
Hari menginjak pagi, sinar hangat mentari pagi menyentuh hangat kulit ini, burung burung yang bernyanyi merdu menghiasi pagi ini, bagaikan keindahan yang tak bertepi.
Suasana di rumah Bagus masih lah seperti biasanya, semua orang beraktifitas seperti biasanya, kecuali Bi Darsih seorang diri, ia berulangkali berjalan keliling rumah ini, ia khawatir jika Non Jessica tidak ada di rumah ini, ia memasuki setiap ruangan yang ada di rumah ini, kecuali kamar Bagus dan Jessica, karena iya tak punya kuasa untuk masuk sembarangan disitu.
Hari telah menginjak siang ketakutan Bi Darsih pun semakin menjadi jadi, hingga akhirnya ia memberitahukan ke khawatirannya itu kepada mama Anggi, sembari memohon maaf dengan sungguh sungguh karena ia tidak bisa menjaga rahasia yang mereka amanat kan itu, ia pun menelpon Mama Anggi, "ada apa Bi? Kok tumben pagi pagi udah telepon," kata Mama Anggi dalam telepon itu.
Bi Darsih pun terdiam sejenak, ia bingung mau memulai perkataan nya dari mana, kemudian air mata pun kembali menetes tanpa ijin melewati pipi pipi nya yang sudah keriput itu, "maaf kan saya Bu," rintihan Bi Darsih memohon maaf.
Mama Anggi pun bingung dan mengernyitkan kening nya, "minta maaf?"
"Untuk apa Bi?" Kata Mama Anggi dengan suara kebisingan di dapur, sepertinya ia lagi masak.
Bi Darsih pun kembali diam sejenak, kemudian memberanikan diri untuk mengatakan yang sebenarnya telah terjadi.
"Jadi gini Bu..."
Mama Anggi menyimak perkataan Bi Darsih itu sembari memasak makanan, yaa perempuan emang bisa gitu sih, mereka bisa fokus pada dua hal yang bersamaan sekaligus, itu kalau menurut psikologi sih, jadi perempuan itu bisa fokus pada beberapa hal dalam waktu bersamaan sekaligus, perempuan bisa menonton tv dan menelpon sekaligus dan bisa paham keduanya, namun tidak bagi laki laki, ketika ia menonton tv kemudian di barengi dengan telepon, pasti ia tidak begitu paham dengan alur yang ada di tv itu, yaa bisa benar bisa salah sih, namanya juga psikologi, diambil dari survei ke beberapa orang.
Air mata pun tak lagi bisa di bendung oleh Bi Darsih, "Non Jessica sudah tau kalau jam tangan Bagus yang hilang itu adalah rekayasa." Jelas Bi Darsih.
Pupil mata Mama Anggi pun melebar seketika, nafasnya terhenti sejenak otot otot di sekujur tubuhnya pun menjadi tegang seketika, seolah olah darah tak mau mengalir seperti biasanya, "Apa?!" Mama Anggi mengernyitkan kening nya tak percaya.
Ia pun langsung mematikan ponsel dan mematikan kompor nya, ia berlari mencari Papa Deni suami nya untuk memberitahukan hal penting dan darurat ini.
"Pa! Pa! Pa!" Kata Mama Anggi dengan nafasnya yang terengah engah.
Sementara Papa Deni sedang duduk minum teh di ruang keluarga, sembari merenung mencari ide ide baru untuk bisnis nya, "ada apa sih Ma!"
"Itu! Itu!" Mama anggi masih terengah engah, nafasnya benar benar tak teratur, bahkan ia kesulitan untuk menelan lidah nya sendiri.
"Tenang dulu.." kata Papa Deni sembari menyodorkan air putih yang ada di depannya.
__ADS_1
Mama Anggi pun meminumnya dan mengatur ulang nafasnya.
Setelah Mama Anggi terasa sudah tenang, ia pun mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, "Jessica! Pa!"
"Jessica kenapa?" Kata Papa Deni mengangkat kedua alis nya, ia masih begitu santainya.
"Jessica tau rencana kita Pa!"
"Apa?!" Pupil matanya pun langsung melebar seketika, ia melotot ke wajah Mama Anggi, kemudian begitu panik nya berlari mengambil kunci mobil dan bergegas untuk pergi ke rumah Bagus, "ayo Ma!" Papa Deni menggandeng tangan Mama Anggi.
"Tenang Pa!" Kini Mama Anggi yang mengangkat kedua alis nya menirukan gaya bicara Papa Deni.
