
Jessica pun masuk ke dalam kamar itu, dan disana sudah terdapat dua baskom, air termos, dan air galon, kini saatnya untuk menjalankan rencananya, cekidottt, awwww.
Ia memasukkan air galon itu ke satu baskom, kemudian mematikan lampu kamar itu, "masa lampunya aku matiin sih? Nanti kalau aku manggil Pak Amir?" Jessica khawatir kalau Pak Amir berpikir ngeres ketika lampu kamar dalam keadaan mati, tapi mau bagaimana lagi? Ini sudah termasuk bagian dari rencananya, "udah lah bodo amat!" Ia membangkitkan jiwa jiwa liar ke dalam hatinya, kemudian mematikan lampu kamar itu, dan memanggil Pak Amir untuk menjadi orang pertama yang ia panggil, "Pak Amir!" Teriak Jessica dari dalam.
Pak Amir pun masuk dengan perlahan, sepertinya ia bingung, apa yang akan dilakukan majikannya kepadanya.
"Tutup pintunya!" Pak Amir kebingungan seketika, tampak sekali ia kebingungan antara memilih lari atau menutup pintunya.
"Jangan mikir yang enggak enggak!" Bentak Jessica, "Duduk!" Jessica tampak galak.
Pak Amir pun menutup pintunya kemudian duduk tepat berada di depan Jessica.
"Pak Amir tau? Kenapa saya panggil?"
"Nggak tahu Non," Pak Amir sedikit ketakutan.
Nggak ada akhlak lu Jes! Bikin orang tua ketakutan, haha, kenapa gue jadi sinting gini ya? Hahaha, oke lanjut.
Jessica menaruh air galon yang ia tuangkan tadi itu di depannya, "Pak Amir! Di depan Pak Amir sudah ada air panas, sekarang saya perintah kan Pak Amir untuk memasukkan tangan Pak Amir, nah! Jika air ini ternyata dingin, berarti Pak Amir tidak mengambil jam tangan milik suami saya, tapi jika Air nya panas..!" Jessica sengaja diam sejenak, kemudian melanjutkan perkataan nya, "berarti pak Amir lah yang mengambil jam tangan itu.
"Bukan saya Non!" Sahut Pak Amir sedikit merintih ketakutan.
"Buktikan dengan memasukkan tangan Pak Amir kedalam baskom ini," kata Jessica tegas.
Pak Amir pun perlahan memasukkan tangannya kedalam baskom, dengan wajah nya yang benar benar ketakutan, "yaelah takut amat, tinggal masukin doang, orang air nya dingin juga," gumam Jessica bete.
Pak Amir pun akhirnya memasuk kan tangan nya kedalam baskom itu, betapa bahagia nya dia karena ternyata air baskom itu dingin, dan berarti dia terbukti tidak mengambil jam tangan itu, bisa aja dibodohi orang bodoh, haha.
"Alhamdulillah.." Pak Amir benar benar lega dan bahagia.
"Gitu aja takut banget, kalau nggak takut ngapain salah? Eh salah, kalau nggak salah kenapa takut?" Gumam Jessica.
"Yaudah, pak Amir sudah terbukti tidak mengambil jam tangan itu, sekarang Pak Amir boleh keluar," kata Jessica.
Dipersingkat aja ya, ntar bosen lagi bacanya.
Satu persatu pekerja sudah Jessica panggil satu persatu, dan kini tinggal tersisa Bi Darsih yang belum ia panggil, ya! Ia sengaja melakukan itu karena Bi Darsih lah TO atau target operasinya, ia pun mengisi satu baskom yang masih kosong itu dengan air panas dari termos.
"Bi Darsih!" Teriak Jessica memanggil targetnya, denyut jantungnya pun kini berdegup lebih kencang, karena bagaimana pun kecurigaan nya kepada Bi Darsih itu masih bersifat Dzon atau prasangka, "kenapa aku jadi gugup gini ya?" Gumamnya.
Bi Darsih pun masuk perlahan kedalam kamar gelap itu.
"Duduk!" Perintah Jessica dan Bi Darsih pupun duduk di depannya, dan di depan Bi Darsih sudah ada air panas dalam baskom itu.
"Bi Darsih! Bi Darsih tau kenapa saya melakukan semua ini?" Tanya Jessica.
"Enggak Non," jawab Bi Darsih.
Suasana di kamar itu benar benar tegang, belum lagi posisi lampu yang tidak dinyalakan, membuat persidangan ini benar benar mencekam.
"Bi! Apa bener Bi Darsih yang ngambil jam tangan mas bagus?" Pertanyaan Jessica itu menusuk tajam kedalam hati Bi Darsih hingga nafasnya pun terhenti sejenak.
'klek' pintu kamar tiba tiba di buka, dan lampu kamar pun juga menyala.
"Oh, disini to Bi Darsih," kata Bagus dengan matanya yang sayup karena bangun tidur.
"Yaampun Mas Bagus," gumam Jessica.
