Menjadi Janda Gara-gara Janda

Menjadi Janda Gara-gara Janda
Dian di siksa


__ADS_3

"Tentu saja, lebih baik kamu segara kembali ke kota, agar Dimas tidak mencurigai mu!!" usul Romi kepada Maya.


"Tapi bagaimana bisa kamu mengenal mas Dimas!!" pekik Maya heran.


"Nanti aku ceritakan, lebih baik kamu cepat pergi agar Dian, tidak melihat mu dan, Dimas juga tidak mencurigai mu!!" titah Romi, untuk yang kedua kalinya.


"Baiklah, tapi kau harus menjaganya baik-baik." ucap Maya, memperingati Romi.


"Serahkan itu padaku." ucap Romi mengerti.


"Dan satu lagi, kau jangan berani menyentuhnya walaupun seujung kuku saja!!" ucap Maya kembali.


"Aku mengerti, lebih baik kau segera pergi." pekik Romi.


Di lain tempat, Dimas yang sedang istirahat tiba-tiba perasaan nya tertuju pada, Dian.


"Kenapa aku kepikiran sama Dian ya!!" gumam Dimas.


"Coba aku telepon, apakah dia sudah bangun atau belum!!" gumam Dimas, sambil menelpon Dian.


tut Tut Tut


Tut Tut Tut..........


"Tidak di angkat, mungkin Dian masih tidur!!" pikir Dimas menganggap Dian, masih tidur karena tidak mengangkat telepon dari nya.


" Tapi kenapa perasaan ku menjadi tidak enak yah!!" gumam Dimas kembali.


"Lebih baik, aku temui saja ke apartemen nya." pikir Dimas.


akhirnya Dimas, memutuskan untuk menemui Dian, di apartemen nya. saat Dimas tiba di apartemen, tetapi Dimas tidak menemukan sosok Dian disana.


"Sayang, aku datang!!." pekik Dimas


"Sayang, kamu di mana!!" pekik Dimas kembali, tetapi tidak jawaban dari Dian.


"Pergi kemana Dian itu?." ucap Dimas bertanya-tanya


sementara itu Dian, yang baru sadar dari pingsan nya seketika kaget, karena mendapati dirinya berada di ruangan yang asing.


"Aww, aduh kepala ku sakit sekali!!" pekik Dian.


"Tapi ada di mana aku ini, aduh kepala ku sakit sekali!!" pekik Dian kembali sambil memijat pelipisnya.


"Tolong ,, apa ada orang. Tolong lepas kan aku." ucap Dian berteriak.

__ADS_1


"Siapapun di luar tolong,lepaskan aku!!" pekik Dian emosi.


"Sial siapa yang berani melakukan ini kepada ku? aku akan membalas nya seribu kali lipat." ucap Dian sambil mencoba membuka ikatan di tangan dan kaki nya.


"Tol~ saat Dian hendak berteriak meminta tolong kembali, tiba-tiba seseorang masuk kedalam ruangan itu, sambil mengenakan topi dan masker untuk menutupi wajah nya..Siapa kamu, tolong lepaskan aku?". ucap Dian bertanya seraya meminta agar orang itu melepaskan nya.


"Siapapun aku, kamu tidak perlu tau." ucap Romi santai sambil melipat tangannya di dada.


"Lalu untuk apa kamu, menculiku apa salah ku padamu!!" pekik Dian emosi


"Hahhaha,, kesalahan mu adalah, karena kamu itu kekasih dari Dimas Saputra, orang yang paling aku benci seumur hidup ku." pekik Romi.


"Siapa kamu sebenarnya!! mengapa kamu sangat membencinya??". tanya Dian kepada Romi.


"Siapapun aku, yang jelas kamu harus menanggung akibat dari semua kebencian ku terhadap Dimas." pekik Romi seraya berjalan mendekati Dian.


Dian yang melihat Romi, berjalan mendekat ke arah nya, seketika merasa takut dan memohon agar dirinya di lepaskan.


"Kamu ,, kamu ,, kamu mau apa!! pekik Dian ketakutan.. Jangan mendekat, aku mohon jangan mendekat." ucap Dian ketakutan.


"Kamu, lihat apa yang akan aku, lakukan padamu." ucap Romi sambil mengarahkan pisau di leher jenjang Dian.


"To~tolong jangan seperti ini, kasihanilah aku, aku mohon." ucap Dian, memohon belas kasihan dari Romi, sambil menangis.


"Ha ha ha" tawa Romi, menambah ketakutan pada Dian.


