Mentari Ku Cahaya Hidupku

Mentari Ku Cahaya Hidupku
Pulang kampung


__ADS_3

Kegagalan memang sangat menyakitkan, apabila kita mengalaminya seakan dunia tidak adil kepada kita. Bahkan sampai membuat orang terpuruk dan putus asa. Tapi ingatlah kegagalan bukan akhir dari segalanya, anggaplah kegagalan adalah sukses yang tertunda. Bangkit dan berjuang lagi, yakinlah bahwa diri mu mampu tuk menggapai mimpi.


Sheila pulang ke rumahnya dengan perasaan agak tenang setelah mendengar nasihat dari Yayah. Tapi ia pun juga khawatir kalau Mamahnya akan memarahinya.


"Sheila pulang." Seru Sheila sambil berjalan cepat menuju ke kamarnya.


"Sheila tunggu dulu, kenapa kamu buru-buru mau masuk ke kamar?" Mamah ternyata dari tadi menunggu Sheila datang sambil meminum secangkir teh.


Deg!


Sheila benar-benar bingung harus mengatakan apa pada mamahnya nanti, takut kalau mamah akan marah karena hasil ujian yang di dapat tidak sesuai dengan harapan. Sheila masih mematung di tempatnya.


"Sheila kenapa malah diam saja di sana? Kemari nak, mamah ingin melihat hasil ujian mu." Sheila masih tetap tidak bergeming dari tempatnya.


Bagaimana kalau mamah akan syok dan marah setelah melihat hasil ujian nasional? Pikiran buruk itu terus saja berputar di kepalanya. "Mah, kalau mamah ingin menanyakan soal hasil ujian besok saja ya, aku cape mah mau istirahat." Alasan yang menurutnya paling tepat untuk sementara menghindari mamahnya melihat hasil ujiannya.


Mamah hanya mengangguk, walau sebenarnya ia merasakan ada gelagat aneh dari putrinya itu.


Saat Sheila baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba kalung yang di namai jimat sahabat dari Yayah terjatuh dari saku bajunya.


"Itu apa yang terjatuh?" Berjalan menghampiri Sheila.


"Ini bukan apa-apa, mah." Tapi tangan Sheila kalah cepat oleh mamah.


Mamah sudah lebih dulu mengambil jimat sahabat yang terjatuh itu. Namun, tiba-tiba mamah terkejut saat melihat benda yang di pegangnya.


"Sheila, kamu dapat dari mana benda ini?" Menatap Sheila yang terlihat takut. Takut kalau Mamahnya akan marah.


"Sheila dapat itu dari guru Sheila, mah." Sebenarnya ragu untuk menjawab, tapi kalau tidak di jawab pasti mamah akan marah.


"Guru Sheila? Ayo antarkan mamah ke rumahnya, mamah ingin bertemu dengan guru mu."

__ADS_1


Apakah mamah marah karena Bu guru memberikan benda itu? Tapi itu kan hanya kenang-kenangan dari gurunya saja. Mimik wajah mamah yang menunjukkan rasa tak percaya dan terkejut, sungguh malah membuat Sheila menjadi takut.


Takut-takut Sheila menjawab. "Tapi Sheila gak tahu rumah Bu guru itu, dan Sheila juga gak tahu namanya. Soalnya Bu guru tidak ngajar di kelas Sheila, Bu guru memberikan benda itu hanya sebagai kenang-kenangan darinya."


Mamah masih diam mematung di tempatnya, tapi itu justru malah membuat Sheila menjadi takut. "Mah, Sheila ke kamar dulu ya, mau istirahat." Menghindar lebih baik pikirnya.


Sheila langsung cepat-cepat masuk ke kamarnya, meninggalkan mamah yang masih setia berdiri di tempatnya sambil memegang benda yang di rasa tidak asing baginya.


Yayah, benarkah dugaan ku kalau pemberi kalung yang kita namai jimat sahabat ini adalah kamu. Aku sangat rindu padamu, sekarang kamu di mana, aku sangat rindu padamu.


Sementara itu, Arsalan dan Yayah sedang asyik main ular tangga di kamar mereka. Yayah sangat senang karena dia selalu menang melawan Arsalan, terlihat dari wajah Arsalan yang penuh dengan coretan bedak.


