MENIKAHI Tiga Wanita Cantik

MENIKAHI Tiga Wanita Cantik
PENGORBANAN


__ADS_3

Siang harinya, Ratu laut membangunkan tidurku. Dia sudah lengkap dengan busana yang indah berwana merah, sepertinya dia  suka mengoleksi pakaian. Tetapi rambutnya masih agak lembab. Mungkin dia baru saja mandi wajib, pikirku dalam hati.


 


“Muaaach ...  bangun sayang sudah siang,” ujarnya sambil mengecup keningku.


 


Aku bangun dan pergi ke pemandian di istana laut. Di sini tidak memiliki sabun, apa lagi shampo. Selama di sini aku hanya mandi menggunakan kembang, tetapi lebih segar dan menenangkan.


 


Setelah selesai mandi, Ratu laut sudah menungguku di kamar, dia telah mempersiapkan pakaian raja yang sangat mewah untukku. Dia juga membantuku untuk memakaikan pakaian tersebut.


 


Saat ini kami sudah seperti suami istri, padahal belum menikah. Mungkin ini yang di sebut kumpul Kebo. Tetapi syukurlah, tidak ada petugas satpol p* yang me Razia kami di alam mereka.


 


Namun pikiranku saat ini teringat dengan wanita penyusup yang mereka tangkap tadi malam. Yang di laporkan oleh para pengawal Ratu zombi ini saat aku sedang asik enak – enak dengannya.


 


“Woi zombi, siapa yang kalian tangkap tadi malam?”


 


“Aku juga belum melihatnya sayang, bisakah kamu tidak memanggilku zombi lagi? Setelah selesai memakai baju ini, kita akan melihatnya bersama – sama. Tetapi dia berada di penjara abadi, mungkin kesempatan hidupnya sangatlah kecil,” jawabnya.


 


“Jadi sekarang bagaimana cara aku memanggilmu?” tanyaku.


 


“Aku sekarang adalah selirmu, kamu bisa memanggilku selir Ika, atau panggilan mesrah lainya,” jawabnya sambil melingkarkan tangannya di leherku.


 


Ternyata dia sangat romantis, aku semakin jatuh hati kepadanya. Setelah aku sudah selesai meggunakan baju Raja yang di pakaikan olehnya. Kami langsung pergi ke penjara abadi yang dia sebut tadi.


 


Kami memasuki sebuah lorong di bawah istana. Aku mendengar suara wanita menjerit jerit dari kejauhan, suaranya samar – samar. Namun aku masih bisa mengenal suara tersebut. Aku langsung bergegas lari ke sumber suara itu.


 


“Lepaskan aku! lepaskan aku, dimana Rajaku!” Dia terus mengatakan hal itu berulang kali.


 


Ketika sampai di pintu penjara. Aku sangat terkejut, bahkan air mataku langsung mengalir melihat pemandangan yang ada di depanku. Kedua tangan dan kakinya di ikat rantai secara menggantung, darahnya mengalir dari rambut, wajah dan seluruh tubuhnya.


 


Bajunya koyak – koyak, wajahnya juga sudah bonyok. Tetapi aku masih bisa mengenalinya. Dia adalah Dewi, salah satu wanita yang selalu menghawatirkan keselamatanku. Dia melihatku sekilas dengan kedua matanya yang sudah bengkak.


 


Dewi berkata sambil mengeluarkan senyum khasnya “Rajaku ....” Sebelum akhirnya dia pun pingsan.


 


Aku tidak kuat melihat penderitaan Dewi. Aku langsung menghancurkan pintu penjara itu dan melepaskan rantai yang membelenggunya dengan tenaga dalam. Dan itu untuk pertama kalinya aku menggunakan kekuatan ini. Aku langsung menggendong tubuh Dewi.


 


Ika mengikuti langkahku sambil terus bertanya.


 


“Siapa dia. Siapa gadis kecil ini. Mengapa kamu sangat menghawatirkannya?”


