
Zia ..duduk dulu sini.
suruh Bu Dina sambil menepuk nepuk sofa.
Zia patuh dan duduk disamping ibunya.
Coba katakan ke ibu,Siapa pacar kamu.Dan apakah kamu yakin dengan apa yang kamu katakan dirumah Pak RT.
Deg
Zia bingung harus berkata jujur atau berbohong pada ibunya.
Ibu,Zia mohon ibu jangan khawatir.Tolong percaya sama Zia.Zia menggenggam tangan ibunya.
Zia akan menyelesaikan masalah ini.Jadi ibu tenang saja.
lanjutnya mencoba untuk menenangkan hati ibunya.
Huh..Bu Saras dan anaknya itu sama sama Edan,
Ibu gak akan pernah setuju kamu nikah sama si Andre.
ucap Bu saras dengan kesal.
Iya bu..lagian Zia gak akan pernah mau jadi istrinya Andre,meskipun dia hanya satu satunya pria yang tersisa di bumi ini.
Ucap Zia sambil tersenyum,dengan sedikit menggoda ibunya agar tidak cemberut lagi.
Ibu setuju,dari pada kamu nikah sama si Andre lebih baik kamu nikah sama Bian saja.
celetuk Bu Dina sekenanya.
Zia tertawa mendengar perkataan Bu Dina.
hahahhaha...ogah aku capek jagain Bian terus.Dari kecil sampai sekarang ngintilan Zia terus.
Canda Zia kepada ibunya.
Pokognya kamu harus hubungi pacar kamu itu untuk datang besok siang.Jangan sampai terlambat.
ucap Bu Dina memperingatkan Zia, sedangkan Zia tidak terlalu mendengarkan apa yang di bicarakan oleh Ibunya.
oh ya..ngomong ngomong pacar kamu itu orang mana,nama nya siapa,terus keluarganya gimana?
Bu Dina membom bardir pertanyaan kepada Zia.
Zia yang mendengarkan rentetan pertanyaan itu semakin merasa pusing.Tak tahu harus menjawab apa.
"Bagaimana aku harus menjawab pertanyaan ibu.Sedangkan aku sendiri gak tau pacar aku itu siapa".
Zia bermonolog dalam hatinya.
Eh nih anak malah bengong.
Bu Dina membuyarkan lamunan Zia,dengan memukul pahanya.
Ish ibu kepo,ketularan Bu saras nih.
Zia mencoba mengalihkan pertanyaan ibunya.
Dasar anak nakal.
ucap Bu dina gemas sambil menjewer telinga Zia.
Aduh ibu...sakit.
ish ibu..udah tau anaknya lagi sakit bukannya disayang malah di jewer.
ucap Zia sambil mengelus elus telinganya yang sakit.
Sudah sana istirahat dulu,biar cepat sembuh.
suruh Bu Dina.
Zia pun langsung bergegas masuk ke kamarnya,supaya tidak ditanyai lagi oleh ibunya.
Didalam kamar Zia merebahkan dirinya untuk beristirahat.Namun matanya tak kunjung terpenjam jua.
Zia membolak balik kan badannya,miring ke kanan,detik kemudian berbalik miring ke kiri.
sebentar dia menatap langit langit kamarnya.Detik kemudian dia tengkurap.
Entah berapa kali Zia melakukan adegan itu,hingga kepalanya bertambah pusing.Dia mengambil syal lalu melilitkan dan mengikatnya di kepala,untuk mengurangi rasa pusingnya.
Zia menutupi matanya dengan bantal menyelimuti dirinya dan akhirnya dia tertidur juga.
tok..tok...tok.
Zia bangun woii,gue bawain bubur ayam kesukaan lu nih zi.
Teriak Bian dari luar kamar Zia.
Zia yang samar samar mendengar suara Bian pun bangun dan membuka pintu kamarnya.
ceklek.
eh lu Bi,kirain siapa.
ucap zia lemas dengan mata yang masih setengah merem.
Ya iyalah gue,emang siapa lagi.
nih makan dulu gue bawain bubur.
ucap Bian sambil nyelonong masuk gitu aja tanpa nunggu aba aba dari Zia.
Zia yang sudah terbiasa dengan kebiasaan Bian yang main masuk kekamarnya itu pun tak banyak komentar,hanya membiarkannya.
Zia melepaskan syal yang melingkar dikepalanya itu.
__ADS_1
Bian menyuruh Zia tiduran.Sedangkan Dia menyuapi Zia bubur.
Ini buburnya harus dihabisin ,terus minum obat.Tadi mama nitip obat buat lu.
Ucap Bian sambil terus menyuapi Zia bubur ayam yang dibawanya.
Zia terharu dengan kebaikan sahabatnya itu.Dia selalu ada disetiap Zia butuhkan.
