
Setelah memikirkan hal tersebut, aku semakin merindukan Putri karena sudah sangat lama tidak bertemu dengan dia.
"Saya ... ng, besok aku akan menemui Putri ya," pintaku kepada Ika sambil membelai pipinya.
Mendengar permintaanku itu, raut wajah Ika berubah seketika, dia mulai memutar tubuhnya hingga membelakangiku. Sepertinya dia tidak suka jika aku bertemu dengan Putri. Melihat hal tersebut aku mencoba untuk meredamkan rasa cemburu Ika.
"Kamu marah ya jika aku bertemu dengan Putri?" ujarku sambil memeluknya dari belakang.
"Pergilah menemui dia. Aku tidak punya hak untuk melarangmu," jawabnya dengan cetus.
Namun tanpa sadar aroma tubuh dan dekapan tanganku yang melingkar di pinggul Ika membuat naluri alamiahku muncul seketika. Apa lagi kami sudah beberapa hari tidak melakukan ritual tersebut.
"Saya ... ng, pedangku malam ini ingin masuk ke dalam sarungnya." ucapku lembut di telinga Ika sambil mendekapnya semakin erat dari belakang, tanpa memperdulikan Dewi yang sedang tertidur pulas di antara kami.
"Biarkan saja pedang itu sampai berkarat di sana." cetusnya.
"Kamu kenapa sih?" tanyaku.
"Apa kamu tidak memikirkan prasaan aku? saat menjemputmu dari sana, aku sudah berjanji akan membawamu kembali di hari ke-30. Besok masih hari ke-29, tetapi kamu sudah tidak sabar untuk bertemu dengan kekasihmu itu." jawabnya masih sambil membelakangiku.
Namun hasratku semakin tinggi dan mengabaikan ocehan Ika. Tanganku mulai naik dari pinggang ke perut dan berhenti di gunung kembarnya yang kenyal tersebut, tetapi dia malah menggenggam tanganku dan menurunkannya kembali.
"Aku lagi gak mood malam ini. Sama Putri saja sana, atau sama Dewi " ujarnya masih dengan nada sinis.
Aku mencoba melirik ke arah Dewi, tetapi dia masih tertidur pulas dan aku tidak tahu cara memulainya dengan Dewi. Jadi aku putuskan saja untuk olah raga lima jari di tengah mereka berdua.
Aku membuka baju dan celana tidurku, kemudian memejamkan mata sambil membayangi saat indohoi bersama Ika dan mulai melakukan olah raga lima jari itu. Namun setelah lima menit lebih melalukan hal tersebut, hasratku masih tidak terobati. Jadi aku memutuskan untuk menggesek - gesek pedang itu di punggung Ika yang masih membelakangiku. Yang akhirnya membuat dia tertawa.
__ADS_1
"Hahaha ... kamu dari tadi ngapain sih? berisik sekali," ucapnya sambil tertawa dan mulai menoleh ke arahku.
"Bantui dong, kamu tega bener melihat aku seperti ini." pintaku kepadanya.
Ika menjulurkan kedua tangannya, menandakan bahwa dia sudah bersedia untuk aku peluk, aku langsung menindih tubuh indah Ika dan membuka baju tipisnya secara perlahan. Yang membuat kami akhirnya tanpa busana di sana, tanpa memperdulikan Dewi yang masih tertidur pulas di antara kami.
Aku langsung melakukan ritual itu seperti malam sebelumnya. Kami mulai dari saling mengulum bibir, bahkan malam ini lebih panas dari sebelumnya, kami sudah mulai pintar untuk saling memainkan lidah dan bertukar saliva. yang membuat pedangku semakin keras tetapi masih di atas perut Ika.
Sekitar 20 menit kami melakukan hal tersebut, hingga saliva itu membasahi mulut kami berdua, akhirnya aku memutuskan pindah ke bagian gunungnya. Tangan kananku memelintir lembut bendolan kecil berwarna merah muda di atas gunung tersebut. Sedangkan lidahku menari di gunung sebelah kirinya sambil mengecup dan menggigit gigitnya dengan lembut.
Kurang lebih lima menit di tempat kenyal dan lembut tersebut, tidak lupa juga aku meninggalkan tanda merah di sana. Tetapi hasratku semakin tinggi. Sehingga aku putuskan untuk secepatnya memasukan pedang itu kedalam sarungnya.
"Saya ... ng, aku celupkan sekarang saja ya?" bisikku lembut di telinga Ika, tetapi dia hanya tersenyum dan membelai rambutku.
Aku langsung ke bawah dan membuka lebar paha Ika, aku menggesek gesek ujung pedangku di bibir sarung miliknya, yang membuat Ika menggeliat kegelian. Akhirnya aku sorong perlahan - lahan pedang tersebut kedalam sarung itu.