 


Aku terus berjalan dnyamengabaikannya Ika. Sambil memasang wajah yang penuh amarah. Aku membawa Dewi ke kamar kami lalu meletakan tubuhnya di ranjang. Ika masih terus bertanya tanpa henti. Tanganku langsung mendarat di leher Ika dan mencekiknya sangat kuat sampai tubuhnya terangkat.

__ADS_1


 


“Kau sembuhkan dia sekarang! atau aku akan hancurkan tubuhmu dan istanamu! Nyawa dia 1000 kali lebih berharga dari dirimu!” ujarku sambil melempar tubuhnya ke dinding.


 


Sambil terbatuk batuk dia menjawab, “Uhuk uhuk! Ba- baiklah , beri aku waktu 2 jam untuk menyembuhkannya.”


 


Mendengar keributan tersebut. Ke-4 pengawal Ika mendatangi kami untuk melihat apa yang terjadi. Tetapi mereka tidak berani untuk melawanku saat itu. Aku langsung keluar dari kamar sambil melihat Ika marah dan menampar ke-4 pengawalnya.


 


Dua jam pun berlalu. Saat itu aku sedang melihat pemandangan laut di tepi istana sambil memikirkan nasib Dewi. Ika datang menghampiriku dan bertingkah sangat genit.


 


“Wahai calon Rajaku yang sangat tampan. Sekarang kamu sudah bisa melihat teman kecilmu.”


 


Aku langsung melangkahkan kaki dengan cepat menuju kamar itu dan mengabaikannya. Sesampainya di sana aku sangat terkejut melihat penampilan Dewi. Lukanya benar – benar menghilang dan raib entah kemana, mereka juga sudah mengganti busananya dengan baju tidur berwarna ungu, hanya tinggal rambutnya saja yang belum di rapikan.


 


Spontan aku bertanya kepada Ika yang memang terus mengikuti langkahku, “Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa dia sembuh begitu cepat?”


 


“Saya ... ng, dia sama seperti kami. Selama masih hidup, dia hanya butuh kekuatannya kembali untuk menyembuhkan semua lukanya. Jadi kami hanya mengembalikan kekuatan dan membersihkan tubuhnya.”


 


“Lalu kapan dia akan sadar?” tanyaku sambil duduk di samping tubuh Dewi dan memegang tangannya.


 


Mendengar pertanyaanku, Ika mengusap wajah Dewi dengan telapak tangan. Dewi pun terbangun dan langsung memelukku sambil menangis.


 


 


Aku baru sadar. Sudah 26 hari di istana laut ini dan meninggalkan mereka. Dewi sangat menderita karena aku, sementara aku asik enak – enak di ranjang bersama Ika. Ini semua sebenarnya salahku, tetapi tidak dapat di pungkiri. Aku juga menikmatinya.


 


“Nanti aku akan menjelaskan semuanya kepadamu. Sekarang berterima kasihlah kepada Ratu laut yang sudah menyembuhkanmu.” ujarku.


 


Mata Dewi langsung melihat Ika. Tetapi dia sangat kaget dan ketakutan, sepertinya Dewi sangat trauma dengan Ratu laut itu.


 


“Jangan mendekati Rajaku! Tidak akan aku biarkan kau menyentuhnya, aku akan melindunginya sampai nafas terakhirku!” ucap Dewi yang sangat lantang kepada Ika. Tetapi sambil bersembunyi di belakangku.


 


Melihat hal tersebut, aku dan Ika tertawa terbahak - bahak dan ter mehek mehek. Ucapanya tidak sesuai dengan tingkahnya.


 


“Ika, jangan menakutinya,” ucapku masih sambil tertawa.


 


“Aku tidak ada menakutinya, teman kecilmu itu saja yang sangat aneh,” ucap ika yang masih tertawa geli melihat tingkah Dewi.


 


Malam harinya. Ika mempersiapkan kamar untuk Dewi, tetapi Dewi tidak mau jauh dan tetap ingin di dekatku. Akhirnya kami pun tidur bertiga. Dewi di kanan dan Ika di sebelah kiriku.


