Menjadi Janda Gara-gara Janda

Menjadi Janda Gara-gara Janda
kencan makan malam


__ADS_3

Jam 20:15 Ajeng, telah siap dengan gaun yang Amar berikan tadi siang. sama hal nya dengan Amar yang, sudah rapih dengan setelah jas yang sengaja dia pilih senada dengan warna gaun yang Ajeng, kenakan.


"Nah sudah rapih, dan tampan." gumam Amar di depan cermin


"Eh tunggu dulu, Ajeng sudah siap atau belum ya?." tanya Amar sendiri.


"Lebih baik aku, periksa dulu."


Amar, langsung saja menuju kamar di mana Ajeng, berada.


tok tok tok


"Siapa!" pekik Ajeng dari dalam kamar.


"Ini aku, Amar." jawab Amar


"Oh, ada apa?." tanya Ajeng, sambil merias wajahnya.


"Apa kamu, sudah siap?." tanya Amar di balik pintu.


"Sebentar lagi, lima menit lagi aku, turun." jawab Ajeng


"Baiklah, aku tunggu."


"Lebih baik aku ke kamar Iki, dulu saja." gumam Amar dan langsung menuju kamar Iki.


tok tok tok


"Jagoan papa, apa boleh papa masuk?." tanya Amar kepada Iki.


"Iya pah, masuk saja." ucap Iki mempersilahkan Amar, masuk.


klek saat pintu di buka terlihatlah sosok anak kecil, yang sedang belajar.


"Sayang, sedang apa?." tanya Amar, kepada Iki.


"Aku, sedang belajar pah, nanti kan aku, mau masuk sekolah jadi aku ,harus belajar sekarang." jawab Iki sambil terus menulis


"Wah pintar nya anak papa. tapi papa dan mama,mau pergi apa Iki, tidak mau ikut?." tanya Amar, dan langsung mendapatkan gelengan kepala dari Iki.


"Tidak pah, aku mau belajar saja." jawab Iki singkat.


"Baiklah. jaga diri baik-baik ya, papa dan mama, tidak akan lama." ucap Amar, sambil mengelus rambut, Iki.


"Ok pah, jaga mamah ya pah!" ucap Iki, kepada Amar.


"Siap jagoan papah." ucap Amar, merasa bangga kepada anak yang dia, rawat selama ini.

__ADS_1


Setelah beberapa menit akhirnya Ajeng, turun dengan gaun nya, riasan wajah yang sederhana tidak terlalu mencolok, tapi terlihat sangat cantik di wajah mungil Ajeng. dan itu membuat Amar, terkesima.


"Ayo aku sudah siap." ajak Ajeng, kepada Amar.


"A ,, ayo." ucap Amar, gugup.


keduanya pergi menuju tempat di mana Amar, memesan tempat untuk mereka kencan hari ini. saat Sampai di sana Ajeng, di suru memakai penutup mata, agar semuanya terlihat sempurna.


"Nah kita sudah sampai." ucap Amar, kepada Ajeng.


"Tapi, tunggu dulu, kamu harus menutup mata ok." titah Amar kepada Ajeng.


"Tapi mas, untuk apa pake acara menutup mata segala!." protes Ajeng.


"Karena mas, mau ngasih kamu kejutan." ucap Amar, sambil memakaikan penutup mata kepada, Ajeng.


"Nah ayo, mas tuntun ya."


Ajeng di bawa oleh Amar, ketempat yang dia pesan. dan setelah sampai di sana penutup mata Ajeng di buka, seketika membuat Ajeng, terkagum-kagum dengan apa yang Amar, lakukan.


"Kita sudah sampai, aku buka ya dalam hitungan tiga, kamu boleh membuka mata kamu. satu ,, dua ,, tiga ,, buka." ucap Amar kepada Ajeng.


"Wahhh, ya ampun ini ,, ini indah sekali, apa kau yang membuatnya mas?." tanya Ajeng, tak percaya.


"Iya. apa kamu suka sayang?." tanya Amar kembali.


" Cup ,, cup ,, cup.. jangan menangis sayang, aku jadi ~." saat Amar, hendak melanjutkan ucapan nya Ajeng, memotong dengan cara memeluk dan mencium Amar.


"Terima kasih ya mas, aku menangis sebab aku, sangat terharu dengan apa yang kamu, lakukan." ucap Ajeng, tulus.


"Sama-sama sayang, terima kasih juga karena kamu, sudah mau membuka hati dan menerima ku." ucap Amar, bersyukur.


"Baiklah ayo kita makan dulu." ucap Amar, menarik kursi untuk Ajeng.


keduanya, makan malam dengan sangat bahagia, terutama dengan Amar, dia tidak menyangka jika akhirnya Ajeng, benar-benar menerima cintanya.


