginep sini dulu?" Kata bapak Bagus, namun Bagus hanya tertawa kecil.


"Kami pamit dulu."


Mereka pun beranjak berdiri dan mencium tangan bapak Jessica, kemudian masuk mobil dan berjalan untuk pulang.


Namun suasana di dalam mobil itu tetaplah sama, yaitu hening seketika, Jessica masih terus saja menatap jendela, ya maklum lah, kalau perempuan sudah rusak mood nya pasti akan sulit untuk mengembalikan nya, hehe.


Mereka pun berjalan melewati sebuah persawahan, yang membuat Jessica teringat dengan almarhum ibu nya, air mata pun tak bisa di bendung oleh nya.


"Kamu nangis?" Kata Bagus.

__ADS_1


Jessica hanya diam saja "Ngapain mikirin aku sih?" Gumam nya.


"Aku pengen ziyaroh ke makam ibu kamu, gimana?" Kata Bagus.


Jessica hanya mengangguk.


"Tapi dimana tempatnya?" Tanya Bagus.


"Di depan sana ada gang ke kiri, kita masuk aja," jawab Jessica.


Setelah beberapa lama sampai lah mereka pada makam ibu Jessica, dan mereka pun menziarahi nya, yang membuat hati Jessica sedikit tenang dan mood nya pun perlahan membaik.


Setelah beberapa lama di sana, mereka pun kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan.


Namun saat mereka berada dalam mobil,


Tiba tiba pupil mata Jessica membesar melihat ponsel nya.


Ya! Ternyata itu ayahnya yang tiba tiba memberi pesan kepada Jessica untuk mentransfer uang lagi.


"Hah?!" Tanpa sadar Jessica mengeraskan suaranya yang membuat Bagus di sampingnya pun penasaran.


"Ada apa?" Tanya bagus.


Jessica pun terdiam sejenak, "gimana ya? Cerita ke mas Bagus apa nggak ya?" Gumamnya.


"Kalau aku cerita kira kira mas Bagus setuju apa nggak ya kalau aku ngasih uang lagi ke bapak? Lagipula uang ini kan juga untuk keperluan mas Bagus? Tapi kalau aku nggak cerita kok kesannya aku menyembunyikan nya dari mas Bagus, aduh gimana ini?"


"Kenapa? Kok diem aja?" Kata Bagus.


"Anu mas," Jessica masih menimbang nimbang pikirannya.


"Udah cerita aja," kata Bagus.


Jessica pun benar benar kebingungan dan akhirnya lebih memilih untuk menyembunyikan nya dari Bagus, "nggak enak juga jika mas Bagus mengetahui ini,"


"Enggak papa kok mas," kata Jessica dengan senyum palsunya.


"Bener? Nggak ada apa apa?" Bagus kembali bertanya.


"Bener," Jessica mencoba meyakinkan Bagus.


Kemudian Jessica menutup ponsel nya, dan membuat pikiran Jessica yang tadi nya sedikit tenang pun menjadi kacau kembali.


"Pak!" Tiba tiba Bagus berkata pada pak sopir.


"Kita mampir ke toko baju bentar ya!" Sambungnya.


"Iya bos!" Jawabnya.


"Kenapa nggak langsung pulang aja sih?!" Tanya Jessica sedikit cemberut.


Namun Bagus hanya melontarkan senyum tipis ke arahnya.

__ADS_1


__ADS_2