MENIKAHI Tiga Wanita Cantik

MENIKAHI Tiga Wanita Cantik
KESALAHPAHAMAN Di KAMAR RAJA


__ADS_3

Saat itu, aku mencoba untuk memberanikan diri mengungkapkan ke inginanku.


 


“Aku hanya ingin melihat wajahmu.” pintaku kepadanya.


 


Mendengar keinginanku tersebut, dia menatapku dengan mata yang penuh keraguan, mungkin dia menganggap aku cowok murahan. Tetapi tidak lama kemudian dia memberikan mangkok obat itu kepada salah satu pelayan. Kemudian dengan perlahan dia membuka penutup wajahnya, dan hatiku berkata,


“Oh ... tuhan, sungguh sangat indah makhluk ciptaanmu yang berada di depanku ini. Aku benar – benar merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama, parasnya mengalihkan duniaku”


 


Aku tidak dapat menggambarkanya dengan kata – kata. Mataku tidak dapat berkedip melihatnya, dia seperti menyihirku. Jantungku berdebar sangat kencang hanya untuk melihat wajahnya, sebelum akhirnya dia menutup kembali keindahan itu.


 


Lalu dia bertanya, “Ada lagi yang harus aku lakukan untukmu?"


 


Aku tercengang dan tidak dapat berpikir dengan jernih, sampai akhirnya bibirku berkata tanpa perintah otakku.


 


“Kamu sangat cantik, ini untuk pertama kalinya aku melihat keindahan seperti ini.”


 


Dia tertawa malu mendengar ucapanku, lalu dia berdiri,


 


“Aku akan memepersiapkan makanan untukmu” 


 


Dia meninggalkan kamarku sambil berlari kecil, mataku tidak dapat berpaling darinya.


 


“Dia benar – benar seperti lempeng bumi. Bergeser sedikit saja sudah mengguncang - guncang hatiku.” ucapku dalam hati.


 


Dan itu untuk pertama kalinya hubunganku berjalan dengan baik dengan Putri. Tidak lama kemudian Dewi masuk kembali ke kamarku, ternyata dia menunggu di depan pintu. Sepertinya setelah tragedi berdarah itu ayahnya mengijinkan dia dekat denganku.


 


Dia memegang ke dua tanganku dan mengayun - ngayunkanya sambil merengek, seperti anak kecil minta permen.


 


“Hei, apa yang kamu lakukan dengan Putri? Dewi melihatnya berlari dan tertawa kecil sepanjang jalan, ayo katakan, ayo dong katakan.”


 


Aku pun tertawa mendengar pertanyaanya. “Ha,ha,ha tidak ada, mungkin Putri sedang bahagia karena melihat ketampananku.”


 

__ADS_1


Kemudian aku mulai teringat kembali saat menangkap ular pertama kali. Mereka sangat bau amis dan anyir. Aku mencoba menarik dan mencium tangan Dewi. Tetapi dia sangat kaget dan melepaskan tangan itu dariku.


“Hei, Apa yang kamu lakukan?!”


 


“Ada hal yang ingin aku tahu darimu. Rumah tetanggaku pernah dimasuki ular, waktu kami menangkapnya, dia sangat bau amis dan anyir, tetapi mengapa aku tidak pernah mencium bau itu ketika berada di dekat kalian?” tanyaku.


 


Lalu dia menjelaskan sambil tertawa geli, “Hihihi ... itu ular bangsa manusia, kami bangsa siluman. Walaupun sama – sama ular tetapi kami berbeda”


 


Mendengar penjelasannya, aku menatapnya dengan rasa penasaran, sebelum akhirnya dia mundur dua langkah dan merentangkan tanganya seperti di film Titanik.


 


“Jika masih penasaran, Raja boleh menciumku sepuasnya," ujarnya masih sambil cengengesan.


 


O M G! Mimpi apa aku tadi malam, sampai-sampai aku mendengar perkataan aneh itu dari Dewi?. Namun rasa penasaranku pun semakin tinggi, terlebih lagi aku akan menikah dengan Putri, jadi aku harus tahu dahulu tentang mereka.


Aku pun memutuskan untuk mencium dan mengendus – ngendus seluruh tubuhnya. Pertama aku mulai dari kakinya (ternyata tidak bau), lalu lututnya (juga tidak bauk), kemudian bagian pahanya (tidak bau juga, malah wangi bunga di bagian vital ini), kemudian bagian perutnya, kemudian dadanya, kemudian lehernya (wangi bunga segar juga), kemudian ke arah bibirnya.


 


Aku sedikit grogi di bagian ini, tetapi aku penasaran, bisa jadi mulut mereka bau busuk, tanpa berpikir panjang aku pun mendekatkan hidungku di bibirnya yang berwarna merah muda itu.