Kog lu tau sih gue lagi sakit.
tanya Zia disela sela makannya.
Tadi gue nelponin lu,cuman gak diangkat.
Terus gue langsung kesini,kata ibu,lu lagi sakit karena habis makan rujak kemaren.
ucap Bian menjelaskan.
Iya kemaren rujaknya kepedesaan tuh.
seloroh Zia.
iya lu juga kena karma,karena kemaren dah ngusir gue.
ucap Bian sambil monyong monyongin bibirnya,sedangkan tangannya masih setia menyuapi Zia.
ohw jadi ceritanya dendam nih?
goda Zia kepada sahabatnya itu.
ish siapa pula.Mana ada.
kalau aku dendam gak bakalan tadi aku balik kerumah terus minta resep obat ke mama terus beliin kamu bubur ini.
ucap Bian sambil mengetok ngetok mangkok yang sudah kosong itu dengan sendok.
Zia terkekeh melihat bibir Bian yang manyun.
Nih diminum obatnya.
ucap Bian sambil mrnyodorkan sebuah dua buah pil degan segelas air kepada Zia.
Zia pun patuh,karena dia tidak ingin mengecewakan kebaikan sahabatnya itu.
Mama Bian adalah seorang dokter.Dan semenjak kecil tiap kali Zia sakit Bian selalu meminta mamanya untuk memeriksa Zia.Jadi Dia sudah hafal dengan riwayat penyakit Zia.
Sekarang lu istirahat.Gue pulang ya.Besok kalau demam lu belum turun gue suruh mama kesini.
ucap bian sambil merebahkan badan Zia dan menyelimutinya.
Ketika Bian hendak pergi,Zia menahan tangan Bian.
Kenapa Zi?
Tanya bian setelah menoleh ke Zia.
Zia tidak menjawab,hanya ada air mata yang sudah mengalir dipipinya.
udah jangan nangis,gue udah tau masalah lu ama si Andre.Gue gak bakalan marah ke lu karena udah nyembunyiin fakta bahwa lu udah punya pacar.Gue malah seneng dengernya,dari pada lu nilah sama si brengsek itu.
ucap Bian mencoba menenangkan hati Zia.
Namun Zia tetap tidak berkata apa apa, malah langsung memeluk Bian,Dia nangis sesengggukan.
Bian menepuk nepuk punggung Zia dengan lembut.
Udah jangan nangis..ini gak kayak Zia yang gue kenal.Masak mau nikah aja nangis.
goda Bian pada Zia.
Zia melepaskan pelukannya.
*Bian ,mau gak lu bantuin gu**e*?
ucap Zia sambil menatap Bian dengan serius.
Bian menatap manik mata Zia yang basah,wajahnya yang sendu karena habis menangis membuat Bian mengerti dan yakin bahwa sahabatnya ini tengah ada masalah.
Bian duduk ditepian ranjang,dan menghapus sisa air mata di pipi Zia.
Ada apa,hemm..cerita ke gue.
Zia pun bercerita perihal Dia sudah berbohong kepada ibu dan juga warga soal dia mempunyai pacar dan akan datang besok.
Bian terkejut mendengar penjelasan Zia.
Jadi kamu belum punya pacar?terus besok bagaimana?
cecar Bian yang ikut panik setelah mendengar pengakuan Zia.
Zia menarik nafasnya,dan menghembuskannya perlahan.Lalu menggenggam tangan Bian erat.
Bian mau gak lu nikah ma gue?please selametin masa depan gue.
Zia memohon sambil menatap lekat manik mata Bian.
whattt!!!lu gak lagi bercanda kan.Kayaknya demam lu makin tinggi gue panggil mama kesini dulu ya.
Bian mengira Zia lagi berbicara ngaco.
Zia menggeleng gelengkan kepalanya.
Bian,kalau lu gak mau nikahin gue,maka gue bakalan nikah sama Andre.
ucap Zia sambil menangis.
Tapi Zi...lu kan tau keaadaan gue.Itu gak mungkin Zi.
elak Bian pada Zia.
__ADS_1
Gue gak peduli soal itu Bi..yang terpenting lu mau jadi calon suami gue besok,untuk masalah selanjutnya kita pikirin belakangan,Ok.
Zia memohon sambil menggenggam erat tangan Bian.Sedangkan air matanya terus saja mengalir.
Bian tidak bisa berkata apa apa lagi,Pikirannya bercampur aduk.
Bi..jangan diem aja dong,lu mau kan..please bantu gue.
ucap Zia meyakinkan sahabatnya itu.
Tapi Zi...
Bian masih bimbang,Dia bingung harus bagaimana menaggapi permintaan Zia.
Gini deh Bi..gimana setelah satu minggu kita pisah..kan kita cuman nikah siri besok.
celutuk Zia karena sudah frustasi.
