
Aku melihat Ratu laut sedang terbaring di ranjangnya, tetapi dengan wajah yang pucat seperti Zombi.
“Apa yang sebenarnya terjadi denganmu, bagaimana bisa Ratu yang sehebat dirimu terkapar seperti ini?” tanyaku.
“Apakah kamu melihat aku sedang bercinta sekarang? Duduklah di sini, ada perkara yang harus kita bicarakan,” ucapnya sambil menepuk kasur empuk di samping tubuhnya.
Aku pun duduk di kasur itu, tepat di sebelah kaki kanannya, tetapi tanpa sengaja tanganku menyenggol kakinya,
“Aghhh ... !!!" dia pun menjerit.
Aku sangat kaget dan langsung berdiri kembali, lalu dia menangis...
“Jangan menyentuh kaki itu, hiks hiks.”
Aku bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan dia, lalu aku mencari kursi di kamar itu, ternyata tidak ada. Akhirnya aku putuskan untuk duduk di lantai di samping ranjangnya.
“Apa yang sebenarnya terjadi denganmu? siapa yang bisa melukai Ratu laut sampai seperti ini?” tanyaku.
“Tidak ada yang terjadi, mungkin ini memang sudah takdirku menjadi seperti ini. Sebenarnya kaki itu nanti akan pulih jika kekuatanku sudah kembali, tetapi itu percuma, karena umurku mungkin tinggal 7 hari lagi.” jawabnya.
Aku tidak mengerti dengan apa yang dia katakan, tetapi aku saat ini sudah sangat merindukan Putri. Aku tidak ada waktu membahas masalah kaki dia itu.
“Woi zombi, bisakah kamu memulangkan aku sekarang? aku tidak tertarik dengan ceritamu tadi. Itu urusanmu, tidak ada hubunganya denganku.”
“Aku sangat ingin mengantar kamu pulang, tetapi hal itu akan mempercepat kematian kami,” jawabnya dengan nada sangat sedih.
Aku semakin tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh wanita zombi ini, tetapi aku sangat bosan sekarang, perutku juga sudah mulai lapar.
“Ah, aku tidak mengerti maksudmu, bisakah sekarang kamu menyuruh mereka membawakan makanan untukku?”
Dia langsung berteriak. "Pengawal! bawakan makananku untuk nya."
Beberapa saat kemudian pengawalnya masuk ke kamar dan membawakan banyak makanan. Saat itu aku sangat kesal, ternyata dia memiliki banyak sekali makanan enak, bahkan ada ayam bakar juga, tetapi selama ini aku hanya di kasih bubur yang rasanya aneh dan jamu pahit.
Aku langsung makan di depannya dengan sangat rakus, sambil sedikit protes.
“Woi zombi! Kenapa selama ini kamu hanya memberiku bubur dan jamu yang sangat aneh? Padahal kamu memiliki banyak makanan di sini. Dan kenapa di kamarmu tidak ada kursi atau meja? aku jadi makan di lantai seperti pengemis.”
__ADS_1
Dia menjawab sambil melihat aku makan, “Aku selama ini makan bersama para prajuritku di ruang makan istana, jadi aku tidak butuh kursi atau meja makan di kamar. Kami memberimu bubur dan jamu untuk merangsang tenaga dalam milikmu. Aku tidak menyangka hal itu ternyata tidak berguna untuk manusia.”
“Apakah kamu tidak ikut makan?” tanyaku.
“Kamu makanlah sebanyak yang kamu mau, karena makanan tidak akan berguna lagi untuk kami yang akan mati,” jawabnya sambil meratap ke atas.
Aku terdiam sesaat mendengar kata – katanya, ternyata selama tiga hari ini dia belum makan, sehingga membuat wajahnya pucat seperti zombi. Aku mulai kasihan kepadanya.
Lalu aku duduk kembali di samping Ratu laut itu, sambil mencoba menyuapi beberapa makanan untuknya, tetapi dia memalingkan wajah dan menolak niat baikku, akhirnya aku putuskan untuk keluar dari kamar tersebut.
Sambil berkata dalam hati,
“Bodo amat, dia mati juga bukan urusanku, lebih cepat juga lebih baik. Cuiiih!”
Keesokan harinya, tepatnya di hari ke 24, aku kembali lagi ke kamar itu. Tetapi di sepanjang jalan aku melihat para prajurit itu mulai pucat juga wajahnya, bahkan ke empat pengawalnya juga mulai pucat wajahnya.
Aku langsung bertanya kepada Ratu laut itu dengan nada kesal,
“Woi zombi! Apa yang sebenarnya terjadi? mengapa prajuritmu juga ikut pucat seperti zombi?”
“Kalau kau mau mati, ya sudah mati saja sana sendiri, tetapi kenapa mereka juga harus ikut tidak makan?”