"Nggak bisa liat situasi apa ya? Orang enak enak udah lagi tegang juga," sambungnya.
__ADS_1
Bi Darsih pun menoleh kebelakang melihat Bagus, "iya Den."
"Tolong bikinin saya kopi," perintah Bagus.
"Mas! Aku lagi ngobrol penting lo sama Bi Darsih," kata Jessica merintih.
"Bentar doang," kata Bagus cuek, mengucek matanya.
Sementara Bi Darsih kebingungan bergantian memandangi Jessica dan Bagus.
"Kan bisa nyuruh yang lain mass,"
"Yang lain bikinan kopinya gak enak."
Jessica pun menarik panjang nafasnya, tampak nya kali ini dia mau tidak mau harus mengalah, ia memandang Bi Darsih, "yaudah Bi! Bikinin kopi buat mas Bagus aja dulu, nanti balik lagi kesini."
"Iya Non!" Bi Darsih pun beranjak pergi menuruti perintah Bagus.
"Yaampun Mas Bagus, gimana coba kalau Bi Darsih sudah merangkai jawaban untuk menjawab pertanyaan nya supaya seolah olah tidak bersalah, yah gimana sih! Kok jadi gini!" Jessica ngomel ngomel sendiri.
Jessica pun memandang baskom di belakangnya yang berisi air dingin itu, "yaampun, Bi Darsih kira kira liat ini nggak ya tadi?" Jessica pun langsung kembali mematikan lampu kamar, supaya sewaktu waktu Bi Darsih kembali iya tidak bisa melihat baskom itu.
"Aku harus memikirkan rencana," Jessica terdiam berpikir keras.
***
Setelah tidak terlalu lama Bi Darsih membuatkan kopi buat Bagus, ia pun kembali ke kamar persidangan itu, 'tok-tok' Bi Darsih mengetuk pintu kamar itu.
"Masuk!" Teriak Jessica dari dalam kamar.
Dan Bi Darsih pun kembali duduk dihadapan Jessica, "maaf Non!" Kata Bi Darsih, mungkin ia merasa nggak enak.
Ia pun kembali duduk sembari sedikit berdehem kecil, "ehem ehem."
"Baiklah Bi, mari kita lanjut!"
"Di depan Bi Darsih sudah ada air panas," nafas Jessica terhenti sejenak, pupil matanya membesar seketika, jangan jangan air ini udah dingin lagi, "goblok, airnya dingin apa nggak ya, mana air termos nya habis lagi." gumam nya panik, Jessica perlahan mengecek apakah air itu masih panas atau enggak, "huh, syukurlah, masih sedikit panas, aku harus bertindak cepat!" Gumamnya.
Jessica pun kembali menjelaskan fungsi air itu kembali, "jadi gini, jika Bi Darsih memang benar benar tidak mengambil jam tangan Mas Bagus, maka air ini akan terasa dingin ketika Bi Darsih memasukkan tangan Bi Darsih kedalam nya, tapi..." Jessica sengaja berhenti sejenak agar suasana nya lebih mencekam lagi.
Kebiasaan nih orang, pinter banget kalau buat orang tua ketakutan, ups, hehe.
Oke lanjut.
"Tapi jika Bi Darsih memang mengambil jam tangan itu, maka air panas ini akan semakin panas ketika menyentuh tangan Bi Darsih," sambungnya.
Nafas Bi Darsih pun terhenti sejenak, tampak jelas di telinga Jessica, Bi Darsih berulangkali mencoba untuk menarik nafas panjang nya namun tak kunjung ia bisa melakukan nya, karena bagaimana pun secara kedokteran, ketika seseorang itu sedang panik, maka semua otot otot nya akan tegang, dan darahnya sedikit tidak bisa mengalir dengan lancar, eh! Bener nggak sih? Gua gak tau pasti soalnya, hehe, dahlah yang penting sedikit pengetahuan buat kalian, sama untung untung bisa nambahin kata, haha, kok kesintingan gua semakin berkembang gini ya? Aaaahhhhh nggak tau lah.
Namun ketika seseorang telah bisa menarik nafas panjang nya dengan sempurna berarti dia sudah bisa rileks kembali, udah ah lanjut, bacot mulu dari tadi.
Jessica pun kembali melontarkan pertanyaan menusuk kepada Bi Darsih, "sekarang saya tanya baik baik sebelum tangan Bi Darsih saya masukkan kedalam baskom ini,"
Jessica menarik panjang panjang nafasnya, karena bagaimana pun ia sedikit gugup untuk menanyakan hal seperti itu, belum juga ia sedikit merasa kasihan dengan Bi Darsih.
"Apakah benar kalau Bi Darsih lah yang mengambil jam tangan itu?" Pertanyaan itu benar benar menusuk tajam ke relung hati yang terdalam Bi Darsih.
Widih kata kata nya, tumben bisa merangkai kata kayak gitu, haha.
