MENIKAHI Tiga Wanita Cantik

MENIKAHI Tiga Wanita Cantik
FIRST KISS


__ADS_3

Putri berjalan dan langsung duduk di meja makan yang memang tidak jauh dari kami, seperti ceritaku di awal tentang kamar ini. Dia memerintahkan ke dua pelayan untuk mempersiapkan makanan untuk kami.


Melihat hal tersebut. Aku pun langsung duduk di sampingnya dengan tatapan yang sedikit genit, karena mulai saat itu dia tidak memakai penutup wajah lagi.


 


“Kamu sangat cantik jika tidak menggunakan penutup wajah, aku pikir hari ini kamu akan memberiku cabai rawit lagi," ujarku kepadanya.


 


Dia tertawa kecil sambil mengejek,  “Hihihi, bukankah rasanya sama dengan bibir Dewi?”


 


Oh, ya ampuuun, ternyata itu alasan dia mengerjaiku kemarin.


 


“Hahahaa ... jadi kamu cemburu sama Dewi?”


 


Mendengar kata – kata itu dia malah duduk membelakangiku, sepertinya dia ngambek. lalu aku mencoba untuk menggodanya.


 


“Hari ini aku tidak ingin bertengkar lagi  denganmu, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih, karena di saat aku memiliki seratus alasan untuk menangis, kamu hadir memberiku seribu alasan untuk tersenyum.”


 


Mendengar kata – kata itu, dia tertawa mendesah namun masih duduk membelakangiku.


 


“Bukankah kamu juga mengatakan hal yang sama kepada Dewi?” cetusnya.


 


Wah gawat, dia memang susah di rayu dan masih membahas hal itu.


 


“Aku janji deh nggak bakal nakal lagi, kalau nakal lagi nanti aku akan janji lagi kok," ujarku sambil tersenyum.


 


Lalu dia membalikan badanya sambil mengacungkan telunjuknya kepadaku.


 


“Jangan main – main kau dengan prasaan aku! Kalau memang tidak niat untuk hubungan kita. Nikah saja kau sama Dewi!” ucapnya dengan tegas.


 


“Aku serius kok sama kamu Putri .... Kemarin waktu kamu marah, aku paginya tidak bisa makan karena memikirkan kamu. Siangnya aku juga tidak bisa makan karena merindukan kamu. Dan Malamnya aku juga tidak bisa tidur . . . !”


 

__ADS_1


“Malamnya kenapa rupanya kau tidak bisa tidur?” tanya dia.


 


“Ya karena aku kelaparan!” jawabku.


 


Lalu dia tertawa, dan marahnya tadi pun menghilang. Aku menyambung lagi pembicaraan kami.


 


“Sudahlah jangan bahas tentang Dewi lagi, Aku hari ini mau bicara serius tentang pernikahan kita.”


 


Dia tertawa lagi. kali ini tertawa lepas.  “Hahaha, hahaha, bukankah sebelumnya ada yang mengatakan tidak akan menikah dengan Nenek – nenek? Aku masih sangat mengingat semua yang kamu katakan hari itu!" ujarnya dengan cetus.


 


Aku tidak menyangka dia masih mengingatnya, lalu aku pasang wajah bersalah.


 


“Ternyata kamu masih mengingatnya, sepertinya kesalahanku tidak dapat termaafkan olehmu, aku pikir tamparanmu waktu itu sudah menyelesaikan semua masalah di antara kita. Jika kamu masih ingin menamparku, aku tidak akan keberatan sekeras apa pun itu, asal kamu mau memaafkanku.”


 


Aku memejamkan mata, dan mendekatkan wajahku ke dirinya, sembari mempersiapkan jiwa dan ragaku untuk menerima tamparanya yang sangat keras itu.


 


 


Oh! ya Ampuuun.


Dia memang menamparku, dan tepat di bibirku, tetapi menggunakan bibirnya, dia juga bahkan menutup matanya. Dan ini adalah tamparan bibir pertamaku. Sepertinya juga tamparan bibir pertamanya.


Saat itu, kami hanya saling menempelkan benda lembut itu, namun tidak ada yang menggerakanya, dan tidak tau apa yang harus kami lakukan saat itu.


 


Aku menutup mataku kembali, namun jantungku mulai berdetak sangat kencang, seperti gendang mau perang, (duk,duk,duk) seperti itulah kira - kira bunyinya.


