Mentari Ku Cahaya Hidupku

Mentari Ku Cahaya Hidupku
Jimat sahabat


__ADS_3

Mereka pun langsung keluar dari lingkungan sekolah untuk mencari Yayah. Acara perpisahan sudah selesai sebelum mereka melihat hasil kelulusan dan hasil ujian tadi.


Yayah berlari sambil menangis melewati jalan setapak, ia berlari menuju ke saung (gubuk) tempat yang selalu di jadikan beskem olehnya dan sahabat-sahabatnya. Yayah sempat terjatuh beberapa kali karena semalam hujan jadi jalan menjadi becek dan licin. Seragam yang di pakainya pun jadi sangat kotor oleh tanah sawah.


Saat sudah sampai di saung (gubuk), Yayah langsung menangis sejadi jadinya melepaskan semua malu dan kekecewaan di hatinya. "Kunaon! Kunaon kudu aing nu ngalaman ieu, kunaon!!!" (Terjemah: Kenapa! kenapa harus aku yang ngalamin ini, kenapa!!!). Teriak Yayah.


Banyak orang bilang kalau hasil tidak akan mengkhianati usaha, dan aku percaya itu. Tapi hari ini aku benar-benar merasa terkhianati, usaha yang aku lakukan sia-sia! Jerit Yayah dalam hati.


Yayah menatap langit, tampak mendung seperti suasana hatinya saat ini. Saat ini Yayah hanya ingin berdiam diri di sini, tidak ada niatan untuk pulang atau menemui siapapun.


Air mata tak henti-hentinya mengalir, ia meratapi nasibnya yang malang ini. Bagaimana reaksi Emak dan Abah nanti, begitu pikirnya.


Ia benar-benar merasa malu dan tidak berguna, padahal ia adalah anak kebangsaan Emak dan Abahnya. Yayah takut membayangkan bagaimana perasaan kedua orang tuanya nanti.


Padahal ia dan sahabat-sahabatnya selalu membicarakan tentang SMA favorit yang menjadi incaran mereka, dan mereka selalu bicara ingin melanjutkan sekolah ke sana.


Tapi harapan untuk melanjutkan ke sekolah favorit yang telah lama ia incar sepertinya harus pupus. Ia benar-benar merasa sangat sedih dan sakit hati. Benci, malu, kecewa dan rasa tidak percaya menyatu jadi satu dalam hatinya.


"Yayah! Ternyata kamu di sini, kita nyariin kamu kemana-mana loh." Kata Ina yang terlihat ngos-ngosan karena sudah mencari Yayah kemana-mana.


"Iya bener, liat tuh Angel udah mau tepar." Sasa yang juga tidak kalah ngos-ngosan. Terlihat Angel mengaitkan tangannya ke pinggang Sasa karena kelelahan.


"Pergi! Aku gak mau ketemu sama siapa-siapa untuk saat ini." Ucap Yayah di tengah isak tangisnya.


Ina, Sasa dan Angel saling tatap karena bingung dengan sikap Yayah, tidak biasanya dia seperti itu. "Yayah kamu kenapa? Kalau ada masalah cerita sama kita, siapa tahu...." Perkataan Ina terpotong.


"Siapa tahu kalian bisa bantu?!" Potong Yayah. "Apa bener kalian bisa bantu?" Kata Yayah dengan nada sinis.


Sasa mendekati Yayah. "Setidaknya kalau kamu cerita sama kita, itu bisa mengurangi sedikit beban di hati kamu."

__ADS_1


Yayah mulai terisak lagi. Sahabat-sahabatnya pun jadi merasa khawatir melihatnya. "Yayah kamu kenapa, please jangan bikin kita jadi khawatir kayak gini. Cerita sama kita kamu ada masalah apa?" Angel yang mengusap-usap rambut Yayah.


Yayah menatap satu per satu sahabat-sahabatnya, terlihat jelas di mata mereka ada rasa khawatir dan peduli. Yayah menghela nafas panjang, lalu ia mulai menceritakan masalahnya kepada sahabat-sahabatnya.


"Kamu yang sabar ya. Ini adalah pembelajaran agar kamu bisa lebih berhati-hati lagi dalam melakukan sesuatu. Mungkin saat mengisi soal ujian kamu terlalu tergesa-gesa, dan itu membuat kamu jadi tidak fokus." Ujar Sasa.


"Iya, yang penting kamu jangan putus asa dan kamu harus optimis." Tambah Angel.


"Walau pun kamu nantinya gak satu sekolahan lagi sama kita, tapi kita akan sebisa mungkin meluangkan waktu untuk main ke rumah kamu." Kemudian Ina memeluk Yayah dengan erat seakan ia pun turut merasakan apa yang sedang di rasakan oleh Yayah saat ini.