"Sayang!." pekik Amar.


"Mmm." jawab Ajeng.


"Aku ada sesuatu untuk mu." ucap Amar, berdiri dan mengeluarkan sebuah kotak kecil, yang sangat indah.


"Apalag~." ucapan Ajeng, harus di telan kembali karena Amar, sudah memakaikan kalung di leher jenjang Ajeng, dan mencium pucuk kepala nya.


"Amar ini!." ucap Ajeng, sambil memegang kalung yang di pakai di lehernya.


"Itu untuk mu sayang, maaf aku, tidak tau apa yang kamu, suka jadi aku hanya bisa memberikan kalung untuk mu." ucap Amar, lirih.

__ADS_1


"Tidak sayang, ini jauh lebih dari cukup. terima kasih banyak atas semua kebaikan dan kasih sayang mu, kepadaku dan Iki." ucap Ajeng, tulus.


"Sama-sama sayang, dan untuk Iki itu wajar, karena aku, sudah menganggap nya seperti anak ku sendiri." ucap Amar serius.


"Aku mencintaimu!." ucap Ajeng, berdiri sambil mencium Amar.


keduanya berciuman cukup lama, hingga Ajeng, merasa kekurangan nafas dan ciuman mereka pun berakhir.


"Terima kasih sayang cup!." Amar mengecup dan memeluk Ajeng, kembali.


sementara itu Dimas dan Dian, tengah sibuk mempersiapkan undangan pernikahan mereka, tapi tiba-tiba Maya datang datang mengancam akan merusak pernikahan nya nanti.


"Mas sayang, aku pikir kita, tidak usah terlalu banyak mengundang banyak orang, hanya keluarga inti saja yang kita, undang bagaimana?." usul Dian kepada Dimas


"Aku setuju saja dengan mu, tapi walaupun kita tidak mengundang banyak orang, tapi pernikahan kita harus terlihat sempurna ok." ucap Dimas


"Ok mas, lihat deh mah yang ini sepertinya bagus!." tanya Dian sambil menunjuk kartu undangan.


"Iya sepertinya bagus, dan mas, akan setuju jika kamu, yang memilih nya." ucap Dimas sambil tersenyum.


saat keduanya sedang sibuk memilih dan merencanakan semuanya, Maya datang dengan perasaan marah yang menggebu-gebu.


"Dimas!." pekik Maya.


"Maya." ucap Dimas, keget melihat Maya, ada di sini.


"Sedang apa kamu di sini Maya?." tanya Dimas tak sabar.


"Mas Dimas, aku menyesal dulu sudah berbuat seperti itu sama kamu mas, aku masih sayang sama kamu mas, dan aku ingin hubungan kita seperti dulu lagi." ucap Maya sambil menarik tangan Dimas.


"Cukup Maya, hentikan sandiwara mu. aku, sudah tidak mempunyai perasaan apapun terhadap mu, lagi pula kesalahan mu, dulu tidak bisa aku, maafkan sampai kapan pun, jadi lebih baik kamu pergi dari sini." usir Dimas, kepada Maya.


"Mas aku khilaf mas, dan aku, janji tidak akan berbuat seperti itu lagi. tapi aku, mohon kembalilah mas, kita mulai dari awal lagi." ucap Maya kembali.


"Aku, tidak Sudi jika harus kembali dengan wanita murahan seperti mu, lebih baik kamu, pergi dari sini, ataw aku, akan memanggil satpam untuk mengusir,mu?." ucap Dimas emosi.


"Ingat aku akan balas semua perbuatan mu, dan aku, tidak akan membiarkan pernikahan kalian, berjalan dengan lancar." ancam Maya, kepada Dimas dan Dian.


"Dan untuk kamu wanita bodoh, aku, tidak akan membiarkan hidup mu, tenang selama nya. ingat ini baik-baik." ancam Maya kembali.


"Dasar orang gila!! pekik Dimas..Satpam ,, satpam?." ucap Dimas emosi.


"Sabar mas ,, sabar." ucap Dian menenangkan Dimas.


"Awas kalian berdua, kalian, akan membayar semua nya, dengan sangat mahal camkan ini." Maya, pergi dengan meninggalkan sumpah serapah dan ancaman nya untuk Dimas dan Dian.


"Akhirnya orang gila itu pergi." pekik Dimas.

__ADS_1


"Sabar mas!.ucap Dian terus menenangkan Dimas.. Tapi mas aku, takut jika ucapan dan ancaman nya benar." ucap Dian khawatir.


__ADS_2