
Yayah yang melihat itu pun langsung mendapatkan ide untuk mengerjai suaminya dengan cara memanas-manasi. "Sekretaris Kin saat bermain ukulele dan bernyanyi tadi benar-benar terlihat keren."
Tapi sepertinya Yayah harus menerima kenyataan kalau suaminya ini lebih pintar. "Oh, memang Kin itu keren." Sama sekali tidak terpancing.
Loh, kenapa dia sama sekali tidak cemburu sih. Yayah.
Sok sok-an ingin memanas-manasi aku ya. Arsalan tertawa dalam hati.
Selesai makan, Yayah dan Arsalan langsung di jemput oleh Jajang. Mereka tidak langsung pulang karena Yayah merengek ingin jalan-jalan sebentar. Yayah melihat-lihat jalanan kota yang tidak pernah sepi oleh lalu lalang kendaraan.
Lama kelamaan Yayah pun jadi merasa sumpek dengan keadaan kota, ia membutuhkan refreshing.
"Sayang, aku rasa aku butuh liburan deh. Setidaknya dua sampai tiga hari untuk menghilangkan stress."
"Iya, aku juga setuju dengan mu. Aku juga kadang merasa jenuh dengan pekerjaan kantor yang menumpuk." Arsalan mengusap-usap rambut istrinya. Lalu menyelipkan rambut nakal yang menghalangi wajah istrinya ke belakang telinga.
"Jadi kapan kita akan liburan?" Tanya Yayah yang terlihat bersemangat.
"Nanti ya, jangan sekarang-sekarang aku masih banyak pekerjaan yang harus di selesaikan."
Arsalan mencubit pipi Yayah karena gemas melihatnya cemberut seperti itu. "Hey, jangan coba-coba untuk menggoda ku dengan wajah menggemaskan mu itu." Bisik Arsalan.
Yayah pun segera mengkondisikan wajahnya agar terlihat biasa saja. Bisa bahaya kalau Arsalan sampai tidak bisa mengendalikan dirinya.
Karena lelah habis jalan-jalan, Yayah dan Arsalan pun ambruk di kamar mereka. Waktu menunjukkan hampir pukul jam 6 sore.
"Sayang jangan dulu tidur, kita mandi dulu." Ujar Arsalan.
"Kamu duluan saja, aku mau tidur dulu sebentar."
"Tidak boleh seperti itu, ayo mandi dulu." Namun Yayah sama sekali tidak menjawab, sepertinya Yayah sangat kelelahan terbukti ia langsung terlelap tidur.
Arsalan langsung geleng-geleng kepala melihatnya. Tanpa basa-basi Arsalan langsung menggendong Yayah dan memasukannya ke dalam bathtub yang sudah terisi air. Saat di masukkan ke dalam bathtub Yayah terdengar bergumam-gumam tidak jelas.
Selesai dengan urusannya di kamar mandi, Arsalan pun keluar sambil menggendong Yayah. Mereka sudah menggunakan pakaian tidur lengkap. Dengan hati-hati Arsalan meletakkan Yayah di tempat tidur.
Ia menatap wajah istrinya, mengusapnya lembut dan memeluknya untuk menjaganya dari dinginnya angin malam. Tak lama Arsalan pun ikut terlelap bersama istrinya.
__ADS_1
Esok harinya, seperti biasa sebelum memulai pekerjaan Arsalan dan Yayah sarapan pagi terlebih dahulu. Selesai sarapan Arsalan pun pamit untuk berangkat ke kantor kepada Yayah. Yayah menatap mobil Arsalan melaju hingga hilang di belokan.
Satu minggu kemudian.
Waktu terasa berjalan dengan cepat, hari ini Yayah sedang bersiap untuk membagikan hasil ujian nasional murid-muridnya. Yayah berjalan cepat menuju ke kelas 12D, ia tak sabar ingin menemui murid-muridnya itu.
Sebenarnya Yayah bisa saja menempel surat pengumuman hasil ujian nasional itu di mading, tapi Yayah ingin memberikan pengumuman itu langsung pada murid-muridnya.
Saat sampai di kelas 12D, Yayah bisa melihat raut wajah ketegangan murid-muridnya. "Selamat siang murid ku semuanya."
"Siang, Bu." Menjawab dengan serempak.
"Hari ini Ibu akan mengumumkan hasil ujian yang di peroleh oleh kalian semua. Ibu berpesan pada kalian, jagalah diri kalian baik-baik dan kejarlah mimpi-mimpi kalian karena tidak ada yang tidak mungkin. Ibu akan sangat merindukan kalian. Canda, tawa dan kejahilan kalian akan selalu Ibu kenang." Semua murid kelas 12D tampak terharu dengan ucapan guru tercinta mereka. Bahkan sampai ada yang meneteskan air mata.
