MENIKAHI Tiga Wanita Cantik

MENIKAHI Tiga Wanita Cantik
ULAR LELE


__ADS_3

Karena sangat bingung dan penasaran, aku pun mencoba untuk bertanya kepada mereka berlima.


"Siapa Kalian? Darimana kalian!?"


Karena terkejut. Aku pun bertanya dengan nada kasar dan mata melotot, tetapi masih sambil melihat lutut cewek itu.


Tiba - tiba mereka mengatakan ,"Salam hormat kepada Raja, Kami ingin menjemput dan menjelaskannya di Istana."


Aku semakin bingung dan bertanya lagi, "Sejak kapan penjual air tebu menjadi raja? Ngeprank kalian ya? Dimana kameranya?"


Mendengar pertanyaan ku tersebut, mereka kebingungan dan saling melirik antara satu dan yang lain. Akhirnya salah satu dari mereka menjelaskan.


"Kerajaan sedang dalam kritis, mohon Raja untuk mempertimbangkanya, segeralah ikut dengan kami. Nanti di Istana akan kami jelaskan Semuanya."


"Dimana rupanya istana yang kau maksud itu?" tanyaku.


"Di belakang rumah Raja, satu hari perjalanan kaki, tetapi nanti kami akan mempercepat perjalanan tersebut," jawabnya.


Aku berpikir sejenak. Sebenarnya di belakang rumahku hanya ada kebun tebu, selebihnya hutan lebat dan semak blukar. Tetapi kemungkinan kemunculan mereka ada hubungannya dengan Dewi, aku semakin khawatir denganya.


Tanpa berpikir panjang. Aku memutuskan untuk memakai pakaian seadanya, lalu membuka pintu belakang dan mengajak mereka pergi ke istana yang mereka maksud tadi.


Kami berjalan di kebun tebu,.Tetapi aku menghentikan langkah kakiku ketika akan masuk ke dalam hutan lebat yang tidak mungkin kutempuh. Salah satu wanita tadi merangkul tanganku, dan . . .


"Cling!!!"


Kami pun menghilang. Aku merasakan tubuhku melayang di atas udara. Tetapi penglihatan sangat gelap, kepalaku mulai mual, dan perutku juga terasa sangat pusing. Aku merasa sudah tidak kuat lagi, rasanya ingin sekali muntah secepatnya. Lalu ...


"Cling!!! "

__ADS_1


Tiba - tiba kami pun telah sampai di sebuah hutan entah berantah. Di depanku ada sebuah pohon yang sangat besar, tetapi rasa mualku semakin dalam dan ...


"Hueek, hueek!"


Aku pun akhirnya muntah tepat di wajah wanita yang merangkul tanganku tadi. Kecantikannya memudar seiring mengalirnya muntahku dari wajah dan keseluruh tubuhnya. Awalnya aku berpikir, kemungkinan mereka akan marah kepadaku. Tetapi anehnya salah satu dari mereka malah berkata.


"Maafkan kami Raja, kami tidak memiliki cara lain untuk mempercepat perjalanan ini, selain menggunakan teleportasi tadi."


Oh ya ampu ... n, malah mereka yang meminta maaf. Aku melihat ada sebatang pohon tumbang di dekat kami, aku duduk di atasnya, sambil memegang kepalaku yang masih terasa pusing.


Mereka berlima mendekatiku dan berlutut kembali. Salah satu lelaki yang kekar itu menyerahkan obat berbentuk pil, tanpa berpikir panjang, aku langsung menelannya.


Rasanya sangat pahit sekali. Tetapi tidak bisa aku pungkiri, pil itu sangat efektif menghilangkan rasa mual dan pusing yang aku rasakan.


"Pil apa itu?" tanyaku


Aku tidak tahan mendengarnya, aku colok - colok tenggorokanku dengan jari untuk mengeluarkanya kembali, namun tidak berhasil. Bubur sudah menjadi nasi, aku sangat marah dengan mereka, aku ingin sekali memukulnya. Tetapi aku tidak berani, karena badanya sangat kekar.


Aku meminta mereka untuk memberikan sesuatu yang bisa menerangi kami di dalam hutan yang gelap itu. Salah satu dari mereka mengeluarkan obor kecil sebesar lilin yang sepertinya terbuat dari bambu. Aku menyoroti wajah mereka satu persatu pakai obor tersebut.