Bukan nya Romi, mengasihani Dian, tetapi malah Romi, menampar Dian dengan begitu keras hingga telinga Dian, terasa berdengung.


plak ,, plak


"Aww ,,,,," pekik Dian, menjerit karena kedua pipinya merah karena di tampar oleh Romi, dengan begitu keras.


"Dasar wanita, bisa nya hanya menangis saja." ucap Romi, yang pergi meninggalkan Dian, yang menangis karena tamparan darinya.


"Jangan pergi tolong lepaskan aku, tuan aku mohon lepaskan aku" ucap Dian berteriak.


"Melepaskan mu ,, hhh mimpi." ucap Romi, yang menghilang di balik pintu ruangan itu.


"Lepaskan aku tolong." ucap Dian lirih.


"Mas Dimas,, hiks hiks hiks tolong aku mas!!" ucap Dian sambil menangis.


"Aku takut mas, disini aku ingin pulang, tolong aku mas, tolong." ucap Dian yang terus saja menangis sambil memanggil nama Dimas.


# rumah Amar.

__ADS_1


"Mamah, apa papah, hari ini libur?." tanya Iki kepada Ajeng.


"Memang nya kenapa, sayang?." tanya Ajeng kembali.


"Semalam papa, bilang hari ini akan mengajak ku pergi ke tempat permainan tapi, aku takut mengganggu pekerjaan papa di kantor?." ucap Iki khawatir Amar, mengajak nya bermain dan meninggalkan pekerjaan nya.


"Mama tidak tau sayang!! memang nya ini hari apa?." tanya Ajeng yang lupa dengan hari.


"Ini hari Rabu mama, begitu saja mama tidak tahu." jawab Iki sambil mengerucutkan bibir nya.


"Mama bukan nya tidak tahu, hanya saja mama lupa." ucap Ajeng tersenyum kecut.


"Apa mama ini sudah tua, sehingga dengan hari saja mama lupa." seketika Ajeng tertawa dengan ucapan sang anak yang, seperti orang dewasa.


" Kamu ini, masih kecil tapi sudah seperti orang dewasa saja!!" pekik Ajeng, sambil mencubit pipi gembul anak kesayangan nya.


"Habis aku kesal, masa sama hari saja mama lupa." ucap Iki sambil tersenyum.


"Iya ,, iya mama minta maaf!!". ucap Ajeng, sambil menjewer telinga nya sendiri.


"Lalu bagaimana!! apakah papa libur atau tidak?." tanya Iki kembali.


"Mama tidak tau sayang, tapi coba nanti mama tanya sama papa ya." ucap Ajeng, menenangkan Iki.


"Ok, jika papa libur, mama juga libur kan?." tanya Iki polos.


" Mana bisa begitu sayang, jika papa libur bukan berarti mama juga libur. papa itu kan seorang bos, sedangkan mama hanya seorang karyawan saja, jadi mama tidak bisa seenaknya saja untuk libur." ucap Ajeng menjelaskan kepada Iki.


"Tapi mama, kan kekasih nya papa, berarti mama, juga bos kan?." tanya Iki, seketika membuat kepala Ajeng, pusing.


"Iki sayang, memang benar mama itu kekasih papa, cuman kalau untuk perusahaan itu beda urusan nya sayang." lagi-lagi Ajeng, hanya bisa menjelaskan apa yang Iki tanyakan tadi.


sementara itu Dimas, terus saja mencoba menelepon Dian, walaupun di sebrang sana tidak pernah menjawab panggilannya.


"Coba aku telepon dia sekali lagi!!" gumam Dimas yang terus saja menelepon Dian.


Tut Tut Tut ( NOMOR YANG ANDA TUJU SAAT INI TIDAK BISA MENERIMA PANGGILAN DARI ANDA, COBALAH BEBERAPA SAAT LAGI)


"Sial, lagi-lagi hanya suara wanita tak kasat mata yang menjawab panggilan ku." gumam Dimas kesal, karena lagi-lagi hanya suara operator saja yang berbicara.


"Sebenarnya kamu pergi kemana sih sayang!! kenapa kamu pergi tanpa memberitahu ku, apa kamu marah karena aku hanya mengantar mu sampai lobi saja." gumam Dimas, menyangka Dian marah karena dia hanya mengantar kan nya hanya sampai lobi saja.


bersambung....


tunggu up berikutnya yah

__ADS_1


jangan lupa tinggalkan jejak, like, comen dan beri dukungan nya ❤️❤️❤️


__ADS_2