Tapi Zi..pernikahan itu bukan mainan lho..dosa tau Zi kalau kita keg gitu.Terus gimana nanti kita jelasin ke ibu lu dan juga ke orang tua gue.Mereka pasti bakalan kecewa banget.
Ucap Bian dengan pikiran yang realistis.
Udahlah Bi..kita pikirin masalah itu belakangan,yang terpenting gue besok gak nikah sama si Andre.
mohon Zia lagi pada Bian mencoba membujuk untuk membantunya.
Baik lah..terserah lu aja.
jawabnya frustasi karena pikirannya tiba tiba buntu.
Akhirnya Zia tersenyum sambil mengucapkan terimakasih.Zia menghapus air mata di pipinya.
Ok..besok lu datang kesini jam empat sore ya,jangan telat.Dan jangan bilang kesiapa pun soal rencana kita.Ok.
Zia memperingati Bian untuk tutup mulut.
Bian mengangguk sebagai tanda setuju.
Ya sudah lu istirahat dulu ya,biar cepet sembuh.Gue balik dulu.
ucap Bian sambil merebahkan kepala Zia kebantal dan menyelimuti badan Zia.
Bi lu harus janji ya..jangan kabur.Kalau besok lu gak dateng gue bunuh lu.
Ancam Zia pada Bian.
Bian hanya menanggapi ancaman Zia dengan anggukan,karena ia tahu Zia tidak sungguh sungguh dengan omongannya.
Malam pun berlalu.
Bian tidak bisa memejamkan matanya.Dia memikirkan masalah yang baru saja dimulai.
Satu sisi dia tidak bisa menikahi Zia dengan berbagai alasan,di sisi lain Dia tidak ingin mengecewakan Zia dan membuatnya sedih.
Bian mencari cara agar ia tak harus menikah dengan Zia dan Zia juga tak harus menikah dengan Andre.
Setelah berkutat cukup lama dengan pikirannya,akhirnya ia menemukan ide cemerlang.
seakan akan ada bola lampu yang menyala terang benderang di dalam kepalanya.
Bian mengambil handphone nya dan mencari sebuah nama di kontak handphonenya,lalu menekan nomer itu.
Bian sudah mencoba lebih dari lima kali panggilan,namun masih belum ada jawaban.
Bian tidak mau menyerah,Dia terus mencoba karena itu adalah salah satu cara untuk menolong dia dan Zia dari masalah yang akan menimpa mereka besok.
Bian benar benar marah dan frustasi karena panggilannya belum juga dijawab hingga panggilan yang ke dua belas.
Ingin rasanya dia membanting handphone nya untuk melampiaskan kekesalannya.
Dia melihat jam yang ada di layar handphonenya ternyata waktu menunjukan jam 4 dini hari.
Jadi dia memutuskan mengirim pesan pada nomor yang ditelphonya tadi.
Ok..semoga saja dia membaca pesanku.
gumam Bian sambil menaruh handphonenya sembarangan.Karena sudah mulai lelah dengan usaha yang sudah sia sia.
Bian memejamkan matanya untuk sejenak,Ia berharap ketika ia bangun semuanya ini hanyalah mimpi buruk.
Entah sudah berapa lama ia tertidur hingga akhirnya suara ketukan pintu kamar membangunkannya.
Tok..tok..tok...
Bian..bangun!
seru Mama Bian dari luar.
Bian yang separuh jiwanya masih di alam mimpi pun berjalan dengan gontai,Ia membuka pintu kamarnya dengan mata yang masih tertutup.
Ada apa sih ma...Bian masih ngantuk nih.Hari ini Bian gak kuliah ma.
ucap Bian sambil nyenderin kepalanya ke pintu.
Bian..kamu ini lupa apa,kalau Zia sore ini mau nikah.Kamu gak mau dateng.
Ucap Bu Anggi,Mamanya Bian yang sontak membuat Bian membuka matanya lebar lebar.
Apa!!! jadi Bian gak lagi mimpi nih ma?Ini beneran Zia ngajakin Bian Nikah.?!
ucap Bian keceplosan sangking kagetnya.
Apa??kamu itu ngelindur ya,siapa juga yang ngajakin kamu nikah?Sudah sana mandi udah sore juga.
ucap Bu Anggi sambil geleng geleng kepala dengan kelakuan anaknya itu.
Bian yang sadar bahwa ia sudah keceplosan akhirnya bisa bernafas lega.Karena mamanya tidak menanggapi omongannya tadi.
Dia pun melirik ke jam yang terpajang di dinding kamarnya.
__ADS_1
Hah..sudah jam 3 sore!!Aduh gimana ini.
Bian berteriak histeris karena acaranya tinggal dua jam lagi.Dia benar benar panik.