Mulai dari ujung. Tepatnya wanita yang aku muntahin tadi.


"Siapa namamu? Dan berapa usiamu?" tanyaku.


"Namaku adalah Dinda, usiaku 200 tahun Raja," jawabnya.


Sepertinya memang ada yang tidak beres dengan mereka, mukanya cantik gitu dia bilang 200 tahun. Mungkin dia letingan neneknya nenek aku, pikirku dalam hati.


"Normalnya usiamu sekarang 18 tahun, aku tidak mengerti caramu menghitung umur," ujarku kepadanya.

__ADS_1


Lalu aku ke sebelahnya. "Kalau kamu?" 


"Namaku Kirana, usiaku 500 tahun raja."


"Bah ... kok bisa tua kali pun kau. Normalnya di bangsaku usiamu 21 tahun, gak bereslah kalian ini!"


Lalu aku bertanya kepada 3 laki - laki itu, namanya Jaka, Joko dan Leman, yang terakhir namanya aneh sendiri, dan dialah yang tadi memberiku pil aneh juga. Kirana adalah pemimpin mereka dan umurnya yang paling tua di antara mereka berlima.


Mereka sebenarnya sangat tampan dan cantik, tetapi sepertinya mereka bukan dari bangsa manusia. Lalu aku penasaran dan bertanya tentang istana yang mereka sebut tadi. Mereka berlima serentak menunjuk pohon besar saat kami mendarat pertama kali. Aku pun tertawa geli mendengarnya.


"Hahahaa.. Gila kalian ya? Masa pohon di sebut istana?" 


Lalu mereka berdiri dan menuntunku ke gundukan tanah besar di bawah pohon tersebut. Ternyata ada seperti mulut gua kecil. Karena penasaran, aku menyuruh Jaka, Joko dan Leman masuk duluan. Ternyata mereka seperti menghilang di dalam sana, lalu aku menyuruh Dinda, dia pun menghilang juga, aku jadi semakin penasaran.


Sekarang tinggal aku berdua dengan Kirana. Aku menyuruh Kirana menjagaku jika terjadi sesuatu. Lalu aku pun mencoba masuk kedalamnya, dan saat itu aku baru menyadari, ternyata gua ini bukan di rancang untuk berjalan lurus kedepan, tetapi menurun kebawah dan di dalamnya cukup lapang.


Sepanjang jalan tangan kananku memegang obor kecil dan menyoroti dinding gua yang lembab dan berlumut itu, tangan kiriku menggenggam erat tangan Kirana. Karena aku sangat takut sekaligus mencari kesempatan dalam kesempitan saat itu.


Kurang lebih hanya 3 menit perjalanan, dan kami pun sampai ke tempat tujuan. Yang ternyata itu adalah Istana bawah tanah yang sangat luas, kurang lebih 4 Hektar, di lengkapi pintu - pintu di dindingnya, kemungkinan pintu kamar mereka.


Jaka, Joko, Leman dan Dinda sudah menunggu kami. Aku mulai berjalan perlahan dan memperhatikan sekelilingku. Saat ini di kanan kiriku ada ribuan ekor ular dengan berbagai macam jenis, mereka berasal dari bangsa manusia. Ternyata ular ini ada hubungannya dengan bangsa Kirana dan kawan-kawan.


Kami terus berjalan. Sekarang kanan kiriku ada ratusan orang yang berpakaian seperti Kirana yang sedang menangis dan berlutut menghadap ke depan, kemudian di hadapanku ada 7 anak tangga yang di atasnya seperti panggung.


Di atas panggung tersebut ada ular yang sangat besar, lingkar badanya kurang lebih sebesar ban mobil pajero. Tetapi dia sudah tertidur kaku, sepertinya ular tersebut sudah mati, dia memiliki sayap kecil di belakang, dan itu sangat imut, lalu aku memperhatikan kepalanya.


Oh ya ampu ... n, kepalanya mirip sekali dengan ikan lele, bahkan dia memiliki kumis yang panjang - panjang seperti ikan lele. Aku sangat ingin tertawa saat itu, tetapi perasaanku masih takut dan tidak karuan di tempat yang aneh ini.


Di kepala ular lele itu ada seorang gadis yang memeluk lele tersebut, eh ... ular lele tersebut maksudku, dia memeluk kepala ular lele itu sambil menangis.

__ADS_1


__ADS_2