Aku benar-benar beruntung memiliki mereka Tuhan, terimakasih telah memberi ku sahabat-sahabat yang baik dan peduli pada ku.


Terlihat Sasa mengambil sebuah batu dan jerami, lalu ia mengikat batu itu dengan jerami dan membentuknya menjadi sebuah kalung. Sasa pun memberikannya kepada Yayah.


"Apa ini?" Sambil menerima pemberian dari Sasa.


"Jimat?" Angel dan Ina bersamaan.


"Iya itu namanya jimat sahabat. Kalau kamu suatu saat merasa galau dan putus asa, kamu tinggal genggam aja jimat ini dan ingat kita bertiga. Insya Allah kamu akan menemukan jalan keluar dari masalah yang sedang kamu hadapi." Jelas Sasa.


"Iya, Aku janji akan menyimpan jimat ini baik-baik. Terimakasih banyak ya, kalian adalah sahabat terbaik untuk aku."


Hujan turun dengan derasnya, membawa kesejukan untuk mereka. Airnya mengalir, menimpa tanah sawah yang subur ini. Angel merangkul Yayah yang sudah mulai tenang. Yayah pun di selimuti oleh jaket milik Sasa, perlahan kantuk mulai menyerang Yayah, dan Yayah pun tertidur.


Saat Yayah membuka mata, ia bingung karena ia sudah ada di kamarnya. Yayah mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya, benar ini memang kamarnya. Tapi kenapa ia bisa ada di sini, bukankah ia sedang berada di saung (gubuk) bersama sahabat-sahabatnya.


"Neng geus hudang?" (Terjemah: Neng udah bangun?) Emak masuk kedalam kamar dan menghampiri Yayah sambil membawa susu hangat.


Di letakannya susu hangat itu di atas meja belajar Yayah. Emak duduk di samping Yayah. "Emak, Eneng...."

__ADS_1


"Emak geus nyaho, Emak moal nyarekanan maneh. Maneh kudu tetep sumanget nya, ulah putus asa, Emak mah tetep bangga ka maneh. Maneh mah budakna bageur teu loba pamenta kos anak batur, geus ulah di pikiran deui. Sakola mah di mana weh, da nu ngarana sakolaan mah sarua wae. Diajar-diajar keneh lain Ulin." (Terjemah: Emak udah tahu, Emak gak akan marahin kamu. Kamu harus tetap semangat ya, jangan putus asa, Emak tetap bangga sama kamu. Kamu itu anaknya baik gak banyak minta kayak anak orang lain, udah jangan di pikirin lagi. Sekolah mah di mana aja, yang namanya sekolahan mah sama aja. Belajar bukan main). Mengelus rambut anak pertamanya itu.


Yayah tersenyum, rasa semangat dan kepercayaan dirinya mulai bangkit kembali. Kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, justru kita bisa belajar dari kegagalan. Gagal ya bangkit lagi, jangan malah terpuruk dan putus asa.


☀️☀️☀️☀️


"Begitu lah yang di alami oleh Bu guru, intinya kamu harus tetap semangat dan gak boleh putus asa. Gagal bangkit lagi, jangan malah terpuruk dan putus asa." Yayah tersenyum setelah selesai bercerita padanya.


"Terimakasih Bu guru, aku berjanji akan bangkit dan tidak akan putus asa lagi seperti ini. Bu guru baik sekali, wali kelas ku saja tidak pernah sebaik ini dan sedekat ini dengan ku. Kelas 12D beruntung memiliki wali kelas seperti Bu guru."


Yayah tersenyum dan mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, lalu memberikannya kepada murid itu.


"Ini apa Bu guru?"


"Itu jimat sahabat. Simpan itu baik-baik, anggap saja itu kenang-kenangan dari Bu guru."


"Terimakasih, Bu guru memang baik." Memeluk Yayah.


"Sama-sama sayang, oh iya siapa nama kamu?"


"Nama ku Sheila."


"Baiklah Sheila, sekarang kamu harus pulang. Hari sudah semakin sore, lihat sudah mau senja." Menunjuk langit.


Sheila mengangguk lalu mencium punggung tangan Yayah. "Sheila pamit." Berlalu meninggalkan Yayah.


Kegagalan memang sangat menyakitkan, apabila kita mengalaminya seakan dunia tidak adil kepada kita. Bahkan sampai membuat orang terpuruk dan putus asa. Tapi ingatlah kegagalan bukan akhir dari segalanya, anggaplah kegagalan adalah sukses yang tertunda. Bangkit dan berjuang lagi, yakinlah bahwa diri mu mampu tuk menggapai mimpi.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2