
Dengan hati yang sangat berat, aku mencoba membuka lukisan itu secara perlahan - lahan, di iringi irama jantung yang sangat syahdu, (Dag! Dig! Dug! ,Dag! Dig! Dug!, Dor!) Begitu lah bunyinya.
Akhirnya salah satu lukisan itu pun terbuka. Namun Aku tak kuasa, Menahan air mata yang semakin deras mengalir di pipiku, Ingus pun ikut meleleh, bahkan membanjiri lukisan itu, tetapi itu bukanlah air mata buaya, Melainkan air mata Kebahagiaan.
Aggghhh ...Sialan. Aku di kerjainya. Ternyata semua lukisan itu adalah kenangan kami berdua, Waktu dia menamparku, Waktu aku bercermin di bola matanya saat melihat bulan di atas bukit dengan pemandangan yang indah, waktu kami tamparan bibir, Waktu aku memeluknya dan lain – lain.
Melihat Reaksiku itu, Putri tersenyum dan memeluk tubuhku dengan erat, tentunya aku juga secepatnya menyapu ingusku, agar tidak jatuh di rambutnya (sruupz sruupz bunyinya).
“Kamu adalah laki – laki yang pertama dan yang terakhir di dalam hidupku,” ujarnya.
Aku tidak menyangka, masih ada wanita seperti dia di dunia ini, lebih tepatnya di alam jin ini. Di usianya yang saat ini, dia masih bisa menjaga kehormatannya demi suaminya kelak, dan kebetulan itu adalah aku.
“Maafkan aku yang telah meragukan kesetiaanmu, aku juga berjanji akan selalu mencintaimu, bahkan jika suatu saat kamu menghancurkan hatiku berkeping – keping, aku akan tetap mencintaimu dengan kepingan hati yang tersisa," ujarku kepadanya.
“Aku akan memberi tahu mereka, Dua hari lagi kita akan menikah, dan kita akan mengirim undangan ke semua kerajaan termasuk kerajaan harimau,” ucapnya sambil memegang ke dua pipiku.
Lalu dia semakin mendekati wajahnya, dengan berjinjit dan mulai menarik wajahku lembut ke arahnya, aku juga terbawa suasanya, dan memiringkan sedikit wajahku.
Akhirnya hal yang di inginkan pun terjadi. Kami tamparan bibir lagi, namun kali ini kami melakukanya dengan sadar, dan mencoba untuk menikmatinya, saat itu perasaanku benar – benar nyaman, bahkan rasanya tidak ingin melepaskan bibirnya, tangan Putri juga mulai membelai tubuhku.
Aroma Nafasnya yang khas dan harum mulai meresap dan mengalir kedalam pembuluh darahku. Pelukannya benar – benar hangat, dan belaianya sangat lembut, aku ingin seluruh hidupku di dalam pelukannya.
Dan kali ini kami melakukannya dengan gerakan, bahkan saling sedot – sodotan, hasratku juga mulai tinggi, tangan pun mulai bergentayangan di tubuhnya yang mungil itu, akhirnya bibirku berpindah ke lehernya.
Putri mulai menutup matanya dan menatap ke atas, sepertinya dia juga menikmatinya, mungkin karena dua hari lagi kami akan menikah, jadi hal ini tidak jadi masalah jika di lakukan lebih cepat, karena kata orang bijak, lebih cepat lebih baik.
Aku meninggalkan jejak berwarna merah di bagian itu, dan tentu itu karyaku yang pertama, Setelah selesai di leher, aku memutuskan ingin berpindah ke bawah lehernya, sebelum akhirnya ...
“Maaf Raja, maaf Ratu, air hangat untuk mandi sudah siap.” ujar Dewi di depan pintu sambil menundukan wajahnya.
Ohhh ya ampuun, sejak kapan dia berada di sana?
Kami menyudahi aksi itu, namun tangan Putri masih tetap merangkul tubuhku, tanpa memperdulikan prasaan Dewi yang sedang melihat kemesraan kami tadi.
“Aku akan mandi dulu, nanti malam kita akan melihat bulan bersama – sama," ucap Putri kepadaku sambil tersenyum.
“Dewi! Kamu temani aku mandi hari ini,” pinta Putri kepada Dewi.
“Siap Ratu,” jawab Fewi dengan wajahnya yang masih tertunduk.
__ADS_1
Putri mencium pipiku dan akhirnya mereka berdua pergi meninggalkan kamar itu. Aku juga kembali ke kamarku, dan Aku sangat terkejut melihat ke dua pelayan Putri yang sudah tertidur di meja makan dengan perutnya yang sudah buncit – buncit.
Aku baru ingat, sebelum meninggalkan kamar, memerintahkan mereka untuk menghabisi semua makanan dan melarangnya beranjak pergi tanpa ijinku. Aku pun tepuk jidat dan membangunkan mereka untuk kembali melayani Putri.
Malam hari pun tiba, kami melihat bulan bersama – sama di atas bukit, ada lima jendral, Putri dan Dewi. Kami sambil membahas tentang pernikahan yang akan di laksanakan 2 hari lagi, Kami juga sambil bercerita, bercanda dan tertawa.
Aku sebenarnya tidak terlalu perduli dengan acara pernikahan itu, karena yang aku tunggu – tunggu adalah malam pertamanya, apalagi pernikahan itu tidak ada dangdut dan biduanya. “Oh ya ampuun acara yang sangat membosankan," pikirku dalam hati.
