
Di hari yang sama di kerajaan ular. Putri mengumumkan kepada seluruh pengikut kerajaan untuk berkumpul dan mengundang Raja harimau. Tidak luput dengan Dewi, lima Jendral dan ke-7 kerajaan yang juga hadir di pertemuan itu.
Setelah semuanya berkumpul. Putri menunjukan kalung bermata biru kepada Raja harimau. Semua yang hadir sangat terkejut melihatnya, karena kalung itu sekarang bersinar sangat terang, padahal sebelumnya sangatlah redup.
Raja harimau menjelaskan, “Saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun, jika di lihat dari cahaya kalung tersebut. Sekarang Raja kalian memiliki kekuatan yang sangat besar, bahkan mungkin melebihi kekuatan Ratu laut.”
Semua yang hadir sangat gembira mendengar hal itu, ternyata Raja mereka bukan hanya selamat, bahkan sekarang memiliki kekuatan yang di luar dari ekspektasi mereka semua. Tetapi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.
Tiba – tiba kalung itu semakin terang, terang, terang dan “praaank!!!” akhirnya pecah. Dan tepat di genggaman Putri. Kebahagiaan mereka lenyap seketika, seluruh mata di ruangan tersebut menatap ke Raja harimau dengan wajah yang penuh tanda tanya.
“Mengapa kalian semua melihat saya? Saya hanya bisa menilai dari cahaya kalung itu. Sekarang kalungnya sudah pecah. Saya juga tidak mengerti mengapa bisa seperti ini, karena belum pernah terjadi sebelumnya,” ujar Raja harimau yang juga penuh kebingungan.
Suasana menjadi mengharukan, semua yang hadir mulai bersedih bahkan banyak yang menangis. Mereka berpikir Raja telah mati. Putri terduduk lemas di singgasananya. Dewi diam – diam keluar dari istana ular menuju ke istana laut, sambil menangis sepanjang jalan.
Melihat keadaan itu, Raja harimau mencoba menenangkan mereka.
“Kalian tenanglah dahulu, saya akan mencari tahu penyebabnya. Setelah saya pelajari, nanti akan saya jelaskan kepada kalian semua.”
Malam hari di istana laut. Aku memutuskan untuk tidak pergi kekamar Ratu laut. Dan tetap tinggal di kamar yang sebelumnya dia persiapkan untukku. Karena aku merasa sangat bersalah kepada Putri. Nikahnya sama Putri, tetapi bulan madunya sama Ratu laut yang bernama Ika itu, yang biasa aku panggil zombi.
Di tengah hati yang sedang gundah gulana tersebut. Terdengar langkah kaki yang mendekati kamarku. Ternyata Ratu laut dan ke-4 pengawalnya. Aku tidak menyangka dia akan datang ke sini.
Padahal waktu masih menunjukan pukul 8 malam. Dia sudah menghampiriku dengan lingerie transparan berwarna hitam. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan. Tetapi aku juga sebenarnya suka dengan pemandangan indah tersebut.
“Calon Rajaku ... mengapa tidak datang ke kamar calon selirmu ini?” ucapnya berjalan ke arahku sambil menyodorkan segelas minuman.
“Aku merasa bersalah kepada Putri, walaupun acara pernikahan kami terhenti di tengah jalan, tetapi dia adalah istri sah ku. Minuman apa yang kamu bawa?”
“Minumlah dahulu, aku membuatnya secara khusus untuk calon rajaku.” ucapnya sambil senyum maksimal.
Tanpa curiga aku pun meminumnya. Dan dia memerintahkan ke-4 pengawal berjaga di luar pintu kamar. Namun hal yang tidak terduga pun terjadi, terongku tiba – tiba menjadi keras dan berdiri. Sepertinya dia memberiku obat perangsang.
__ADS_1
“Minuman apa yang kamu berikan kepadaku tadi?” ucapku sambil mengerutkan kening.
Namun dia tidak menjawabnya. Ratu laut langsung jongkok di depanku sambil membuka celanaku.
“Wah ... pedangmu sangat panjang dan berurat, pantas saja dia kemarin merobek – robek kesucianku.” ucapnya sambil menggenggam terongku yang dia sebut pedang.
Aku sangat ingin marah saat itu. Tetapi aku juga menikmati belaian tangan dia yang sudah berada di pedangku dan sambil memaju mundurkanya. Sebelum akhirnya dia mengulum dan memaju mundurkan wajah mungilnya. Yang membuat aku terbawa suasana dan membelai rambutnya yang indah itu.
Bahkan beberapa kali aku mendorong dan menekan wajahnya. Sehingga pedangku mengisi penuh di dalam mulutnya. Yang membuat dia berkali - kali tersedak dengan pedang panjangku yang berurat itu, karena sampai ke kerongkonganya.
Dua menit berlalu. wajah dia mulai memerah dan liurnya membasahi pedangku. Akhirnya aku sudah tidak kuat lagi menahan godaan tersebut. Tanganku langsung meraih tubuh mungil itu dan melemparnya ke ranjang.
“Gubraaak!!!” Ranjangnya pun roboh bersama dirinya yang telentang.
“Bagaimana ini! belum apa – apa dia sudah roboh,” tanyaku dengan kesal.