“Jika aku tidak makan, mereka juga tidak akan makan, dan enam hari lagi yang akan mati bukan cuma aku, tetapi semuanya, dan istana ini juga akan hancur,“ jawabnya dengan nada sedih lagi.
Aku masih tidak mengerti dengan kata – kata yang dia ucapkan, tetapi aku mulai kasihan kepada mereka semua,
“Apakah kalian tidak memiliki solusi untuk menyelesaikan masalah kalian ini?” tanyaku.
“Ada solusinya, yaitu membuat kamu kuat seperti aku, tetapi semua cara telah kami lakukan, namun tidak ada satu pun yang berhasil,” jawabnya.
“Woi! woi! woi! Jangan melibatkan aku dengan masalah kalian, bisakah kau menjelaskan akar masalahnya?” ujarku dengan kesal.
Lalu dia memanggil pengawalnya,
“Pengawal! Masuk, jelaskan kepada manusia Durjana ini!”
Sialan, aku di panggil durjana sama zombi ini. Lalu pengawalnya masuk dan menjelaskan semuanya, mulai dari awal kedatanganku ke sini sampai ancaman dari Tetua itu.
“Apaaa?! Jadi masalah kalian penyebabnya memang aku? aku tidak pernah tau tentang Tetua yang kalian bicarakan tadi,” ujarku sambil kebingungan dengan cerita mereka yang tidak masuk akal itu.
Awalnya aku tidak percaya dengan cerita mereka, tetapi mereka juga ada benarnya, karena selama ini aku dapat beradaptasi dengan bebas di alam mereka.
__ADS_1
“Apa kalian tidak punya solusi? aku akan membantu semampuku, karena ini juga karenaku,” tanyaku kepada ke-4 pengawal tadi.
“Sebenarnya ada satu solusi, tetapi ... “ jawab pengawal itu sambil menggantung dan tidak berani melanjutkanya lagi.
“Cepat katakanlah ... aku akan mencoba membantu kalian semampuku” tanyaku dengan nada tidak sabar.
Para pengawal itu malah saling tatap – tatapan dan tidak ada yang berani menjawabnya, di tengah keheningan itu, Ratu mereka yang malah menjawabnya dengan wajah datar dan sambil menarik nafas dalam – dalam.
“Kamu bisa melakukanya, dan itu sangatlah mudah bagimu, namun tidak mudah bagiku. Solusinya seperti yang pernah kita bahas sebelumnya, yaitu aku harus menggantikan malam pengantin istrimu.”
Aku sangat terkejut mendengarnya, tetapi dia ada benarnya juga. Saat di istana ular, mereka juga menceritakan tentang hal ini kepadaku, tetapi aku tidak tahu keberhasilannya.
“Apakah kalian yakin hal ini akan berhasil?” ujarku.
“Dari informasi yang kami terima, sejauh ini belum pernah ada yang gagal,” jawab para pengawal itu.
Lalu aku berpikir sejenak, “Mungkin hal ini bisa jadi bahan latihan untukku, sebelum aku bulan madu dengan Putri."
“Baiklah, kalau begitu nanti malam aku akan mencobanya,” ujarku dengan semangat.
“Buat anak kok coba – coba?” cetus Ratu laut.
“Karena aku cuma mau enaknya, tidak mau anaknya” cetusku.
“Terserah denganmu saja lah, aku menyetujuinya, karena aku memikirkan nasib seluruh prajuritku dan istanaku," jawabnya dengan nada kesal.
Lalu aku berpikir lagi, “Aku tidak mungkin melakukan hal itu dengan Ratu pucat yang mirip zombi ini, apa lagi ini adalah pengalaman pertamaku.
“Woi zombi, aku berubah pikiran. Aku tidak ingin melakukannya,” ujarku sambil memasang wajah serius.
“Aku sudah menduganya, kamu tidak akan mau melakukan hal ini, karena di hatimu ada wanita ular itu” jawabnya dengan nada sedih, dan para pengawalnya juga ikut sedih.
“Hahaha ... aku belum selesai bicara. Maksudnya ... aku tidak akan melakukan hal itu jika kamu dan para prajuritmu belum makan dan pucat seperti zombi, nanti aku malah seperti wik wik sama mayat.” jelasku.
Lalu mereka pun ikut tertawa, kemudian Ratu laut memberi perintah kepada pengawalnya.
“Pengawal! Umumkan kepada semua prajurit untuk makan, dan hiasi kamarku. Malam ini tidak ada yang boleh mendekatinya kecuali kalian berempat.
Kenapa sekarang jadi dia yang semangat?, “Ah ... ternyata dari tadi dia cuma malu – malu kucing saja.” pikirku dalam hati.
__ADS_1