Mentari Ku Cahaya Hidupku

Mentari Ku Cahaya Hidupku
Formulir pendaftaran


__ADS_3

Yayah terharu mendengar perkataan Mang Otong. Memang benar kebaikan seseorang tak akan pernah bisa di lupakan dan akan selalu di ingat, walau sekecil apapun kebaikan itu.


Walaupun kebaikan yang dilakukan itu sudah jauh bertahun-tahun lamanya, tapi tak akan pernah bisa terlupakan.


Yayah menatap rumah bercat hijau yang ada di depannya. "Mang, Imah e'ta tos aya nu meuli can?" (Terjemah: Mang, rumah itu udah ada yang beli belum?) Tunjuknya pada rumah bercat hijau itu.


"Teu acan, Neng." (Terjemah: Belum, Neng). Yayah hanya mengangguk. "Nyaentos, Mamang masih ke'ne'h boga pagawe'an." (Terjemah: Yasudah, Mamang masih punya pekerjaan).


"Oh, eunya." (Terjemah: Oh, iya). Mencium punggung tangan Mang Otong. Yayah menatap kepergian Mang Otong sampai hilang dari pandangan.


Kemudian pandangan Yayah teralihkan lagi kepada rumah bercat hijau itu. Tepat di sana, rumah yang dulunya adalah saung (gubuk) yang menjadi beskemya dan sahabat-sahabatnya, yang menjadi awal tergapai cita-cita masa remajanya.


Ingatan Yayah pun melayang pada saat waktu kebersamaannya dan sahabat-sahabatnya dulu.


☀️☀️☀️☀️


Cerahnya mentari siang begitu menyengat kulit, tapi tetap tidak bisa menyurutkan semangat empat sahabat ini.


Yayah, Ina, Sasa dan Angel sedang sibuk mengisi formulir pendaftaran audisi band, mereka tak sengaja mendapatkan formulir yang terselip di sebuah majalah yang sedang Angel baca di rumahnya.


Mereka sedang sibuk mengisi formulir pendaftaran itu, sesekali mereka berdebat soal biaya pendaftarannya.


"Kita bisa gak ya ngumpulin uang sebanyak ini selama lima hari?" Tanya Angel yang merasa ciut dengan biaya pendaftaran audisi band itu.


"Bismillah aja dulu, semoga kita bisa ngumpulin uangnya tepat waktu." Yayah yang tak mau sahabatnya menjadi pesimis.


"Tapi emangnya kita punya alat-alat buat nge-band nya? Boro-boro buat beli alat-alat buat nge-band, buat biaya pendaftarannya aja belum tentu ada." Lagi-lagi Angel merasa tidak yakin.


Ina, Yayah dan Sasa hanya saling tatap. Benar juga yang di katakan Angel, dari mana mereka mendapatkan uang sebanyak itu, bahkan pun uang tabungan mereka pun tak akan cukup untuk membayar pendaftaran dan membeli alat-alat untuk nge-band.


Tiba-tiba Yayah mendapatkan ide. "Gimana kalau kita gunain alat musik yang kita punya aja, pokoknya alat musik yang ada di rumah kita." Ina, Angel dan Sasa pun mengangguk menyetujui ide Yayah. "Aku punya dumbuk batu di rumah."


"Kalo gue punya pianika." Kata Sasa.


"Kebetulan di rumah kakak aku punya gitar, jadi bisa aku pake." Ujar Ina.

__ADS_1


"Eh, aku gak punya alat musik." Lirih Angel dengan wajah kecewa.


"Gak apa-apa Angel, kamu bisa pake dumbuk batu punya aku." Yayah dengan senyum ceria seperti biasanya.


Rasanya semangat mereka kembali bangkit lagi. Tapi tiba-tiba....


"Lalu gimana caranya buat dapat uang untuk membayar pendaftarannya, terus gimana kalau pada saat audisi kita malah gak lolos?" Pertanyaan Angel yang seperti menjungkirbalikkan semangat mereka.


Benar juga. Bagaimana kalau mereka tidak lolos saat audisi? Padahal mereka kan sudah jauh-jauh ke Ibu kota dan sudah mengeluarkan banyak uang. Ah, semua itu malah membuat semangat mereka surut lagi.


"Kita coba aja dulu." Ujar Ina.


"Bener itu. Man Jadda Wajada, siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil." Seru Yayah yang mencoba untuk membakar semangat sahabat-sahabatnya.


