Mentari Ku Cahaya Hidupku

Mentari Ku Cahaya Hidupku
Sahabat


__ADS_3

"Upacara selesai, pemimpin pasukan membubarkan pasukannya masing-masing." Seru pembawa acara.


"Tanpa penghormatan, bubar barisan jalan!!!" Serempak masing-masing pemimpin pasukan dengan suara lantang.


Semua murid pun bubar dari barisannya, mereka langsung menuju ke kelas mereka masing-masing. Sementara itu diruang BK, Sasa tampak tertunduk memainkan jari-jarinya di bawah meja mendengarkan Bu Teti yaitu selalu guru BK menceramahi nya.


"Ibu bosen ketemu kamu lagi.... Kamu lagi.... Di ruang BK, apa gak bosen kamu selalu dipanggil kesini. Kamu itu pinter, kamu itu cantik, tapi sungguh disayangkan kurangnya kedisiplinan dalam diri kamu." Bu Teti melihat atribut di seragam Sasa ada yang tidak lengkap. "Kemana dasi kamu, kenapa tidak dipakai?"


"Maaf Bu, saya tidak memakai dasi karena saya belum membelinya." Sasa yang masih menunduk.


"Kenapa kamu belum beli dasi."


"Saya belum punya uang buat belinya, Bu."


Bu Teti mendengus sebal. "Dari dulu alasan kamu selalu itu, memangnya berapa sih harga dasi sampai kamu tidak sanggup untuk membelinya." Lalu menulis nama Sasa di daftar buku khusus untuk murid yang melanggar peraturan.


"Sebagai hukumannya, besok kamu harus datang pagi-pagi dan membersihkan lapangan sekolah. Pokoknya besok pada saat saya datang ke sekolah, lapangan harus sudah bersih. Mengerti?!"


"Mengerti, Bu." Mengangguk.


"Ingat jangan sampai lupa dan telat lagi!" Tegas Bu Teti.


"Ba.... Baik Bu." Sasa dengan takut-takut. "Kalau begitu saya permisi, Bu." Berlalu meninggalkan ruang BK.


Di kelas Yayah sedang asyik membaca novel dari karya penulis idolanya. "Lagi baca, Yah?" Tanya Ina sahabatnya dari kelas 9A.


"Itu kamu tua tuh." Ujar Yayah sambil menyimpan buku novelnya kedalam tasnya.


Ina dan Angel adalah sahabat Yayah sama seperti Sasa. Ina dan Angel murid kelas 9A. Kelas 9A terkenal dengan anak muridnya yang baik dan disiplin. Berbeda dengan kelas 9B yaitu kelas Yayah dan Sasa yang anak muridnya terkenal sangat luar biasa menghanyutkan.


"Ngomong-ngomong kemana si Sasa?" Tanya Angel yang bingung karena dari pagi tidak melihat Sasa.


"Biasa diamah, lagi belajar pidato sama Bu Teti."


"Tahu dari mana kamu, Yah?" Tanya Ina yang berjalan lalu duduk di samping Yayah.


"Itu aku tahu dari Mang Otong, katanya dia dibawa ke ruang BK karena telat."


"Kebiasaan." Angel.


Tak berapa lama Sasa datang dengan langkah gontai lalu ambruk terduduk di samping Angel. "Udah selesai nih acara pidatonya." Sindir Angel kemudian disusul dengan tawanya.


"Au ah gelap." Sasa yang tampak tak bersemangat.


"Ih, kok gak semangat gitu sih?" Tanya Ina.


"Gimana mau semangat coba, besok gue harus datang pagi-pagi ke sekolah terus disuruh bersihin lapangan. Dan juga besok gue harus pake dasi cuy, mana gue belum beli lagi." Sasa dengan lirihnya.

__ADS_1


"Dari pada bingung, mendingan kamu minta aja dasi ke angkatan yang udah lulus. Masih sama aja kok dasinya." Usul Yayah.


"Nah.... Bener tuh, dari pada beli kan sayang mana bentar lagi kita mau lulus." Tambah Ina.


Sasa tampak berfikir. "Gue mau sih, tapi gue bingung soalnya gue gak ada yang akrab sama angkatan yang udah pada lulus."


"Tenang aja, kebetulan aku lumayan akrab sama beberapa alumni sekolah ini, jadi aku bisa minta dasinya buat kamu." Kata Yayah.


"Makasih banyak ya." Tersenyum senang. Sasa benar-benar merasa beruntung memiliki sahabat yang sayang dan peduli padanya.


Terdengar suara bel pertanda kelas pelajaran pertama akan dimulai. Ina dan Angel pun pamit untuk ke kelas mereka. Terlihat kelas 9A tampak rapih dan anak-anak muridnya juga begitu disiplin. Tak berapa lama datang seorang guru yang bernama pak Bowo.


Anak-anak murid kelas 9A tampak saling tatap dengan teman sebangku mereka, bingung karena pak Bowo masuk ke kelas. Bukan tanpa alasan mereka bingung, sekarang di jadwal kelas 9A adalah mata pelajaran sejarah sedangkan pak Bowo adalah guru mata pelajaran bahasa Indonesia. "Selamat pagi anak-anak."


"Pagi pak." Serempak murid kelas 9A menjawab.


Saat pak Bowo akan melanjutkan bicara, tiba-tiba salah satu murid 9A mengangkat tangan dan bertanya. "Mohon maaf pak, tapi sekarang adalah mata pelajaran Sejarah bukan bahasa Indonesia." Tanya Reyhan.


