Menikahi Bocil Tengil

Menikahi Bocil Tengil
Chapter 14


__ADS_3

"sekarang apa yang harus aku lakukan."


Jessica berdiri di depan cermin memandangi dirinya.


"Apa sebaiknya aku panggil bi Darsih ya?"


"Apa aku ngomong ke mas Bagus aja, soal kecurigaan ku pada bi Darsih?" Jessica menimang pikirannya, lirikan mata nya tertuju ke kiri bawah yang mana secara psikologi mengandung makna sedang berpikir keras.


Kaca besar di depan sana, dengan westafel yang berada tepat di bawahnya, terpantul dari dalam cermin itu seorang gadis yang sejak tadi berdiri sembari melihat wajahnya yang cantik, rambut panjang yang terurai itu semakin membuat nya begitu menarik, namun sayang, wajahnya menggambarkan diri nya yang sedang gelisah.


'tok-tok'


Suara ketukan pintu yang membuat lamunan Jessica pun buyar seketika "apa itu mas Bagus? Apa dia mau ke kamar mandi?" Gumamnya panik, dan ia pun langsung panik merapikan baju nya, dan segera melilitkan kerudung di kepalanya.


'glek' Jessica perlahan membuka pintu kamar mandi, kosong? Kemana mas Bagus? Jessica melirik ke kanan dan kiri, pandangan nya menyapu seluruh ruangan ini mencari pria tengil yang lagi ngambek itu, namun sayang nya ia tak mendapati pria itu di kamar ini.


Ia pun berjalan keluar dari kamarnya, terdengar suara banyak orang masuk di telinga Jessica, ya! Tidak salah lagi, suara itu muncul dari ruang tamu.


Naluri perempuan yang suka kepo itu pun bangkit dari tubuh Jessica, ia pun segera menuju ke ruang tamu, ia pun melirik ke ruangan itu dari balik tembok, dan seketika itu pupil matanya pun membesar seketika, ternyata itu adalah papa Deni dan ibu Anggi yang sedang main ke rumah ini, Jessica pun segera mengecek tubuh nya dan merapikan bajunya, kemudian berjalan ke sana dengan anggun nya, yaaaa meski dalam hatinya masih agak canggung sih buat ketemu mas Bagus, tapi mau gimana lagi? Bukan kah Jessica harus menutup nutupi masalah yang ada di keluarga kecilnya? Meski bagaimana pun mereka sudah berumah tangga, sudah harus bisa mandiri dan terlepas dari bantuan orang tua.


Ia pun berjalan ke sofa kosong di sebelah sana, kemudian duduk di situ, sebenarnya masih ada sofa yang kosong di ruangan itu, yaitu di dekat Bagus, namun karena kondisi pikiran nya lah ia di paksa untuk duduk berjauhan dengan Bagus, meski hatinya benar benar ingin dekat dengan mas Bagus, namun karena kondisi nya yang lagi kurang baik membuat otak nya menyuruhnya untuk duduk berjauhan dengan Bagus, sama lah kayak kalian, meski kalian mencintai dia namun otak kalian memberi isyarat bahwa anda tidak akan di terima, kan ngenes tuh, hehe becanda Bambang.


Mama Anggi pun sedikit mengerunyutkan dahinya melirik mereka berdua, sepetinya dia sudah mulai sadar jika ada yang tidak beres dengan mereka, "kalian lagi marahan? Kata mama Anggi itu membuat nafas Jessica tertahan sejenak, ia pun reflek menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal, "eeee." Matanya pun sedikit melirik kearah Bagus.


Bagus yang sejak tadi melirik kearah Jessica itu langsung memalingkan mukanya seketika disaat Jessica melirik kearahnya.


"Gimana jawabnya ini? Mas Bagus juga diem aja lagi." Gumamnya sedikit menoleh kearah kiri.


***


Hari sudah menginjak siang, bayangan mentari pun mulai condong ke timur, terdapat 4 orang yang sedang duduk bersama di sofa, ruangan itu masih hening tanpa pembicaraan, kecuali kipas yang sejak tadi menengok ke kiri dan kanan, dengan suara hembusan nya yang kencang, dan jam dinding yang terus menerus berputar tak peduli dan tanpa ada rasa lelah, tampak jelas disana seorang perempuan yang kebingungan tidak karuan, wajah cantiknya pun seolah hilang bagaikan matahari yang tertutup gerhana, nafas nya pun keluar masuk dengan tergesa gesa bagaikan kencing yang sudah tak tertahan.