 


Saat itu Ika tidur sambil memelukku, dia sepertinya tidak perduli dengan Dewi yang berada di antara kami. Aku melihat Dewi terus memperhatikan Ika yang sedang memelukku, matanya mendelik dan kedip – kedip sangat cepat. Sepertinya di otaknya juga menyimpan sejuta pertanyaan tentang hubungan kami.

__ADS_1


 


Tetapi malam itu tidak ada yang terjadi antara kami bertiga. Aku juga tidak berani menyentuh Dewi karena tidak ada status apa pun dengannya. Keesokan paginya, kami bertiga terbangun dari tidur karena ada yang melapor di pintu kamar.


 


“Lapor Ratu, benda itu sudah kami temukan,” ucap dari salah satu pengawalnya.


 


“Masuklah, bawakan benda itu dan meja riasnya ke sini,” jawab Ika sambil bangun dari tidurnya.


 


Para pengawal itu masuk ke kamar kami sambil membawa mahkota kecil dan meja rias. Dewi langsung bangun dan berlari merebut mahkota itu.


 


“Siapa yang mencuri mahkotaku?! Ini pemberian ayah saat aku masih kecil!”


 


“Hahaha ... tidak ada yang mencurinya. Benda itu terjatuh waktu kamu di tangkap oleh prajuritku. Karena aku melihat calon Rajaku sangat perduli denganmu, jadi aku menyuruh mereka untuk mencarinya,” jawab Ika sambil menyuruh dewi duduk di meja rias tersebut.


 


Dewi duduk di meja rias itu. Ika merapikan rambut Dewi yang sangat berantakan. Melihat pemandangan itu, aku semakin suka dengan Ika, ternyata dia juga sangat baik dan pengertian.


 


“Ika, bisakah sekarang kamu jujur kepadaku, mengapa kamu ingin aku menjadi Raja di istanamu?” tanyaku.


 


“Aku ingin menyatukan semua kerajaan di samudra, supaya tidak ada lagi peperangan di antara kami. Dengan kekuatanmu yang sekarang, semua kerajaan akan mengakuinya tanpa perlu bertarung dan menimbulkan banyak korban,” jawabnya masih sambil merapikan rambut Dewi.


 


“Lalu mengapa kamu ingin menjadi istri ke-2 ku?”


 


“Tentu saja karena aku mencintaimu. Alasanya karena kamu sudah menolong rakyatku, kemudian juga sudah merebut kesucianku dan yang terakhir waktu kamu mencekikku demi teman kecilmu ini. Saat itu aku semakin cinta kepadamu. Karena membuktikan kalau kamu sangat perduli dan penuh kasih sayang.”


 


Dia mengatakan hal itu di depan Dewi, sehingga ekspresi Dewi menjadi semakin bingung dan penuh tanda tanya. Tetapi aku tidak begitu mengerti dengan ucapannya. Masa dia bilang suka di cekik. Mungkin dia hanya suka sama pedangku yang panjang dan berurat itu, pikirku dalam hati.


 


“Jika kamu sudah menjadi istriku, apakah kamu akan mengizinkan aku untuk menikah lagi?” tanyaku dengan nada serius.


 


Lalu dia terdiam, dan tangan dia juga terhenti dari kegiatannya yang sedang merapikan rambut Dewi. Mereka berdua menatapku dengan wajah yang sangat kebingungan sambil mengerutkan dahinya.


 


“Berapa istri yang kamu inginkan, mengapa tidak cukup 2?” tanya Ika.


 


“Aku hanya ingin 3, dan wanita itu pantas untuk menjadi istriku.”


 


“Apakah yang ada di depanku?” tanya Ika sambil melihat Dewi.


 


“Jika memang dia, apakah kamu setuju?”


 


Suasana menjadi hening sesaat, Dewi juga semakin kebingungan dengan pembicaraan kami. Sampai akhirnya Ika kembali merapikan rambut Dewi lagi dan menjawab pertanyaanku dengan sangat tenang.


 

__ADS_1


“Melihat dari pengorbanannya, sepertinya dia memang pantas untuk menjadi istrimu. Maka aku tidak memiliki alasan untuk melarang rencamu itu."


__ADS_2