 


"Praanggg!!!" Terdengar suara piring pecah di pintu kamar.


Oh ya ampuuun! itu si Putri yang sudah kembali membawa makanan untukku, awalnya kami bertiga terdiam dan saling memandang karena kebingungan.


 


Sampai akhirnya aku sadar, sepertinya Putri salah paham dengan apa yang sedang aku lakukan dengan Dewi. Putri berlari keluar pintu, Aku menyuruh Dewi untuk mengejar dan menjelaskannya kepada dia. Ke-5 Jendral juga ikut membantu Dewi untuk mengejarnya.


 


Aku berjalan mondar – mandir seperti strikaan, sambil memikirkan cara untuk menjelaskannya. Tetapi sepertinya sia – sia, karena aku tidak terlalu mengenal Putri. Sehingga aku memutuskan untuk makan dahulu saja, karena aku juga sudah sangat lapar.


 


Saat aku sedang menikmati makanan, terutama ayam bakar makanan kesukaanku, Kirana menghampiriku,


 


"Lapor Raja, waktu sudah menunjukan pukul 8 malam, kami sudah berusaha mengajak Putri untuk pulang, tetapi tidak ada jawaban."


 


Sepertinya ini Sedikit merepotkan, ujarku dalam hati


"Lalu dimana Dewi? apakah dia juga ada disana?" tanyaku.


 


"Dewi dan ke-4 Jendral masih berada di sana. Dewi mengatakan sesuatu berulang kali kepada Putri, namun Putri hanya diam saja," jawabnya.

__ADS_1


 


Sebenarnya aku sangat ingin sekali ke sana, tetapi aku masih menikmati ayam bakar ini, di tambah lagi sambal kecapnya yang maknyos, rasanya pedas manis di lidah.


 


"Kirana sini duduk, makanlah bersamaku," pintaku.


 


lalu Kirana pun duduk sambil melihatku makan dengan raut wajah yang sangat kebingungan, tetapi dia juga ikut makan perlahan - lahan, tapi pasti.


 


“Apa yang sebenarnya terjadi Raja? kami baru kali ini melihat Putri berlari seperti itu. Dia keluar gua dan berlari dengan arah yang tidak menentu. Bahkan selama ini dia tidak pernah keluar gua kecuali jika di ajak oleh Raja sebelumnya.”


 


“Lalu sekarang dimana dia?” tanyaku


 


“Dia berhenti di atas bukit, sambil berdiri dan menatap langit tanpa henti."


 


“Apakah malam ini bulan sangat terang? menurutmu apa hal yang dia sukai dan apa saranmu untuku?” tanyaku.


 


“Bulan malam ini sangat terang. Untuk hal yang dia sukai kami tidak ada yang mengetahuinya, dan saran dariku ... bagaimana jika Raja malam ini menggunakan baju kerajaan sebelum menemuinya?” ujarnya.


 


Aku baru sadar, selama disini tidak pernah menggunakan baju kerajaan yang sudah mereka persiapkan untukku,


 


“Kalau begitu siapkan baju itu. Setelah makan dan mandi, aku akan menggunakannya.” pintaku.


 


Saat aku selesai mandi, Kirana sudah menungguku di kamar, dia mengatakan akan memakaikan baju itu untukku, dan merupakan suatu kehormatan untuknya. Aku sebenarnya sangat malu, tetapi mau. Namun aku harus menghilangkn pikiran itu untuk saat ini. Aku juga menyuruh Kirana untuk menutup pintu, sehingga tidak ada yang melihat kami ketika dia memakaikanku baju tersebut.


 


Aku berjalan ke hadapannya, dan membelakangi dia sambil membuka penutup tubuhku, sehingga tidak ada sehelai benang pun. Tangan Kirana mulai memasang baju itu dari belakang, aku melihat wajahnya mulai memerah. Sepertinya Kirana juga malu untuk melakukan hal tersebut, tetapi kami tidak punya pilihan, karena aku juga tidak tahu cara memakai baju Raja ini.


 


Dia melakukannya dengan sangat lembut, ketika bagian belakang sudah terpasang. Kirana juga terpaksa kedepanku sambil menunduk malu. Walaupun sebenarnya aku ingin melakukan anu dan anu saat itu. Tetapi tidak ada yang terjadi malam itu, karena kami harus secepatnya menemui Putri,


 


Dua jam pun berlalu, aku sudah siap untuk pergi ke sana menggunakan baju kerajaan beserta aksesoris lengkap lainya,  dan hatiku berkata,


 “Sepertinya aku sudah bener – benar sudah menjadi raja disini, ha,ha,ha."


 


 

__ADS_1


__ADS_2