"Sekarang Ibu akan mengumumkan juara umum atau murid yang meraih hasil ujian tertinggi di kelas kita. Yang pertama Aya Mayang Sari, yang kedua Aksan putra Diningrat, dan yang ketiga ada Sania Sinta. Selamat kepada kalian." Seru Yayah dengan di iringi tepuk tangan murid-muridnya.
Acara perpisahan berlangsung dengan baik.
Rasa bahagia dan sedih bersatu jadi satu dalam acara perpisahan itu.
Semua murid memberikan kenang-kenangan kepada Yayah. Ada yang memberi foto mereka bersama, ada juga yang menuliskan puisi bahkan langsung mempersembahkannya di depan Yayah dan teman-temannya, dan masih banyak lagi kenang-kenangan yang di berikan oleh murid kelas 12D kepadanya.
Tapi tiba-tiba ia mendengar ada suara orang yang menangis, Yayah pun mencari asal suara itu. Di lihatnya jam tangan, masih siang batinnya. Yayah berpikir tidak mungkin yang begituan muncul siang-siang.
Yayah pun terkejut melihat seorang murid sedang menangis dengan memeluk kedua lututnya di ruang kesenian. "Hey, kamu Kenapa?" Tanya Yayah.
Anak itu pun juga terkejut saat mendengar ucapan Yayah. "Bu....Bu guru?"
"Kamu murid kelas 12C kan?" Anak itu mengangguk. "Kamu kenapa menangis?"
"Aku sedih Bu guru, karena nilai ujian ku tidak seperti yang aku harapkan. Aku malu dan takut, aku juga benar-benar sangat kecewa. Aku merasa tidak berguna." lirihnya.
Yayah tertegun mendengar ucapan murid itu, ia mengerti perasaannya. "Nak, jangan pernah kamu merasa putus asa dan tidak berguna. ingat nak, kegagalan bukan alasan untuk kamu berhenti berjuang. Ibu guru juga pernah mengalami apa yang dialami oleh kamu. Mau dengar ceritanya?"
"Boleh Bu guru?"
"Tentu boleh." Siswi itu pun tersenyum kepada Yayah.
__ADS_1
Yayah menerawang jauh, mengingat masa-masa di mana dia sekolah dulu.
☀️☀️☀️☀️
Sekarang adalah hari pengumuman kelulusan dan hasil ujian nasional. Semua murid kelas 9 tidak sabar ingin melihat pengumuman itu langsung di Mading.
Yayah dan sahabat-sahabatnya pun tampak dengan teliti mencari nama mereka yang di tertempel di mading. Saat Yayah melihat namanya, senyum di bibirnya pun memudar.
Ini gak mungkin! Kenapa hasil ujian ku tidak memuaskan seperti ini, padahal aku sudah berusaha semaksimal mungkin saat ujian.
Mata Yayah mulai berkaca-kaca, ia merasa malu dan kecewa dengan hasil ujian yang diperolehnya. Yayah pun langsung berlalu pergi meninggalkan sahabat-sahabatnya tanpa memberitahu mereka.
"Loh, Yayah di mana?" Sasa yang baru menyadari kalau sahabatnya itu tidak ada.
"Perasaan kan tadi bareng sama kita." Ujar Ina sambil mengedarkan pandangannya mencari sosok sahabatnya itu.
"Yaudah kita cari aja yuk." Usul Angel.
Mereka mencari keberadaan Yayah di lingkungan sekolah. Mereka mencari mulai dari kelas-kelas, sampai ke ruang guru. Mereka pun teringat dengan Mang Otong karena memang Yayah sering menemui penjaga sekolah itu. Mereka pun menemui Mang Otong di pos jaga.
"Mang Otong." Sapa Sasa.
"Iya Neng, ada apa?" Tanya Mang Otong yang sedang asyik ngopi di pos.
"Mamang liat Yayah gak?" Kata Angel.
"Tadi Mamang liat, neng Yayah keluar lingkungan sekolah sambil lari-larian. Tapi ada yang beda dari neng Yayah."
"Beda kenapa, Mang?" Ujar Ina.
"Tadi waktu Mamang nanya neng Yayah mau kemana, tapi neng Yayah gak ngejawab gak kayak biasanya. Tapi Mamang mah berpikir positif aja, mungkin si Eneng gak denger." Jelas Mang Otong.
"Ok, terimakasih Mang infonya." Kata Sasa.
Mereka pun langsung keluar dari lingkungan sekolah untuk mencari Yayah. Acara perpisahan sudah selesai sebelum mereka melihat hasil kelulusan dan hasil ujian tadi.
Bersambung....
__ADS_1
Dukung penulis dengan cara baca, like, rate, coment dan vote. Terimakasih 😊