Mereka memutuskan akan berada di sini sampai pagi. Namun posisi duduknya sangat membuat aku dilema, ada Putri di sebelah kiriku, yang di ikuti Dinda, Joko dan Leman. Lalu ada dewi di sebelah kananku, yang di ikuti Kirana dan jaka.
Malam semakin larut, waktu sudah menunjukan pukul 2 pagi, aku melihat mereka sudah mulai tertidur, bahkan Putri bersandar di bahu kiri dan Dewi bersandar di bahu kananku, Aku harus merangkul keduanya agar tidak Nungging! ke depan atau Jungkir balik! ke belakang.
Saat itu aku merasakan perbedaan tubuh Dewi dan Putri, "Putri lebih ramping dan mungil (enak untung di angkat – angkat), Dewi lebih padat dan berisi (mungkin dia lebih menggigit), sebenarnya keduanya sangat bagus untuk menjadi istri," ujarku dalam nafsu.
Joko, Jaka, leman dan Dinda sudah merebahkan tubuhnya di atas rumput, Aku juga sebenarnya sudah sangat mengantuk, namun berusaha untuk terjaga, agar tidak mengusik tidur mereka berdua. Tiba – tiba Kirana bernyanyi sangat merdu sambil menatap bulan.
Mungkin ini memang jalan takdirku,
Mengagumi tanpa di cintai,
Tak mengapa bagiku, asal kau pun bahagia
Dalam hidupmu, Dalam hidupmu...
Ku ingin kau tahu diriku di sini menanti dirimu,
Dan berharap rasa ini kan abadi untuk selamanya...
(Ungu : Cinta Dalam Hati)
Saat itu aku malah ingin memiliki tiga tangan, biar bisa merangkul Kirana sekalian, biar rame! pikirku, namun itu tidaklah mungkin. Jadi aku putuskan untuk membalas lagunya saja.
Aku tak bisa memiliki...
Menjaga cintamu...
Walau sesungguhnya hatiku...
Mencintaimu, memilikimu...
Aku tak ingin kau terluka...
Mencintai aku...
Hapuslah air matamu...
dan lupakan aku...
(Digta)
Lalu kami saling memandang, sebelum akhirnya saling tertawa, kemudian aku memulai percakapan dengannya.
__ADS_1
“Kamu belum mengantuk?” tanyaku.
“Apakah hatimu sudah memiliki pilihan di antara mereka berdua? “jawab Kirana yang tidak nyambung itu.
“Bagaimana jika kamu yang berada di posisiku?” ujarku memancing saranya.
“Maka pilihlah yang cintanya lebih besar kepadamu, namun jika sama besarnya, maka pilihlah yang paling kamu cintai," jawabnya.
Aku tidak menyangka, jawabanya sangat cerdas, yang akhirnya melegakan perasaanku yang dilema itu. Aku langsung mengecup kening Putri yang sedang tertidur pulas di bahu sebelah kiri.
“Aku telah menetapkan yang kiri, dan tidak akan pernah berubah,” tegasku.
“Bukankah itu tidak adil untuk yang kanan?” ujarnya.
“Jika aku punya pilihan, aku akan memilih keduanya, namun hal itu akan menyakitkan untuk semuanya.” Jawabku.
“Mengorbankan 1 demi kebahagiaan 2 orang, pilihan yang baik. Lalu bagaimana jika di tambah aku di dalamnya? Bukankah menjadi mengorbankan 2 demi 2?” cetusnya.
Astagaaa! Aku sangat kebingungan menjawabnya, ini seperti menghitung hati dengan rumus matematika, aku pun akhirnya menyerang balik.
“Lalu bagaimana jika kamu yang di posisiku?”
“Bukankah Raja harimau memiliki 12 istri? Kamu hanya ingin 3, bahkan masih ada 9 ruang yang kosong di dalamnya,” jawabnya dengan tenang.
“Aku hanya ingin 1, kecuali dia yang mengijinkanya," jawabku.
“Hahahaa,,, Aku adalah wanita, dan tidak akan ada wanita yang mengijinkanya, kecuali di paksa atau terpaksa," ujarnya sambil tertawa.
“Apakah kamu benar – benar mencintaiku?” tanyaku.
“Kamu sudah tau jawabannya, dan itu terjadi waktu pertama kali kamu memegang tanganku saat memasuki gua” jawabnya.
Tiba – tiba Putri terbangun dan menatapku dengan sinis, aku dan Kirana pun terkejut dan sangat takut kalau dia mengamuk lagi. tetapi anehnya, dia tiba – tiba malah merubah sifatnya.
“Percayalah, aku akan bersaing dengan adil dengan mereka semua,” ucapnya sambil tersenyum dan akhirnya tertidur lagi.
Huaahahaaa ... aku dan Kirana pun menjadi tertawa terbahak - bahak dan termehek – mehek melihat tingkahnya, kami tidak tau dia beneran tidur atau tidak, lalu Kirana melanjutkan lagi,
“Walaupun aku sangat mencintaimu. Namun Kami lima jendral sudah mengabdikan diri untuk rakyat dan kerajaan, kecuali nanti jika usia kami sudah 1000 tahun, dan itu masih 500 tahun lagi, kamu tidak perlu memikirkan perasaanku,” tegasnya.
__ADS_1
Aku sangat lega mendengarnya, mungkin 500 tahun lagi aku sudah menjadi tulang belulang. Malam itu aku menghabiskan waktu mengobrol dengan Kirana, paginya kami pulang ke istana, dan aku pun tertidur seharian.