
Para pengawal tidak tahu cara menjelaskan tentang hal Anu itu, jadi dia Cuma bilang Anu..., sebelum para pengawal itu memperjelas dan melanjutkan kata – katanya, Ratu laut langsung memotongnya.
“Kurrrang Ajaaar!, Kalian berani sekali mengatakan hal itu kepadaku, kalau cara seperti itu, aku juga tahu!, Tetapi aku tidak akan merusak kesucianku, lebih baik aku mati dari pada di nodai olehnya!.”
“Maaf Ratu ... maafkan kami, tetapi kita tidak ada cara lain lagi.” ucap para pengawal sambil gemetaran.
“Bagaimana kalau kalian saja yang tidur dengannya?” cetus Ratu laut yang mulai frustasi itu.
“Kami mau saja Ratu, tetapi Tetua itu ingin kekuatannya sama seperti Ratu atau lebih, jika dia tidur bersama kami, itu hanya akan sia – sia, karena kekuatan kami jauh di bawah Ratu.” jelas para pengawal.
“Aghhh! Lupakanlah masalah tidur – tidur itu! Sekarang tendang dia keluar gelembung!, tetapi jangan sampai membunuhnya, jika tidak, kita akan mati lebih cepat di tangan Tetua itu. Dan ini adalah cara terakhir yang kita miliki.”
Saat itu, aku sedang asik di dalam kamar. Berdiri di depan kaca sambil pamer – pamer ototku, lalu bernyanyi dan goyang – goyang pinggul, Waktu itu kalau tidak salah lagu potong bebek angsa.
~ Potong bebek angsa,
~ Angsa di kuali,
~ Jomblo sudah lama,
~ Nyesek tiap hari,
~ Galau ke sana, galau ke sini,
~ La la la la la la, la la . . . .
Lagi asik – asik goyang pinggul ke kanan dan ke kiri. Tiba – tiba ada suara wanita di belakangku.
“Ehm..., ehmmm, Apakah kamu bangga dengan otot yang tidak berguna itu? Dasar manusia sampah!” ujar Ratu laut sambil memasang wajah bengis, dan bersila tangan.
Aku melihat kebelakang dengan rasa malu yang aku sembunyikan,
“ Apakah kamu iri karena tidak bisa memiliki otot kekar sepertiku?, jangan bilang kalau kamu sekarang sudah jatuh cinta kepadaku, hahahaha.” ujarku sambil menunjukan otot itu.
“Pengawal... , Seret dia ketepi istana!” perintahnya sambil mengacungkan jarinya ke arah luar.
Ke-4 pengawal menyeretku ke tepi istana, awalnya aku ingin melawan mereka, namun percuma, walaupun mereka tidak memiliki otot, tetapi mereka sangat kuat. Mungkin karena mereka memiliki tenaga dalam dan kekuatan bathin yang mereka sebut – sebut itu.
Sesampainya di tepi istana, Ratu itu mulai mengancamku lagi,
__ADS_1
“Sekarang sudah 20 hari, tetapi kamu sama sekali tidak ada perubahan, apakah kamu tidak menghawatirkan cintamu lagi?” ucapnya dengan senyum sinis, yang meremehkan cintaku kepada Putri.
“Mengapa kamu melibatkan mereka? Aku sudah berkali – kali mengalami hidup dan mati di hari – hari sebelumnya, sekarang bunuh saja aku, dan lepaskan mereka, aku sudah tidak perduli lagi dengan nyawa ini!" ucapku dengan kesal dan pasrah.
“Pengawal ..., tendang dia!”
Mereka menendangku keluar gelembung. Aku masuk kedalam tekanan air yang sangat tinggi. Mungkin kapal selam pun bisa terbelah 3 jika di dalam sini. Namun aku berusaha berjuang untuk bertahan.
Tetapi hanya dalam waktu 15 detik tubuhku sudah tidak kuat lagi, ke-4 pengawal tadi langsung menariku kembali ke dalam gelembung sebelum tubuh ini hancur berkeping - keping, dan akhirnya aku pingsan lagi. Ratu laut pun semakin frustasi, dan mengamuk kepada para pengawalnya,
“Aghhh... Bagaimana sekarang? Aku sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi kepada manusia bodoh ini!, baru 15 detik dia sudah pingsan."
Di saat frustasi itu, Tetua keluar lagi dari keningku yang sedang pingsan tadi.
“Waktu sudah berjalan 20 hari, tetapi aku tidak melihat perubahan kepada dirinya. Apakah kamu sudah melupakan kata – kata ku sebelumnya?” ancam tetua itu kepada Ratu laut.
“Maafkan aku yang tidak dapat memenuhi keinginanmu ini Tetua, tetapi kami sudah mencoba segala cara untuk membangkitkan tenaga dalam dan kekuatan bathin miliknya. Namun tidak ada satupun yang berhasil, apa lagi jika harus membuatnya menjadi kuat seperti aku," jawab Ratu laut.