Ia terus menggerak gerak kan bola matanya ke kiri dan kanan, menimang nimang pikiran nya jawaban apa yang harus ia berikan, tubuhnya pun seakan tegang bagaikan patung selamat datang, rasa nya segera mengakhiri obrolan ini yang seolah olah membuat dia tidak tenang.


"Ciee cieee yang lagi marahan," Kata mama Anggi memecahkan hening nya keadaan, dengan tubuh yang sedikit bergoyang mengejek, pandangan nya pun tertuju pada mata Jessica yang sembari tadi kebingungan, sementara Bagus memutar bola mata nya, tampak wajahnya yang sedang tidak mood untuk memulai pembicaraan.


"Maaa, apaan sih!" Papa Deni menepuk tubuh mama Anggi yang sedang duduk di sampingnya, mungkin ia mengingatkan kalau mama Anggi sudah kelewatan, dan mama Anggi pun menengok ke arahnya, "ih seru tau pa, kayak di sinetron sinetron, hihi." Mama Anggi cengengesan.


"Maa," papa Deni mengerinyitkan kening nya menahan istrinya untuk menghentikan ke konyolan nya, namanya juga mama Anggi.

__ADS_1


"Ada apa Bagus, kok keliatannya lagi ada masalah?" Mata Papa Deni mengarah tepat ke wajah pria tengil itu.


"Ini nih pa!" Bagus sedikit ngotot dan mengarahkan jari telunjuk tepat kearah Jessica, pupil mata Jessica pun membesar seolah tak terima.


"Dia ngambil jam tanganku yang dari warisan kakek!" Kata kata Bagus itu membuat Jessica naik darah, akan tetapi ia tidak bisa meledak kan emosi nya saat ini, karena bagaimana pun mertuanya ada di rumah ini, jadi mau tidak mau dia harus menjaga attitude nya sebaik mungkin.


Papa Deni pun seolah olah tak percaya, dan ia pun mencoba menengahi permasalahan ini, "emang bener, kamu yang ngambil jam tangan itu?" Papa Deni bertanya kepada Jessica dengan lembutnya aga ia tidak tersinggung, karena bagaimana pun juga belum ada bukti apa apa di sini.


"Enggak pa! Serius! Demi allah!" Jawab nya tegas.


"Emang kamu punya bukti apa Bagus?" Papa Deni mengerenyutkan keningnya memandang Bagus.


Nafas Bagus pun terhenti sejenak bagaikan bertemu dengan saktah, diam sembari menahan nafas sejenak, ia tidak bisa menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh papa Deni, "eee," Bagus kebingungan memainkan bola matanya.


"Kamu gak boleh asal nuduh gitu, kalu nggak punya bukti yang kuat." Papa Deni menasehati Bagus, yang membuat Jessica sedikit lega, kini ia bisa menghembuskan nafasnya dengan lancar. "Bener tuuu," gumam Jessica geram.


"Yaudah, kalian selesaikan masalah ini sendiri, lagipula kalian juga sudah berumah tangga, jadi harus bisa mandiri dari bantuan orang tua." Papa Deni menjelaskan, namun Bagus masih seolah olah tak percaya kalau Jessica benar benar tidak mengambilnya, sementara Jessica hanya tertunduk.


'kruuuuukkk' perut Jessica berbunyi tanpa perintahnya, yang menandakan dia sedang lapar, maklum sih, karena dia tadi belum makan siang, "kamu laper?" Mama Anggi bertanya, namun Jessica hanya tersenyum cengengesan.


"Yaudah kita pergi aja makan di restoran bareng bareng, lagipula kita belum pernah kan makan bersama?" Ajak papa Deni di balas dengan anggukan oleh Jessica, sementara Bagus hanya mengikut aja, "gimana Gus?" Papa Deni bertanya, "terserah aja, " jawab nya cuek, "yaudah ayo berangkat!" Papa Deni orang pertama yang berdiri, kemudian disusul oleh mama Anggi, dan kemudian mereka pun juga berdiri.


Mereka pun berjalan bersama keluar dari rumah ini dan menuju mobil papa Deni yang terparkir rapi disana, papa Deni pun segera masuk untuk menyopir nya sendiri, kemudian mama Anggi mengisi kursi depan mobil, kini tinggal lah mereka yang harus masuk dan mengisi dua kursi yang ada di tengah.


Dan seperti biasa, Bagus langsung masuk tanpa memperdulikan Jessica, atau bahkan mempersilahkan nya masuk duluan, tapi bagaimana pun Jessica juga sudah terbiasa dengan karakter nya yang seperti itu.


