MENIKAHI Tiga Wanita Cantik

MENIKAHI Tiga Wanita Cantik
DI BAWAH SINAR REMBULAN


__ADS_3

Kirana mengantarku ke tempat Putri dengan kendaraan yang mereka sebut teleportasi itu. Sebenarnya aku masih merasa pusing dan mual dengan kendaraan tersebut. Tetapi aku sudah mulai membiasakan diri. Rasa pusing dan mualnya juga sudah mulai berkurang.


Aku melihat Dewi sedang mengajak Putri untuk berbicara, tetapi Putri mengabaikannya. Wajah Putri tidak berpaling menatap langit, dengan kedua matanya yang tidak berhenti melihat bulan yang memang sangat indah malam ini.


Aku menghampiri mereka. Dewi dan ke-4 Jendral sangat terkejut melihat panampilanku saat itu. Kemudian aku memberi isyarat kepada mereka supaya menjauhi Putri dan melihat kami dari kejauhan saja.


Kemudian aku mendatangi Putri dari belakang dan berdiri di sampingnya, aku mencoba untuk tetap tenang dan melihat bulan yang indah itu bersamanya. Sambil memikirkan rencana untuk menjelaskan kepada Putri tentang apa yang terjadi antara aku dan Dewi.


Tiga puluh menit pun berlalu, Putri sama sekali tidak meliriku, dan masih mengabaikan kedatanganku. Dia benar – benar seperti patung pancoran yang tidak bergerak. Hanya kelopak matanya saja yang berkedip sepersekian menit sekali.


Tetapi kakikku sudah mulai pegal dan tidak kuat lagi berdiri. Aku mulai mencoba membuka pembicaraan dengan tetap tenang dan sambil melihat bulan.


“Bulan yang sangat indah, bahkan baru pertama kali aku melihat bulan yang seindah ini. Namun tidak dapat di bandingkan dengan keindahan wanita yang berada di sampingku.”


Akhirnya wajahnya perlahan menoleh ke arahku, dia sepertinya juga terkejut dengan pakaian yang aku kenakan. Terlihat matanya ke atas dan ke bawah, sebelum akhirnya pandanganya kembali untuk menatap bulan itu lagi.


Ternyata dia sangat dingin. Wanita memang sangat sulit untuk di mengerti, terutama yang satu ini. Aku pun mulai kesal dan hilang kesabaran.


“Namun sangat di sayangkan banyak yang tidak tahu kenyataanya, kalau sebenarnya bulan ini sangat jelek!, seperti Nenek – nenek! Keriput dan bopeng – bopeng!”


Akhirnya ucapanku itu berhasil membuatnya berbicara,


“Apa sebenarnya maumu? Awalnya kau menghina Ayahku, kemudian Rakyatku, dan kemudian Aku. Bahkan sekarang kamu juga menghina Bulan!, Apa yang sebenarnya yang ada otakmu itu?”


Aku pun menjawab pertanyaan dia sambil berjalan mendekatinya.


“Bukankah sekarang aku mengatakan hal yang sebenarnya? Jika kamu melihatnya dari dekat, atau menggunakan alat bantu penglihatan, kamu akan melihat banyak sekali kawah dan gunung – gunung di permukaan bulan, yang membuatnya kelihatan kriput dan bopeng – bopeng."


Dia terdiam mendengar penjelasanku yang masuk akal itu. Kemudian aku meneruskan lagi jurus rayuan mautku sambil terus mendekatinya.

__ADS_1


“Malam ini pun aku ingin mengatakan yang sebenarnya kepadamu. Aku tidak pernah percaya dengan yang namanya cinta pada pandangan pertama. Tetapi sebelum aku melihat wajahmu yang berada di balik tirai itu. Aku memang manusia yang tidak sempurna. Namun percayalah, cintaku sungguh amat sangat sempurna untukmu, dan tidak akan pernah aku sesali itu,”


Kemudian wajahku semakin mendekati wajah Putri. seolah - olah aku ingin menciumnya di bawah sinar rembulan malam ini. Aku melihat matanya yang semakin membesar dan jantungnya mulai berdebar – debar, bahkan badanya mulai panas dingin.


“Apa yang ingin kamu lakukan?” tanya dia dengan sangat gugup dan malu.


Namun aku mengabaikan pertanyaan Putri. Mataku semakin dan semakin mendekati bola matanya. Yang akhirnya aku hanya merapikan rambutku dan sambil bercermin di bola matanya yang besar dan bening itu. Dengan memanfaatkan cahaya rembulan yang terang malam ini. Kemudian aku berjalan perlahan meninggalkan dia sambil mengucapkan beberapa kalimat,


“Bukankah kamu memakai penutup wajah? Lalu mengapa kamu takut aku menciummu? Tidak semua yang kamu lihat seperti apa yang kamu pikirkan, begitu juga yang terjadi antara aku dan Dewi saat itu”


Dia melihat kepergianku dengan bibir yang terbungkam. Kemudian aku kembali ke tempat 5 Jendral yang memang mengintip kami dari kejauhan. Mereka berlima terbengong melihatku, tetapi Dewi sudah tidak ada lagi bersama mereka.