"Kalian bener, gak seharusnya aku berpikir sedangkal itu." Ucap Angel.


Besok siangnya, setelah pulang sekolah Yayah dan sahabat-sahabatnya berkumpul lagi di saung yang mereka jadikan sebagai beskem itu. Mereka sedang sibuk memilih lagu yang cocok untuk mereka audisi, tak lupa juga mereka membawa alat musik yang mereka punya dari rumah masing-masing.


"Lagu apa nih cuy, gue bingung nih?" Ujar Sasa.


"Aku ada usulan nih, gimana kalau lagu Acha aja yang judulnya Berdua lebih baik." Usul Ina.


"Aku setuju, lagian lagunya juga asyik." Tambah Angel.


Yayah menatap Sasa meminta pendapat. Sasa yang mengerti maksud tatapan Yayah langsung menjawab, "gue setuju aja, lagunya juga enak kok."


"Jadi deal ya, lagu Acha Berdua lebih baik." Kata Yayah.


Angel, Ina dan Sasa pun kompak menjawab "Deal!!!"


Mereka latihan band dengan penuh semangat. Man Jadda Wajada, siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil. Dan mereka percaya itu, dengan ke sungguhan mereka untuk mengejar mimpi, mereka yakin akan berhasil menggapainya.


Angel merasa lelah karena habis latihan band, jadi dia memutuskan untuk istirahat sebentar di kamar lalu setelah itu baru mandi.


Tapi istirahatnya terganggu saat ia mendengar suara gelas pecah yang di susul dengan suara bentakan Ayahnya. "Sudah gila ya kamu!"

__ADS_1


"Iya aku memang sudah gila! Tapi kamu lebih gila lagi, kamu b*rengsek. Kamu main wanita di belakang aku." Teriak Ibu.


"Siapa yang selingkuh? Kamu aja yang terlalu posesif."


"Kamu jangan mengelak, aku melihat dengan mata kepala aku sendiri kalau kamu bergandengan tangan di sebuah mall bersama dengan wanita j*lang itu."


Plak!!!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Ibu. Pipinya terasa panas dan perih karena tamparan keras itu. "Tutup mulut kamu! Kamu tidak berhak mengatakan itu pada ku."


Tanpa mereka sadari, dari tadi rupanya Angel menyaksikan pertengkaran itu. Angel berlari masuk ke kamarnya lagi. Ia menutup ke dua telinganya menggunakan tangan dengan keras, dengan harapan agar pertengkaran ke dua orang tuanya itu tidak terdengar lagi olehnya.


"Ya Tuhan. Apa salah ku sehingga harus menyaksikan semua ini. Aku lelah dengan semua ini, sangat lelah." Air mata tak henti-hentinya mengalir, hati Angel benar-benar terasa seperti teriris.


Sementara itu di rumah Sasa. Terlihat kain-kain tampak berserakan di lantai, mesin jahit tak henti-hentinya bergerak dan beradu merekatkan kain yang di pegang oleh Mamah.


"Mah, udah hampir larut malam, di lanjutkan besok saja lagi." Ujar Sasa.


"Tanggung, besok pesanan ini harus sudah di antarkan ke pemesanannya." Kata Mamah yang masih fokus menjahit. "Kamu kenapa belum tidur, besok kan kamu sekolah."


"Sasa gak tega liat Mama kerja sendiri. Andai Papa gak tega ninggalin kita, mungkin kita gak akan sesusah ini."


Mama menghentikan pekerjaannya saat mendengar perkataan Sasa, wajahnya berubah menjadi sendu. "Sa, walau bagaimanapun perlakuan Papa terhadap kita, tolong jangan benci dia. Dia tetap Papa mu, Sa."


"Maaf, Ma. Tapi hati Sasa tetap sakit dan mungkin sekarang rasa sakit itu menjelma menjadi kebencian kepada laki-laki yang ku sebut Papa itu." Kemudian berlalu masuk ke dalam kamar.


Mama hanya terdiam sambil menatap kain yang di pegangnya itu. Ia berpikir, andai Sasa anaknya itu tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mungkinkah Sasa malah akan berbalik membencinya.


**Bersambung....


☀️☀️☀️☀️


Mohon dukungannya dengan cara baca, like, rate, coment, vote dan hadiah 😊**


Terimakasih

__ADS_1


__ADS_2