"Sayang, sepertinya kamu tidak tahu bagaimana caranya bermain ya?" Tergeletak melihat wajah suaminya.


Arsalan hanya bisa pasrah saat istrinya mencoret-coret wajahnya dengan bedak. "Sayang kamu kan sudah kalah dari ku. Kamu kan bilang kalau yang menang boleh meminta hadiah apa saja?"


"Iya, lalu kamu ingin hadiah apa?" Tanya Arsalan dengan senyum yang cerah seperti biasanya.


Arsalan paham apa yang di rasakan Yayah. Jauh dari orang tua, pasti kita akan sangat rindu dan terus kepikiran bagaimana keadaan orang tua kita.


"Iya sayang, besok kita akan ke kampung halaman kamu untuk mengunjungi Emak dan Abah ya." Yayah benar-benar sangat bahagia mendengarnya.


"Besok? Terimakasih banyak sayang." Memeluk suaminya.


Yayah sangat senang karena Arsalan sangat mengerti dirinya. Walau Arsalan bukan yang pertama, tapi dia akan menjadi raja terakhir di hatinya. Dan selama-lamanya.


Arsalan mencium kening istrinya, lalu membenamkan wajah istrinya ke dadanya yang bidang. Dan malam itu adalah malam yang penuh cinta untuk pasangan suami istri ini.


Keesokan harinya. Arsalan dan Yayah sedang bersiap-siap untuk pergi ke kampung halaman Yayah. Mereka menyiapkan pakaian karena mereka berniat untuk menginap selama beberapa hari, mereka juga menyiapkan oleh-oleh untuk keluarga di kampung.


"Sayang banyak sekali oleh-olehnya?" Melihat oleh-oleh yang hampir memenuhi meja di ruang tengah.

__ADS_1


"Iya. Semua oleh-oleh ini untuk mertua ku dan adik-adik ipar ku." Arsalan tersenyum pada istrinya, sungguh ia benar-benar sangat mencintai istri tercintanya ini. "Yasudah, kita masuk ke mobil yuk. Biar semua oleh-oleh ini Jajang dan Kin yang masukkan ke mobil."


"Sekretaris Kin juga ikut?" Tanya Yayah yang sedang berjalan menuju ke mobil.


Arsalan membukakan pintu mobil untuk istrinya, ia pun masuk ke dalam mobil. "Sayang aku mengajak Kin karena kita akan membutuhkannya." Jelas Arsalan. "Tidak apa-apa kan kalau aku mengajak Kin?"


Yayah tersenyum. "Tidak apa-apa sayang, sekretaris Kin juga kan sudah kita anggap seperti keluarga."


Setelah Kin dan Jajang masuk ke dalam mobil, mobil pun melaju yang di kendarai oleh Jajang.


Rasa bahagia begitu tergambar jelas di wajah Yayah, sudah lama ia tidak berjumpa dengan orang tua dan adik-adiknya. "Sayang, aku bahagia sekali. Terimakasih ya sayang." Sambil menyenderkan kepalanya di bahu suaminya.


"Sama-sama sayang, apapun yang membuat kamu bahagia akan aku lakukan." Terus menciumi kepala istrinya. "Oh iya, aku dengar adik mu menjadi ustadzah mudah ya? Hebat sekali."


"Kamu kok tahu? Padahal aku belum cerita loh." Sambil tengah asyik memainkan ponselnya.


"Jadi hp kamu itu lebih menarik dari pada aku." Yayah langsung memasukkan hpnya kedalam tas setelah mendengar perkataan Arsalan.


Yayah pun mendongak menatap suaminya. "Bukan begitu sayang, aku tadi sedang membalas pesan di grup sekolah. Masa kamu cemburu sama hp sih?"


"Bagaimana aku tidak cemburu, istri ku lebih perhatian pada benda mati itu di bandingkan pada suaminya." Sambil melempar tas Yayah ke sembarang arah.


Sementara itu Kin hanya diam mendengarkan pertengkaran kedua suami istri itu, sedangkan Jajang ia masih tetap fokus menyetir.


Cinta memang membuat orang jadi hilang akal. Lihat Tuan Muda, marah hanya karena hal sepele seperti itu. Batin Kin.


Bersambung....


☀️☀️☀️☀️


Dukung penulis dengan cara baca, like, rate, coment dan vote. Terimakasih 😊

__ADS_1


__ADS_2