
Kirana sangat terkejut mendengar pertanyaanku yang sangat sensitif itu, terlihat dari ekspresinya yang tercengang sesaat. Sebelum akhirnya dia tetap menjelaskanya tanpa ragu – ragu.
“Saat kami dalam bentuk manusia, Sebenarnya tidak ada bedanya dengan manusia pada umumnya, kecuali tentang hal itu ... ”
Kirana menghentikan penjelasanya, wajahnya sedikit memerah dan terlihat tanganya mulai meremas – remas kain rok yang tipis miliknya, seakan menunjukan kalau dia sedang tersipu malu dan tidak kuat untuk melanjutkan penjelasanya.
Aku semakin penasaran dengan kata – kata “Kecualinya” tadi, di tambah sikapnya yang sangat aneh tersebut.
“Hei Kirana! Kecuali apa maksudmu? Hal apa itu? Kamu semakin membuatku penasaran saja!”Cetusku dengan kesal dan sedikit membentak.
Karena dia menggantung penjelasanya, aku menjadi kesal dan tidak sengaja membentaknya, Namun hal yang tidak terduga pun terjadi, tanganya mulai melemas, Wajah Kirana semakin memerah dan panas. Kirana menundukan wajah dan menutup kedua matanya sambil Merenggangkan kedua kakinya.
“Jika Raja memang sangat penasaaran, maka Raja bisa melihatnya secara langsung di dalam sana” ujarnya.
Astagaaa...! Aku tidak menyangka dia akan melakukan hal tersebut!. Namun ini adalah sebuah pemandangan yang sangat langka dan tidak mungkin aku melewatkanya begitu saya. Awalnya aku terbengong, terheran dan tercengang sesaat. Tetapi rasa penasaranku pun juga semakin tinggi, mungkin sudah tingkat dewa tingginya.
Aku melangkah maju tanpa niat mundur, aku turun dari ranjang dan berdiri di depan Kirana, sambil mendekatkan bibirku di telinga dia dan berbisik lembut.
“Apa kamu yakin menunjukan hal ini kepadaku?” tanyaku dengan lembut.
Kedua pundak kirana terlihat semakin naik, kali ini dia semakin menutup matanya dengan kuat, wajahnya juga semakin memerah. Dia hanya menjawab pertanyaanku dengan angguk – angguk yang mengisyaratkan kesungguhanya itu.
Sebelum dia berubah pikiran, aku pun menerima niat baiknya tersebut, Aku langsung berjongkok di depan kain tipis dan pendek itu, dia juga melebarkan lagi kedua kakinya. Aku mulai mengangkat kain tersebut perlahan – lahan, tapi pasti!.
Sampai akhirnya aku melihat benda kenyal itu secara langsung dan sangat dekat yang untuk pertama kalinya dalam hidupku. Karena sebelumnya hanya bisa melihatnya di vidio – vidio, seperti cerita awalku di novel ini.
Aku mulai bergumam di dalam hati, “ Ternyata tidak ada yang berbeda, semuanya sama saja seperti di film – film yang selama ini aku lihat. Hanya saja milik Kirana lebih tembem dan sempit. mungkin bisa jadi karena dia masih prawan.”
Satu menit pun berlalu, Aku masih terus memperhatikan apemnya Kirana. Tetapi Kata – kata kecuali Kirana tadi bersarang di pikiranku, sehingga tidak jarang juga aku memencet-mencet beberapa kali benda lembut itu, yang membuat Kirana seperti kesetrum.
__ADS_1
Aku mencoba semakin mendekatkan wajahku ke benda milik Kirana. Yang akhirnya, aku pun menemukan jawaban tersebut. Tetapi tiba - tiba ...
PRANG . . . . .! ! !
Terdengar suara piring pecah di pintu kamarku, dan dia adalah Putri, yang datang membawa makan siang untukku, aku dan Kirana sangat terkejut. Secepatnya aku berdiri dan mengakhiri aksi kami tadi, lalu Putri berlari keluar lagi.
Kirana tiba – tiba malah bersujud di depanku sambil mengatakan sesuatu yang tidak henti – henti.
“Maafkan aku, Maafkan aku, Maafkan aku” Begitulah yang di ucapkanya.
Aku sangat bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Baru saja kemarin hubungan aku dan Putri semakin dekat, tetapi aku sudah melakukan kesalahan lagi di depan matanya, bahkan sekarang dengan wanita yang berbeda.