“Dimana Dewi?, Mengapa tidak bersama kalian?” tanyaku.


“Saat Raja ingin berciuman dengan Putri, Dewi berpamitan pulang ke istananya,” jawab mereka.


“Oh ya ampuuun. Padahal aku hanya bercermin di mata Putri. Kami tidak berciuman!” jelasku dengan tegas.


“Apakah Dewi juga tahu akan hal tersebut?” tanyaku.


Mereka juga serentak menggeleng - gelengkan kepala “Dewi pergi sebelum Raja merapikan rambut dan bercermin di mata Putri."


“Waduuuh!” Aku pun tepuk jidat!


Aku memerintahkan ke-4 Jendral menjaga Putri. Kemudian aku pulang bersama Kirana. Namun lima menit kemudian aku melihat Putri juga pulang sambil berlari dan masuk ke dalam kamarnya.


 


 

__ADS_1


Keesokan harinya, saat aku terbangun dari tidur yang singkat itu, aku melihat Putri sudah berdiri di samping tempat tidurku dengan ke-2 pelayanya, aku tidak tahu sejak kapan dia berada di sana. Dia memegang mangkok obat yang akan di sulangkan kepadaku, dan ini adalah hari ke-2 aku harus meminum obat tersebut.


Aku duduk di tempat tidurku. Putri sambil berdiri langsung menyodorkan sendok yang berisi obat itu kemulutku, tanpa curiga aku langsung meminumnya. tetapi ...


“Bur! Buurrr!" Aku menyemburkanya.


Astaga!!! Ternyata air cabai rawit, aku tidak curiga karena warnanya sama seperti obat kemarin. Lalu dia menyodorkan segelas air putih. Aku pun secepatnya meminum air tersebut karena sudah sangat kepedasan. Dan ...


“Burr! Burrrr!"


Oh ya ampuuun. Ternyata air garam yang kental.


Aku pun akhirnya berlari keluar kamar sambil mendengar mereka tertawa bahagia di atas penderitaanku. Sepertinya mereka sengaja mengerjaiku. Tetapi aku tidak mempermasalahkanya, yang penting dia sudah kembali normal, pikirku.


Setelah mendapatkan air minum dan sambil kunyah - kunyah gula. Aku pun kembali lagi ke kamar. Tetapi mereka sudah tidak ada, Aku memanggil Kirana dan meyuruhnya untuk mempersiapkan obat itu lagi.


Tidak lama kemudian Kirana masuk kamarku sambil membawa semangkok obat dan segelas air putih seperti Putri tadi, dia menjelaskan bahwa obat itu di berikan oleh Putri kepadanya.


Aku sangat terkejut mendengarnya, dan menyuruh Kirana membuang obat itu. Aku menjelaskan kepada Kirana kalau itu adalah air cabai dan air garam, rasa pedas dan asinya masih melekat di bibir dan lidahku. Kirana pun penasaran dan mencicipinya.


"Ini obat biasa ... dan ini juga air putih biasa Raja ...," ujarnya sambil memasang wajah bingung.


Ternyata Putri sudah menukarnya dengan yang asli, "Sepertinya Putri masih memiliki hati nurani juga," pikirku dalam hati. Kirana mulai menyuapiku. Tetapi tidak jarang kami saling memandang, sepertinya dia juga memiliki rasa kepadaku.


Keesokan harinya, dan ini adalah hari ke-3 aku harus meminum obat tersebut. Sama seperti kemarin, Putri sudah berdiri di samping tempat tidurku, aku langsung duduk ketakutan sambil geleng - geleng kepala.


Aku sangat trauma dengan mereka bertiga yang mengerjaiku kemarin. Melihat reaksiku itu, Putri tertawa geli sambil membuka penutup wajahnya, dia mencicipi obat itu di depanku, seakan akan ingin mengatakan bahwa obat itu adalah asli.


"Syukurlah, hari ini mereka tidak mengerjaiku lagi," ujarku dalam hati.

__ADS_1


Kemudian dia duduk di sampingku sambil menyulangi obat itu, aku patuh saja meminumnya. Setelah selesai, dia berdiri dan hendak pergi meninggalkanku tanpa sepatah kata pun. Namun aku menyambar pergelangan tanganya,


"Aku ingin makan di kamar berdua denganmu hari ini," pintaku kepadanya.


__ADS_2