Mobil pun berjalan membelah aspal, terik matahari pun menyinari wajah cantik Jessica yang sedang termenung menghadap ke jendela, otaknya seolah olah sedang di peras untuk memecahkan masalah ini, sementara Bagus yang duduk di sampingnya sedang asyik dengan ponsel nya, dan mama Anggi dan papa Deni sedang asyik mengobrol layak nya suami istri sungguhan, sungguh asyiknya pembicaraan mereka itu membuat Jessica sedikit iri, apakah keluarga kecil nya bisa seperti itu? Jessica sedikit memandangi Bagus tanpa sepengetahuan nya.


Otaknya terus memancarkan ingatannya ketika melihat bi Darsih yang sedang kebingungan setelah ia memergokinya membuka laci yang berada tepat di samping tempat tidur, apakah bi Darsih yang melakukan semua ini? Tapi bagaimana mungkin dia berbuat seperti itu? Tampak jelas dari mata Jessica sepertinya bi Darsih itu adalah seseorang yang baik.


Tak lama kemudian sampai lah mereka pada suatu caffe, ya! Sebuah caffe yang sangat estetik yang menjadi minat bagi setiap pemuda, pandanganya pun menyapu setiap sudut di tempat itu, "bagus juga nih model nya, mana rame lagi, nuansa eropa," gumam Jessica terpana.


Papa Deni pun segera memilih tempat duduk, dan tempat duduk yang di pilihnya adalah 4 kursi, dua kursi panjang yang saling berhadapan dan satu meja di tengahnya.


Papa Deni dan mama Anggi langsung mengisi dua kursi itu, mereka duduk berhadapan, dan seolah olah memaksa Bagus dan Jessica untuk duduk berhadapan, dan mau tidak mau Jessica pun duduk di kursi itu berhadapan dengan pria tengil yang ngambek itu, canggung? Jelas! Karena bagaimana pun masalah ini belumlah selesai.


Begitu asyiknya mama Anggi dan papa Deni itu mengobrol tak jelas ke sana dan kesini, sementara Bagus? Boro boro mau ngobrol, ia tetap khusyuk dengan ponsel nya, yakali dia masih ngambek.


"Silahkan, ini menunya." Kata seorang pelayan menyodorkan menu yang ada di caffe ini, dan papa Deni lah orang pertama yang melihat menu itu, "saya pesen penyetan ayam aja, kamu mau makan apa ma?" Papa Bagus bertanya kepada mama Deni, "sama aja pa!" Jawabnya.

__ADS_1


Dan disodorkan lah menu itu kepada Jessica, "kalian mau makan apa?" Tanya papa Deni.


"Nasi goreng aja."


"Nasi goreng aja."


Jawab mereka bersamaan, yang membuat mereka saling pandang tanpa sengaja.


"Cieee," sahut mama Anggi memecahkan pandangan mereka.


"Ikut ikut aja!" Kata Bagus mengalihkan pandangannya ke ponsel.


"Orang aku pengen makan nasi goreng!" Kata Jessica cuek dan mengalihkan pandangannya juga ke ponsel.


"Sudah sudah," papa Deni melerai mereka berdua.


"Yaudah mbak, pesen penyetan ayam nya dua sama nasi goreng nya dua."


"Baik pak, minumannya?" Pelayan itu berkata santun.


"Saya lemon tea aja, kalo mama?"


"Sama aja pa!"


"Kalian mau pesen minuman apa?" Papa Deni lagi lagi bertanya kepada mereka berdua.


Dan mereka pun saling lirik sejenak, pandangan keduanya pun tajam bagaikan pisau, "kamu dulu apa aku dulu yang ngomong?!" Kata Bagus, Jessica pun sedikit tersulut emosi rasanya ingin menukarkan laki laki itu dengan bawang, namun attitude nya memberi isyarat untuk dia mengontrol emosinya.


"Yaudah kamu aja," jawab Jessica pura pura lembut.


"Yaudah sama aja pa," kata Bagus.


"Gitu aja pake drama segala," gumam Jessica.


"Kalo kamu?" Papa Deni memandang Jessica.


"Es teh aja," jawab Jessica sopan, ia tak mau lagi di tuduh oleh pria tengil itu meniru dia.


"Yaudah mbak lemon tea nya tiga, es teh nya satu," kata papa Deni sembari menyodorkan menu itu kepada pelayan yang sedang berdiri dengan sopan nya.

__ADS_1


"Baik, tolong tunggu sebentar." Pelayan itu pergi.


__ADS_2