Reyhan adalah ketua murid kelas 9A. Dia terkenal akan ketampanan dan kepintarannya, namun sayang dia juga terkenal sangat angkuh. Ayahnya adalah pemilik Restoran terbesar di kotanya. "Bapak akan memberikan pengumuman kalau guru mata pelajaran Sejarah akan datang terlambat di karenakan ada urusan yang mendesak, maka dari itu dilakukanlah pertukaran jam mata pelajaran. Antara mata pelajaran Sejarah dan mata pelajaran bahasa Indonesia." Jelas pak Bowo.


"Tapi, bukankah kelas sebelah ada jam mata pelajaran bahasa Indonesia?" Tanya Reyhan.


"Iya benar, maka dari itu untuk sementara kalian bergabung ke kelas 9B."


"Apa! Bapak gak salah kan, kenapa kita yang harus ke sana, kenapa tidak mereka saja yang pindah kesini?" Protes Reyhan.


"Jangan banyak protes kamu. Sudah! Saya tunggu di kelas 9B." Berlalu.


"Pagi pak." Serempak murid kelas 9B.


"Bapak minta tolong kalian untuk menyiapkan tempat duduk untuk kelas 9A, mereka akan ikut belajar bersama kita. Sebangku maksimal empat orang!"


"Baik pak." Murid 9B langsung mengerjakan yang di perintahkan oleh pak Bowo tanpa banyak komentar. Mungkin karena mereka sudah cape menjadi langganan hukuman dari pak Bowo.


Pernah ada kejadian yang tidak akan terlupakan oleh murid-murid kelas 9B, mereka pernah satu kelas dihukum berdiri dua jam mata pelajaran di lapangan karena tidak mematuhi perintah dari pak Bowo.


Sementara itu kelas 9A masih bergelut dengan pikiran dan kegengsian mereka. "Yaudahlah Rey, kita pindah kelas aja dari pada dihukum pak Bowo." Ujar teman sebangku Reyhan yang akrab dipanggil Jo itu terus memaksa.


"Harga diri Jo, emangnya Lo mau diejek kelas ngungsi sama mereka." Reyhan tetap bersikeras.


Tiba-tiba Ina dan Angel beranjak dari tempat duduk mereka, dan berjalan melewati tempat duduk Reyhan. "Mau kemana kalian?"


Langkah Ina dan Angel terhenti saat mendengar teriakkan dari Reyhan. "Emangnya Lo gak denger apa yang pak Bowo bilang sebelum keluar tadi." Angel menjawab dengan sinisnya.


"Jadi kalian setuju mau pindah kelas!"


"Udahlah Rey, Lo kekanak-kanakan banget sih, niat kita kan ke sekolah buat belajar." Ina dan Angel yang tanpa memperdulikan gerutu dari Reyhan.

__ADS_1


Reyhan tambah kesal saat siswa yang lain juga ikut dengan Ina dan Angel. Mau tidak mau Reyhan juga harus ikut pindah kelas.


Saat sampai di kelas 9B, Reyhan tampak bingung memilih tempat duduk untuknya. Arjun yang melihat itu langsung menghampiri Reyhan. "Hey, duduk sama gue aja. Kebetulan tempat duduk gue baru ke isi dua orang." Ajak Arjun sang ketua murid kelas 9B.


Reyhan memalingkan wajahnya." Lo pikir gue Sudi duduk sama Lo!" Meninggalkan Arjun yang masih berdiri dan duduk ditempat yang tak jauh dari tempat duduk Arjun.


"Apakah semuanya sudah kebagian tempat duduk?" Tanya pak Bowo.


"Sudah pak!" Serempak murid-murid kelas 9A dan 9B.


"Baiklah, kita langsung saja ke pembelajaran." Pak Bowo sambil melihat-lihat materi bahasa Indonesia di buku paketnya, tiba-tiba tangannya berhenti ketika ia teringat sesuatu. "Oh iya, bukankah waktu minggu kemarin bapak memberikan tugas bahasa Indonesia, yaitu membuat puisi. "Ketegangan pun terjadi bagi murid-murid yang belum mengerjakan tugas, sedangkan bagi murid yang sudah mengerjakan tugas bisa bernafas lega karena terhindar dari hukuman pak Bowo. "Bapak akan tunjuk satu orang satu orang untuk maju ke depan membacakan puisi yang telah dibuatnya.


Deg!


Udara didalam kelas mendadak menjadi panas. "Yang akan maju pertama adalah...." Dag! Dig! Dug! Ketegangan terjadi, murid-murid berharap bukan nama mereka yang dipanggil. "Yayah." Semua orang bernafas lega. Yayah pun maju ke depan dengan senyum yang mengembang.


"Pagi teman-teman!" Seru Yayah.


"Pagi." Sahut semua murid.


"Saya disini akan membacakan puisi karya saya sendiri, yang berjudul Sahabat.


Sahabat


adalah mereka yang memberi kita sebuah warna pada kehidupan.


Mewarnai sebuah perjalanan hidup.


Sahabat sang penyemangat dikala lelah.


Sang penasehat dikala salah.


Sahabat ialah orang yang tersayang dan terkasih.


Teman hidup yang sanggup setia.


Dikala suka maupun duka.


puisi ini untuk ketiga sahabat ku. Ina, Angel dan Sasa."


Semua orang langsung bertepuk tangan memberikan apresiasi kepada Yayah, berbarengan dengan Ina, Angel dan Sasa yang maju ke depan menghampiri Yayah. Mereka berempat pun saling berpelukan.


Pak Bowo tidak mau kehilangan moment yang sangat luar biasa ini, ia pun memfoto keempat sahabat itu tanpa sepengetahuan mereka.


Bersambung....


☀️☀️☀️☀️

__ADS_1


mohon dukungannya dengan cara like, coment, rate dan vote 🙏


terimakasih 😊


__ADS_2