Ratu laut mulai kesal. Karena seumur hidupnya baru kali ini dia di rendahkan seperti ini, bahkan harus menerima ancaman dari Tetua itu. Akhirnya Ratu laut memutuskan untuk mencoba kekuatan Tetua tersebut.
“Kalau aku bisa mengalahkanya, aku akan bebas dari kutukan ini.” ujar Ratu laut di dalam hati.
“Mohon maaf Tetua, mohon bimbinganya.” Ratu laut mengatakan itu sambil mengeluarkan tenaga dalam miliknya.
Istana laut mulai bergetar. Ombak di pantai juga mulai tidak bersahabat. Arah dan kecepatan angin di daratan mulai berubah, air laut juga pasang secara tiba – tiba.
Ratu laut terangkat 5 meter di udara, dan memusatkan semua kekuatan di kaki kanannya, dia malaju dengan sangat cepat, menendang ke arah wajah Tetua itu.
“BUMMM!!!” Kira – kira begitu bunyinya.
Namun sangat di sayangkan, tetua itu hanya menahanya dengan 2 jari, sambil berkata,
__ADS_1
“Aku sudah melintasi 7 langit dan bumi, Namun tidak ada yang se Angkuh kamu!”
Tetua itu hanya mendorong lembut ke dua jarinya, Namun . . .
“Kretak!, tak! Takk!” Suara tulang kaki Ratu laut yang retak. Kira – kira begitu bunyinya, kalau tidak percaya, kalian bisa praktekan sendiri di rumah.
Tulang kaki Ratu laut retak, hanya dengan sedikit dorongan, dan dia terhempas kembali ke belakang. Tetua itu masuk kembali ke keningku, sambil berkata,
“Ingat waktumu 10 hari lagi, gunakan waktu itu dengan baik, aku tidak ingin kamu mati secepat ini.”
Keesokan harinya, tepatnya di hari ke 21. Akhirnya aku terbangun dari pingsanku tadi, tetapi ke-4 pengawal Ratu laut tidak memaksaku berlatih lagi hari ini, jadi aku putuskan untuk berkeliling istana.
Ternyata penghuni istana ini semuanya memang wanita. Aku pun mendengar beberapa kali jeritan mereka, saat tidak sengaja salah masuk toilet.
Keesokan harinya lagi, tepatnya di hari ke 22, mereka masih tidak menemuiku lagi, aku mulai merasa curiga, "Sepertinya ada yang tidak beres dengan ke empat pengawal itu." Jadi aku putuskan untuk mencari mereka dan meminta keterangan.
Setelah mondar - mandir dan bertanya ke sana ke sini, seperti anak kecil yang tersesat di mall, akhirnya aku menemukan mereka berempat. Saat itu mereka sedang berdiri di luar pintu kamar Ratu laut.
“Apa yang terjadi ... mengapa kalian tidak mengajak aku latihan lagi ... apakah Ratu kalian sudah berubah pikiran ?,” tanyaku dengan wajah bingung.
Namun sayangnya mereka hanya diam tanpa kata. Lalu aku terus bertanya berkali- kali, tetapi mereka malah memasang muka sedih dengan wajah menunduk.Aku jadi semakin bingung, dan memutuskan untuk kembali ke dalam kamarku, dengan sejuta pertanyaan di benakku karena tingkah mereka tadi.
Keesokanya lagi, tepatnya di hari ke-23, aku mendatangi mereka lagi, dan bertanya hal yang sama. Tetapi mereka masih tidak menjawab pertanyaanku, masih memasang wajah sedih dan menunduk, aku pun akhirnya kehabisan kesabaran dan menjerit – jerit di depan pintu kamarnya.
“Woi Silumam tua ... keluar kau ... setelah mengancam aku, mengapa sekarang jadi bersembunyi di kamar .... Apakah kau sedang bercinta dengan kekasihmu selama 3 hari ini? jika tidak ada lagi yang harus kita bahas, pulangkan saja aku ke istana ular, aku juga ingin bercinta dengan istriku ... dan ingin hidup bahagia bersamanya!”
Aku pun mengatakan hal itu berkali – kali, sebelum akhirnya terdengar suara yang sangat berat dari dalam kamar,
“Pengawal ... Biarkan dia masuk”
Lalu aku akhirnya masuk ke dalam kamarnya yang sangat harum dan sejuk itu, kurang lebih seperti wangi Hermes 24 Faubourg. Aroma yang sangat kuat dan dapat menghipnotis laki – laki hidung belang, tetapi syukurlah aku bukan hidung belang dan masih memikirkan Putri, kalau tidak mungkin aku sudah terhipnotis olehnya.
Seluruh ruangan tersebut di penuhi kain sutra berwarna hijau, yang membuat efek natural dan relaksasi. Yang membuat aku sedikit nyaman dan betah di dalamnya, di tambah lagi dengan ranjang kanopi klasik jati ukiran jepara dengan tirainya yang sudah di buka untuk menyambutku....
__ADS_1