"Ini bukan waktunya bercanda Mama!"
Mereka pun bergegas pergi menuju rumah Bagus, begitu cepatnya Papa Deni menyetir mobilnya, ia meliuk liuk melewati mobil mobil yang ada di jalanan dengan lihainya, bagaikan Valentino rossi yang menyalip musuh musuh nya, valentino rossi itu motor bambang, bukan mobil, gimana sih lu.
Mama Anggi pun hanya bisa memejamkan kedua matanya, memegang erat kursi mobil itu, ia benar benar ketakutan, "pelan pelan Pa!'
Namun Papa Deni tidak menggubrisnya, ia kini bagaikan orang yang kemasukan setan, ia menyetir mobil bagaikan orang yang kalap, matanya pun begitu jarang untuk berkedip ia benar benar fokus dengan jalanan yang ada di depannya.
Mereka berlari masuk ke dalam rumah, "Bagus!" Teriak mama Anggi, dan ia pun mencari Bi Darsih untuk di mintai penjelasan.
Sementara Papa Deni, ia masuk ke kamar Bagus, untuk memastikan bahwa Jessica benar benar tidak ada di rumah ini.
Dan ternyata benar, di dalam kamar itu hanyalah ada Bagus seorang diri yang sedang tertidur dengan pulas nya, Papa Deni pun membangunkan nya, "bangun bangun," Papa Deni menggoyang goyangkan tubuh Bagus agar ia terbangun.
"Apaan sih.." sahut Bagus.
"Bagus! Ini Papa! Bangun sekarang!"
Bagus langsung menoleh ke sumber suara itu, betapa kagetnya ia, ternyata itu memanglah Papa nya, ia pun langsung terduduk seketika, "ada apa sih Pa?!" Bagus menggaruk rambutnya.
__ADS_1
"Istri kamu kemana?"
"Paling juga lagi kerja." Bagus kembali hendak merebahkan tubuhnya lagi, namun Papa Deni menghentikan itu.
"Bagus!" Papa Deni melototi Bagus bagaikan singa yang akan menerkam mangsa nya, Bagus pun sontak bingung seketika, ia pun mulai sedikit merasa takut.
Papa Deni kembali menyambung perkataan nya, dengan pandangan matanya yang penuh dengan amarah, "Jessica sudah tau sandiwara kita tentang jam tangan itu!" Kata Papa Deni, mata nya pun tak berkedip sekali pun.
Betapa kagetnya Bagus mendengarnya, pupil matanya sontak membesar, lirikan matanya pun sontak melirik ke arah kanan bawah, yamg mana secara psikologi mengandung arti sedang terhubung dengan orang lain, ya! Siapa lagi kalau bukan Jessica yang notabene adalah istri sah nya.
Ia pun memandang kosong kearah papa nya, namun papa Deni beranjak pergi dari kamar itu, bagus pun mengusap wajahnya, kemudian bergegas pergi ke kamar mandi.
Sementara Papa Deni, ia pergi mencari istrinya, yang ternyata sedang berada di dapur, ya! Apalagi kalau bukan memarahi Bi Darsih, kasihan ya Bi Darsih udah jadi korban, ee malah dimarahin juga, kenapa nggak di pecat aja sekalian.
"Cukup!" Bentak Papa Deni menghentikan istrinya yang sedang memarahi Bi Darsih.
"Ini bukan salah Bi Darsih," sambungnya, dan ia pun membalikkan tubuhnya, Bagus saat itu juga sudah ada disana setelah keluar dari kamar mandi.
Papa Deni berdiam sejenak, "Jessica lah yang terlalu jenius sehingga dia mampu menguak apa yang ada di balik semua itu."
"Tapi kan Pa!" Kata mama Anggi memegang lengan suaminya itu.
"Mungkin sudah waktu nya bagi Jessica untuk mengetahui semua ini," Papa Deni menunduk, sementara Bagus hanya bisa diam seribu bahasa di sana, ya! Hatinya benar benar kacau setelah kepergian istrinya.
"Tapi kali Bi Darsih nggak ngomong kalau..."
"Cukup Ma!"
Papa Deni memotong perkataan istrinya.
"Sekarang bukan waktunya untuk saling menyalahkan, kita lebih baik bekerja sama untuk segera mencari nya, pasti dia belum pergi jauh dari sini." Kata Papa Deni tegas.
__ADS_1
Dan semua orang pun mengangguk mengiyakan, kagum dengan kebijakan papa Deni.
"Kita mau nyari Jessica kemana?"