“Hahahaa... Saya ... ng, kamu terlalu kuat melempar tubuhku ....” ujarnya sambil tertawa geli, namun masih telentang di ranjang.
Akhirnya aku pergi ke kamarnya sambil menggendong tubuhnya. Namun masih dengan pedangku yang berdiri dan menjulur kedepan, yang hanya di gantungi selendang tipis. Tetapi syukurlah, tidak ada yang melihat. Ternyata dia cerdas dan mengerti keadaan.
Sesampai di kamarnya, aku langsung melempar lagi tubuh indah Ika di atas ranjang, namun kali ini tidak roboh. Aku sudah tidak kuat lagi menahan nafsu yang membara. Akhirnya aku mengoyak - ngoyak lingerienya dan menindihnya.
Bibirku berjalan perlahan, mengecup keningnya, kemudian ke kuping, kemudian ke leher sambil meninggalkan jejak, kemudian bibirnya, kemudian ke dadanya dan meninggalkan jejak lagi. Kemudian ke pusarnya. Sampai akhirnya ke anu nya yang membuat lidahku menari - nari di sana.
Di bagian ini sedikit lebih lama dari yang sebelumnya, bahkan tubuhnya mulai menggeliat dan melengkung indah di ranjang. Setelah merasa cukup basah, akhirnya aku memasukan pedangku ke sarungnya.
“Saya ... ng agh, pelan – pelan masih saki ... t," rengeknya dengan nada yang membuat aku semakin tergoda.
Aku menggerakan pinggulku dengan pelan. Suara desahanya mulai memenuhi seisi kamar, suasana percintaan mulai menguar sangat pekat. Tubuhku mulai panas. Keringat mulai bercucuran, begitu juga denganya.
Sekitar dua jam berlalu, tetapi aku belum bisa mencapai puncak. Ratu sudah mulai merengek dan protes dengan suara yang putus – putus karena tubuhnya yang naik turun.
__ADS_1
“Sa – yang, aghh aku su – dah ti - dak ku – at aghh”
Mendengar suaranya, semakin membuat aku memanas. Gerakanku semakin cepat dan konstan. Tubuhnya semakin menggelepar dan menggeliat seperti cacing kepanasan. Tidak jarang juga aku menghentak – hentakkan pedangku di sarung miliknya.
“Salahmu sen - diri, siapa suruh memberiku ob - at kuat seperti itu. Tanpa obat itu ju - ga aku sudah kuat.” ujarku yang semakin mempercepat gerakan.
Empat jam berlalu, permainan kami semakin mengganas. Suara desahan dan erangan semakin keras terdengar. Tubuh kami berlonjak – lonjak di atas ranjang yang empuk dan luas tersebut, di selingi decakan dari dua bagian tubuh kami yang menyatu.
Sampai akhirnya terdengar suara pengawalnya di luar pintu kamar, yang membuat aku memperlambat gerakanku.
“Lapor Ratu, ada penyusup dari luar menerobos istana, seorang wanita yang sudah berhasil kami tangkap.”
“Ku – kurung dia, be – sok ka – mi a – kan lih – at ” jawabnya sambil cengap – cengap dan terengah – engah.
Aku melanjutkan lagi gerakan tersebut, bahkan kali ini dengan berbagai gaya yang berbeda. Aku mencoba meniru semua gaya yang pernah aku tonton di film dewasa. Dari depan, dari belakang, dari samping, menggendongnya. Bahkan tidak jarang mencekik, menampar dan memukul bokongnya sampai merah – merah.
“Waktu berlalu sangat cepat, sampai akhirnya pagi menjelang, namun aku masih belum bisa sampai ke puncak, sedangkan dia mungkin sudah puluhan kali ke puncak. Tidak jarang juga dia protes dan merengek.
“Saa – yaaang aghh, ampu ... n aghhh aku bisa mati di ran – jang kar – na kamu ... akhh.”
Waktu menunjukan pukul 9 pagi, akhirnya aku hampir mencapai puncak, aku membenamkan pedang itu sedalam mungkin, sampai tubuhnya menegang dan melengkung sangat indah "Akkhkk." Bahkan dia sampai mengeluarkan suara seperti itu. Namun Akhirnya aku sampai ke puncak.
Pedang yang sangat mematikan itu pun akhirnya aku cabut dari sarung. Terlihat ada tetesan cairan tumpah dari sarungnya, badan Ratu mengejang ngejang beberapa kali, begitu juga denganku yang mengajang – ngejang sambil menikmati sisa puncak percintaan.
Dua menit berlalu, akhirnya nafas kami mulai bisa di kendalikan. Aku mulai kasihan melihat raut wajahnya yang menderita. Namun tidak dapat aku pungkiri. Aku benar – benar jatuh cinta kepadanya. Ternyata bercinta juga membuat hati kita jatuh cinta kepada dia.
“Sayang, maafkan aku, apakah itu sangat sakit?” tanyaku sambil memeluk lembut tubuhnya.
“Sakit sayang ..., tapi aku juga menikmatinya.” jawabnya dengan nada yang masih lemah karena kecapean.
Aku tidak tau maksud dia, (Sakit tapi menikmatinya) . Tidak lama kemudian kami pun tertidur sambil pelukan, tetapi masih dalam keadaan tanpa sehelai benang pun.
__ADS_1