 


Tidak lama kemudian kami mendengar suara langkah kaki mendekati pintu kamarku. Sepertinya ke dua pelayan yang mengambil makanan tadi sudah kembali, kami pun melepas tamparan itu.


 


"Aghhh, Sialan, cepat bener ni nyamuk baliknya" Pikirku dalam hati.


Kami makan berdua. Tetapi tanpa mengeluarkan satu katapun, seakan – akan tamparan bibir tadi telah mengunci bibir kami, bahkan aku sampai terbalik menggunakan sendok karena canggung (grogi) dengannya.


 


Tidak lama kemudian dia pergi meninggalkan kamarku, namun aku masih merasakan bibir Putri melekat di bibirku, dan rasa itu bertahan selama seminggu. Tidak jarang pula aku melihat kaca dan memegang bibir, karena penasaran dengan hal tersebut.

__ADS_1


 


Keesokan harinya, saat aku terbangun dari tidurku, tentunya dengan prasaan berbunga – bunga karena kejadian kemarin dan berharap hari ini dia menamparku lagi, Namun aku tidak melihat Putri menyambut tidurku hari ini. Tetapi aku melihat Kirana sedang berlutut di samping tempat tidurku.


 


“Salam hormat Raja,” ucapnya.


 


“Dimana Putri? mengapa dia tidak membawa obat untukku hari ini?” tanyaku dengan alasan obat.


 


“Tadi saat saya masuk, sebenarnya Putri sudah ada disini menunggu Raja terbangun, kemudian dia pergi keluar sambil mengatakan akan mempersiapkan makan siang untuk Raja”


 


Aghhh! Terrnyata sudah siang, aku susah sekali membedakan waktu saat berada di dalam istana bawah tanah ini.


 


“Lalu apa yang membuat kamu kesini?” ujarku.


 


“Saya dapat pesan dari Raja siluman harimau. Dalam dua hari lagi dia akan mengutuskan Putra mahkotanya untuk berkunjung ke istana kita, kerajaan kita dan kerajaan mereka sudah lama tidak berperang, kami harap kita akan tetap menjalin hubungan baik dengan mereka," jelasnya.


 


“Bangunlah, aku akan melakukan yang terbaik di dalam pertemuan itu," ujarku.


 


Lalu dia berdiri tepat di hadapanku, dengan baju daun dan roknya yang tipis dan super pendek itu, Aku mulai kasihan kepada mereka.


"Kirana, bagaimana menurutmu, jika aku merubah cara berpakaian kalian?"


"Kami akan melakukan dan mematuhi perintah apa saja dari Raja, tetapi sebenarnya kami sudah terbiasa dan nyaman dengan pakaian ini," jawabnya.


Sepertinya memang kemauan mereka sendiri untuk menggunakan pakaian seperti itu, "Sebenarnya aku juga suka sih dengan pakaian mereka, karena bisa sekalian cuci mata," pikirku dalam hati.


Saat itu Mataku pun tidak sengaja melihat roknya yang pendek dan tipis itu, mengingatkanku kepada sesuatu.


"Kirana, ada yang ingin aku tanyakan kepadamu, bisakah kamu menjawabnya dengan jujur?"


"Saya tidak berani menutupi apa pun kepada Raja, jika saya berani berbohong. Raja bisa memberi hukuman mati kepada saya."


"Agh, jangan bicara seperti itu, jika pun kamu yang melakukan kesalahan, aku hanya akan menamparmu di bibir," ucapku sambil bercanda.


"Saya akan menerima hukuman apa pun itu yang Raja berikan kepada saya. Tetapi Maaf Raja, itu adalah hukuman yang paling ringan dan tidak memiliki efek jera kepada mereka yang bersalah."


Ya ampuuun, ternyata dia tidak mengerti maksudku.


Kerajaan mereka sepertinya memang memiliki peraturan yang sangat ketat dan kejam, tetapi hal itu justru menguntungkan buatku. Dengan mengandalkan status ini, aku pun bertanya kepadanya dengan blak - blakan.


"Dulu aku pernah menanggkap ular dari bangsaku, mereka sangat bau amis dan anyir, tetapi Dewi sudah menjawabnya. Tetapi ada satu hal lagi yang ingin aku ketahui, waktu itu aku melihat ada lobang aneh seperti ubur - ubur dan mengerikan di bawah pangkal ekornya, yang menurut aku itu adalah alat kelaminya, karena aku akan menikahi Putri, bisakah kamu menjelaskan hal itu kepadaku?"

__ADS_1


__ADS_2