Aku menindih kembali tubuh Ika dan mulai menaik turunkan pinggulku dengan lembut. Namun pedang itu hanya aku masukkan setengah dan mencelup celupkannya di dalam sana, aku merasakan pedang itu di jepit dan sangat hangat.
"Enak sayang?" tanyaku yang berada di atas Ika. Tetapi kali ini aku melakukanya dengan sangat lembut.
Ika langsung mengangguk cepat karena mengiyakan pertanyaanku. Aku memeluk erat dan menimpah kandas tubuhnya, sehingga bibirnya sekarang berada di bahuku. Ika mencium dan mengecupnya dengan lembut, yang akhirnya meninggalkan beberapa bekas di sana. Kami sangat menikmati sensasi lembut dan romantis seperti ini.
Namun beberapa jam kemudian, aku masih belum mencapai puncak, sedangkan Ika sudah berkali-kali mengejang dan kakinya bergetar yang menandakan dia sudah berkali-kali sampai ke puncak. Akhirnya aku membenam pedang itu semakin dalam dan menggoyangnya semakin cepat, yang membuat Ika mulai menggigit gigit bahuku sampai bercap giginya.
Namun hal itu membuatku semakin bersemangat. Ranjang kami mulai bergoyang sangat hebat, mungkin baut - bautnya mulai berlepasan. Tanpa sadar mataku melirik ke arah Dewi dan menghentikan goyanganku tadi, tetapi pedangku masih berada di dalam sarung milik Ika.
Oh ya ampuuun. Dewi sudah terbangun dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Tetapi aku dapat melihat bola mota Dewi yang mengintip kami dari celah celah jarinya. Ika menatapku heran karena aku tiba-tiba menghentikan kegiatan tadi di atas tubuhnya.
__ADS_1
"Ke - kenapa sa - yang?" tanya Ika yang masih cengap - cengap.
"Dewi terbangun," jawabku
"Ca - ca - but dulu pe - dangmu."
Astaga aku lupa mencabutnya. pantas dia seperti orang gagap. Aku langsung mencabut pedang panjang tersebut, tetapi Ika malah mendekati tubuh Dewi dengan wajah jahilnya sambil mengatur nafas.
"Hahaha ... kamu ngapain tutup muka begitu?" ucap ika yang geli melihat tingkah Dewi dan membuka wajah Dewi.
Dewi menatap kami. Dia terbengong dan masih menunjukan wajah lugunya, mungkin karena melihat kami berdua yang sudah basah kuyup oleh keringat dan dengan nafas yang tidak stabil. Ika menggenggam erat tangan Dewi.
"Saya ... ng, ayo lagi. Kamu belum keluarkan?" ujar Ika yang berada di samping Dewi dan masih menggenggam tangannya.
Dia benar - benar jahil, tetapi aku juga belum keluar. jadi aku putuskan untuk melanjutkan goyangan pinggul tadi di atas Ika, tetapi kali ini Ika sengaja mendesah kuat yang memenuhi seisi kamar kami. Aku juga melihat Dewi yang mulai panik dan nafas yang tidak teratur. mungkin suhu badannya juga mulai panas dingin.
"Agh ... , terus sayang, aku sedikit lagi keluar, aghhh." desahan Ika yang semakin membuat Dewi serba salah.
Entah setan apa yang merasuki Ika. tiba - tiba dia langsung membalik posisi kami. Sekarang aku malah berada di bawah dan Ika di atas. Dia bergoyang sangat cepat di atasku sambil berkali - kali memainkan rambutnya yang terurai panjang, dan terdengar juga suara decakan dari tubuh kami yang sedang berlonjak lonjak di ranjang.
Keringat Ika mulai kembali bercucuran, dia sepertinya sudah mulai tidak tahan lagi di atas sana, sebelum akhirnya Ika memelukku sangat kuat dan mengejang ngejang di atasku.
Kami berdua menoleh kearah Dewi. Ika mencabut pedang itu dari sarung miliknya secara perlahan dan mulai berbicara, tetapi masih sambil mengatur nafasnya. "Saya ... ng, aku sudah tidak kuat. Ini sakit tapi nikmat. Sekarang kamu coba sana sama Dewi."
Aku hanya bisa terdiam mendengar perkataan Ika. Tetapi ini juga sebenarnya sebuah kesempatan bagiku untuk memulai hubungan dengan Dewi dalam hal ini. Namun aku masih bingung cara untuk memulainya, sebelum akhirnya Ika membantuku untuk memulai hubungan kami.
"Gadis kecil ... buka bajumu ... apakah kamu tidak ingin memuaskan suamimu?" ujar Ika sambil memasang wajah jahil.
__ADS_1