Untuk menghilangkan rasa frustasi tersebut, Aku pun memukul tembok dengan sangat kuat.
“Duppp!!!” begitulah bunyinya,
Ternyata temboknya sangat keras, jari – jariku pun menjadi bengkak! Lalu aku menyuruh Kirana bangun, dan menghentikan kata – kata aneh itu,
“Ini salahku, tolong kejar Putri, bantu aku untuk menjelaskan hal ini kepadanya!" perintahku.
Kirana pun berlari mengejar Putri, Namun sebelum dia keluar dari pintu kamar, aku memanggilnya kembali.
“Kirana! Sini dulu!” pintaku.
Lalu dia kembali sambil memasang wajah bingung,
“Berarti yang tadi, bedanya Cuma tidak memiliki bulu ya?” tanyaku padanya.
__ADS_1
“Benar Raja, kami bangsa siluman ular tidak memiliki bulu sejak lahir, kecuali rambut, alis dan bulu mata, itu pun tumbuhnya tidak secara alami, bangsa kami menggunakan resep tertentu supaya bisa meniru bangsa manusia,” jawabnya.
“Ya sudah, sekarang kamu kejar lagi dia.” Perintahku padanya.
Akhirnya selesai sudah teka – teki yang selama ini bersemayam di pikiranku. Namun sekarang aku tidak tahu cara untuk menghadapi Putri karena kesalah pahaman yang terjadi barusan. Aku yakin kali ini tidak lah sesederhana dari yang sebelumnya.
Malam hari pun tiba, Aku mondar – mandir di istana sambil memikirkan solusinya, Aku terduduk melamun di kursi raja, sambil menopang dagu.
Aku sangat merasa bersalah kepada Putri, padahal hubungan kami baru saja terjalin dengan baik. Tetapi aku juga merasa senang karena sudah mendapatkan jawaban dari kirana, ternyata anu nya tidak seram seperti yang aku pikirkan, bedanya hanya tidak memiliki bulu.
Namun sekarang aku sangat kesepian di istana, Putri lari ntah kemana, lima Jendral juga sedang mengejar dia, Dewi juga sudah pulang ke istananya, lalu aku melihat ke kanan dan kiri, ternyata masih ada pengewal pribadiku yang berjirah emas itu.
Aku mencoba mengajak mereka berbicara, mengobrol bahkan curhat tentang apa yang terjadi hari ini. Namun sangat di sayangkan, setelah satu jam lebih mulutku berkoar koar, tetapi mereka tetap seperti patung.
Aku mengambil kesimpulan, sepertinya mereka memang tuli dan bisu. Tidak lama kemudian akhirnya Jaka datang dengan nafas yang cengap – cengap seperti ikan yang nyasar ke darat.
“Lapooorrr Raja! Putri mengamuk! Dia menghajar kami semua, Kirana juga terluka parah, Putri melihat Kirana seperti musuhnya.”
Yang aku takutkan akhirnya datang juga, masalah ini lebih merepotkan dari yang sebelumnya.
“Sekarang dimana Putri dan yang lainya?” tanyaku.
“Putri dan yang lainya di atas bukit, di tempat saat Raja bercermin di bola matanya,” jawabnya.
Aku tidak mengerti, apa yang ada di pikiranya, tetapi tempat itu memang sangat indah, terutama untuk melihat bulan pada malam hari, mungkin karena lokasinya yang berada di atas bukit.
Tanpa berpikir panjang dan persiapan matang, aku meminta Jaka untuk mengantarku ke sana, tentunya dengan kendaraan yang mereka sebut teleportasi itu.
Sesampainya di sana, aku melihat Joko,Leman dan Kirana sudah tergeletak di rerumputan dengan luka yang sangat serius, dan Kirana yang paling parah di antara mereka. Kirana berada di pangkuan Dinda yang saat itu juga terluka, aku menghampiri dia karena sangat hawatir dengan keadaanya, tetapi mereka ternyata masih sadar.
“Maafkan aku Raja, ini salahku” ucap Kirana dengan nada yang sangat berat karena lukanya.
__ADS_1
“Tenanglah, aku tidak menyalahkanmu dalam hal ini, kamu istirahat saja,” ucapku sambil tersenyum dan memegang tangannya.