Bi Darsih pun terdiam seribu bahasa, tubuhnya seakan terasa panas seketika, meski cuaca saat itu sedang dingin.
__ADS_1
Keringat dingin pun terjadi di tubuh Bi Darsih bahkan hingga menyentuh tulang rusuk nya, ya! Sepertinya dia sedang benar benar ketakutan.
Lama Bi Darsih terdiam tanpa jawaban hingga akhirnya Jessica sedikit menggertaknya, "Bi Darsih!" Tubuh Bi Darsih pun sontak bergerak karena kaget.
"Kenapa Bi Darsih diam saja," Jessica sedikit menaikkan nada bicaranya.
Isakan tangis pun tiba tiba terdengar di telinga Jessica di ruangan yang gelap gulita itu, ya! Bi Darsih tiba tiba menangis.
Tidak tega? Oh, jelas! Perempuan mana yang tega melihat orang lain menangis, apalagi seorang wanita, karena bagaimana pun wanita selalu merasakan bagaimana jadinya jika dia berada di posisi Bi Darsih, pasti air bening pun akan mengalir tanpa ijin dari pelupuk matanya, salah sendiri sih, siapa juga yang nyuruh ngerasain, haha, maaf kaum hawa.
Meski merasa kasihan, namun mau tidak mau Jessica harus mempertanyakan pertanyaan menusuk itu, karena rencana yang ia susun kini telah berhasil, ya! Kini tinggal eksekusinya, karena rencana tanpa tindakan hanyalah omong kosong belaka, yaaa setidaknya sama lah kayak kalian, punya rencana untuk menikah dengan dia tapi tak kunjung ada usaha, kan nyesek tuh.
"Kenapa Bi Darsih menangis?" Jessica memberanikan diri bertanya, namun Bi Darsih masih saja menangis terisak isak.
"Maaf kan saya Non," Bi Darsih membuka suara dengan tangisannya.
"Kenapa harus minta maaf?" Jessica berpura pura bodoh memancing pengakuan dari Bi Darsih sendiri.
"Saya terpaksa mengambil jam tangan itu," tangisan Bi Darsih semakin menjadi jadi, bahkan suaranya pun semakin kencang.
"Terpaksa?" Tanya Jessica sedikit bingung.
"Terpaksa karena apa?" Ia kembali bertanya.
Bi Darsih pun tiba tiba membungkuk bersujud kepada Jessica, "maafkan saya Non."
Merasa tidak tega, Jessica pun berniat untuk membangunkan Bi Darsih, ia mencoba memegang pundak nya dan membangunkan nya, "aduh panas!" teriak Jessica saat sikunya masuk kedalam baskom panas itu saat hendak memegang pundak Bi Darsih yang ada di depannya, goblok lu Jes! Liat liat dulu napa?, Yang naruh siapa yang kena siapa, haha, oh iya lampunya mati ya, lupa gua, sebenarnya yang goblok gua apa Jessica sih? Haha.
Jessica pun menggeser baskom itu agar tidak lagi mengenai nya, ia melihat sikunya yang terkena air panas itu, "aduh sakitt," gumam Jessica merintih sembari menggosok gosok sikunya.
"Udah, bangun Bi! Ngomong aja apa yang terjadi sebenarnya, santai aja ama jessica, Jessica tadi cuma menggertak aja, Bi Darsih cukup ngaku aja ke Jessica, Jessica janji akan menutupi masalah ini,' kata Jessica mencoba membuat suasana menjadi lebih rileks, meski sikutnya masih terasa sakit sih, sukurin lu.
Bi Darsih pun perlahan bangun sembari mengusap air matanya, dan Jessica sedikit mendekatkan dirinya kepada Bi Darsih dan merangkulnya.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Bi Darsih sampai berani melakukan tindakan yang di larang agama itu? Bi Darsih sadar nggak sih?" Kata Jessica lembut, udah kayak ustadzah aja nih bocah.
Bi Darsih pun masih diam mengatur nafasnya, dan ia pun mulai membuka ucapannya.
"Jadi..."
Bi Darsih kembali terdiam.
"Ngomong aja nggak papa kok," kata Jessica.
Bi Darsih melihat situasi sekitar, dna melihat pintu yang tertutup rapat itu, untuk memastikan tidak ada yang menguping obrolan mereka, karena hal ini tergolong urgent.
"Sebenarnya saya di suruh Non."
"Hah?!" Jessica semakin bingung.
"Di suruh siapa?" Jessica mengernyitkan keningnya lebih mendekatkan wajahnya kepada Bi Darsih dan semakin memelankan suaranya.
Bi darsih pun kembali diam hingga beberapa saat, "sebenarnya.."
Jessica masih menunggu nunggu jawaban dari Bi Darsih.
"Bi! Bilang aja siapa yang nyuruh!" Jessica tidak serantan.
"Tapi Non jangan marah ya?" Bi Darsih memandang wajah Jessica dengan raut muka yang penuh dengan permohonan.
__ADS_1
"Iya, Bi," Jessica mengangguk.